Keluarga Ashford membesarkan dua putri. Sayangnya, yang mereka sayangi adalah orang yang salah.
Selama dua tahun, Sera Ashford hidup seperti bayangan di rumahnya sendiri. Saat adik angkatnya, Yara, memakai barang bermerek dan menerima telur Star Beast tingkat Gold di hari ulang tahunnya, Sera hanya diberi 500 kredit sebulan dan tidur di gudang sempit seluas tujuh meter persegi.
Tiga kakaknya selalu memukul dulu, lalu tidak pernah bertanya. Ayahnya melihat semuanya, tetapi memilih diam. Ibunya, seorang kontraktor tingkat Raja yang mampu meratakan satu blok kota, bahkan tidak pernah sekali pun memeriksa rekaman keamanan yang bisa membuktikan bahwa semua tuduhan terhadap Sera adalah fitnah.
Jadi, ketika Yara kembali menjebaknya dan menyuruhnya merangkak, Sera tidak berlutut.
Dia menandatangani surat pemutusan hubungan keluarga, menerima satu pukulan terakhir di wajahnya, lalu pergi ke wilayah pinggiran Dustmere Colony yang tidak mengenal hukum. Di dagunya masih ada darah, dan di kepalanya terdengar suara asing yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Supreme Star Beast System aktif.
Sekarang Sera membuka Star Beast Station di tengah tempat rongsokan. Dia menyembuhkan Star Beast yang gagal diselamatkan klinik papan atas, mengevolusi makhluk yang seharusnya mustahil berevolusi, dan memasang harga yang bahkan membuat para penguasa perang terdiam.
Pelanggan pertamanya? Pewaris keluarga terkaya di koloni itu. Pria dingin yang tidak pernah tersenyum pada siapa pun, tetapi selalu menemukan alasan untuk kembali.
Sementara itu, kakak-kakak Sera mulai menonton rekaman lama. Ibunya mulai gelisah.
Dan Sera? Dia baru saja memulai.
Kisah fantasi progresi sci-fi tentang penjinakan Star Beast, tokoh utama wanita yang tajam dan tidak mudah ditindas, romansa slow burn dengan pewaris dingin, serta sebuah keluarga yang terlambat menyadari siapa yang sudah mereka buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019 - First Blood
Lembaran logam itu bergeser dengan suara kasar.
Di dalam, ruangan bekas pemeriksaan medis dipakai sebagai tempat sembunyi. Lampu portabel kuning diletakkan di atas meja. Lemari obat sudah kosong, pintunya hilang, raknya dipenuhi botol murah, bungkus makanan, dan beberapa pisau pendek.
Tiga pria duduk mengelilingi meja.
Kartu tersebar di antara botol.
Pemimpin mereka duduk menghadap pintu. Hidungnya masih dibalut karena pukulanku di station. Bagian bawah matanya kuning kehijauan. Saat pintu terbuka, dia sedang bicara dengan botol di tangan.
"Aku bilang, toko itu punya sistem militer. Kalau Reddick mau dengar, kita bisa jual lokasinya dulu. Atau bawa orang lebih banyak, ambil apa yang bisa—"
Dia melihatku.
Kalimatnya berhenti.
Dua orang lain menoleh.
Pria kurus dengan tato di leher langsung menjatuhkan kartu. Pria besar berkepala plontos berdiri setengah badan, lalu membeku ketika melihat siapa yang masuk.
"Halo," kataku.
Pemimpin itu mundur dari meja sampai kursinya terjatuh.
"Kau... bagaimana kau menemukan kami?"
"Bau kalian tertinggal di halaman."
Luna masuk dari belakangku.
Lampu kuning membuat bulu putihnya terlihat lebih tajam. Luka di lehernya sudah tertutup, tapi rambut yang belum tumbuh sempurna membuatnya tampak lebih liar. Ia tidak menggeram. Tidak perlu. Cara tubuhnya merendah dan matanya mengunci target sudah cukup.
Pria kurus menelan ludah.
"Itu Moon Hound Yara."
"Bukan lagi."
Pria besar melihat ke pintu belakang.
Aku melihat matanya bergerak.
"Jangan."
Dia tetap bergerak.
Tangan besarnya menyambar pipa logam di samping meja, lalu dia mencoba melemparkannya ke arah Luna untuk membuka jalan.
Luna lebih cepat.
Ia melesat melewati meja. Tubuhnya menabrak dada pria besar, menjatuhkannya ke rak kosong. Pipa logam terlepas dari tangannya dan memantul di lantai.
Pria itu mencoba berteriak.
Taring Luna sudah berada di lehernya.
Satu gigitan.
Suara itu pendek.
Darah menyembur ke lantai dan kaki meja. Pria besar meronta, tangannya memukul bahu Luna, lalu kekuatannya hilang. Tubuhnya merosot ke samping rak.
Pria kurus menjerit.
Dia mengambil pisau dari meja dan berlari ke pintu belakang.
"Buka! Buka!"
Pintu belakang dikunci dari dalam dengan rantai tua. Tangannya gemetar ketika menarik rantai itu.
Luna menoleh kepadaku.
Aku tidak sempat memberi perintah.
Pria kurus memutar badan dan melempar pisau ke arahku.
Pisau itu tidak terarah. Terlalu panik. Aku bergeser setengah langkah. Pisau lewat di samping lengan dan menancap di dinding.
Luna bergerak.
Ia menabrak pria kurus dari samping. Tubuh pria itu menghantam pintu belakang. Rantai berderak. Dia jatuh berlutut, kedua tangan mencoba melindungi leher.
Terlambat.
Luna menggigit sisi lehernya dan menarik.
Jeritan itu berubah menjadi suara basah. Pria kurus memegang luka, matanya membesar, lalu tubuhnya jatuh di depan pintu.
Dua orang selesai.
Ruangan menjadi jauh lebih kecil.
Pemimpin mereka berdiri di sudut, punggung menempel pada lemari medis. Botol di tangannya sudah pecah karena jatuh. Tangan kanannya berdarah terkena pecahan kaca, tapi dia tidak menyadarinya.
"Tunggu," katanya cepat. "Tunggu, dengar dulu."
Aku berjalan melewati meja.
Kartu menempel di sol sepatuku karena basah oleh minuman dan darah.
"Kau tadi mau menjual lokasi station."
"Omong kosong. Itu cuma omong kosong. Kami mabuk."
"Kau menyebut Reddick."
"Aku tidak akan bilang padanya. Aku bersumpah."
"Kau juga bersumpah waktu di station bahwa Yara tidak membayarmu."
Wajahnya berubah.
"Aku takut waktu itu."
"Sekarang juga."
Dia menelan ludah.
"Aku bisa pergi. Aku keluar dari Dustmere. Aku tidak akan kembali. Kau tidak akan melihatku lagi."
"Kalau aku melepasmu, kau akan menjual cerita itu lebih mahal karena sekarang ada dua mayat."
"Tidak. Tidak, aku tidak akan..."
Dia berhenti sendiri.
Karena kami berdua tahu dia bohong.
Aku berhenti di depannya.
Dia lebih tinggi dariku. Lebih berat. Kalau ini terjadi di luar station beberapa minggu lalu, dia mungkin bisa mematahkan tanganku. Tapi sekarang dia gemetar sampai lututnya saling berbenturan.
"Kau memanggilku anjing buangan Ashford."
"Aku salah bicara. Aku minta maaf."
"Kau datang untuk menghancurkan tokoku."
"Yara membayar kami!"
"Aku tahu."
"Cari dia! Dia yang menyuruh! Kami cuma pekerja!"
"Aku akan mencari dia juga."
Dia melihat pintu.
Vanya berdiri di luar, sebagian wajahnya terlihat dari celah. Dia tidak masuk. Dia hanya memperhatikan.
