NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Makan Malam Keluarga Wibowo

"Jangan kaget kalau ada yang bertanya kamu naik mobil apa."

Intan mengatakannya ketika mobil memasuki gerbang rumah tua Wibowo di Citraland. Lampu taman menyala hangat di antara pohon sawo kecik. Dari luar, rumah itu tidak berteriak kaya. Justru karena tidak berteriak, kekayaannya terasa lebih tua.

Bayu merapikan batik barunya.

"Saya jawab sesuai fakta."

"Itu yang membuat sebagian orang tidak siap."

Di teras, seorang pelayan menerima mereka dengan membungkuk sopan. Di dalam, keluarga Wibowo sudah berkumpul. Ada paman, bibi, sepupu, dan beberapa orang yang Bayu tidak hafal namanya, tetapi ia hafal tatapannya: mengukur sepatu, jam tangan, cara berjalan, dan posisi Intan berdiri di sampingnya.

Seorang lelaki tua duduk di ruang tengah dengan cangkir teh kecil di depan.

Hartono Wibowo tidak perlu mengangkat suara. Ketika ia menoleh, percakapan keluarga langsung merendah.

"Jadi ini Bayu Prasetyo."

Bayu maju dan menunduk hormat. "Selamat malam, Pak Hartono."

Intan tersenyum kecil. "Eyang, ini Bayu."

Hartono mengulurkan tangan. Genggamannya hangat, kulitnya tipis, tetapi tekanannya mantap.

"Saya sudah melihat laporan Pak Wiryo. Lukisan di dinding kami ternyata lebih jujur daripada sebagian orang yang menggantungnya bertahun-tahun."

Beberapa anggota keluarga tertawa hati-hati.

Bayu menjawab, "Saya hanya melihat hal yang terlewat, Pak."

"Orang yang bisa melihat hal terlewat biasanya juga bisa melihat orang yang pura-pura tidak melihat."

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sedikit kaku.

Makan malam berjalan dengan adat yang rapi. Ada nasi liwet, ayam ingkung, sayur lodeh, sambal, dan teh poci yang dituangkan perlahan oleh Hartono sendiri. Bayu memperhatikan cara Intan menunggu orang tua mengambil lauk dulu, cara semua orang memakai nada lebih rendah ketika menyebut Eyang, dan cara beberapa sepupu menahan rasa ingin tahu mereka sampai piring utama selesai.

Pertanyaan pertama datang dari seorang pria muda berkemeja mahal.

"Mas Bayu sekarang tinggal di area mana?"

"Masih di kos lama. Ruko CV untuk kerja."

Pria itu tersenyum tipis. "Oh. Setelah viral sebagai Mata Emas, belum pindah?"

"Belum perlu."

Seorang bibi menambahkan dengan suara manis, "Mobilnya apa, Mas? Pasti sudah ganti sejak tantangan kemarin."

Bayu meletakkan sendok.

"Naik Vario, Bu. Kadang ojek kalau lebih cepat."

Diam turun satu detik terlalu lama.

Hartono tiba-tiba tertawa.

"Bagus. Waktu saya mulai, saya naik sepeda mengantar cincin pesanan sampai ban belakang bocor. Kalau dulu ada orang menilai saya dari sepeda itu, mungkin mereka tidak akan pernah menjual emas kepada saya."

Wajah pria muda itu berubah. Bibi tadi langsung tersenyum lebih sopan.

Hartono menuang teh lagi.

"Orang boleh punya rumah besar. Tapi kalau cara melihatnya sempit, rumah itu hanya gudang mahal."

Hendra tidak ada di sana. Namun Bayu yakin kalau Hendra mendengar kalimat itu, ia akan meminta izin mencatatnya untuk ditempel di ruko.

Setelah makan, Hartono mengajak Bayu duduk di serambi samping. Intan ikut, tetapi memberi jarak. Angin malam membawa aroma melati dari halaman.

Di meja kecil, teh poci disajikan kembali.

"Batu bisa dipalsukan," kata Hartono, menatap permukaan teh. "Kepercayaan tidak."

Bayu diam, menunggu.

"Karena begitu sekali retak, orang bisa membeli sertifikat baru, membeli toko baru, membeli nama baru. Tapi ia tidak bisa membeli kembali hari pertama ketika orang percaya padanya."

Bayu mengangguk. "Saya sedang belajar itu, Pak."

"Belajar juga menyembunyikan angka."

Bayu menatapnya.

Hartono tersenyum. "Jangan pernah menyembunyikan uang dari pajak. Itu bodoh. Maksud saya, jangan membawa seluruh kekayaanmu ke meja makan, ke grup keluarga, atau ke orang yang baru mengenalmu. Sebagian orang tertarik pada angka di rekeningmu. Kamu harus mengenali siapa yang benar-benar datang untukmu."

