NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Pewaris Tunggal

"Tentang hak warismu."

Kalimat itu membuat kantukku langsung hilang.

Reynard menutup panggilan tanpa banyak kata. Ia baru saja selamat dari serangan berat, tangannya masih lebih dingin dari normal, dan Leo jelas akan melempar stetoskop kalau tahu ia pergi ke Menteng malam itu.

Jadi tentu saja Reynard berdiri.

"Tidak," kataku.

Ia menatapku.

"Keira."

"Kau baru bangun dari hampir mati."

"Ini soal waris."

"Tubuhmu juga warisan penting. Dari ibumu. Tolong jangan rusak."

Kalimat itu membuatnya diam sesaat.

Lalu ia mengambil jas.

Aku menghela napas. "Baik. Kalau kamu pergi, aku ikut."

"Tidak perlu."

"Salah. Justru perlu. Aku sekarang saksi hidup bahwa kamu buruk dalam menjaga diri."

Maka malam itu kami ke Menteng.

Hendra sudah menunggu di ruang rapat keluarga. Veronica duduk di sisi kanan, wajahnya anggun tapi matanya keras. Brandon berdiri di dekat jendela, tampak seperti orang yang baru saja diberi tahu mainannya akan disita. Denny Hartono juga hadir, terlalu tenang untuk orang luar.

Di meja sudah ada dokumen legal, laporan performa divisi, dan bagan kepemilikan saham. Ini bukan obrolan keluarga. Ini ruang operasi.

Aku duduk di belakang Reynard, sedikit ke samping. Posisi yang cukup sopan untuk tidak terlihat mencampuri, tapi cukup dekat untuk melihat kalau jarinya mulai dingin.

Ia tahu. Ia melirikku sekali.

Aku mengangkat alis seolah berkata, jangan coba-coba pingsan secara elegan.

Sudut bibirnya hampir bergerak.

Tidak ada yang menyambutku.

Bagus. Aku juga tidak datang untuk disambut.

Hendra membuka map tebal di meja.

"Saya akan meninjau ulang struktur pewarisan Wijaya Group."

Udara langsung berubah.

Brandon menoleh tajam. "Apa maksud Papa?"

"Maksud saya jelas. Posisi joint heir akan dievaluasi."

Veronica tersenyum tipis. "Hendra, keputusan sebesar ini tidak bisa diambil karena emosi sesaat."

"Ini bukan emosi."

"Reynard baru sakit lagi," kata Brandon. "Kalau bicara evaluasi, bukankah kondisi kesehatannya juga harus dievaluasi?"

Tanganku mengepal di bawah meja.

Reynard tetap tenang. "Kesehatanku tidak membuat proposal bodoh menjadi layak."

Brandon menghantam meja. "Kau selalu meremehkanku!"

"Karena kau memberi alasan."

Denny bergerak cepat, suara lembut. "Anak-anak, jangan membuat ini menjadi pertengkaran pribadi. Brandon memang masih harus banyak belajar, tapi mencabut posisinya akan mengguncang pasar."

Hendra membuka salah satu laporan. "Pasar sudah membaca angka. Yang mengguncang pasar adalah proyek gagal, vendor bermasalah, dan direktur yang tidak bisa membedakan proyeksi dengan dongeng."

Brandon memerah.

Veronica meletakkan tangan di lengannya, lembut tapi menahan. "Kita bisa bicara baik-baik."

"Kita sedang bicara baik-baik," kata Hendra. "Karena kalau tidak, saya sudah menandatangani pencabutan malam ini."

Ruang itu hening.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Brandon benar-benar takut.

Pasar.

Kata yang sangat rapi untuk menutupi kepentingan darah.

Hendra menatap Denny. "Pasar lebih takut pada kebodohan daripada keputusan tegas."

Aku hampir bertepuk tangan.

Veronica melihat ke arahku, senyumnya mengiris. "Keira, kau tampak lelah. Mungkin sebaiknya tidak ikut urusan keluarga Wijaya yang berat."

Aku tersenyum. "Saya hanya menemani suami saya, Tante Veronica."

Reynard menoleh sedikit.

Aku tidak tahu apakah ia lebih memperhatikan kata suami atau Tante Veronica.

Mungkin dua-duanya.

Rapat keluarga itu tidak menghasilkan keputusan final. Hendra hanya mengumumkan bahwa tim legal dan konsultan independen akan mengaudit performa masing-masing calon penerus. Tapi semua orang tahu arah anginnya.

Brandon sedang kehilangan tanah di bawah kakinya.