Pemimpin itu langsung berteriak, "Commander! Tolong! Dia mau membunuhku! Aku menyerah! Aku bisa jadi saksi!"
Vanya tidak bergerak.
"Kau bisa jadi saksi?" tanyaku.
"Ya! Ya. Aku akan bersaksi Yara membayar kami. Aku akan bilang semuanya. Aku akan tanda tangan."
"Aku sudah punya rekaman pengakuanmu."
Mulutnya terbuka.
Tidak ada kata yang keluar.
Aku mengangkat tangan kanan.
Dia melihat tanganku dan langsung mengayunkan pecahan botol.
Gerakannya cepat untuk orang biasa.
Tapi aku sudah melihat bahunya bergerak lebih dulu.
Aku menangkap pergelangan tangannya, memutarnya keluar, lalu menendang lututnya. Dia jatuh dengan satu kaki terlipat.
Pecahan botol jatuh.
Luna maju satu langkah.
"Tidak," kataku.
Luna berhenti.
Kali ini harus tanganku.
Aku meraih leher pria itu.
Kulitnya panas. Basah oleh keringat. Denyut nadinya menghantam telapak tanganku dengan cepat.
Dia mencakar pergelangan tanganku.
"Tolong..."
Kata itu keluar kecil.
Aku ingat dia di halaman station, tertawa sambil menendang pagar.
Aku ingat suara Yara di pesan Caelen, berkata mereka hanya akan memberiku pelajaran.
Aku ingat wajah Luna ketika rantai kontrak ditarik.
Aku menekan.
Pria itu meronta. Kuku-kukunya menggores kulitku. Tangannya mencoba memukul wajahku, tapi kekuatannya semakin kacau.
Aku menekan lebih kuat.
Ada suara retak dari dalam lehernya.
Tubuhnya mengejang sekali.
Lalu beratnya jatuh ke tanganku.
Aku melepas.
Dia ambruk di lantai, kepala miring dengan sudut yang salah.
Ruangan itu berhenti bergerak.
Luna berdiri di sampingku. Mulutnya berdarah, tapi matanya tetap fokus kepadaku, menunggu perintah berikutnya.
Tidak ada perintah lagi.
Aku melihat tanganku.
Darah pemimpin itu menempel di telapak dan sela jari. Ada bekas cakaran di punggung tanganku, tidak dalam. Napasku masih teratur. Jantungku tidak berlari.
Aku menunggu tubuhku bereaksi, tapi tidak ada mual, tangis, atau takut yang datang.
Yang kurasakan hanya satu hal sederhana: masalah ini selesai.
Justru itu yang membuatku tidak nyaman.
"Aku normal tidak?" tanyaku.
Vanya masuk setelah itu.
Sepatunya menginjak lantai yang basah darah tanpa ragu. Dia melihat dua mayat di dekat meja, satu di sudut, lalu melihat tanganku.
"Pekerjaan bersih."
"Itu bukan jawaban."
"Memang bukan."
Dia mengambil kain bersih dari saku jaket dan melemparkannya kepadaku.
"Lap tanganmu dulu."
Aku menangkap kain itu.
Tanganku bergerak mengikuti perintah. Darah keluar dari garis-garis telapak, tapi sebagian sudah masuk ke bawah kuku.
"Aku tidak takut," kataku.
"Aku tahu."
"Orang seharusnya takut setelah membunuh."
"Orang yang hidupnya normal mungkin."
Aku melihatnya.
Vanya berdiri di depanku dengan mata kiri memar dan wajah yang tidak menghakimi.
"Kau tumbuh di rumah yang membuatmu takut setiap hari," katanya. "Takut dipukul. Takut difitnah. Takut tidak diberi makan. Takut bicara salah. Takut diam pun salah. Tubuhmu sudah belajar hidup dalam rasa takut terlalu lama."
Dia melihat mayat pemimpin itu.
"Membunuh orang seperti ini bukan hal kecil. Tapi bagi tubuhmu, ini bukan rasa takut baru. Ini hanya cara lain untuk berhenti jadi korban."
