NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Pulang dari Surabaya

Kevin pergi ke Surabaya selama dua hari, tetapi nama kota itu tertinggal lebih lama di kepala Seline.

Setiap kali mendengar pelayan menyebut jadwal penerbangan, setiap kali melihat kotak kue dari tamu Wijaya di ruang makan kecil, setiap kali membuka aplikasi galeri Tao dan melihat data pembayaran lama, Seline merasa semua garis dalam hidupnya sedang bergerak ke satu titik yang belum berani ia lihat.

Surabaya bukan hanya kota asalnya lagi.

Surabaya menjadi alasan Kevin pergi. Menjadi kota akun Tao. Menjadi tempat Bryan Wijaya berhenti bernapas ketika mendengarnya.

Pada hari kedua, hujan turun sejak pagi. Oma Mei merasa lututnya ngilu, jadi Seline lebih banyak berada di ruang utama, menyiapkan kompres hangat dan teh. Darren di sekolah. Jessica ikut Michelle mengurus kunjungan keluarga mempelai pria. Rumah terasa lebih sepi, tetapi sepi di rumah Hartono tidak pernah benar-benar kosong.

"Kamu banyak melamun," kata Oma Mei.

Seline cepat menaruh cangkir di meja. "Maaf, Oma."

"Oma tidak minta maaf. Oma bertanya."

"Saya memikirkan beberapa hal."

"Tentang Kevin?"

Seline hampir menjatuhkan sendok kecil.

Oma Mei mengangkat alis. "Berarti iya."

"Bukan begitu, Oma."

"Kalau bukan begitu, kenapa wajahmu begitu?"

Seline tidak tahu wajah seperti apa yang sedang ia punya. Ia memilih jawaban aman. "Saya hanya merasa aneh karena Ko Kevin pergi ke Surabaya."

"Surabaya kotamu."

"Iya."

"Kamu rindu?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi membuat dada Seline bergerak pelan. Ia rindu apa? Rumah kontrakan yang sudah tidak ada? Makam ibu angkat? Jalan kecil tempat ia membeli kertas gambar murah? Atau masa ketika ia belum tahu bahwa nama Wijaya terukir di liontin kecilnya?

"Kadang," jawabnya.

Oma Mei tidak mengejar.

Menjelang sore, Anton datang membawa beberapa dokumen untuk William. Jasnya sedikit basah di bahu, mungkin karena hujan. Seline sedang mengganti air kompres Oma ketika pria itu berhenti di pintu.

"Oma, Pak Kevin sudah mendarat."

Oma Mei membuka mata. "Bukankah harusnya malam?"

"Jadwalnya dimajukan. Beliau menuju rumah."

Seline menunduk pada baskom air, pura-pura fokus pada handuk kecil. Namun telinganya menangkap setiap kata.

Oma Mei meliriknya, lalu kembali pada Anton. "Dia membawa sesuatu dari Surabaya?"

Anton tampak berpikir sebentar. "Beberapa dokumen. Dan satu kotak kue lapis."

Oma Mei tersenyum tipis. "Kue lapis?"

"Beliau bilang untuk Oma."

"Tentu untuk Oma," kata Oma, tetapi matanya bergerak pada Seline.

Seline pura-pura tidak mengerti. Ia tahu banyak orang membawa oleh-oleh untuk orang tua. Itu wajar. Tidak ada yang aneh. Tidak ada hubungan dengan kue lapis buatannya, atau Surabaya, atau fakta bahwa Kevin pernah melihat jarinya merah karena uap kukusan.

Setengah jam kemudian, mobil hitam Kevin masuk ke halaman belakang.

Seline kebetulan berada di koridor dekat ruang utama, membawa baki obat Oma.

Kebetulan.

Ia sudah mulai membenci kata itu.

Kevin masuk dengan kemeja gelap dan coat basah di bagian bahu. Anton berjalan di belakangnya membawa map. Seorang pelayan mengambil koper kecil. Di tangan Kevin ada kotak persegi dengan logo toko kue Surabaya.

Seline menepi. "Selamat sore, Ko Kevin."

Kevin berhenti sebentar. Matanya turun ke baki obat. "Oma?"

"Lututnya agak ngilu karena hujan."

"Dokter?"

"Oma bilang belum perlu. Kalau malam tidak membaik, saya akan minta Bi Zheng hubungi dokter."

Kevin menatapnya beberapa detik. "Kamu sekarang yang memutuskan kapan dokter dipanggil?"

Nada itu datar, tetapi bukan merendahkan. Lebih seperti menguji.

Seline menunduk. "Saya hanya mengikuti kebiasaan Oma. Kalau Ko Kevin ingin, saya bisa panggil sekarang."

"Tidak perlu." Ia mengangkat kotak kue sedikit. "Untuk Oma."

"Saya akan sampaikan."

Kevin tidak segera memberikan kotak itu pada pelayan. Ia justru menyerahkannya pada Seline.

Kotak itu hangat samar, mungkin baru dibeli sebelum penerbangan. Ujung jari mereka hampir bersentuhan saat Seline menerimanya. Hanya hampir, tetapi cukup membuatnya terlalu sadar pada jarak di antara mereka.

"Terima kasih, Ko Kevin."

"Jangan dimakan semua oleh Oma. Gula."

Seline berkedip, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. "Kalau Oma mendengar, Oma akan bilang Ko Kevin cerewet."

"Oma sudah sering bilang."

Percakapan itu pendek. Tidak ada yang penting. Namun Anton yang berdiri di belakang Kevin tiba-tiba menunduk lagi pada mapnya, persis seperti hari ia melaporkan senyum Kevin.

Seline cepat menarik kembali senyumnya.

Kevin melangkah melewatinya, tetapi berhenti setelah dua langkah.

"Seline."

Itu pertama kalinya ia memanggil namanya tanpa ada orang lain yang menjadi alasan.

Seline menoleh. "Iya?"

Kevin melihat kotak kue di tangannya. "Kalau rasanya terlalu manis, jangan bilang itu dari Surabaya."

Lalu ia pergi.

Seline berdiri di koridor dengan kotak kue lapis, tidak tahu harus tertawa atau takut. Di belakangnya, pintu ruang utama terbuka sedikit. Oma Mei pasti mendengar sebagian.

Benar saja, suara Oma terdengar dari dalam.

"Seline, bawa kuenya kemari. Oma ingin tahu Surabaya kali ini semanis apa."

Seline masuk dengan telinga masih panas. Oma Mei mengambil satu potong kecil, mencicipinya, lalu menggeleng pelan.

"Lebih rapi dari buatanmu," kata Oma.

Seline menunduk. "Toko besar memang beda, Oma."

"Tapi kurang sabar." Oma mendorong piring itu sedikit ke arahnya. "Kamu coba. Besok buat versi yang lebih baik."

Seline menatap kue itu. Entah kenapa, oleh-oleh Kevin tiba-tiba terasa seperti tantangan yang ditaruh diam-diam di meja Oma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!