Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Pagi terakhir Ramadan terasa lebih tenang di rumah Pakde Darma.
Bude Sari sibuk menata kue nastar dan kastengel ke dalam toples. Salsa membantu sambil sesekali mencuri satu. Pakde Darma mengecek lampu teras, meski lampu itu tidak rusak. Naura menyiapkan teh dan memotong buah.
Rumah itu tidak besar.
Tapi setiap orang punya tempat.
Naura memperhatikan Salsa yang tertawa ketika Bude Sari pura-pura memukul tangannya karena mencuri kue. Sesuatu di dadanya menghangat dan sakit bersamaan.
Seandainya dulu ia berani meminta tinggal di sini.
Seandainya dulu ia tahu keluarga tidak harus yang melahirkan.
Namun hidup tidak memberi jalan mundur. Bahkan setelah ia mendapat kesempatan kedua, ia tetap harus berjalan maju dari titik yang ada.
Setelah sarapan, Naura membantu Bude Sari mencuci piring.
Bude Sari tiba-tiba berkata, "Kamu mau pulang ke Jakarta kapan?"
"Lusa, Bude. Setelah Lebaran hari pertama."
"Cepat sekali."
"Saya sudah izin kerja tidak terlalu lama."
"Majikanmu baik?"
Naura terdiam.
Majikan.
Kata itu terasa terlalu sempit untuk menggambarkan Bu Marini, Pak Aditya, dan Arkan.
"Mereka baik."
Bude Sari meliriknya.
"Yang laki-laki itu juga?"
Naura hampir menjatuhkan piring.
"Bude."
"Apa? Bude cuma tanya. Salsa cerita sedikit."
Naura harus bicara serius dengan Salsa nanti.
"Pak Arkan klien."
"Bude belum bilang namanya Arkan."
Naura diam.
Bude Sari tertawa pelan. "Kamu sudah dewasa. Bude tidak akan ikut campur. Tapi Bude ingin kamu ingat, jangan memilih orang hanya karena dia bisa menyelamatkanmu. Pilih kalau di sisinya kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri."
Naura menatap busa sabun di tangannya.
"Saya belum memilih siapa pun."
"Belum juga tidak apa-apa."
Bude Sari mengambil piring yang sudah dibilas.
"Tapi kalau suatu hari kamu memilih, jangan merasa kamu kurang pantas. Kamu anak baik. Pintar. Hatinya kuat. Kalau ada laki-laki baik menyukaimu, itu bukan keajaiban. Itu wajar."
Mata Naura panas.
"Bude kenapa pagi-pagi bicara begini?"
"Karena Bude dulu terlalu jarang bilang kamu berharga."
Naura memeluk Bude Sari dari samping, tangan masih sedikit basah.
"Bude sudah menunjukkan."
Bude Sari menepuk lengannya.
"Tetap perlu dikatakan."
Siang itu, Harto datang sendiri.
Tidak dengan Sulastri. Tidak dengan Bagas.
Ia berdiri di depan pagar rumah Pakde Darma, wajahnya lebih tua daripada kemarin. Pakde membuka pintu tetapi tidak langsung mempersilakan masuk.
"Mau apa?"
Harto menatap ke dalam, melihat Naura di ruang tamu.
"Mau bicara."
Pakde Darma menoleh kepada Naura.
Keputusan ada padanya.
Naura berdiri.
"Di teras saja."
Harto tampak tersinggung, tetapi menahan diri.
Mereka duduk di teras. Pakde Darma tetap berada di dekat pintu. Bude Sari tidak ikut, tapi Naura tahu ia mendengar dari dalam. Salsa juga pasti menempel di balik tirai.
Harto membuka pembicaraan dengan batuk kecil.
"Ibumu semalam menangis."
Naura menatapnya.
Tidak menjawab.
"Dia memang mulutnya keras. Tapi dia ibumu."
"Saya tahu."
"Bagas juga masih muda. Darah panas."
"Dia dua puluh empat."
Harto terdiam.
Naura berkata, "Pak, kalau Bapak datang untuk meminta saya memaklumi mereka lagi, saya tidak bisa."
Wajah Harto mengeras sedikit.
"Kamu sekarang keras sekali."
"Saya terlambat keras."
Kalimat itu membuat Pakde Darma di pintu menunduk menyembunyikan ekspresi.
Harto menghela napas.
"Bapak tidak mau ribut. Lebaran sebentar lagi. Orang-orang lihat."
Naura hampir tersenyum.
Orang-orang.
Selalu orang-orang.
"Kalau Bapak tidak mau ribut, jangan mulai."
"Naura."
"Saya serius. Saya tidak akan datang ke rumah Bapak untuk sungkem besok."