Aku menggenggam kain.
"Itu buruk?"
"Itu berbahaya."
Jawaban itu membuatku menatapnya lebih lama.
Vanya melanjutkan, "Buruk atau tidak, tergantung apa yang kau lakukan setelah ini. Tiga orang ini datang menyerangmu, melihat rahasiamu, dan berencana menjualnya. Mereka bukan orang tak bersalah. Jangan pura-pura hatimu hancur kalau tidak hancur."
Dia menepuk bahuku.
"Tapi jangan juga mulai merasa semua masalah bisa selesai dengan leher patah. Itu jalan cepat. Jalan cepat biasanya mahal."
Aku mengangguk.
Kali ini aku benar-benar mendengar.
Panel sistem muncul.
[DING!!!]
[First Kill tercatat.]
[Reward: Battle Instinct Lv.1.]
[Efek: kecepatan reaksi jarak dekat +15%.]
[Hidden Evaluation: Psychological Resilience - S Rank.]
[Catatan: nilai ini menunjukkan adaptasi trauma ekstrem. Ini bukan pujian.]
Aku membaca baris terakhir.
"Sistemu kasar," kata Vanya.
"Kau bisa melihatnya?"
"Tidak. Tapi wajahmu mengatakan sesuatu yang menyebalkan muncul."
"Dia bilang S Rank bukan pujian."
"Setidaknya sistemmu jujur."
Luna menyentuh tanganku dengan hidungnya.
Aku mengelus kepalanya dengan sisi tangan yang bersih.
"Ayo pulang."
Vanya mengangkat komunikator.
"Aku panggil cleanup crew. Mereka akan membuat ini terlihat seperti konflik internal geng Reddick. Tidak ada nama Sera, tidak ada Moon Hound, tidak ada Star Patrol."
"Kau sering melakukan ini?"
"Aku commander di Dustmere. Menurutmu kota ini rapi karena orang-orang tiba-tiba jadi baik?"
Aku tidak punya jawaban.
Kami keluar dari bangunan medis.
Udara luar terasa lebih dingin daripada saat masuk. Luna berjalan di sisi kiriku. Vanya berjalan di sisi kanan, tangannya di saku jaket, seolah kami baru selesai membeli makan malam.
Setelah melewati dua blok, Vanya bicara lagi.
"Beberapa hari lagi, aku buat banquet."
"Apa?"
"Pengumuman resmi. Aku akan memperkenalkanmu sebagai anak angkatku."
"Di depan siapa?"
"Komandan sektor, keluarga besar lokal, beberapa orang Federation Council, pengusaha yang suka sok penting. Daftar belum final."
Aku berhenti berjalan.
"Kau mau meletakkanku di ruangan penuh orang yang justru harus kuhindari?"
"Aku mau meletakkanmu di sebelahku, di depan orang-orang yang harus tahu bahwa mereka tidak boleh menyentuhmu."
"Mereka akan menatap."
"Biarkan."
"Mereka akan bertanya."
"Aku jawab."
"Mereka akan mencari tahu."
"Mereka akan menemukan namaku sebelum menemukan rahasiamu."
Aku berjalan lagi.
"Aku tidak punya pakaian untuk banquet."
Vanya tersenyum lebar.
Itu ekspresi yang membuatku lebih waspada daripada tiga mayat tadi.
"Itu tugas ibu angkat."
"Jangan pilih yang berlebihan."
"Aku dengar 'pilih yang paling mahal'."
"Bukan itu yang kukatakan."
"Sudah terlambat. Commander hearing."
Luna mengibas ekor pelan.
Aku menatapnya.
"Jangan ikut pihak dia."
Vanya tertawa.
Di atas distrik D-7, langit Dustmere tidak menunjukkan bintang. Hanya awan debu dan lampu kota jauh. Tapi kali ini, saat berjalan kembali ke station, aku tidak sendirian.