NovelToon NovelToon
TAWAKU TERBALUT LUKA

TAWAKU TERBALUT LUKA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:919.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mei_Mei

(Taka season 1)


Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.

Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.

Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.

Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan sangat pahit

Dengan usaha keras, Taka sudah hampir sampai didepan gerbang rumahnya. Sebelah kaki dan tangan seperti kesemutan. Tapi dengan pelan ia paksakan agar segara sampai.

Keringat bercucuran, rasa lelah kembali hinggap disekujur tubuh. Apalagi tangan dan kaki yang belum sepenuhnya bergerak normal.

Sepeda onthel yang dijalankan, tiba-tiba ia lepas begitu saja hingga jatuh dan terdengar suaranya yang keras.

Ia duduk di gazebo dengan nafas yang naik turun tak beraturan. Menunggu kondisi badan kembali pulih, ia sudah berbulat tekad untuk segera periksa kerumah sakit. Tak bisa membiarkan kondisinya semakin memburuk.

Suasana sore itu terlihat sepi, hanya ada 2satpam yang berjaga dipost. Itu pun posisinya berada jauh dari gazebo, hingga satpam tak begitu memperhatikan kondisi Taka.

Pak Arman terlihat muncul dari pintu samping dengan menenteng secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

"Pak," Taka memanggil.

"Iya tuan muda." Arman mendekati Taka.

"Tuan muda kedua, kenapa wajah anda sangat pucat?" pak Arman terkejut saat melihat wajah Taka yang benar-benar terlihat pucat.

"Pak, tolong siapkan mobil dan antar aku kerumah sakit." perintah Taka.

"Baik tuan muda, sekalian biar Bapak panggil nyonya besar," jawabnya. Ia menaruh secangkir kopi panas itu disamping Taka. Kakinya sudah bergerak melangkah.

"Pak Arman tidak perlu memanggil Bunda. Kita pergi berdua. Sekarang." perintahnya dengan nada tegas.

"Ba baiklah, Bapak siapkan mobil dulu." pak Arman sedikit gugup mendengar nada bicara Taka yang terdengar dingin. Selama menjadi supir pribadi si kembar belum pernah Taka berbicara seperti itu. Meski Taka konyol dan rusuh tapi ia anak yang sopan, tidak pernah membentak atau bersikap arogan.

Beberapa lama berlalu, kini Arman sudah mengendarai mobil dan berhenti didepan Taka. Ia turun untuk membuka pintu dan berjaga-jaga sewaktu badan Taka tumbang.

Pak Arman terlihat khawatir dengan keadaan Taka.

Setelah memastikan Taka duduk dengan nyaman, ia beralih masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi untuk menyetir.

Melajukan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah sakit, tapi tetap berhati-hati dengan keselamatan. Kini mobil itu sudah sampai didepan rumah sakit.

"Tuan muda, pelan-pelan." kembali pak Arman ingin menuntun Taka.

"Pak, aku tidak sakit parah. Bapak nggak perlu begini," Taka menolak. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu, sudah seperti orang sakit parah. Entah lah, moodnya cepat sekali berubah-ubah.

Tangan pak Arman terlepas dari lengan Taka, akhirnya dia mengawasi dari belakangnya.

Taka langsung disambut oleh perawat, pekerja rumah sakit sedikit banyak tau siapa Taka. Ia putra kedua dari orang kaya ke tiga di negeri ini. Perawat menyambut dengan penuh rasa hormat. Selain itu, keluarga Milard sudah sering keluar masuk rumah sakit itu, jadi para dokter dan perawat sudah familiar dengan wajahnya.

Perawat mendampingi Taka untuk menemui dokter umum.

Sampai di ruangan dokter umum, Taka dipersilahkan duduk.

Taka berhadapan dengan dokter pria paruh baya bernama Hadi.

"Ada keluhan apa, tuan?" tanya dokter Hadi dengan ramah.

"Kepala saya sering merasa pusing yang teramat, badan saya juga mudah lelah. Dan akhir-akhir ini hidung saya sering mimisan." Taka menceritakan keluhannya.

"Dan barusan tadi tangan dan kaki saya kesemutan dalam jangka waktu yang cukup lama." imbuh Taka.

Dokter mendengarkan dengan seksama.

Setelah Taka selesai menceritakan keluhannya. Barulah dokter menyuruh untuk berbaring diatas ranjang dan dokter Hadi akan melakukan pemeriksaan.

Puluhan tahun dokter Hadi menjalani profesi sebagai dokter dan menangani banyak pasien, ia sudah hapal dengan keluhan-keluhan yang didengarnya. Ia pun hapal akan melakukan tindakan atau pemeriksaan apa.

Didukung dengan wajah Taka yang terlihat sangat pucat.

Memeriksa dengan seksama, wajah dokter Hadi berubah terlihat khawatir.

Dokter Hadi tertegun dengan hasil pemeriksaanya sendiri. Apakah pemeriksaanya ini benar? bahkan ia melakukannya sampai dua kali untuk benar-benar memastikan.

"Bagaimana Dok?" tanya Taka. Ia yang tadi berbaring kini sudah merubah posisi menjadi duduk.

Menatap wajah dokter Hadi dengan pandangan penuh harap. Semoga hasilnya tidak seburuk yang dipikirkan.

Taka menunggu dengan penuh kecemasan. Tak menutup hati kecilnya yang ada rasa ketakutan.

Dokter Hadi yang tadi tak bergeming, kini terdengar ia menghirup napas dalam-dalam.

"Tuan, dugaan awal Anda terkena kanker o...tak." ucapnya lirih. Seolah suaranya tercekat.

