NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.

Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".

Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].

Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!

Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERBURUAN DI KEHENINGAN MALAM

Malam di Frozen Abyss bukanlah malam biasa. Kegelapan di hutan terlarang ini berlapiskan hawa sedingin minus seratus derajat, mampu membekukan napas manusia sebelum sempat keluar dari tenggorokan. Namun, di bawah rimbunnya pohon-pohon pinus es yang jarumnya setajam belati, tujuh bayangan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.

Mereka adalah tim elit dari 'Shadow Fang', organisasi pembunuh bayaran paling mematikan di benua itu. Mereka mengenakan pakaian khusus dari kulit monster bawah tanah yang mampu meredam hawa dingin dan menyembunyikan hawa keberadaan mereka.

"Berhenti," bisik sang pemimpin tim, seorang pria bermata satu bernama Kaelen. Dia adalah seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi setara dengan Pendekar Pedang Lingkaran 6 Tahap Awal.

Enam anggotanya langsung merapat ke balik batang pohon es, menghilang dari pandangan mata.

"Ketua, ada apa?" tanya wakilnya melalui perangkat sihir transmisi suara yang sangat tipis. "Kita sudah berada di radius sepuluh kilometer dari titik hilangnya Legiun Salju Pertama. Belum ada tanda-tanda kehidupan."

"Justru itu masalahnya," mata satu Kaelen menyipit, mengamati tanah bersalju di depan mereka. "Tidak ada jejak kaki, tidak ada sisa darah, bahkan tidak ada satu pun jasad dari tiga ribu prajurit Boros. Kerajaan Silversnow mengatakan mereka mati membeku, tapi membeku pun pasti meninggalkan mayat. Tempat ini... terlalu bersih."

Kaelen meraba belati beracun di pinggangnya. Instingnya yang telah melewati ratusan pertarungan hidup-mati berteriak agar dia segera berbalik arah. Uang emas yang ditawarkan oleh Pangeran Julian dan Nona Alicia memang sangat menggiurkan, tapi itu tidak ada gunanya jika dia menjadi mayat di hutan ini.

"Kita ambil beberapa sampel tanah dan es di sekitar sini, lalu kita mun—"

Kalimat Kaelen terputus. Udara di sekeliling mereka tiba-tiba menjadi sangat berat. Tekanan mana yang begitu sunyi namun pekat menindas pundak mereka, membuat zirah pelindung mereka mulai retak karena tekanan tak kasat mata.

Sssss...

Suara desisan halus terdengar dari balik bayang-bayang pohon. Kaelen menoleh dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Dari kegelapan malam, sesosok jubah robek yang melayang perlahan muncul. Wajahnya kosong, hanya ada sepasang mata merah menyala yang menatap mereka dengan tatapan tanpa emosi.

"Makhluk apa itu?! Serang!" teriak salah satu anggota yang panik. Dia menghunus pedang pendeknya yang dilapisi aura angin dan menebaskannya ke arah makhluk itu.

Pedang itu melewati tubuh sang makhluk seolah-olah menebas udara kosong. Makhluk itu adalah Frost Specter.

"Sihir ilusi?!" pembunuh itu tertegun.

Namun, sebelum dia sempat menarik kembali senjatanya, tangan tak kasat mata dari Frost Specter yang dingin menembus dada kiri sang pembunuh. Tidak ada darah yang mengalir.

Sebaliknya, es biru mulai merambat keluar dari dadanya, membekukan seluruh tubuhnya dari dalam ke luar dalam hitungan detik. Pembunuh itu membatu menjadi patung es dengan mata yang masih melotot ketakutan.

"Bukan ilusi! Mereka makhluk roh es! Mundur! Gunakan jimat api!" teriak Kaelen dengan panik.

Dari dalam bayang-bayang, tidak hanya satu, melainkan tiga puluh Frost Specter muncul secara bersamaan, mengepung ketujuh pembunuh bayaran itu dari segala arah. Langit malam Frozen Abyss seolah dipenuhi oleh mata-mata merah yang haus darah.

Jeritan demi jeritan keputusasaan mulai memecah keheningan hutan. Jimat-jimat api yang dilemparkan oleh para pembunuh bayaran langsung padam bahkan sebelum meledak, terkikis habis oleh hawa dingin yang dibawa oleh para spekter. Satu per satu, anggota elit 'Shadow Fang' berubah menjadi pajangan es di dalam hutan terlarang.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, tersisa Kaelen seorang diri. Dia terjatuh di atas salju, kakinya sudah mati rasa akibat hawa dingin yang merayap naik. Di sekelilingnya, enam rekannya telah menjadi patung es abadi. Tiga puluh Frost Specter melayang mengitarinya, namun mereka tidak menyerangnya. Mereka membuka jalan di tengah.

