NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Kael menginjak pedal gas semakin dalam. Deru mesin mobil mewah itu membelah jalan menuju alamat yang baru saja dikirim Aurora. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Satu pikiran terus berputar di kepalanya—tempat itu harus dihentikan sebelum terlambat.

Semalam Cassian telah menyerahkan seluruh hasil penyelidikan mengenai klinik tersebut. Bukti-bukti yang terkumpul cukup untuk menunjukkan bahwa tempat itu menjalankan praktik ilegal secara diam-diam selama bertahun-tahun. Kael sudah memutuskan, apa pun risikonya, ia tidak akan membiarkan tempat itu terus berdiri.

Kemarahan Kael memuncak ketika mengetahui Aurora benar-benar datang ke sana.

"Gadis keras kepala itu benar-benar nekat." geramnya dalam hati. "Apa dia tidak sadar tindakannya bisa membahayakan dirinya sendiri?"

Jarum speedometer terus merangkak naik. Kael tak lagi memedulikan batas kecepatan. Yang ada di benaknya hanya satu—ia harus tiba sebelum semuanya terlambat.

Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti mendadak di halaman klinik. Ia bahkan tak sempat memarkirkannya dengan rapi. Begitu pintu terbuka, Cassian telah menunggu bersama beberapa orang kepercayaannya yang sejak tadi menyamar sebagai pengunjung, petugas kebersihan, hingga pengemudi ambulans untuk mengawasi situasi dari dalam.

Kael turun dengan langkah panjang dan sorot mata yang dingin.

"Pastikan seluruh orang di dalam dievakuasi dengan aman. Setelah tempat ini kosong, kita tutup operasi ilegal mereka dan serahkan seluruh barang bukti. Jangan sampai ada yang melarikan diri." ucapnya tegas.

Cassian mengangguk tanpa ragu.

"Baik, Tuan."

Kael memang bisa saja melaporkan klinik itu kepada pihak berwenang sejak awal. Namun ia tahu proses hukum membutuhkan waktu, sementara setiap menit yang terbuang bisa membahayakan orang-orang yang masih berada di dalam. Karena itulah ia memilih bergerak lebih dulu untuk menghentikan aktivitas ilegal tersebut dan mengamankan seluruh korban, sebelum nantinya seluruh bukti diserahkan kepada aparat yang berwenang.

Kael tidak pernah percaya bahwa semua kejahatan harus selalu menunggu meja hijau untuk dihentikan. Baginya, selama mampu mencegah lebih banyak korban, ia akan bertindak lebih dulu. Proses hukum tetap akan berjalan, tetapi ia menolak berpangku tangan saat nyawa orang lain berada di ujung tanduk.

Begitu memasuki lobi klinik, langkah Kael langsung menuju meja resepsionis. Tatapannya tajam, membuat suasana yang semula tenang berubah menyesakkan.

"Aku ingin memastikan sesuatu," ucapnya dingin. "Apakah ada pasien bernama Aurora Elise Beaumont yang terdaftar hari ini?"

Wajah resepsionis seketika memucat. Jemarinya gemetar ketika membuka daftar pasien. Tak lama kemudian, ia mengangguk pelan. Nama Aurora memang tercatat dalam daftar khusus yang hanya diketahui oleh beberapa orang di klinik itu.

Kael menyipitkan mata.

"Kau tahu siapa aku, bukan?"

Perempuan muda di balik meja itu menelan ludah dengan susah payah. Ia hanya mampu menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah pria di hadapannya.

"Kalau masih ingin keluar dari tempat ini dengan selamat," suara Kael terdengar pelan namun mengandung ancaman yang jelas, "tunjukkan di mana ruangan itu berada."

Ketakutan mengalahkan keberanian resepsionis. Dengan tangan bergetar, ia mengangkat telunjuknya ke arah sebuah lorong sempit yang tersembunyi di bagian belakang bangunan—tempat yang sengaja dijauhkan dari area pelayanan umum.

Tatapan Kael mengikuti arah yang ditunjuk. Lorong itu sunyi, remang-remang, dan terasa begitu asing dibanding bagian klinik lainnya.

"Sial..." desisnya pelan.