Harto terkejut. "Apa?"
"Saya akan salat Ied dengan Pakde dan Bude. Setelah itu saya ke rumah Pak Beni dan Bu Lilis bersama Salsa. Kalau Bapak dan Ibu ingin datang baik-baik ke sini, silakan. Tapi tidak ada tuntutan uang, tidak ada teriakan, tidak ada hinaan untuk Salsa."
"Kamu melarang orang tuamu?"
"Saya menetapkan batas."
Harto menatapnya seperti tidak mengenal anaknya.
"Kamu belajar kata-kata begitu dari siapa? Orang kaya tempat kamu kerja itu?"
Naura menatapnya tenang.
"Saya belajar dari hidup."
Harto kehilangan kata.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkata lebih pelan, "Bagaimana pun, kamu tetap anak kami."
Naura merasakan luka lama bergerak.
Dulu, kalimat itu adalah rantai.
Sekarang ia memeriksanya dengan hati-hati.
"Saya lahir dari Bapak dan Ibu," katanya. "Itu fakta. Tapi menjadi anak bukan berarti saya harus membiarkan diri saya dihancurkan."
Harto tampak marah, lalu lelah.
"Jadi kamu mau apa?"
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Naura sudah memikirkannya sejak malam.
Sejak melihat kamarnya hilang.
Sejak memeluk Bude Sari.
Sejak mendengar Arkan berkata ia sudah kuat.
"Saya ingin Pakde dan Bude menjadi keluarga utama saya."
Wajah Harto berubah.
Di pintu, Pakde Darma mengangkat kepala.
Naura melanjutkan, suaranya tidak keras tetapi jelas.
"Secara sosial, secara dokumen kontak darurat, secara keputusan hidup saya. Kalau nanti saya menikah, saya ingin Pakde dan Bude yang duduk sebagai orang tua saya. Kalau ada urusan hukum atau warisan saya, saya akan atur agar mereka yang saya percaya."
"Kamu mau membuang kami?"
"Bapak dan Ibu yang membuang saya sedikit demi sedikit. Saya hanya berhenti berdiri di depan pintu yang tidak pernah dibuka."
Harto berdiri.
Wajahnya merah.
"Kamu durhaka."
Kata itu akhirnya keluar.
Naura mengira kata itu akan menyakitkan.
Ternyata hanya terdengar tua.
Usang.
Seperti alat yang terlalu sering dipakai sampai tumpul.
"Kalau menjaga diri disebut durhaka, biarlah."
Harto menatapnya lama.
Mungkin ia menunggu Naura menangis. Meminta maaf. Menarik kata-katanya.
Naura tidak melakukan apa pun.
Akhirnya Harto pergi.
Langkahnya berat.
Setelah ia keluar pagar, Bude Sari muncul dari dalam rumah dengan mata merah. Salsa juga keluar, wajahnya basah. Pakde Darma tetap berdiri di pintu, tetapi rahangnya bergetar.
Naura berbalik menghadap mereka.
"Pakde, Bude."
Bude Sari menutup mulut.
Naura menarik napas.
"Kalau Pakde dan Bude tidak keberatan... boleh saya menganggap rumah ini rumah saya?"
Bude Sari langsung menangis.
"Bodoh. Dari dulu ini rumahmu."
Naura tertawa dan menangis bersamaan.
Pakde Darma mendekat. Ia bukan orang yang mudah memeluk, tetapi hari itu ia menarik Naura ke dalam pelukan kaku dan hangat.
"Pulang kapan pun kamu mau," katanya serak.
Salsa memeluk mereka dari samping.
Di teras kecil itu, Naura akhirnya merasa kata pulang tidak lagi menyakitkan.
Malam takbiran datang dengan suara beduk dan gema takbir dari musala.
Naura duduk di depan rumah bersama Salsa, Bude Sari, dan Pakde Darma. Di langit, beberapa kembang api kecil menyala.
Ponselnya bergetar.
Arkan:
`Selamat malam takbiran. Kamu baik?`
Naura memandang orang-orang di sekelilingnya.
Untuk pertama kalinya, jawabannya tidak terasa seperti kebohongan.
`Saya baik. Saya pulang ke rumah.`
Balasan Arkan datang sesaat kemudian.
`Bagus.`
Lalu:
`Saya ikut senang.`
Naura tersenyum.
Di rumah yang akhirnya ia pilih, di antara suara takbir dan tawa kecil Salsa, Naura menggenggam ponsel dan merasa hidupnya bergerak ke arah yang benar.
Besok masih ada luka.
Besok masih ada konflik.
Tapi malam itu, ia punya rumah.
Dan itu cukup.
jgn setengah 2 ya