Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pilihan yang Sama-Sama Berbahaya
Ara duduk diam di kursinya. Tatapannya berpindah dari pintu menuju jendela, lalu kembali lagi ke pintu. Otaknya bekerja keras. Harus ada jalan keluar.
Matanya kemudian tertuju pada saklar listrik di dinding. Sebuah ide gila tiba-tiba muncul.
Kalau listrik dimatikan, seluruh rumah akan gelap. Dalam kegelapan, mungkin ia bisa mencari celah untuk melarikan diri.
Ara menatap saklar itu cukup lama. Ia mulai memperhitungkan. Andaikata listrik mati, anak buah Dante yang berada di halaman yang gelap itu makin tidak bisa melihat dengan jelas.
Pada waktu itu mungkin bisa ia gunakan untuk membuka jendela atau pintu belakang. Kemudian ia bisa kabur. Ia bisa bersembunyi di balik pepohonan. Tetapi jika ternyata ada anak buah Dante yang juga bersembunyi disana, maka tanpa berkedip anak buah Dante bakal menangkapnya juga.
Ara membayangkan puluhan kemungkinan lainnya. Sayangnya, kenapa analisanya hampir semua kemungkinan berakhir dengan dirinya ditangkap.
Kemungkinan pelariannya berhasil? Mungkin nol koma nol nol satu persen. Bahkan bisa jadi lebih kecil.
Ara mengusap wajahnya. "Ini gila."
Kalau sampai tertangkap? Ia bahkan tidak berani membayangkan hukuman apa yang akan diberikan Dante. Hukuman-hukuman Dante sebelumnya sudah cukup membuatnya kapok.
Satu yang pasti yang ia juga tahu, Dante tidak akan segan membuat hukuman yang ia terima jauh lebih berat.
Ara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Itu artinya apapun yang ia pilih, hasil akhirnya sama-sama tetap jatuh ke tangan Dante.
Ara menghembuskan napas panjang. Ia mengerutkan kening. Bau rumput basah. Bau angin malam masuk melalui celah jendela. Udara juga menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Ara bangkit dan mendekati jendela. Ia sedikit membuka jendela yang ada di dekat dapur.
Angin langsung menerpa wajahnya. Aroma tanah dan rumput semakin jelas.
Ara mendongak ke langit. Awan hitam menggantung rendah. Sepertinya hujan akan turun. Ia kembali melirik ke halaman. Bayangan beberapa orang masih terlihat samar di antara pepohonan. Mereka sudah berada di luar rumahnya entah sejak kapan. Dan kalau hujan benar-benar turun, mereka semua bakal kehujanan.
Ara menggigit bibir. Entah kenapa tiba-tiba muncul rasa bersalah dan iba.
Mereka hanyalah sekelompok manusia yang menjalankan perintah. Tidak mungkin mereka pergi sebelum Dante memerintahkan. Meskipun mereka termasuk orang kuat dan pilihan, jika mereka kehujanan, mungkin bisa jatuh sakit juga.
Ara menutup jendela perlahan. Ia kembali menatap pintu.
Beberapa detik berlalu, Ara maju mundur, maju mundur, ia masih ragu dalam bertindak.
"Sudahlah." Ara akhirnya mengambil keputusan. Ia menarik napas panjang. Lalu berjalan menuju pintu depan.
Dante yang masih berdiri di luar langsung mengangkat kepala ketika terdengar suara kunci diputar.
Klik. Pintu terbuka perlahan dari dalam.
Ara berdiri di ambang pintu. Ia menatap mata Dante. Ia seperti buronan yang kalah perang. Ia tidak lagi mencoba kabur.
"Tidak perlu mengepung rumah ini. Aku akan ikut pulang denganmu."
Tatapan Dante yang dingin berubah menjadi lebih hangat sedikit. Ia tidak menyangka Ara bisa menyerah secepat itu.
Dante mengangguk kecil. Ia menoleh kepada Luca. Ia memerintahkan, "Tarik semua orang."
Luca segera memberi isyarat. Satu per satu anak buah Dante pun keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka meninggalkan halaman, turun dari atap, dan menjauh dari balkon.
Dante kemudian berkata, "Kalian tunggu di mobil."
Luca mengangguk. Ia sempat melirik Ara. Kemudian ia memahami maksud tuannya.Tuannya jelas menginginkan privasi.
Dalam beberapa menit, halaman rumah tua itu kembali kosong.
Dante tidak langsung membawa Ara pergi. Ia justru masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangnya.
Ara mundur selangkah. Sekarang hanya mereka berdua.
"Kenapa pintunya kau tutup?" tanya Ara gamang.
"Aku tidak akan memakanmu," balas Dante dingin.
Dante melepaskan jasnya dan menggantungkannya di lengannya. Ia memandang sekeliling rumah tua itu. Kemudian tatapannya jatuh pada meja makan. Di sana masih ada seloyang roti.
Dante mengangkat alis. "Kau baru membuat roti?"
Ara mengiyakan. "Kau mau mencobanya?" tawarnya.
"Boleh, beri aku sedikit. Kau juga makan." Suara Dante lebih lembut. Tatapan mata nya entah kenapa jauh lebih teduh.
Ara mengambil pisau dan mengiris beberapa bagian. Ia memberikan beberapa irisan kepada Dante di atas piring kecil. Ia juga memotong untuk dirinya sendiri. Potongan roti untuk dirinya jauh lebih kecil.
