Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Di Pergelangan Nathanael
Akhirnya ia berkata, "Boleh."
Staf butik meminta nomor WhatsApp Louisa dan mengecek tablet internal dengan wajah yang tetap profesional. Beberapa kali ia meminta izin masuk ke ruang belakang. Louisa menunggu di dekat etalase, memandangi jam-jam lain yang berkilau tenang di bawah lampu.
Tidak ada satu pun yang membuat dadanya bergerak seperti Coisíní.
Mungkin karena jam itu bukan sekadar jam.
Jam itu adalah bentuk dari keberanian yang dulu tidak pernah benar-benar ia punya. Ia ingin memberikannya kepada Kevin, tetapi menyembunyikan maknanya di balik ucapan selamat yang aman. Ia ingin mengatakan, kamu membuat jantungku berdebar, tetapi yang keluar hanya rencana hadiah kantor.
Lalu hadiah itu hilang sebelum sempat dibeli.
Staf kembali beberapa menit kemudian.
"Maaf, Bu. Data lama tidak semuanya terbuka di sistem cabang. Saya perlu minta bantuan arsip pusat."
"Tidak apa-apa."
"Kalau ada hasil, kami hubungi Ibu."
Louisa mengangguk. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan. Mengetahui siapa pembelinya? Membuktikan bahwa masa lalu memang tertutup? Atau sekadar memastikan bahwa jam itu benar-benar pernah ada, bukan hanya benda yang ia besarkan dalam ingatan.
Ia keluar dari butik dengan paper bag berisi kertas cat air di tangan, tetapi pikirannya tertinggal di dial putih gading dan jarum rose gold.
Dua minggu berlalu tanpa kabar dari butik.
Louisa juga tidak menanyakannya lagi.
Hidupnya mulai membentuk ritme baru yang anehnya tidak menakutkan. Pagi hari, ada bunga di meja. Tidak selalu mewah, tidak selalu putih. Kadang hanya beberapa tangkai kecil warna biru pucat atau kuning muda, tetapi selalu segar. Sarapan tidak selalu bubur Mangga Besar karena Louisa akhirnya memaksa Nathanael tidak pergi setiap hari, namun pada pagi tertentu, kantong plastik dengan stiker merah tetap muncul seolah Mangga Besar tiba-tiba pindah ke SCBD demi mereka.
Ia mulai menggambar setiap hari.
Kadang bunga. Kadang mangkuk bubur. Kadang tangan yang mendorong cangkir teh ke arahnya. Sekali, tanpa sengaja, ia menggambar profil Nathanael dari samping. Ia baru menyadarinya setelah garis rahang dan hidung itu selesai.
Louisa langsung menutup buku sketsanya.
Malam itu hujan turun tipis.
Nathanael pulang lebih cepat dari biasanya karena satu meeting dibatalkan. Louisa sedang duduk di ruang tengah dengan kotak penyimpanan lama dari Kuningan. Ia berencana merapikan sisa barang pindahan, tetapi tutup kotak itu macet. Sudah lima menit ia menariknya dengan hati-hati agar tidak merusak isi di dalam.
"Bisa dibantu?" tanya Nathanael dari pintu masuk.
Louisa menoleh. "Aku bisa."
Nathanael tidak bergerak maju. Ia hanya berdiri di sana, jas di lengan, menunggu.
Louisa menarik sekali lagi.
Tutup kotak tetap tidak bergerak.
Ia menghela napas. "Oke. Mungkin sedikit."
Nathanael meletakkan jas di sofa dan berjalan mendekat. Ia tidak langsung mengambil alih. Ia duduk di lantai seberang Louisa, memeriksa sisi kotak, lalu berkata, "Bagian kanan tersangkut."
"Isinya cuma buku lama. Aku tidak tahu kenapa bisa sesulit ini."
"Kardus kadang berubah bentuk kalau lembap."
"Kamu bahkan tahu soal kardus."
"Aku tahu beberapa hal yang tidak berguna."
Louisa hampir tersenyum.
Nathanael menekan sisi kanan kotak dengan ibu jari, lalu menarik tutupnya pelan. Lengan kemejanya tertarik naik sedikit, memperlihatkan pergelangan tangan kirinya.
Louisa awalnya tidak memperhatikan.
Sampai cahaya lampu ruang tengah jatuh tepat di dial jamnya.
Putih gading.
Jarum rose gold yang tipis.