Deg...

"Ka kanker otak," dengan nada lirih, tanpa kesadaran penuh Taka mengulang nama penyakit berbahaya itu.

Setelah tadi dokter Hadi tak bergeming. Kini giliran Taka yang membeku ditempat, hatinya seolah memberontak dan tak ingin mempercayai ucapan dokter itu. Dokter yang memeriksanya dan mengklaim ia terkena kanker otak.

"Tidak, Dokter pasti salah," ucapnya lirih. Ia masih belum punya tenaga untuk berontak.

Dokter itu hanya terdiam mengamati wajah Taka yang terlihat memprihatinkan. Membiarkan Taka untuk menerima kenyataan.

Ia tau, diagnosanya mengenai penyakit barusan seperti kenyataan yang sangat pahit. Siapapun orangnya pasti akan sangat shok dan terkejut kala mengetahui mengidap penyakit mematikan itu.

Meski dijuluki penyakit mematikan, tapi sebagian penderita penyakit kanker ada yang bisa sembuh. Semua tergantung keajaiban dan semangat pasien itu sendiri untuk sembuh.

Taka memejamkan mata, ia berharap ini hanyalah mimpi buruk. Semoga segera berlalu.

Tapi saat matanya kembali terbuka, ia tetap berada diposisi semula. Berarti ini semua nyata. Ya Tuhan, kenyataan apa ini?

"Dok, tolong periksa lagi. Anda pasti salah, tidak mungkin aku mengidap penyakit berbahaya itu." ucap Taka dengan lemas. Seolah seluruh tubuhnya tak bertulang. Saat ini ia terjatuh kedalam relung kesedihan paling dalam.

Jika ruangan itu kosong, atau ia sedang di hamparan pasir ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya untuk memberontak kenyataanya itu.

Tapi saat ini tubuhnya terlalu lemah, tak berdaya dalam keadaan titik terendah.

"Tes pertama saya juga kurang yakin tuan. Tapi saat mengulang, memang hasilnya sama. Tapi hasil yang lebih akurat lagi kita lakukan serangkaian pemeriksaan dalam. Anda bisa membuat jadwal dengan Dokter spesialis kanker." jelas dokter Hadi.

"Kapan aku bisa menemui dokter itu?" tanya Taka.

"Perawat bisa membantu untuk bertemu dokter spesialis. Nanti setelah waktunya sudah diatur kami akan menghubungi kekediaman tuan Arsel." kata dokter Hadi.

"Tidak. Jangan, jangan menghubungi ayah atau orang rumah. Tolong jangan beritahu mereka tentang semua ini, biar aku saja yang menjelaskan." Taka langsung mencegah.

Kening dokter Hadi mengkerut. Ia sedikit heran, kenapa Taka mencegahnya untuk memberitahu anggota keluarga. Tapi dokter hadi segera menepis kecurigaan.

"Tuan, sebaiknya segera memberitahu kedua orang tua anda. Mereka harus tau," ucapnya lagi. Ia memiliki kecurigaan bahwa Taka akan menyembunyikan tentang penyakitnya.

"Iya. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat agar semua bisa terkendali." ucapan Taka mengandung kesedihan.

1
Narawin's~
lanjutttt
Qaisaa Nazarudin
Nama rakyat banget,Gak ada nama yg nikin lidah ku keseleo menyebutnya..👏👏👍👍Mantap thor aku suka..👍👍
Qaisaa Nazarudin
Oaalahh siapa sih yg killer di sini? Taka atau pak gurunya? 🤣🤣🤣🤣

Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄
Muhamad Hasbi
Luar biasa
Nurma Lisa
ternyata novel ini bisa untuk obat stress🤭🤭
Akakdidi Kakdidi
bagus jalan ceritanya
Mmh Na Aas Tea
makin sedih cerita nya
Mmh Na Aas Tea
sedih banget 😭😭😭😭
Mmh Na Aas Tea
aduh parah si raja🙄🙄
Mmh Na Aas Tea
🤣🤣🤣🤣,,perut ku Ampe sakit bacanya karna lucu
Kenzi Kenzi
jadi inget sama pilem si dudung
Kenzi Kenzi
bahkan,nama aja kembaran....hahhahaa....kek nya bakalan ada nama2.kembar lainnya nih...mujiren mujirah...mujiran...
Kenzi Kenzi
ini pangkal karya2mu selanjutnyankan thor....,gw mampir....
Akak Mei: Ada banyak Kak, klik profile saya dan ikuti biar tau setiap kali saya buat karya baru. Terima kasih sudah mampir ya.
total 1 replies
Lisna Wati
terimakasih ceritanya thoor sy suka
Lies Mulyadi
ngakak poll,bulu kaki digambar
THE END.MD
aku udah baca tulisan kak mei yang ini beberapa kali dan tetep bikin aku ketawa dan nagis lagi dan aku salut buat bikin karya yang bagus ini ma kak mei semanagt terus ya kak mei nulis nya kalo bisa tulis juga cerita kisah cinta nya ayah ansel ma bunda 👏👏👏👏👍👍👍👍
Yani Srihastuti
lucu banget,suka genre yg seperti ini
Rini Apriyanti
Yg baca ikutan nangis, tissue mana tissue
Hani Hanie
haduuhh takaDung...sampai keluar air mata aq ketawanya..dasarr😂
Nuranita
gila ini novel.....bner2 bkin menyedih tiap kali bca....nangis tanpa dmnta kek airmata jtuh sndri....😭😭😭😭😭😭😭😭padahal udah 3x bacax
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!