Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Darius lalu melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam celana panjang hitamnya bersama dengan gelang benang rajutan sang ibu.
Setelah membersihkan tempat tidur lamanya, Darius merebahkan diri dan tak lama kemudian ia tidur terlelap dengan tenang.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah menghapus sisa hujan semalam.
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas lantai.
Darius perlahan membuka matanya. Ia lalu bangkit dari kasurnya yang sederhana, meregangkan tubuhnya yang tegap.
Ia lalu pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Begitu air mendidih dan dituang ke cangkir, aroma kopi langsung memenuhi dapur kecil itu.
Darius membawa kopi itu ke halaman depan rumah, menikmati udara pagi Kota Mandara yang masih terasa bersih pasca hujan semalam.
Di tengah ketenangan pagi itu, Darius menyesap kopinya perlahan. Kehangatan cangkir di tangannya kontras dengan dinginnya ingatan tentang surat sang ibu.
"Mematuhi ucapan Ayah..." gumam Darius, menyebut sosok yang sudah lama ia hapus dari hidupnya.
Darius menatap sisa kopi di cangkirnya, lalu mengembuskan napasnya. Pagi ini, ada satu tempat yang harus ia kunjungi. Tempat peristirahatan terakhir wanita yang paling dicintainya.
Dengan mengenakan kemeja hitam kasual, Darius berjalan kaki menuju Pemakaman Umum Asri Jaya, tempat ibunya dikebumikan.
Sesampainya di gerbang pemakaman, aroma tanah basah sisa hujan semalam dan wangi bunga kamboja langsung menyambutnya.
Darius berjalan menyusuri jalan setapak di antara deretan nisan. Ia lalu berhenti di depan sebuah makam dengan nisan marmer putih.
Pada nisan itu terukir nama yang sangat ia rindukan: Gayatri Damayanti.
Darius perlahan berlutut di samping makam tersebut. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut menyapu dedaunan kering dan rumput liar yang berada di atas pusara ibunya.
"Ibu... anakmu ini datang," bisik Darius. Suaranya rendah, bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.
Ia mengambil gelang rajutan biru tua dari sakunya, gelang yang ia temukan di kotak beludru semalam, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas nisan sang ibu.
"Aku sudah membaca surat Ibu," lanjut Darius sambil menatap nisan itu lekat-lekat. "Jika takdir mempertemukanku kembali dengan pria itu, aku berjanji akan menuruti permintaan terakhir Ibu."
Darius terdiam sejenak. Angin bertiup sedikit kencang, menggoyahkan dedaunan pohon kamboja di atasnya, seolah-olah sang ibu sedang membelai rambutnya.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam dalam keheningan, Darius akhirnya bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, menatap makam ibunya untuk terakhir kali.
Darius lalu membalikkan badannya dan beranjak pergi, meninggalkan area pemakaman dengan langkah yang lebih mantap.
Saat ia sedang berjalan melewati sebuah area pertokoan, pandangan Darius terhenti pada sebuah bengkel motor yang cukup besar di pinggir jalan.
Di depan bengkel itu, seorang pemuda seumurannya dengan kaus oblong hitam yang penuh noda oli tampak sedang sibuk membongkar mesin sebuah motor sport.
Darius menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, mengenali postur tubuh dan garis wajah pemuda yang sedang mengelap keringat dengan punggung tangannya itu.
"Revan?" ucap Darius memastikan bahwa matanya memang tidak sedang salah lihat.
Pemuda berpakaian penuh oli itu menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Darius, tubuhnya langsung membeku. Ia lalu mengucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"D-Darius?! Astaga! Teman masa kecilku?!" seru Revan dengan suara yang menggelegar.
Revan langsung berlari menghampiri Darius. Ia hendak memeluk sahabat masa kecilnya itu, namun tiba-tiba berhenti ketika melihat tangannya yang penuh dengan oli.
"Ah, sial, tanganku kotor!" ucap Revan sambil tertawa lebar.
Ia lalu dengan cepat mengelap tangannya ke kain lap di saku celananya, kemudian menjabat tangan Darius. "Darimana saja kau selama ini?!"