Dari ujung jalan itu, suara ketukan langkah kaki di atas salju terdengar begitu anggun.

Elena von Silversnow berjalan mendekat, didampingi oleh seekor naga es kecil yang bertengger di pundaknya. Gaun putih Elena tampak bersinar di bawah rembulan malam, kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.

"Shadow Fang," Elena menyebut nama organisasi itu dengan nada bosan. "Julian dan Alicia benar-benar tidak sabaran. Mereka bahkan tidak bisa menunggu selama satu bulan."

"P-Putri Elena..." Kaelen gemetar, seluruh tubuhnya menggigil hebat hingga giginya berantukan. "Ampun... hamba hanya... hanya menerima perintah..."

"Aku tahu," Elena menatap Kaelen dengan mata biru esnya yang menembus jiwa. "Jika aku ingin membunuhmu, kau sudah menjadi es sejak menit pertama kau menginjakkan kaki di lembah ini. Frost, bagaimana menurutmu?"

Frost mendengus kecil, mengeluarkan kepulan uap dingin dari hidungnya. "Manusia ini memiliki sedikit silsilah sihir ruang tingkat rendah di tubuhnya. Itu sebabnya dia bisa bergerak sedikit lebih cepat dari yang lain. Tapi tetap saja, dia hanya seekor kutu."

Elena tersenyum dingin. Dia membuka telapak tangannya, dan sebuah kristal es berwarna hitam pekat terbentuk di atasnya. Kristal itu melayang dan langsung masuk ke dalam dada Kaelen, tertanam tepat di dekat jantungnya.

"Arghhh!" Kaelen menjerit saat rasa sakit yang luar biasa menusuk dadanya.

"Itu adalah Kristal Kutukan Es Dewa," kata Elena datar. "Kristal itu tidak akan membunuhmu sekarang. Tapi jika dalam waktu tiga hari kau tidak menyampaikan pesanku kepada Julian, atau jika kau mencoba melepaskannya dengan bantuan penyihir lain, jantungmu akan langsung meledak menjadi serpihan es."

Kaelen memegangi dadanya, wajahnya dipenuhi keringat dingin yang langsung membeku di pipinya. "P-Pesan apa... Yang Mulia?"

"Katakan pada Julian dan Alicia, terima kasih atas kiriman poin... maksudku, kiriman tikus-tikus ini," Elena meralat ucapan sistemnya dengan tenang.

"Dan katakan pada mereka, waktu mereka tinggal dua puluh lima hari lagi. Nikmatilah sisa hidup mereka di dalam istana yang hangat itu sebelum aku datang untuk membekukannya."

Elena melambaikan tangannya seolah sedang mengusir lalat. Tiga puluh Frost Specter langsung menghilang kembali ke dalam bayang-bayang.

"Sekarang, merangkaklah kembali ke tuanmu," perintah Elena.

Kaelen tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia memaksakan dirinya bangkit dan berlari menggunakan sihir langkah ruang pendeknya, mengabaikan rasa sakit di dadanya. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari wanita berambut perak yang menyerupai dewa kematian itu.

Setelah Kaelen pergi, Elena berbalik menuju Istana Es Dewa miliknya. Layar virtual sistem kembali muncul di hadapannya.

[Sistem: Anda telah memusnahkan 6 Anggota Elit 'Shadow Fang'. Poin Sistem yang diperoleh: 6.000 Poin.]

[Poin Sistem Saat Ini: 28.500 Poin.]

* [Pemberitahuan: Terdeteksi fluktuasi Mana Cahaya tingkat tinggi di perbatasan Kerajaan Silversnow. Diperkirakan unit bantuan dari Kekaisaran Suci telah tiba.]

Elena menatap layar tersebut dengan kilatan antisipasi di matanya. "Kekaisaran Suci... rupanya mereka benar-benar menukar tambang kristal mana demi kepalaku."

"Mereka membawa elemen cahaya dan api suci, Elena," suara Frost bergema di kepalanya. "Itu adalah musuh alami dari penyihir es biasa."

"Penyihir es biasa, benar," Elena tertawa kecil, melangkah memasuki gerbang Istana Es Dewa Fase 2 miliknya yang megah. "Tapi mereka lupa, yang mereka hadapi saat ini bukan lagi penyihir es biasa. Aku memegang kekuatan Es Dewa. Mari kita lihat, apakah cahaya suci mereka bisa menembus domain es milikku."

Elena berjalan menuju Kolam Pemurnian Mana Es di halaman istananya. Dia duduk bermeditasi di tepinya, bersiap untuk memperkuat pondasi Lingkaran 7 miliknya sebelum perang besar yang sesungguhnya pecah.

1
Sunflower_6520
Suka nih sama yang balas dendam begini...
SRIANA: terima kasih udah singgah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!