Tanpa membuang waktu, Kael segera melangkah cepat menuju lorong tersebut. Rahangnya mengeras, sementara firasat buruk di dadanya semakin kuat. Ia tahu Aurora berada di balik salah satu pintu itu, dan setiap detik yang terbuang bisa menjadi penentu nasibnya.

Setibanya di depan pintu yang dimaksud, Kael berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam, lalu meraih gagang pintu, bersiap menerobos masuk demi menyelamatkan Aurora sebelum semuanya terlambat.

"Siapa pun yang berada di balik semua ini..." suara Kael terdengar rendah, namun dipenuhi amarah yang membara. "Kalian akan mempertanggungjawabkan semuanya."

Di balik kemarahannya, terselip kegelisahan yang terus menggerogoti dadanya. Firasat buruk itu semakin kuat setiap langkah yang membawanya mendekati ruangan di ujung lorong.

Kini Kael telah berdiri tepat di depan pintu yang ditunjukkan resepsionis. Suasana di sekitarnya begitu sunyi hingga detak jantungnya sendiri terdengar jelas di telinganya.

Brak!

Dengan satu tendangan keras, daun pintu terhempas terbuka. Suara benturannya menggema memenuhi ruangan.

Pemandangan di hadapannya membuat napas Kael seolah terhenti.

Aurora terbaring lemah di atas brankar, tubuhnya tak bergerak dan matanya terpejam rapat. Wajah gadis itu tampak pucat, sementara lengannya terkulai di sisi tubuhnya, seolah tak lagi memiliki tenaga untuk melawan.

Untuk sesaat, waktu terasa berhenti.

Sorot mata Kael berubah drastis. Kemarahan yang semula membara kini bercampur dengan kepanikan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dadanya menyesak melihat Aurora terbaring tanpa kesadaran.

"Aurora..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kael melangkah cepat memasuki ruangan, bersiap memastikan keadaan Aurora sebelum terlambat.

Dor!

Suara letusan itu memecah keheningan ruangan.

Peluru yang dilepaskan Kael tidak diarahkan untuk merenggut nyawa, melainkan menghentikan tindakan yang nyaris terjadi. Tembakan itu mengenai lengan kanan dokter yang sedang mengangkat alat medis, membuat benda di tangannya terlepas dan jatuh berderak ke lantai.

"Aaakh...!" pekik dokter itu sambil memegangi lengannya yang terluka. Wajahnya seketika memucat, sementara tangan kirinya berusaha menekan darah yang mulai mengalir.

Ruangan itu tetap sunyi. Meski suara tembakan cukup keras, tak seorang pun dari luar berlari menghampiri. Ruang tersebut memang berada di bagian paling terpencil klinik dan dibuat kedap suara agar aktivitas di dalamnya tidak mudah diketahui orang lain.

Kael melangkah masuk dengan sorot mata yang tajam. Tatapannya berpindah dari dokter, perawat, lalu berhenti pada Aurora yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas brankar.

"Apa yang sudah kalian lakukan padanya?" tanyanya dengan suara rendah, namun penuh tekanan.

Dokter dan asistennya saling berpandangan. Mereka mengenali pria yang berdiri di hadapan mereka. Nama Kael bukanlah sosok asing—seorang pengusaha berpengaruh dengan reputasi yang membuat banyak orang memilih menghindari masalah dengannya.

Asisten dokter menjadi orang pertama yang berani membuka suara.

"Gadis itu datang atas kemauannya sendiri." ucapnya dengan nada gemetar. "Dia mengatakan ingin mengakhiri kehamilannya."

Sementara itu, dokter yang terluka masih meringis kesakitan. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil perlengkapan medis darurat untuk menghentikan perdarahan pada lengannya, tanpa berani lagi melakukan tindakan apa pun terhadap Aurora.

Kael tidak mengalihkan pandangannya dari Aurora sedikit pun. Napasnya masih memburu, tetapi melihat alat medis telah terjatuh dan tindakan terhadap gadis itu terhenti, secercah kelegaan mulai menggantikan kepanikan yang sejak tadi mencengkeram dadanya.

Dokter dan asistennya terduduk lemas di lantai, menahan rasa nyeri pada kaki mereka. Wajah keduanya pucat, napas memburu, sementara rasa sakit membuat mereka nyaris tak mampu berdiri. Ketakutan yang memenuhi ruangan itu jauh lebih menyiksa daripada luka yang mereka rasakan.

