Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Ruang Kerja
"Kamu akan tahu."
Ternyata jawaban itu berarti Keira harus bangun lebih pagi dari biasanya, memakai blus terbaiknya yang tetap terlihat seperti blus paling biasa di dunia, lalu duduk di kursi belakang Mercedes hitam bersama seorang pria yang sepanjang perjalanan hanya membaca dokumen.
Mobil itu begitu sunyi sampai suara AC terdengar seperti bisikan.
Keira duduk di sudut, berusaha tidak menyentuh terlalu banyak benda. Kulit joknya halus, dingin, dan berbau mahal. Tangannya sempat bergerak pelan, meraba jahitan kursi, lalu cepat-cepat ditarik ketika Darren membalik halaman dokumen.
Ia melirik keluar jendela.
Jakarta bergerak di luar. Motor-motor menyelip, ojek online berhenti di pinggir jalan, pedagang kopi keliling mendorong gerobak, lalu semua itu perlahan berganti gedung kaca, penjaga berseragam, dan mobil-mobil yang warnanya sama-sama gelap.
Mobil ini kalau dijual bisa beli Panti Harapan sekalian dengan Bu Wati-nya, pikir Keira.
"Duduk biasa."
Keira menoleh.
Darren masih menatap dokumen.
"Kalau kamu terus menempel ke pintu, orang akan mengira saya menculikmu."
Keira langsung meluruskan punggung. "Saya memang tidak tahu kita mau ke mana, Pak Darren."
"Kantor."
"Kantor Pak Darren?"
"Hmm."
Itu saja.
Pak Ji duduk di depan bersama sopir. Di mobil belakang, Keira melihat sekilas sosok Rio Kurniawan dan dua pengawal lain mengikuti. Ia baru sadar bagi Darren, pergi ke kantor bukan sekadar pergi. Ada lapisan pintu, mobil, orang, dan aturan yang bergerak bersamanya.
Hendrawan Tower berdiri di kawasan Sudirman seperti bilah kaca yang menusuk langit. Empat puluh lantai, mungkin lebih. Keira tidak sempat menghitung karena begitu mobil berhenti, pintu sudah dibuka dari luar.
Lobi gedung itu luas dan berkilau. Lantai marmernya memantulkan lampu. Di belakang meja resepsionis, dua perempuan berseragam hitam menyambut Darren dengan senyum yang langsung membeku ketika melihat Keira turun dari mobil di belakangnya.
Keira menunduk melihat sandalnya.
Bukan sandal jelek. Sudah dicuci. Tapi tetap saja, di antara sepatu hak tinggi mengilap dan lantai yang bisa memantulkan dosa, sandal itu tampak seperti kesalahan administrasi.
Bisik-bisik tidak terdengar jelas, tetapi mata orang-orang cukup keras.
Darren tidak menoleh. Ia berjalan menuju lift pribadi. Pak Ji memberi isyarat agar Keira mengikuti. Rio berdiri di belakang, wajahnya datar, membuat siapa pun yang ingin menatap terlalu lama langsung pura-pura sibuk.
Di dalam lift, Keira menahan napas saat angka lantai naik.
"Pak Darren," katanya pelan.
"Apa?"
"Kalau saya jatuh dari lantai empat puluh, mahal tidak biaya bersihinnya?"
Pak Ji terbatuk.
Darren akhirnya menatapnya.
Mata pria itu tetap dingin, tetapi Keira merasa ada sesuatu yang hampir bergerak di sudut bibirnya.
"Jangan jatuh."
"Saya juga tidak rencana."
Lift terbuka di lantai tertinggi.
Ruang kerja Darren menempati hampir seluruh sisi gedung. Dinding kaca dari lantai sampai langit-langit memperlihatkan Jakarta dari atas: jalanan seperti pita, gedung-gedung seperti kotak, Monas kecil di kejauhan, dan garis laut yang samar di bawah langit pucat.
Kantornya dingin, rapi, dan tidak punya satu pun benda yang terlihat tidak perlu. Meja hitam besar, rak buku, sofa abu-abu, beberapa lukisan abstrak, dan aroma kopi pahit.
"Duduk di sana," kata Darren sambil menunjuk sofa sudut. "Jangan menyentuh apa pun."
Keira duduk.
Lima menit pertama, ia patuh.
Sepuluh menit berikutnya, ia menghitung lampu di langit-langit. Tiga puluh dua.
Lima belas menit berikutnya, ia menghitung buku di rak yang bisa terlihat dari sofa. Seratus empat puluh tujuh, kalau buku tebal yang miring dihitung satu.
Setelah hampir empat puluh menit, Darren sudah menandatangani dua puluh lebih dokumen, menerima tiga telepon, dan mengucapkan lebih banyak kata kepada orang di telepon daripada kepadanya sejak pagi.
Keira mulai gelisah.
Ia berdiri pelan. Sofa tidak berbunyi. Bagus. Ia berjalan ke rak dekat meja, mengambil sebuah pemberat kertas kristal berbentuk gedung kecil. Berat. Jernih. Pasti mahal. Mungkin cukup untuk bayar kos tiga bulan.
"Keira."
Ia hampir menjatuhkan benda itu.
Darren mengangkat wajah dari dokumen. "Apa yang saya katakan tadi?"
"Jangan menyentuh apa pun."
"Lalu?"
"Saya sedang memastikan benda ini tidak kesepian."
Pak Ji yang berdiri dekat pintu menunduk lebih dalam.
Darren menatapnya beberapa detik. Keira sudah siap disuruh kembali ke sofa, atau lebih buruk, dipulangkan ke Sayap Giok seperti anak kecil yang gagal diajak keluar.
Namun Darren hanya menarik kursi di samping mejanya.
"Kalau tidak bisa diam di sana, duduk di sini."
Keira menunjuk dirinya sendiri. "Di situ?"
"Kamu mau berdiri sampai sore?"
Ia segera duduk di kursi itu sebelum Darren berubah pikiran.
Dari jarak sedekat ini, meja Darren tampak seperti medan perang yang sangat rapi. Folder bertumpuk, pena hitam, tablet, laptop, secangkir kopi tanpa gula, dan tanda tangan yang bergerak cepat di bawah jarinya. Keira tidak mengerti istilah bisnis di dokumen itu, banyak yang memakai bahasa Inggris. Tapi ia bisa melihat cara Darren bekerja: membaca cepat, berhenti pada satu angka, mencoret satu baris, lalu memberi instruksi singkat lewat telepon.
"Tolak."
Jeda.
"Mereka terlambat dua minggu. Tidak ada perpanjangan."
Jeda lagi.
"Kalau Yuwono keberatan, suruh bicara dengan saya langsung."
Suara Darren rendah. Tidak keras, tetapi membuat orang di seberang telepon terdengar gelisah meski Keira tidak bisa mendengarnya.
Keira pelan-pelan berhenti bergerak.
Pria ini melelahkan untuk dilihat. Bukan karena membosankan, tetapi karena ia seperti mesin yang dipaksa tetap menyala walau bagian dalamnya sudah panas. Di antara dua panggilan, Keira melihat Darren menekan pelipisnya sebentar. Gerakan itu cepat, hampir tidak terlihat.
Orang seperti dia juga bisa capek?
Pertanyaan itu muncul tanpa izin.
Selama ini, Keira melihat Darren sebagai atap. Sebagai sumber makanan. Sebagai orang kaya misterius yang punya kuasa memindahkan hidupnya dengan satu kalimat. Tapi dari samping, di bawah cahaya dingin kantor, ia tampak lebih manusia. Rahangnya keras, alisnya memiliki garis lelah, dan di bawah matanya ada bayangan tipis yang tidak bisa disembunyikan jas mahal.
Keira menyandarkan punggung.
Mungkin karena ruangan itu dingin. Mungkin karena kursinya nyaman. Mungkin karena setelah berhari-hari diserang, dinilai, dipindahkan, dan dipaksa waspada, suara Darren yang pendek-pendek justru terdengar seperti dinding.
Ia tidak sadar kapan matanya terpejam.
Darren baru menyadari Keira tidur ketika telepon keempat selesai.
Kepala perempuan itu miring ke sandaran kursi. Wajahnya yang biasanya penuh perhitungan terlihat jauh lebih muda saat tidur. Bibir bawahnya masih memiliki bekas luka kecil kemarin. Satu tangannya menempel di atas perut, seperti kebiasaan orang yang tidur sambil berjaga agar miliknya tidak diambil.
Darren diam.
Pak Ji melihat dari dekat pintu.
Selama dua puluh tahun melayani keluarga Hendrawan, ia mengenal setiap bentuk diam Darren: diam marah, diam menghukum, diam menghitung, diam yang berarti seseorang akan kehilangan pekerjaan sebelum matahari turun.
Diam yang ini berbeda.
Darren menatap Keira cukup lama. Lalu sudut bibirnya naik sangat tipis.
Hampir tidak ada.
Tapi Pak Ji melihatnya.
Keira terbangun setengah jam kemudian karena suara ponsel Darren bergetar di meja.
Ia membuka mata, bingung sesaat melihat Jakarta di balik kaca. Lalu sadar ia tertidur di samping meja kerja pria paling menakutkan di gedung ini.
"Saya ketiduran?" bisiknya.
Darren mengangkat telepon tanpa menjawabnya. Wajahnya berubah ketika mendengar suara di seberang.
Keira langsung duduk tegak.
"Apa?" Suara Darren turun lebih rendah. "Yuwono lagi?"
Ia melirik Keira yang masih belum sepenuhnya sadar, lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Punggungnya menghadap ruangan.
"Kirim semua datanya ke saya. Sekarang."
Keira menatap punggung itu.
Entah kenapa, ruangan yang tadi terasa seperti dinding tiba-tiba terasa seperti pintu menuju badai.