Nasihat itu sederhana, tetapi beratnya terasa seperti batu uji di telapak tangan.

Sebelum Bayu menjawab, seorang pria datang membawa senyum terlalu lebar. Usianya sekitar empat puluhan akhir, rambut rapi, jam bagus, dan cara berjalan seperti sudah terbiasa disambut.

"Bayu Prasetyo. Akhirnya bertemu juga." Ia menepuk bahu Bayu dengan akrab. "Saya Bambang. Om-nya Intan."

"Selamat malam, Om Bambang."

"Jangan terlalu formal. Kita keluarga sendiri kalau Intan sudah bawa kamu ke sini."

Intan mengangkat alis. "Om."

Bambang tertawa. "Saya bercanda. Tapi serius, kemampuan Mas Bayu menarik. CV Prasetyo sudah punya rencana ekspansi? Kalau Wibowo masuk lebih awal, mungkin kita bisa bantu modal, bantu kanal, bantu dokumen."

"Kami masih membangun sistem dasar," jawab Bayu.

"Sistem bisa menyusul. Yang penting mata Mas Bayu itu. Bagaimana sebenarnya cara menilai batu secepat itu? Apakah ada pola khusus? Guru di Pacitan itu mengajarkan apa?"

Rasa dingin menyentuh belakang leher Bayu.

Peringatan itu muncul halus, menyerupai pintu yang diam-diam terbuka di ruangan gelap.

Bayu tersenyum sopan.

"Guru saya mengajarkan satu hal, Om. Jangan bicara terlalu banyak sebelum melihat barang."

Bambang tertawa lagi, tetapi matanya tidak ikut tertawa.

"Rahasia dagang, ya?"

"Kebiasaan buruk orang pasar, Om. Kalau banyak bicara, harga naik."

Hartono meletakkan cangkirnya. Suara porselen menyentuh meja terdengar kecil, tetapi cukup untuk memotong percakapan.

"Bambang, biarkan tamu saya minum teh."

Senyum Bambang melembut. "Tentu, Pak."

Ia pergi setelah menepuk bahu Bayu sekali lagi. Kali ini Bayu merasakan dingin itu tetap tinggal beberapa detik.

Hartono tidak menoleh ke arah putranya.

"Keluarga besar selalu punya banyak telinga."

"Saya paham, Pak."

"Belum tentu. Tapi kamu akan paham."

Malam makin larut. Sebelum Bayu pulang, Hartono membawa satu map tipis dari lemari. Di dalamnya ada foto dua batu permata yang pernah dibeli jaringan Wibowo tiga bulan terakhir. Sertifikatnya lengkap, nomor seri terdaftar, cap lembaga pemeriksa asli.

Namun hasil pemeriksaan ulang menemukan perlakuan panas dan pengisian yang tidak tertulis.

"Dua kali kami terkena barang dengan sertifikat benar, tetapi isi sertifikatnya salah," kata Hartono. "Kalau dokumen bisa dipalsukan, itu biasa. Yang mengganggu saya: dokumennya memang keluar dari lembaga yang benar."

Bayu melihat foto itu tanpa menyentuhnya terlalu lama. Gambar tersebut membuka jalan menuju lubang yang lebih dalam.

"Berarti barang palsu hanya satu bagian dari masalahnya."

"Ya. Masalahnya orang yang membuat palsu terlihat resmi."

Intan mengantar Bayu sampai halaman depan. Bulan tipis menggantung di atas atap. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling kenal, tidak ada transaksi yang segera dibahas.

"Terima kasih sudah datang," kata Intan.

"Saya yang harus berterima kasih. Eyang Harto memberi lebih banyak daripada makan malam."

Intan menatapnya. "Dia jarang menuang teh sendiri untuk tamu muda."

"Berarti saya harus menjaga cangkirnya."

Ia hampir tertawa, lalu menahan sesuatu. Ada kalimat yang seperti ingin keluar, tetapi berubah menjadi senyum kecil.

"Hati-hati dengan Om Bambang."

Bayu tidak bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk.

Dalam perjalanan pulang, ia mengingat satu per satu ucapan Hartono.

Batu bisa dipalsukan. Kepercayaan tidak.

Tetapi jika batu bisa dipalsukan, sertifikat bisa dipalsukan, dan orang di dalam lembaga bisa dibeli, maka pertanyaan berikutnya muncul dengan sendirinya.

Apakah suatu hari nanti, bahkan ahli pun bisa dipalsukan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!