Angka kecil di sisi kanan seperti detak yang disembunyikan.
Napas Louisa berhenti di tenggorokan.
Tutup kotak terbuka dengan bunyi kecil.
"Sudah," kata Nathanael.
Louisa tidak melihat kotak itu.
Matanya terpaku pada pergelangan tangannya.
Nathanael menyadarinya setelah dua detik. Ia menurunkan tangan sedikit, bukan menyembunyikan, tetapi gerakannya cukup untuk membuat Louisa sadar bahwa ia sedang menatap terlalu jelas.
"Kenapa?"
Louisa mengangkat mata, lalu kembali melihat jam itu.
"Jam kamu..."
Nathanael melirik pergelangan tangannya. "Kenapa?"
"Itu Coisíní?"
Udara ruang tengah terasa berubah.
Nathanael tidak langsung menjawab. Hujan mengetuk kaca balkon dengan ritme kecil. Di antara mereka, kotak penyimpanan terbuka, memperlihatkan buku sketsa lama Louisa yang sudutnya mulai menguning.
"Iya," jawab Nathanael akhirnya.
Louisa memegang pinggir kotak.
"Model limited edition?"
"Iya."
Jantungnya berdebar terlalu cepat untuk sebuah jam tangan.
"Kamu beli kapan?"
Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menyaringnya. Nathanael menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ketenangan di wajahnya tampak retak sedikit.
"Sudah lama," katanya.
"Seberapa lama?"
Nathanael diam.
Louisa tertawa kecil, tetapi tidak ada suara ringan di dalamnya. "Aku pernah mau beli jam itu."
Mata Nathanael berubah.
"Untuk Kevin," lanjutnya, lebih pelan.
Ia tidak tahu kenapa ia merasa perlu mengatakannya. Mungkin karena jam itu terlalu dekat dengan masa lalu yang salah alamat. Mungkin karena ia tidak ingin Nathanael mendengar setengah cerita dari orang lain. Mungkin karena setelah semua catatan, bunga, dan bubur itu, ia mulai merasa berbohong lewat diam juga bisa menyakitkan.
Nathanael menurunkan pandangan ke jam di pergelangan tangannya.
"Aku tahu," katanya.
Louisa membeku.
Dua kata itu jauh lebih mengejutkan daripada jam yang ia lihat.
"Kamu tahu?"
Nathanael tidak menjawab cepat.
Louisa merasa hujan di luar seperti ikut mendekat ke kulitnya. Ia duduk di lantai ruang tengah, memegang kotak penyimpanan yang baru terbuka, tetapi pikirannya kembali ke etalase butik bertahun-tahun lalu. Ia berdiri di sana dengan tas kerja murah, menghitung bonus proyek di kepala, berharap harga yang ia tabung cukup untuk membeli sebuah jam yang artinya tidak akan pernah Kevin pahami.
Dan Nathanael tahu.
"Dari mana?" tanyanya.
Nathanael mengusap tepi kotak yang sedikit terkelupas dengan ibu jari, gerakannya kecil, seperti sedang mencari cara paling hati-hati untuk menjawab.
"Aku pernah lihat kamu di butik itu."
Louisa menatapnya.
"Kapan?"
"Waktu kamu datang untuk bertanya soal Coisíní."
Tenggorokan Louisa terasa kering. "Kamu ada di sana?"
"Tidak di dalam. Di luar."
"Kamu lihat aku?"
"Iya."
"Dan kamu tahu itu untuk Kevin?"
Nathanael mengangkat mata. Tatapannya tidak menuduh. Tidak juga mengasihani. Justru karena itu, Louisa merasa lebih tidak terlindungi.
"Kamu memegang kartu ucapan," katanya pelan. "Ada nama Kevin di atasnya."
Louisa teringat kartu kecil warna krem yang akhirnya tidak pernah ia pakai. Selamat atas jabatan barumu. Semoga selalu tepat waktu mengejar semua impianmu. Kalimat aman. Bodoh. Terlalu rapi untuk hati yang berantakan.
"Aku bahkan lupa kartu itu," bisiknya.
"Aku tidak."
Tidak ada nada bangga dalam kalimat itu. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan adegan kecil sampai hafal rasa sakitnya.
Di luar, hujan makin rapat. Di dalam, jarum Coisíní bergerak pelan di pergelangan Nathanael, menghitung detik yang tiba-tiba terasa terlalu panjang.