Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 - Si Kecil Gila
"Siapa kamu sebenarnya?"
Jayden masih menggenggam pergelangan tangan Felicia.
Felicia menunduk melihat jari-jarinya yang panas, lalu kembali menatap wajahnya.
"Pemenang."
Jawaban itu membuat Jayden terdiam dua detik.
Lalu ia tertawa keras.
"Sombong banget." Tangannya tidak langsung lepas. "Tapi hari ini lo boleh sombong."
Felicia memiringkan kepala. "Tanganku."
Jayden baru sadar ia masih memegangnya. Ia melepas, tetapi matanya tidak pergi dari wajah Felicia. "Gue antar balik."
"Mobil abu-abu?"
"Biar Yoga yang urus. Kalau lo nyetir lagi, Sis di kepala lo mungkin pingsan."
Felicia berhenti.
Jayden mengangkat alis. "Apa?"
"Tidak apa-apa."
Sis berteriak tanpa suara. "Dia cuma bercanda, kan? Dia tidak tahu Sis beneran ada, kan?"
"Kalau kamu terus berisik, dia bisa tahu dari wajahku."
"Sis diam!"
Perjalanan kembali ke Paviliun F4 lebih sunyi daripada saat berangkat. Jayden beberapa kali ingin bicara, tetapi menelan kalimatnya sendiri. Untuk orang yang suaranya selalu seperti mesin panas, diam itu justru lebih jelas.
Ia menurunkan Felicia di pintu samping paviliun saat langit sudah gelap. Lampu taman menyala di antara tanaman hias, memantulkan cahaya ke kaca tinggi bangunan.
"Besok," kata Jayden sebelum Felicia turun.
"Apa?"
"Gue mau balapan lagi."
"Kamu mau kalah lagi."
Jayden menyeringai. "Makanya harus coba."
Felicia menutup pintu mobil tanpa menjawab.
Paviliun F4 malam hari jauh lebih tenang. Lantai bawah tempat kamarnya berada hampir tidak dilewati siapa pun. Area utama F4 ada di lantai atas dan sisi belakang, dipisahkan akses kartu khusus. Felicia berjalan melewati koridor marmer, berniat mandi, makan sesuatu, lalu tidur.
Tubuh ini sudah cukup dipakai hari ini.
Namun sebelum sampai di kamar, ia mencium bau cat minyak.
Tipis. Tajam. Bercampur aroma terpentin.
Di dunia lamanya, bau kimia seperti itu biasanya berarti bengkel senjata atau ruang perawatan alat. Di sini, bau itu datang dari pintu kaca yang sedikit terbuka di ujung lorong samping.
"Studio seni Calvin," bisik Sis. "Area ini seharusnya tidak dipakai siswa lain, tapi pintunya tidak terkunci."
"Tidak terkunci berarti mengundang."
"Atau jebakan."
"Lebih menarik."
Felicia mendorong pintu.
Ruangan di baliknya luas, lebih hangat daripada koridor. Lampu sorot kecil menyorot beberapa kanvas besar. Ada meja panjang penuh pensil, kuas, palet, kain lap, dan botol kaca berisi cairan bening. Di dekat jendela, Calvin Tanuwijaya berdiri membelakangi pintu, lengan kemejanya digulung, jari-jarinya bernoda arang.
"Ci pulang lebih malam dari perkiraan," katanya tanpa menoleh.
Felicia masuk dan menutup pintu. "Kamu menghitung?"
"Aku menebak." Calvin akhirnya menoleh. Di bawah lampu studio, mata cokelat mudanya terlihat lebih gelap. "Jayden bawa mobil merahnya. Kalau dia kalah, dia pasti mengantar pulang dengan diam. Kalau dia menang, seluruh paviliun sudah dengar suara tawanya dari gerbang."
"Kesimpulan?"
"Ci menang."
Panggilan itu keluar dengan ringan, tetapi ruangan berubah setelahnya.
Ci.
Bukan sapaan manis biasa. Di mulut Calvin, kata itu seperti benang halus yang dilempar ke pergelangan tangan Felicia. Tidak cukup kuat untuk mengikat, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa mereka punya hubungan yang belum selesai.
Sis menampilkan data singkat di sudut pandang Felicia.
Calvin Tanuwijaya. Anak Mama Wenny. Anak tiri Hendrick Tanuwijaya.
Hendrick Tanuwijaya. Ayah biologis Felicia Winarko. Belum mengakui secara publik.
Hubungan publik: tidak jelas.
