NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Pagi setelah Kevin datang sebagai Daddy, Tiffany bangun lebih cepat dari alarm.

Jam tujuh kurang lima, ia sudah duduk di meja makan dengan rambut rapi, memakai gaun kecil warna biru muda. Ketika bel berbunyi tepat pukul tujuh, anak itu hampir melompat dari kursinya.

"Daddy tidak terlambat!" serunya.

Keira berdiri di dekat dapur terbuka, menatap Kevin yang masuk membawa sarapan dari restoran favorit anak-anak. Pria itu tidak membawa bunga, tidak membawa perhiasan, tidak membawa barang mewah yang biasanya dipakai orang kaya untuk menyelesaikan luka. Ia hanya membawa bubur ayam hangat, roti susu, dan tiga kotak kecil puding mangga.

Hal sederhana itu lebih berbahaya bagi hati Keira daripada 999 mawar.

Sarapan berjalan canggung, tetapi tidak buruk. Tiffany bicara tanpa berhenti. Kevin mendengarkan setiap kata seolah sedang menghadiri rapat paling penting di dunia. Saat Tiffany menyebut bahwa Koko Eth suka memindahkan ikon aplikasi supaya Mommy bingung, Kevin bahkan mencatat di ponsel.

Keira ingin menegurnya berlebihan. Namun ketika melihat Tiffany tersenyum sampai pipinya memerah, ia menahan diri.

Menjelang siang, Kevin harus kembali ke Hartono Group karena ada rapat darurat. Sebelum pergi, ia berhenti di depan pintu.

"Aku akan menelepon nanti untuk Darren dan Ethan," katanya.

"Jangan memaksa mereka," jawab Keira.

"Aku tahu."

Kevin menatapnya sebentar, lalu pergi. Keira menutup pintu dengan perasaan yang belum sempat ia beri nama.

Satu jam kemudian, ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Keira mengangkatnya sambil berjalan ke ruang kerja. "Halo?"

"Selamat siang, Ibu Keira. Kami dari laboratorium genetika Kuningan. Hasil pemeriksaan keluarga atas nama Jason Liem dan Keira Mulyono sudah selesai. Sesuai permintaan pihak pengirim, salinan digital dikirim ke alamat terenkripsi Anda, dan dokumen fisik siap diambil."

Keira berhenti di tengah ruangan.

Selama beberapa detik, suara laboratorium berubah menjadi dengung jauh.

"Ibu Keira?"

"Saya dengar," jawabnya. "Kirim sekarang."

Email masuk hampir bersamaan dengan telepon ditutup. Subjeknya kaku dan profesional. Lampiran PDF menggunakan kata-kata medis yang dingin, seolah hasilnya hanya deretan angka.

Keira membuka dokumen itu.

Nama Jason Liem.

Nama Keira Mulyono.

Kemungkinan hubungan biologis dari garis ibu: 99,97%.

Kesimpulan: konsisten dengan hubungan saudara kandung seibu.

Tangannya bergetar.

Kursi di belakangnya terasa terlalu jauh. Keira tetap berdiri, membaca ulang angka itu berkali-kali. Sembilan puluh sembilan koma sembilan tujuh. Angka kecil, tanda persen, beberapa istilah laboratorium, tetapi semua itu cukup untuk mencabut satu kehidupan lama dari akarnya.

Ia bukan anak kandung Mulyono.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi milik rumah yang mengusirnya.

Ia punya darah lain. Punya keluarga lain. Punya seorang kakak yang selama ini berdiri di depannya dengan mata yang terlalu penuh luka.

Ponselnya berdering lagi.

Kali ini nama Kevin.

Keira menatap layar lama sebelum mengangkat. "Kevin."

"Feng menerima notifikasi dari tim keamanan digital. Ada dokumen dari laboratorium masuk ke sistemmu. Kau baik-baik saja?"

Keira hampir tertawa. Bahkan di saat seperti ini, Kevin masih punya cara mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia tahu.

"Aku baru membaca hasil DNA."

Di seberang sana, Kevin diam. Ketika bicara lagi, suaranya lebih lembut. "Apa hasilnya?"

Keira menelan sesuatu yang tajam di tenggorokan. "Jason Liem adalah saudaraku. Dari garis ibu."

Kevin tidak langsung menjawab. Ia tahu siapa Jason bagi Keira berarti siapa Jason bagi dirinya. Pria yang ia kira saingan, pria yang ia tantang dengan kecemburuan beberapa hari terakhir, ternyata keluarga yang dicari Keira tanpa ia sadari.

"Keira," katanya pelan, "kau mau aku datang?"

Keira memegang ujung meja. "Tidak. Untuk ini, aku harus berdiri sendiri dulu."

"Aku mengerti."

"Tapi jangan jauh dari ponsel."

"Aku tidak akan jauh."

Kalimat itu sederhana. Namun setelah lima tahun hidup dengan pintu terkunci, mengetahui ada seseorang yang tetap berjaga tanpa memaksa masuk membuat dada Keira terasa sedikit lebih longgar.