"T-Tuan... kami mohon... ampuni kami..." pinta mereka dengan suara bergetar, nyaris menangis.

Dokter itu bahkan tidak lagi memikirkan harga dirinya. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana bisa keluar dari ruangan itu dalam keadaan selamat. Sosok Kael yang berdiri di hadapan mereka benar-benar memancarkan aura mengintimidasi yang membuat siapa pun kehilangan keberanian.

Kael menatap mereka tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

"Jangan memohon belas kasihan kepadaku. Kalian seharusnya memikirkan akibatnya sebelum mengkhianati profesi yang kalian pilih."

Tanpa menghiraukan isak tangis yang terus terdengar, Kael menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Satu per satu obat-obatan dan peralatan yang digunakan untuk praktik ilegal itu ia singkirkan hingga berserakan, memastikan tidak ada lagi yang dapat dipakai untuk mencelakai orang lain.

Setelah yakin semuanya tak lagi bisa digunakan, ia segera berbalik menuju brankar tempat Aurora terbaring.

Gadis itu masih belum membuka mata. Wajahnya terlihat pucat, napasnya pelan dan teratur akibat obat penenang yang masih bekerja.

Kael menghampirinya dengan langkah tergesa. Seluruh amarah yang sejak tadi memenuhi dirinya perlahan berubah menjadi kecemasan saat melihat Aurora tetap tak memberikan reaksi.

"Aurora..." panggilnya lirih.

Tak ada jawaban.

Ia kembali menyebut nama gadis itu, kali ini dengan suara yang lebih lembut namun dipenuhi kekhawatiran.

"Aurora... dengarkan aku. Aku sudah di sini."

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, sorot mata Kael yang biasanya dingin memperlihatkan secercah kepanikan. Yang ia inginkan saat itu hanya satu—membawa Aurora pergi sejauh mungkin dari tempat yang hampir merenggut masa depan mereka.

Kael berjongkok di sisi brankar. Dengan tangan yang biasanya tak pernah gemetar, ia menepuk lembut pipi Aurora beberapa kali.

"Bangun... Aurora, dengarkan aku."

Tak ada jawaban.

Kelopak mata gadis itu tetap terpejam rapat. Napasnya masih teratur, tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Pemandangan itu membuat dada Kael dipenuhi kecemasan yang perlahan berubah menjadi amarah.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam dokter yang berdiri beberapa langkah darinya.

"Berapa banyak obat penenang yang kalian berikan kepadanya?" suaranya terdengar dingin dan penuh tekanan.

Dokter itu refleks mundur. Wajahnya memucat, tubuhnya bergetar hebat, sementara rasa takut membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan.

Dalam ledakan emosi, Kael melangkah maju dan mendorong dokter itu hingga terhuyung jatuh. Tatapannya begitu tajam hingga membuat seluruh ruangan terasa membeku.

"Kau bersumpah menjadi dokter untuk melindungi ibu dan anak, menyelamatkan nyawa mereka, bukan menjual nuranimu demi uang. Bagaimana bisa kau mengkhianati sumpah profesimu sendiri?"

Dokter itu menangis sesenggukan. Air matanya mengalir tanpa henti, bercampur rasa takut dan penyesalan.

"M-maaf, Tuan... Saya khilaf. Tolong beri saya kesempatan..."

Kael memalingkan wajahnya sesaat. Rahangnya mengeras.

"Maaf tidak akan menghapus apa yang hampir terjadi hari ini."

Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, ia kembali menghampiri Aurora. Ekspresi dingin yang selalu melekat di wajahnya perlahan berubah menjadi kekhawatiran saat menatap gadis yang masih belum membuka mata itu.

Dengan sangat hati-hati, Kael menyelipkan satu tangan di bawah punggung Aurora dan tangan lainnya menyangga kedua kakinya. Ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya seakan membawa sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Aurora tetap terlelap dalam pengaruh obat penenang, sementara Kael bertekad hanya pada satu hal—membawanya keluar dari tempat itu secepat mungkin dan memastikan tidak ada lagi seorang pun yang dapat menyentuhnya.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!