Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Langkah Yang Terhuyung
Di sudut kota Bandung yang dulu penuh hiruk-pikuk, kini hanya tersisa keheningan yang mencekam. Seorang pria melangkah tertatih, tangan kanannya menekan pelipis yang masih terasa berdenyut nyeri bekas benturan keras. Darah kering masih menempel di dahinya, sebagian mengering berwarna kecokelatan di sela-sela jari. Pandangannya masih samar, namun perlahan mulai sadar pada kenyataan mengeriKan yang ada di hadapannya.
Ia terus berjalan tanpa arah yang pasti, sesekali bersandar pada tembok bangunan yang pintunya terbuka lebar. Matanya menyapu sekeliling—mencari tempat yang bisa melindunginya, sekaligus benda apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk bertahan hidup. Dunia yang ia kenal semalam masih penuh tawa dan kesibukan, kini berubah total menjadi neraka yang tak masuk akal.
Orang-orang yang dulu ia sapa, yang pernah ia temui di jalan, kini berjalan terhuyung-huyung dengan mata kosong dan wajah pucat. Mereka yang seharusnya diam di dalam tanah, kini bangkit kembali—bukan untuk pulang, melainkan untuk menerkam siapa saja yang masih bernapas. Setiap kali geraman rendah terdengar, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya gemetar antara takut dan tak percaya.
Ia tak tahu di mana keluarganya berada, tak tahu siapa yang masih bertahan hidup. Yang ia tahu sekarang hanya satu: ia harus terus melangkah, mencari perlindungan, dan berusaha tetap hidup di tengah kekacauan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di sepanjang jalan raya itu, pemandangan makin memilukan—barisan mobil tentara dan mobil polisi berjejer berantakan, pintu-pintunya terbuka lebar seakan ditinggal terburu-buru. Sebuah tank raksasa diam membisu di tengah jalan, mesinnya mati dan tak berdaya, seolah ikut takluk pada kekacauan yang melanda.
Pria itu segera mendekati kendaraan-kendaraan itu dengan hati berdebar. Ia berharap menemukan senjata yang ia butuhkan, atau setidaknya satu kendaraan yang masih bisa bergerak. Dengan teliti ia memeriksa setiap sudut, hingga akhirnya tangannya menyentuh gagang pistol yang masih terselip di kursi pengemudi mobil polisi. Napasnya tercekat sejenak—akhirnya ia punya tameng nyata untuk melindungi diri.
Ia segera beralih ke mobil militer tak jauh dari situ. Langkahnya kini lebih cepat, penuh harap. Begitu masuk dan menutup pintu rapat-rapat, ia mendaPati kabin itu kosong namun lengkap dengan berbagai persenjataan yang masih terawat rapi. Rasanya seperti mendapatkan harta karun di tengah neraka yang hancur. Tanpa membuang waktu, ia memutar kunci kontak.
Bram... Bram... Suara mesin menderu kuat, hidup kembali seolah tak pernah rusak.
Mobil itu pun melaju perlahan, membelah jalanan sunyi meninggalkan kekacauan di belakangnya. Pria itu menggenggam setir erat, matanya menatap lurus ke depan.
"Semoga aku juga bisa menemukan orang-orang yang masih bisa diselamatkan..." gumamnya lirih, membawa harapan kecil di tengah dunia yang telah berubah gelap.
kendaraan itu membawa diri nya menjauh dari kota bandung menuju ke daerah Lembang, dia berharap jika keluarga nya berada di daerah sana saat wabah itu datang.
"sunyi sekali, tidak ada kehidupan.." gumam nya.
Mobil itu terus membelah jalanan beraspal yg penuh dengan genangan air, tanpa berhenti dan terus melaju.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak lama kemudian, rombongan Danu pun tiba di perbatasan kota Bandung. Namun pandangan yang mereka temui bukanlah harapan, melainkan pemandangan yang membuat darah seakan berhenti mengalir. Kota yang dulu penuh kehidupan itu kini berubah menjadi ladang kekacauan yang mengerikan.
Kendaraan berjejer melintang tak beraturan di sepanjang jalan—mobil warga yang ditinggal begitu saja, mobil polisi dan tentara dengan pintu terbuka lebar, hingga tank raksasa yang diam tak berdaya di tengah aspal. Semuanya seolah menjadi saksi bisu betapa cepat dan mengerikannya wabah ini merenggut segalanya.
Natalia tak kuasa menahan keterkejutannya, tangannya menutup mulut rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara. Mega pun terpaku diam, hatinya perih menyadari bahwa apa yang merekA alami bukan sekadar mimpi buruk—dunia ini sungguh telah berakhir seperti kiamat.
Danu mengerem kendaraan perlahan, wajahnya semakin tegang namun tetap tenang. "Kita berhenti sejenak. Pick-up ini kurang kuat untuk perjalanan selanjutnya. Kita cari kendaraan yang lebih layak."
Mereka segera turun dan memeriksa sekeliling. Ada truk tentara berukuran besar yang masih tampak kokoh, cukup muat untuk menampung seluruh rombongan beserta bekal mereka. Simon tak bisa mengalihkan pandangannya pada sebuah mobil sport mewah yang terparkir miring, masih tampak mengkilap meski ditinggal pemiliknya. Sementara Rafli, matanya langsung tertuju pada sebuah motor sport yang terparkir di pinggir jalan—pilihan yang tepat untuk bergerak lebih lincah dan menjaga jarak di barisan depan.
Bersambung