Hubungan emosional tubuh lama: rumit, penuh jarak, penuh rasa rendah diri.
Felicia menutup layar itu dengan satu kedipan.
"Jangan panggil kalau kamu tidak ingin aku menoleh," katanya.
Calvin tersenyum. "Justru karena ingin Ci menoleh."
"Kamu selalu bicara seperti ini?"
"Tidak." Ia meletakkan arang di meja. "Biasanya aku lebih manis."
"Sayang sekali."
"Ci lebih suka yang tidak manis?"
Felicia berjalan mendekati kanvas yang ditutup kain. "Aku lebih suka yang berguna."
Calvin menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan. Suaranya lembut, hampir patuh, tetapi mata itu tidak patuh sama sekali.
"Kalau begitu, aku harus jadi berguna."
Ia berbalik ke meja dan mengambil kotak kecil dari laci. Bukan kuas, bukan arang, melainkan salep memar yang masih tersegel.
Felicia melihat benda itu. "Kamu menyimpan obat di studio?"
"Arang, pisau palet, terpentin, dan murid Akademi Bintang Mulia yang suka masuk tanpa izin. Studio ini butuh kotak P3K." Calvin mengangkat kotak itu sedikit. "Tangan kanan Ci memar. Pergelangan kiri juga merah."
Tatapannya turun ke bekas genggaman Jayden.
Hanya sebentar.
Cukup sebentar untuk terlihat tidak sengaja, cukup lama untuk membuat udara berubah.
"Jayden pegang terlalu keras," katanya.
"Dia tidak melukaiku."
"Aku tahu." Calvin membuka segel salep. "Kalau melukai, dia tidak akan bisa mengantar Ci pulang dengan mobil utuh."
Kalimatnya lembut.
Isi kalimatnya tidak.
Felicia menerima salep itu sebelum Calvin sempat menyentuh pergelangan tangannya. "Aku bisa sendiri."
Calvin tersenyum, seperti sudah menduga. "Aku juga tahu."
"Kamu tahu banyak."
"Tentang Ci?" Ia menyandarkan pinggul ke tepi meja, jari bernoda arang mengetuk pelan permukaan kayu. "Belum cukup."
"Itu masalahmu."
"Makanya aku menggambar."
Felicia menarik kain dari salah satu kanvas.
Gambar di bawahnya bukan wajah utuh. Hanya sepasang mata. Mata gadis dengan ujung sedikit naik, tatapan kosong, dan air yang hampir jatuh tetapi tidak pernah benar-benar jatuh.
Pemilik tubuh lama.
"Ini sebelum hari ini," kata Felicia.
Calvin tidak menyangkal. "Ci yang dulu selalu terlihat seperti mau meminta maaf karena hidup."
"Dan kamu menggambarnya?"
"Aku menggambar hal yang mengganggu."
"Aku mengganggumu?"
Calvin berjalan mendekat, berhenti pada jarak satu langkah. "Dulu, iya. Sekarang lebih parah."
Felicia menoleh padanya.
Calvin tersenyum lagi. Kali ini manis. Terlalu manis.
Si kecil gila, pikir Felicia.
Di meja dekat siku Calvin, ada sketchbook hitam yang sama dengan yang ia bawa ke Kelas F pagi tadi. Sampulnya terbuka sedikit, memperlihatkan ujung kertas yang penuh garis arang.
Calvin mengikuti arah pandang Felicia.
"Itu bukan untuk dilihat."
Felicia mengambilnya.
"Berarti harus kulihat."
"Ci."
Nada Calvin berubah. Hanya satu kata, tetapi lebih rendah.
Felicia membuka halaman pertama.
Wajahnya ada di sana.
Bukan satu.
Halaman berikutnya, wajahnya lagi. Di kantin. Di bangku belakang Kelas F. Di lapangan bulu tangkis. Di koridor dekat gudang olahraga. Beberapa sudut bahkan tidak mungkin dilihat orang yang hanya lewat sekali. Calvin tidak sekadar menggambar. Ia mengamati, menyimpan, lalu memilih bagian yang menurutnya paling mengganggu.
Beberapa gambar jelas dibuat sebelum hari ini, wajah lama yang menunduk dan lemah. Beberapa lainnya baru, mata tajam, bibir sedikit tersenyum, kepala terangkat seperti seseorang yang baru saja mengambil alih dunia kecil ini.
Felicia membalik halaman demi halaman.
Dari awal sampai akhir, semua isinya wajahnya.