Perkenalkan namaku Jovan. Sedari kecil aku hanya memiliki seorang Ibu yang biasa ku panggil Mak Silah. Kata Emak ayahku meninggal di usia 7 bulan aku dalam kandungan.
Dengan hidup kami yang serba kekurangan. Aku bisa melanjutkan pendidikan karena rekomendasi beasiswa dari seseorang. Tapi aku tak tahu siapa seseorang yang telah berjasa dalam hidupku.
Hingga suatu saat aku jatuh cinta dengan anak orang kaya. Namanya Jessy. Gadis cantik dengan sejuta pesona. Dialah orang yang selalu menganggapku ada dari sekian banyak orang menganggapku seperti tak nampak.
Namun secara terang-terangan emak meminta aku untuk menjaga jarak dengannya karena papanya meminta aku menjauhinya. Kalau ingin beasiswa dan pendidikanku tetap berlanjut. Karena kenyataan yang ku dapat, ternyata papa Jessy lah seseorang yang berjasa dalam hidupku itu.
Adilkah ini untukku Tuhan? Penasaran bukan dengan kelanjutan kisah hidupku? Yuk kepoin 👉👉👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 MENDAPAT NOMORNYA
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Hari dimana aku sangat menantikannya. Pengumuman penerimaan mahasiswa sekaligus kabar mengenai beasiswaku.
Saat ini aku dan Dodi tengah berada di depan bangunan yang tinggi kokoh. Sebuah kampus kedokteran. Ya, aku dan Dodi mendaftar di fakultas dengan jurusan tersebut.
Selama pandemi ini, fakultas ini memiliki program beasiswa pendidikan bagi putra–putri terbaik Indonesia baik berupa beasiswa full maupun beasiswa berupa potongan Dana Pengembangan Institusi.
"Selamat bergabung menjadi mahasiswa disini Nak", ucap seorang paruh baya setelah memberitahukan bahwa aku dinyatakan lolos tes seleksi beasiswa.
Senang bukan main aku mendengarnya. Dodi merangkulku tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang berada di ruangan itu.
Ucap syukur tidak henti-hentinya aku panjatkan. Selalu ada jalan, bagiku melewati masa sulitku. Dan Tuhan Maha Tahu apa yang aku inginkan.
"Jo, kamu harus traktir aku merayakan kesuksesanmu", ucap Dodi yang tiba-tiba nodong minta traktiran.
"Iya, tanpa kamu minta aku pasti juga ngajakin kamu. Mana mungkin aku lupa pada teman baikku ini", ucapku. Karena Dodilah orang yang banyak membantuku melewati masa-masa sulit mengurus beasiswa ini. Boleh dibilang ia adalah orang kedua yang memperhatikanku selain emakku.
"Lets go. Nunggu apalagi?", ucapnya penuh semangat berjalan lebih dulu ke parkiran mengambil motornya. Kami berangkat menggunakan motor Dodi tadi.
Kami menoleh kanan kiri mencari tukang bakso yang menurut Dodi paling ramai. Hingga tibalah di sebuah persimpangan jalan kami berakhir melakukan pencarian ini. Sesuai kemauan Dodi. Dan aku hanya bisa menuruti.
"Pak, bakso dua dan es campurnya dua", ucapku memesan.
Kami memilih duduk di bangku paling pojok. Menghadap ke jalan raya.
"Lhoh, Jo itu bukannya Amel ya?", tanya Dodi yang melihat pujaan hatinya memasuki warung bakso itu juga.
Sejak kapan gadis cantik itu mau singgah di warung bakso beginian? Karena setahuku Amel suka pilih-pilih orangnya. Tapi entahlah. Mengapa aku jadi suudzon begini. Toh warung ini bukan punyaku. Semua orang bebas memasukinya.
Lama aku bermonolog di dalam hati. Hingga sebuah senggolan lengan dari Dodi menyadarkanku. "Eh Kakak, juga disini. Amel sama temen Amel boleh gabung ya?", ucapnya dengan membawa satu orang teman gadis sudah mendaratkan pantatnya di bangku persis depan kami.
"Iya boleh-boleh", ucap Dodi langsung menyetujui. Membuatku menoleh kepadanya.
Hampir lima belas menit menunggu pesanan. Kami habiskan saling melempar pertanyaan. Tapi semua lebih dominan pertanyaan dari Amel. Dan selalu di jawab oleh Dodi dengan cepat.
Namun setiap selesai mendengar jawaban dari Dodi, Amel terlihat mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang. Tanpa kami tahu dengan siapa.
Setelah pesanan datang. Kami makan dalam diam. Hingga pertanyaan yang tidak ku duga-duga terdengar begitu saja.
"O ya Mel. Gimana kabar temenmu Jessy? Sepertinya ada yang rindu nih".
Pertanyaan dari Dodi yang tanpa tedeng aling-aling hampir saja membuatku tersedak. Dengan cepat aku mengambil minumanku. Sekaligus bercampur rasa malu.