Bel rumah berbunyi.

Keira menoleh.

Ia sudah tahu siapa yang datang bahkan sebelum pengawal mengirim pesan. Ketika pintu dibuka, Jason berdiri di luar. Jasnya hari ini tidak sempurna seperti biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah, dan di tangannya ada amplop putih dari laboratorium yang sama.

Tidak ada salam bisnis.

Tidak ada jarak sopan.

Mereka hanya saling menatap.

Di antara mereka ada dua puluh tahun kehilangan, tiga hari menunggu, dan satu angka 99,97% yang menghancurkan semua keraguan.

Jason membuka mulut, tetapi suaranya tidak keluar. Ia menarik napas berkali-kali, lalu tersenyum dengan cara yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda.

"Aku mencari kamu selama dua puluh tahun," katanya. "Kei."

Kei.

Satu suku kata itu jatuh ke dalam ingatan Keira seperti batu kecil ke air gelap.

Dunia di depan matanya bergeser.

Ia melihat kilasan taman yang basah setelah hujan. Seorang anak laki-laki menggenggam tangannya. Suaranya lebih tinggi, tidak sedalam Jason sekarang, tetapi nadanya sama. Sabar, protektif, sedikit memerintah karena merasa dirinya lebih besar.

Kei, jangan lari. Nanti jatuh.

Kei, pegang tangan Koko.

Kei, kalau takut, lihat Koko saja.

Kilasan itu datang terlalu cepat. Keira memegang pelipisnya. Jason langsung maju setengah langkah, tetapi berhenti sebelum menyentuh.

"Keira?"

Air mata Keira jatuh sebelum ia sadar.

"Koko...?"

Jason menutup mata.

Kata itu menghancurkan pertahanan terakhirnya.

Ia tidak lagi menjadi Jason Liem, pemimpin Liem Group yang ditakuti bank dan direksi. Ia hanya seorang kakak yang akhirnya mendengar adiknya memanggilnya setelah dua puluh tahun.

"Iya," bisiknya. "Koko di sini."

Keira maju satu langkah.

Jason membuka tangan.

Kali ini, Keira tidak mundur. Ia masuk ke pelukan Jason dengan tubuh gemetar. Bau jasnya asing, mahal, bercampur aroma cedar yang biasa dipakai pria dewasa. Namun di bawah semua itu ada sesuatu yang anehnya menenangkan, seperti memori yang tidak bisa dijelaskan tubuhnya.

Jason memeluknya erat, tetapi tetap hati-hati. Bahunya bergetar.

"Maaf," katanya berulang-ulang. "Maaf Koko terlambat. Maaf Koko tidak menemukanmu lebih cepat."

Keira tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini ia selalu menjadi orang yang berdiri paling tegak. Di depan Mulyono, di depan Salim, di depan dunia yang menilainya sebagai perempuan yang dibuang. Namun di pelukan Jason, ia tiba-tiba merasa boleh menjadi anak kecil yang tersesat terlalu lama.

"Aku tidak ingat banyak," katanya di sela napas. "Aku cuma ingat taman. Dan suara anak laki-laki."

"Itu aku." Jason mengusap punggungnya pelan. "Aku selalu menggandeng tanganmu karena kamu suka lari mengejar kupu-kupu."

Keira tertawa kecil di tengah tangis. "Aku?"

"Iya. Kamu kecil sekali, tapi keras kepala. Kalau dilarang, malah lari lebih cepat."

"Berarti tidak banyak berubah."

Jason tertawa, lalu tangisnya pecah lebih jelas.

Bi Mei turun dari mobil yang berhenti di belakang Jason. Begitu melihat Keira dalam pelukan Jason, perempuan tua itu menutup mulut dan menangis tanpa suara. Ia tidak berani mendekat sampai Jason menoleh.

"Bi Mei," suara Jason serak, "ini Kei."

Bi Mei mendekat dengan langkah gemetar. "Nona kecil..."

Keira melepaskan pelukan perlahan. Ia menatap perempuan tua itu, mencoba mencari memori di wajah yang penuh keriput lembut. Ia tidak mengingat jelas, tetapi hatinya sakit dengan cara yang aneh.

Bi Mei tidak menyentuhnya. Ia hanya menunduk, air mata jatuh di pipinya.

"Saya gagal menjaga Nona dulu," katanya. "Tapi syukur Tuhan, Nona pulang."

Keira memegang tangan Bi Mei. "Jangan bilang begitu. Aku bahkan belum tahu semuanya."

"Engkong akan menjelaskan," kata Jason.

Kata Engkong membuat napas Keira tertahan. Ia punya Engkong Mulyono yang menyayanginya, lalu kehilangan dia. Ia mengenal Engkong Hartono yang keras tetapi hangat. Sekarang ada seorang Engkong lain, darahnya sendiri, menunggu di suatu rumah yang belum pernah ia masuki.

Jason seolah tahu ketakutannya.

"Kamu tidak harus pergi sekarang kalau belum siap."

Keira menatap amplop DNA di tangan Jason, lalu PDF yang masih terbuka di tabletnya. Tidak siap tidak akan mengubah kenyataan. Ia sudah berlari terlalu lama dari pintu-pintu yang ditutup orang lain.

"Dia tahu?" tanya Keira.

"Engkong tahu hasilnya sudah keluar. Aku belum berani menelepon sebelum bertemu kamu." Jason menarik napas. "Tapi dia sudah menunggu sejak pagi."

Keira menggigit bibir.

Ponselnya masih tersambung dengan Kevin. Ia baru sadar belum menutup panggilan. Di layar, nama Kevin menyala, hening, setia menunggu.

Keira mengangkat ponsel. "Kevin."

"Aku di sini."

Jason sedikit menegang mendengar suara itu, tetapi tidak berkomentar.

"Aku akan pergi ke Rumah Liem."

Kevin diam sebentar. "Dengan Jason?"

"Ya."

"Aku ingin ikut."

"Belum." Keira menatap Jason, lalu Bi Mei. "Ini tentang keluargaku dulu."

Kevin menghela napas pelan. Bukan napas kecewa, lebih seperti pria yang belajar menahan diri. "Baik. Kirim lokasi kendaraanmu. Aku tidak akan masuk, tapi timku akan berada cukup jauh untuk memastikan kau aman."

"Kevin..."

"Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya tidak mau kehilangan jejakmu lagi."

Keira tidak punya tenaga untuk menolak. "Baik."

Jason menatapnya saat telepon ditutup. "Dia berubah?"

Keira menyimpan ponsel. "Dia sedang mencoba."

"Mencoba belum cukup."

"Aku tahu."

Jason ingin mengatakan sesuatu lagi, mungkin tentang bagaimana seorang kakak berhak menguji pria yang membuat adiknya menangis. Namun ia menahannya. Hari ini bukan tentang Kevin. Hari ini tentang Keira yang harus pulang ke bagian hidupnya yang direnggut.

Sebelum berangkat, Jason mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya. Di dalamnya ada setengah liontin giok bertuliskan Jin. Keira tanpa sadar menyentuh liontin Yan di lehernya.

Dua potong giok itu diletakkan berdampingan di telapak tangan Jason.

Motifnya menyatu.

Jin dan Yan.

Bukan sekadar benda antik. Itu bukti bahwa sebelum dunia memisahkan mereka, ada keluarga yang pernah menyiapkan tanda agar mereka bisa saling menemukan lagi.

Jason menatap pergelangan tangan Keira. "Boleh?"

Keira mengerti. Ia menarik lengan bajunya perlahan.

Tanda daun maple di pergelangan tangannya muncul di bawah cahaya siang. Jason mengangkat tangan kirinya sendiri. Di pergelangan tangannya, tanda serupa terlihat, sedikit lebih besar, warnanya lebih samar karena usia.

Bi Mei terisak.

Jason menyentuh udara di atas tanda itu, tidak benar-benar menyentuh kulit Keira. Matanya basah lagi.

"Tidak ada yang bisa menyangkalmu sekarang," katanya. "Kamu Keira Liem. Adikku."

Keira menatap tanda di tangan mereka berdua. Selama bertahun-tahun, ia mengira tanda itu hanya bagian aneh dari tubuhnya. Hari ini tanda itu menjadi peta pulang.

Perjalanan ke Menteng bagian lama terasa lebih panjang dari biasanya.

Jason duduk di sampingnya di kursi belakang. Bi Mei di depan, sesekali menghapus air mata. Di belakang mereka, pada jarak aman, satu mobil Hartono mengikuti tanpa menyalip.

Keira melihatnya lewat kaca spion.

Jason juga melihat. "Dia benar-benar mengirim pengawal."

"Aku sudah bilang, dia sedang mencoba."

"Aku akan tetap mengawasinya."

"Aku tahu, Koko."

Jason menoleh cepat. Satu kata itu membuat wajahnya melembut sampai hampir tidak mirip pria dingin di ruang rapat.

Mobil berbelok ke jalan teduh yang dipenuhi pohon tua. Rumah-rumah besar berdiri di balik pagar tinggi. Di ujung jalan, sebuah gerbang hitam dengan lambang keluarga Liem terbuka perlahan.

Rumah Liem muncul di balik halaman luas, bangunan tua bergaya kolonial Tionghoa dengan pilar putih, jendela kayu gelap, dan lampion merah tua yang tidak mencolok. Ada sesuatu yang berat di udara, bukan kemewahan baru, melainkan sejarah yang terlalu lama menunggu.

Mobil berhenti.

Jason turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Keira.

Keira menatap pintu utama yang terbuka. Di dalam rumah itu, seseorang menunggu sebagai darahnya, sebagai masa lalunya, mungkin juga sebagai jawaban atas kenapa ibunya menghilang.

Jason mengulurkan tangan.

"Siap?"

Keira meletakkan tangannya di atas tangan Jason.

"Tidak," jawabnya jujur. "Tapi aku tetap masuk."

Jason menggenggamnya lebih erat.

"Engkong menunggu di dalam."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!