Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 07
Rendra menyewa mata-mata dan membayar banyak orang untuk mencari keberadaan Alice. Dia benar-benar melakukannya. Dia akan melakukan apapun agar bisa membawa wanita itu lagi.
"Bagaimana?" tanya Rendra ketika seminggu telah berlalu setelah terkahir kali dia bertemu dengan Alice waktu itu.
"Ini benar-benar sulit pak. Kami sudah mencari keberadaan-nya bahkan menyelidiki latar belakangnya, jika namanya bukan Alice. Tidak ada wanita bernama Alice." ucap laki-laki tersebut setelah menyelidiki seminggu ini.
Rendra terlihat aneh dengan hal ini. Bagaimana mungkin namanya bukan Alice. Karena selama mereka bersama dia hanya tau namanya Alice. Dia tidak tau nama lainnya lagi.
"Maksud mu?" tanya Rendra penasaran.
"Elisa Nadira." ucapnya menjelaskan nama tersebut.
"Alamatnya juga sudah terdeteksi dan menyewa di komplek perumahan Anggrek Ancubic Harmoni Nomor 21D." jelasnya lagi membuat Rendra hanya bisa menghela namanya dengan berat.
Karena alamat itu adalah alamat yang pernah dia datangi bersama supirnya waktu itu.
"Aku sudah membayar mu mahal, dan kau hanya memberikan informasi seperti ini saja?" tanya Rendra dengan tatapan tajamnya.
Bagaimana bisa dia membayar puluhan juta dan hanya mendapatkan informasi yang bahkan dia saja tau itu.
Tapi namanya Alice bukanlah Alice, melainkan Elisa Nadira. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui semua ini? Benar-benar bodoh menurutnya.
"Baik pak, saya permisi." pamitnya undur diri.
Lagi-lagi Rendra terlihat tidak bersemangat untuk hal ini. Sedangkan Alice sendiri berusaha memulai hidupnya yang baru di kota yang baru berkat kedua teman baiknya.
"Semoga hari ini bisa di terima." ucapnya sebelum pergi ke perusahaan tempat dia melamar pekerjaan.
Untuknya waktu itu dia memiliki uang simpanan selama menjadi simpanan Rendra dan uang 2 milyaran yang di berikan laki-laki itu padanya dia manfaat kan untuk hidup dan melanjutkan pendidikan setelah masalah hidup yang menghantamnya.
Demi hidupnya yang baru, Alice benar-benar berusaha keras untuk semua ini. Terlepas apa yang telah terjadi, dia hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari Rendra.
Akhirnya, setelah menunggu hampir 3 jam, dia di terima di tempat kerja barunya.
"Silahkan," ajak seseorang di sana setelah Alice berhasil melewati seleksi.
Kini dia sudah berada di ruangan Direktur utama Mega Hotel Luxury, tempat di mana dia akan bekerja nantinya.
"Selamat siang, Pak. Nama saya-A maaf, nama saya Elisa Nadira." ucapnya dengan benar karena mulai sekarang dia akan memakai nama aslinya.
Alice, dia benar-benar sudah mengubur sosok tersebut. Dan berharap hidupnya dengan nama Elisa Nadira, nama yang disematkan oleh kedua orang tuanya tidak lahir akan jauh lebih baik daripada nama Alice.
"Selamat siang Elisa. Apa kamu sebelumnya pernah bekerja di bidang perhotelan?"
"Saya belum pernah bekerja di bidang perhotelan sebelumnya, tapi saya pernah magang selama 3 bulan saat kuliah di hotel Grand Mutiara Muria. Saya juga pernah magang di Hotel Binatang 5 yang berada di Singapura selama 2 bulan, pak." ucapkan dengan jujur membuat laki-laki itu tersenyum.
"Kalau begitu, kamu diterima sebagai resepsionis dan akan memegang event besar untuk 2 bulan ke depan. Setalah event tersebut selesai, kamu bisa menyelesaikan event-nya dengan baik. Maka saya akan berikan posisi kepala resepsionis, untuk kamu." Elisa hanya bisa berusaha untuk semua itu.
Dia melihat direkrut Mega Hotel Luxury, yang bernama Andhika Renaldi tersebut.
"Terima kasih atas kepercayaan bapak, dan saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan disini. Kalau begitu saya permisi, Pak." pamitnya undur diri.
Andhika hanya mengangguk saja, membiarkan wanita itu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
***