"Sebelas tahun menghilang gak ada kabar setelah pemakaman tante Gayatri!" lanjut Revan sambil menepuk bahu Darius dengan keras.
Darius tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. "Aku pergi ke luar negeri. Mencari suasana baru, sekaligus kerja di sana."
"Luar negeri? Pergi gak pamit, balik-balik bentukanmu udah kayak bos mafia gini!" ucap Revan sambil kembali menepuk pundak Darius dengan pelan.
Revan merasa takjub dengan perubahan fisik sahabatnya yang kini memancarkan aura luar biasa kuat. "Eh, ayo duduk di dalem. Kebetulan bengkel lagi agak santai."
Revan membawa Darius masuk ke dalam ruang kerja kecilnya di sudut bengkel yang dilengkapi dengan sofa kulit yang agak usang.
Ia lalu mengambilkan sebotol air mineral dingin dan langsung memberikannya kepada Darius, ia sendiri duduk di kursi kerja lipat.
"Jadi, sudah berapa lama kau pulang ke Mandara?" tanya Revan membuka obrolan, sambil menyulut sebatang rokok.
"Baru kemarin sore," jawab Darius dengan datar sambil membuka tutup botol lalu meminumnya sedikit.
Darius meletakkan botol air mineral itu di atas meja kayu. Matanya menyapu ruangan kerja Revan yang berantakan namun terasa hangat.
"Kemarin sore? Dan sepertinya kau habis dari makam Tante Gayatri, kan?" tebak Revan sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara.
Darius hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku sangat tahu seberapa besar kau menyayanginya, Darius" Revan bersandar pada kursi lipatnya, mengenang masa lalu.
"Waktu kau menghilang, aku kelimpungan mencarimu. Aku sempat mengira kau melakukan hal bodoh karena kepergian Tante Gayatri. Ditambah lagi..."
Revan menggantung kalimatnya sejenak. Ia melirik Darius dengan ragu, seolah takut menyinggung luka lama. "...ditambah lagi masalah Violetta."
Mendengar nama itu, sorot mata Darius tidak berubah. Namun, jemarinya yang memegang botol air mineral tampak mengetuk botol itu sekali.
"Itu sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi, Revan," ucap Darius dengan nada yang datar, seolah nama itu tak lagi memiliki arti baginya.
Revan menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak. "Oke, oke. Aku tidak akan membahas si Violetta itu lagi. Tapi serius, sebelas tahun di luar negeri, apa saja yang kau lakukan?"
"Penampilanmu benar-benar berubah. Kau terlihat seperti pria yang bisa membunuh orang hanya dengan tatapan mata." ucap Revan sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
Darius menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Tentu saja ia berubah. Enam tahun di militer hingga menyandang gelar Dewa Perang.
Disusul lima tahun menjadi pembunuh bayaran nomor satu dan menguasai berbagai korporasi global, jelas telah menempa fisiknya menjadi senjata paling mematikan.
"Aku hanya bekerja di sebuah perusahaan keamanan swasta," jawab Darius dengan memberikan cerita paling aman untuk konsumsi publik. "Sisanya, aku hanya mengelola beberapa bisnis investasi kecil."
"Pantas saja dadamu jadi bidang begini!" ujar Revan sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi baguslah kalau kau sukses di sana. Lalu sekarang, apa rencanamu di Kota Mandara?"
"Aku ingin hidup tenang di sini. Mungkin membeli beberapa properti kecil atau membuka usaha sederhana," ujar Darius dengan datar.
Revan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Hidup tenang? Umurmu baru dua puluh sembilan tahun, Darius! Orang seumur kita sedang gila-gilanya mengejar karier?"
Revan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. "Tapi terserahlah. Kalau kau butuh bantuan untuk mencari lahan atau sekadar bosan sendirian di rumah tua itu, bengkelku selalu terbuka."
Darius merasakan sedikit kehangatan yang tulus dari ucapan Revan. Di dunia luar, semua orang mendekatinya karena rasa takut dan hormat yang dipaksakan.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya