Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Udara pagi masih terasa sejuk ketika langit masih terlihat gelap. Arga keluar dari lobi apartemen. Ia berlari mengitari area kompleks dengan kecepatan stabil dan teratur.
Dua puluh menit berlari, Arga kembali ke unit penthouse-nya.
Begitu melangkah masuk ke lorong, matanya mendapati pintu pantry terbuka dan cahaya dapur sudah menyala. Seorang wanita paruh baya menggunakan apron tampak sedang menggeledah kabinet atas.
"Bi Sari?" panggil Arga seraya menyapu keringat di lehernya dengan handuk kecil.
Bi Sari terkejut, berbalik cepat. "Eh, Den Arga! Sudah pulang lari? Maaf Bibi langsung masuk, tadi pakai kartu akses yang Bibi pegang."
"Tidak apa-apa," sahut Arga tenang, melangkah mendekati meja bar untuk mengambil botol air mineral. "Saya kira Bibi baru datang jam delapan nanti."
"Bibi kepikiran, Den. Kemarin Bibi kan sudah libur beberapa hari pas Den Arga ke Singapura, jadi pagi ini datang agak awal untuk buat sarapan," jelas Bi Sari ramah seraya meraih wadah blender dari atas rak. "Bibi mau bikin bumbu halus buat ungkep ayam."
"Bi, jangan."
Gerakan tangan Bi Sari terhenti seketika. Ia menoleh bingung pada majikannya. "Kenapa, Den?"
Arga melirik secara refleks ke arah lorong di mana pintu kamar Kinan berada. "Jangan pakai blender, Bi."
"Lho, terus bumbunya?"
"Ulek saja, Bi. Dan tolong pelankan suara di dapur," potong Arga singkat, seraya tangannya memutar tutup botol air. "Istri saya masih tidur."
Bi Sari menatap Arga beberapa detik tanpa kedip. Keheningan menyelimuti area pantry sebelum perlahan senyum wanita tua itu melebar.
"Oh..." gumam Bi Sari, mengangguk-angguk paham. "Pantes beberapa hari kemarin Bibi dikasih libur. Alhamdulillah ya... akhirnya Den Arga menikah juga?"
Arga yang baru saja hendak meneguk airnya, menahan gerakan gelas di depan bibir. "Ya."
"Aduh, Bibi senang banget dengarnya," cetus Bi Sari dengan binar mata bahagia. "Akhirnya Den Arga nikah juga sama Nona cantik itu."
Tangan Arga yang memegang botol air mendadak kaku. Jarinya mengerat di permukaan plastik.
"Bukan dia," sela Arga cepat.
Bi Sari berkedip. "Ah... Bukan, aduh maaf, Den?"
"Ya, bukan."
Bi Sari manggut-manggut ragu, merasakan perubahan nada suara majikannya yang mendadak lebih rendah. "Oh... Padahal Bibi dulu pikir Den Arga beneran serius sama yang itu. Dulu kan sering banget main ke sini..."
"Itu sudah lama selesai, Bi," potong Arga dingin. Ia mengalihkan pandangannya, mengambil handuk kecil di bahunya. "Tolong Bibi siapkan sarapan untuk dua orang mulai hari ini. Dan buat porsinya lebih banyak."
Bi Sari mengangkat alisnya. "Lebih banyak?"
"Istri saya akan di rumah seharian."
"Oh, begitu." Bi Sari kembali menahan senyumnya. Tangannya perlahan mengembalikan wadah blender ke dalam kabinet dan mengambil ulekan batu. "Nona suka sarapan apa, Den? Ada pantangan makanan atau alergi?"
Arga diam. Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara. Pria yang biasanya menghafal ratusan lembar berkas mendadak kehilangan jawaban.
"Saya tidak tahu," aku Arga datar.
Bi Sari sedikit terkejut. "Lho?"
Arga menatap Bi Sari. "Kenapa, Bi?"
"Nggak apa-apa, Den." Bi Sari menahan kedutan di sudut bibirnya. "Istri Den Arga apa makannya banyak?"
Arga mengingat kotak martabak telur dan bungkus mie goreng pedas yang dihabiskan wanita itu sendirian tadi malam.
"Sepertinya iya," jawab Arga jujur. "Bikin beberapa macam menu saja."
"Siap, Den. Bibi buat sarapan biasa saja kalau begitu," sahut Bi Sari sigap, mulai mengulek bumbu di atas cobek dengan suara serendah mungkin.
Pukul tujuh lewat lima belas menit menit.
Arga sudah rapi berbalut kemeja formal dan jas. Setelah menghabiskan sepiring sarapan dan segelas kopi hitamnya dalam keheningan, ia meraih tas kerja dari atas meja bar.
Sebelum melangkah ke arah pintu keluar, Arga menghentikan langkahnya dan menoleh pada Bi Sari yang sedang mengelap meja di ruang tengah.
"Bi," panggil Arga.
"Iya, Den?"
Arga melirik lorong kamar Kinan yang masih tertutup. "Saya berangkat kantor dulu. Nanti jam sembilan, kalau istri saya belum bangun juga, tolong ketuk pintunya, ya, Bi. Bangunkan saja agar tidak terlewat sarapan."
Bi Sari tersenyum hangat, mengangguk paham. "Baik, Den. Nanti jam sembilan Bibi bangunkan."
"Saya berangkat." Arga melangkah keluar, meninggalkan apartemen yang kembali hening.
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit.
Bi Sari baru saja selesai merapikan area tengah dan belakang. Mengingat amanat majikannya, ia melangkah perlahan menuju lorong kamar. Baru saja tangannya terangkat hendak mengetuk pintu itu, engsel pintu mendadak berderit.
Pintu terbuka.
Sesosok wanita keluar dengan rambut sedikit berantakan, mengenakan kaus putih oversized yang agak melar di bagian leher, celana kain longgar, dan mata yang masih setengah terpejam. Kinan menguap lebar tanpa ditutupi, lalu menggosok matanya dengan kasar.
Langkah Kinan mendadak terhenti saat mendapati seorang wanita berdiri tepat di depan pintunya.
Kinan mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan nyawanya. "Maaf... Ibu siapa ya?"
Bi Sari tersenyum ramah, menyapa hangat. "Selamat pagi, Nona. Saya Sari, yang biasa bantu-bantu bersih-bersih dan masak di sini."
Kinan memiringkan kepala, melirik ke arah ruang tengah dan pantry yang sudah kosong. "Oh... Arga punya orang di rumah?"
"Iya, Nona. Bibi sudah ikut Den Arga dari awal dia pindah ke sini," terang Bi Sari halus. "Tadi Den Arga pesan ke Bibi, kalau jam sembilan Nona belum bangun, Bibi disuruh ketuk kamar. Takut Nona kelewat makan pagi."
Kinan mengerjap, sedikit heran mendengar perhatian kecil itu. Namun perutnya yang mulai berbunyi mengalahkan rasa herannya. Ia mengangguk-angguk pelan. "Oh... Pantesan tempat ini bersih banget. Em... Bau masakannya juga enak."
Bi Sari tertawa kecil mendengar kejujuran Kinan. "Bibi sudah masak nasi goreng, ayam goreng, telur, dan menyiapkan sambal ulek. Nona mau sarapan sekarang?"
"Hm... Boleh deh, Bi" sahut Kinan santai, ia berjalan menuju toilet mencuci muka dan menggosok giginya lebih dulu lalu berjalan menuju meja bar tanpa beban.
Kinan menyambar mangkuk kecil berisi sambal dan menuang tiga sendok penuh ke atas nasinya.
"Waduh, Nona suka pedas ya?" tanya Bi Sari terkekeh.
"Suka banget, Bi. Apa tadi Arga sarapan menu ini juga?"
"Tidak, Non. Biasanya Den Arga sarapan dengan menu yang lebih simpel."
"Ah... Dengan menu di kulkas yang seperti sampel laboratorium itu ya?" seloroh Kinan sebelum melahap suapan pertamanya.
Bi Sari terkekeh pelan. "Iya, Non biasanya bibi hanya masak makanan berat sore hari, tapi tenang saja. Mulai hari ini bibi akan buat sarapan setiap pagi."
"Makasih Bi. Wah... Ini enak banget nasi gorengnya!"
"Alhamdulillah kalau Nona suka," sahut Bi Sari senang. Ia lalu meraih tas belanja dan merapikan pakaiannya. "Kalau begitu Bibi pamit pulang dulu ya, Nona. Pekerjaan pagi sudah selesai. Nanti sore jam lima Bibi datang lagi untuk masak makan malam."
Kinan yang mulutnya masih penuh mendongak. "Oh, Bibi nggak stanby seharian di sini?"
"Enggak, Nona. Bibi cuma datang pagi sama sore saja," jelas Bi Sari ramah. "Bibi pamit ya, Nona."
"Iya, Bi Sari. Hati-hati ya! Makasih nasi gorengnya!" seru Kinan ceria.
Sepeninggal Bi Sari, Kinan menghabiskan sarapannya dengan tenang, menikmati kesendirian di apartemen luas itu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, bel apartemen berbunyi.
Kinan yang sedang rebahan di sofa sambil membawa tablet gambarnya mengerutkan kening. "Siapa pagi-pagi begini?"
Ia meletakkan tablet di atas meja, kemudian bangkit dengan malas. Rambutnya kembali berantakan setelah hampir satu jam rebahan.
Bel berbunyi sekali lagi.
Kinan berjalan menuju pintu sambil menguap. "Iya, iya..." Tangannya meraih gagang pintu. Klik. Pintu terbuka.