"Kehilangan selera makan?" ujar Dante menyindir.
Ara sedikit kaget mendengar pertanyaan suaminya. Tetapi tentu saja ia menyangkal nya. "Tidak juga," katanya tersenyum hambar.
Dante menarik kursi dan mulai makan roti dari piring yang diberikan Ara. Seperti biasa mereka makan dalam diam. Saat makan, mereka berdua sama-sama menikmati makanannya.
"Nanti di mansion sering-sering buatkan aku roti seperti ini lagi." Dante menyingkirkan piringnya yang sudah kosong ke wastafel. Ia menunggu Ara mengosongkan piringnya juga. Baru mereka berdua mulai bicara lebih serius.
"Mengapa kau memilih tinggal di rumah tua seperti ini?" Dante menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku tidak punya banyak uang untuk menyewa rumah lainnya," aku Ara jujur. Meskipun ia punya uang dari kartu-kartu yang diberikan Dante, ia tidak mungkin meresikokan diri terlacak jika ia menggesek salah satu kartu itu.
"Berapa harga sewa rumah ini?" tanya Dante serius. Ia berencana mengirim Luca besok untuk membereskan kontrak sewa menyewa rumah ini. Karena Ara tidak mungkin tinggal di rumah ini lagi.
"Ini rumahku. Aku tidak perlu membayar uang sewanya." Ara tersenyum kecut. Ia merasa Dante meremehkan rumah tuanya. Setidaknya rumah ini termasuk kamuflase sempurna menyembunyikan diri.
"Ini rumahmu?" tanya Dante mengulangi. Ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Karenanya ia butuh kepastian.
Ara mengangguk.
"Kenapa keluargamu tidak pernah mencatatkan adanya rumah ini saat pernikahan kita?" tuntut Dante meminta penjelasan.
"Mereka tidak tahu. Aku membeli rumah ini dari teman saat kuliah. Ibunya sakit, ia membutuhkan banyak uang. Aku menggunakan semua uang tabungan ku untuk membeli rumah ini darinya."
"Rumah ini masih atas nama teman mu?" tebak Dante.
Ara mengangguk. Satu lagi kartu trufnya terbuka. Lama-lama ia tidak punya kartu truf sama sekali.
Dante memegang salah satu tangan Ara. "Aku akan meminta Luca mengurus rumah ini. Entah surat-surat atau bangunannya."
Ara mengiyakan. Ia ingin menarik tangannya tapi Dante malah menggenggam makin erat.
"Kenapa kau masih mencoba kabur dariku? Apakah aku semenakutkan itu?" tanya Dante serius. Ada penasaran dalam nada suaranya.
"Aku hanya pengganti. Pernikahan kita tanpa cinta. Hanya sebuah pernikahan bisnis." Ara tidak menutupi apa yang ia pikirkan selama ia menjalani kehidupan pernikahan bersama Dante.
"Dengarkan aku, Ara." Dante kali ini memegang kedua tangan Ara. Mereka saling bertukar pandang.
"Pertama, aku tidak pernah menganggapmu pengganti. Kedua, pernikahan ini mungkin memang dimulai tanpa cinta. Kalau itu masalahnya kita bisa belajar saling membangun dan mengenal satu sama lain. Beri waktu untuk diri kita, supaya bisa menumbuhkan perasaan cinta yang ekslusif yang seharusnya dimiliki setiap pasangan." Dante menatap Ara dengan tatapan dalam mengayomi.
"Ketiga, aku tidak akan menyangkal, pernikahan kita terjadi akibat kesepakatan bisnis kedua keluarga. Tetapi aku tidak mau hal ini menjadi beban dan kutuk dalam pernikahan ini ke depan. Aku benar-benar ingin membangun bahtera keluarga ini bersama mu."
Ara spontan shock mendengar pernyataan Dante. Ia menarik tangannya. Kali ini Dante melepaskannya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk bisa menerimaku sekarang juga. Aku akan menunggumu," tutur Dante serius. Ia ingin memberi ruang bagi mereka berdua.
Ara menatap pria di depannya dengan tatapan waspada.
Dante menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap Ara lurus.
"Apa yang kau inginkan dariku Dante?" ujar Ara to the point.
"Sederhana. Tidak ada kata cerai. Tidak ada acara kabur-kaburan lagi." Jeda. "Ini yang terakhir. Jika kau berani kabur lagi dariku, aku akan mengikat dan mengurungmu seperti tahanan."
Ara bergidik ngeri. Ia tahu Dante akan melakukan apa yang ia katakan.
"Kita sepakat Ara?" ujar Dante mendesak Ara memenuhi permintaannya.
"Apa aku punya pilihan?" timpal Ara yang sebenarnya sudah tahu apa jawabannya.
"Tidak!" tandas Dante kembali dingin.
Ara menghembuskan nafas berat. Ia enggan mengatakannya, karena ia tahu begitu ia mengeluarkan kata sepakat itu dari mulutnya, ia seperti mengikat janji yang mencekik lehernya sendiri.
"Ara???" panggil Dante.
Ara mengangkat matanya. "Sepakat."
Bersamaan dengan diucapkan kata sepakat itu, tiba-tiba hujan turun dengan deras.
***