Temanku itu selalu mendukungku untuk mengejar Jessy kembali. Dengan alasan, soal beasiswa sudah tidak ada sangkut pautnya dengan papa Jessy lagi. Jadi tidak ada hak beliau untuk melarang aku dekat dengan anaknya meski kami masih tetaplah berbeda.
Seperti paham siapa yang dimaksud rindu dengan Jessy. Amel nampak tersenyum. Meski dulu pernah menasehati Jessy untuk tidak menyukai orang yang berbeda level dengannya, tapi kali ini berbeda.
Amel yang dulu begitu cerewet itu, terlihat ada sisi lembutnya. Karena selama SMA, ia mengenal baik Jovan dan Dodi. Membuatnya bisa menerima keberadaan mereka berdua tanpa memandang status sosial lagi.
"Baik kok Kak. Apa mau nomernya?", tanya Amel tiba-tiba.
Belum juga aku maupun Dodi mengiyakan. Amel terlebih dulu meminta ijin pinjam ponsel Dodi untuk menyimpankan nomer ponsel Jessy tak tanggung-tanggung sekalian alamat emailnya.
"Oke, aku save. Makasih ya Mel", ucap Dodi sambil tersenyum. Entah mengapa ekspresiku biasa-biasa saja. Meski di dalamnya hatiku senang bukan main.
"Jo, kamu diem aja kaya gak ada seneng-senengnya dapet nomer Jessy. Kita beruntung lho ketemu Amel tanpa harus menemuinya", ucap Dodi disela-sela menyetir motornya.
"Aku bingung sekaligus malu Do. Kamu nanyanya tanpa aba-aba".
"Ya kalau ditunda-tunda lagi keburu Amelnya juga ngilang Jo", bantah Dodi.
"Kalau nggak mau ngilang, segera nyatain perasaanmu ke dia. Dengan begitu kan Amel gak akan kemana-mana".
"Ah kaya kamu berani aja Jo. Kamu sendiri gimana sama Jessy. Dari dulu sampai sekarang aja belum ada perkembangannya", ucap Dodi sekaligus membalikkan ucapanku dengan sindiran sedikit pedas. Membuatku mengakhiri perdebatan ini. Kalau berdebat soal pelajaran mungkin aku pemenangnya. Tapi kalau soal cewek, Dodi gak ada tandingannya.
"Gak masuk dulu kamu Jo? O ya maaf ucapanku tadi ya. Aku cuma pengen kamu lebih berusaha kalau memang suka dengan dia", ucapan maaf dari Dodi setelah kami tiba di halaman rumahnya.
Aku yang sudah beralih menaiki motorku yang sempat ku tinggalkan di rumah Dodi pun menjawab. "Santai aja. Kamu ucapin yang lebih pedas dari ini saja, aku juga gak akan marah. Makasih ya Do!".
Aku merebahkan tubuhku begitu sampai rumah. Tak lupa sebelumnya mampir ke warung dulu. Memberitahukan kabar menyenangkan tentang beasiswa kepada emak.
Ku pandangi ponselku. Ku baca pesan dari Dodi yang mengirimkan nomer Jessy kepadaku.
Kira-kira aku hubungi dia sekarang enggak ya? Tanyaku memastikan.
Lama aku hendak mengetikkan email kepadanya. Namun akhirnya ku hentikan.
Jo, Jo kenapa kamu ini? Kemarin-kemarin pengen banget tahu kabarnya. Sekarang udah ada jalurnya untuk menanyakan malah kamu urungkan. Aku meletakkan ponselku kembali yang akhirnya memilih untuk tidur.
Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba sebuah tangan membangunkan dengan mengoyak kedua bahuku. Membuatku dengan segera membuka mata.
"Ayo bangun. Sudah mau maghrib Nak", ucap emakku.
"Ha? Sudah mau maghrib Mak?", tanyaku tak percaya.
"Iya memangnya kamu tidur dari jam berapa sampai kaget begitu", tanya balik emak.
Aku masih duduk mengumpulkan nyawa tidak menjawab pertanyaan emak. "Pasti kamu capek kan, sampai tidur selama itu. Sudah sana mandi!", ucap emak lagi sambil memberikan handuk untukku.
"Mak, Jovan mau cari kerjaan", ucapku di sela kami makan setelah menjalankan sholat maghrib.
"Kerjaan apa? Mbok ya fokus saja dengan kuliahmu. Emak tidak mau kuliahmu terganggu Jo".
"Jovan janji Mak! Tidak akan mengganggu kuliah Jovan", ucapku meyakinkan.
Akhirnya emak menyetujui permintaanku. Dan sampai malam ini. Aku sibuk membuat surat lamaran pekerjaan. Agar besok pagi aku bisa memulai untuk memberikan ke beberapa tempat kerja yang menurutku bisa bekerja part time.
Hallo, semua..maaf sampai sejauh ini author baru sapa kalian. Terimakasih untuk supportnya ya🙏🙏😍😍
Baarakallahu fiika
mampir kak...
Tp ..awalny sdh menderita....
😭😭😭😭😭