Dan orang yang kehilangan tanah biasanya mulai melempar batu.

Keesokan paginya, batu itu datang dalam bentuk berita.

Ponselku bergetar tanpa henti.

Natasha mengirim tautan.

Ci Kei, lihat ini. Jangan panik. Tapi panik sedikit boleh.

Judul berita itu membuat perutku turun.

Putra Kedua Wijaya Group Diduga Mengidap Penyakit Darah Serius, Layakkah Memimpin Konglomerasi?

Di bawahnya ada foto Reynard memakai Topeng Perak, diambil dari acara lama. Artikel itu menyebut "sumber internal", "kondisi tidak stabil", dan "risiko kepemimpinan".

Komentar di bawahnya lebih buruk.

Ada yang pura-pura prihatin. Ada yang bertanya apakah wajah di balik topeng lebih parah daripada yang terlihat. Ada yang menyebut perusahaan keluarga seharusnya dipimpin orang sehat.

Tanganku gemetar memegang ponsel.

Mereka tidak melihat orang yang menggigil semalam. Mereka tidak melihat pria yang tetap memikirkan rute logistik ketika tubuhnya sakit. Mereka hanya melihat penyakit sebagai senjata.

Dan aku membenci mereka semua selama tiga detik penuh.

Aku ingin membanting ponsel.

Reynard membaca di meja sarapan dengan wajah datar.

Terlalu datar.

"Ini Veronica?" tanyaku.

"Kemungkinan."

"Brandon?"

"Juga."

"Denny?"

"Tidak akan ketinggalan."

Steven masuk lima menit kemudian, membawa tablet dan mata yang kurang tidur.

"Kami telusuri penyebaran pertama. Akun anonim, lalu diangkat portal bisnis kecil, lalu disebar akun gosip finansial."

"Sumber?"

"Belum final. Tapi ada pola pembelian iklan."

Reynard berdiri. "Ke SCBD."

Aku menunjuk kursinya. "Duduk."

Steven berhenti.

Anto berhenti.

Sari yang membawa bubur juga berhenti.

Reynard menatapku.

"Keira."

"Kau boleh ke SCBD setelah makan, minum obat, dan Leo mengizinkan."

"Ini krisis."

"Dan kamu adalah aset utama krisis itu. Aset tidak boleh ambruk sebelum rapat."

Steven menutup mulutnya dengan tablet.

Mungkin tertawa.

Reynard akhirnya duduk.

Aku mendorong bubur ke depannya.

"Makan."

Ia memegang sendok dengan ekspresi seperti CEO yang baru kalah voting oleh bubur ayam.

Sari menunduk terlalu cepat.

Pak Hadi tiba-tiba memeriksa bunga di meja.

Steven mengetik sesuatu di ponselnya.

"Jangan kirim pesan aneh," kata Reynard tanpa melihat.

"Terlambat," jawab Steven.

Aku tidak bertanya pada siapa. Kemungkinan besar Anto. Atau grup rahasia yang isinya orang-orang yang menikmati setiap kali Tuan Muda Wijaya dipaksa makan.

Setelah semua syarat kupenuhi, kami ke SCBD.

Di ruang kerja, Steven membuka laporan digital. "Sudah dapat jalur uang. Portal pertama menerima pembayaran dari perusahaan media kecil."

Sebelum rapat dimulai, tim PR masuk dengan wajah panik rapi. Mereka membawa tiga opsi pernyataan publik. Semua terdengar terlalu steril.

Reynard membaca opsi pertama. "Tidak."

Opsi kedua. "Tidak."

Opsi ketiga. "Lebih buruk."

Kepala PR hampir menangis.

Aku mengambil kertas kosong dan menulis satu kalimat: Wijaya Group menilai pemimpin dari kinerja, bukan rumor.

Reynard membaca, lalu menyerahkannya pada tim PR. "Mulai dari ini."

Kepala PR menatapku seperti aku baru memberinya oksigen.

"Nama?"

"Arah Media Nusantara."

Reynard membaca baris kepemilikan.

Matanya dingin.

Steven berkata pelan, "Perusahaan itu dikendalikan lewat dua lapis holding."

"Ong Corporation," kata Reynard.

Aku menatap layar.

Di sana tertulis jelas.

Ong.

Dalam satu malam, berita penyakit Reynard berubah dari serangan keluarga menjadi perang terbuka.

Reynard menutup tablet.

"Baik," katanya.

Suaranya terlalu tenang.

"Kalau mereka ingin bicara tentang kelayakan, kita tunjukkan siapa yang paling layak bertahan."

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!