Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35: Perbedaan
Di dunia lain pertandingan masih berlangsung, kali ini giliran Gu Luban melawan Andreas.
“Hohohoho”
“Kau adalah orang yang menolak sang agung?”
“Aku akan mensucikanmu” Andreas memasang sebuah pose dan Cahaya muncul dari tubuhnya.
.
“Agung?”
“Yang kulihat kau hanya mencoba memanipulasi pikiran mereka” Gu Luban mengambil satu Langkah.
“Majulah…”
Dari tubuh Andreas dirinya berubah menjadi sebuah Cahaya yang terpisah pisah. Cahaya tersebut mengambil sebuah bentuk rusa, dan berbicara.
“Bersujudlah manusia…”
“Kau akan mendapatkan pengampunan…”
.
“Pengampunan?”
“Kau?”
“Mengampuniku untuk apa?” Gu Luban berbicara dengan nada mengejek.
Terlihat rusa itu marah, lalu melayang saat melayang rusa itu membentuk sebuah gunung Cahaya diatas kepala Gu Luban untuk menimpanya. Gu Luban yang melihat itu mengangkat tangannya ke atas dimana dari tangannya muncul pedang raksasa. Sang Rusa menjatuhkan Gunung itu dan Gu Luban mengayunkan pedangnya, Cahaya terang muncul. Saat Cahaya menghilang terlihat serpihan serpihan Cahaya.
“KAAAAAh”
“Berani kau!!!”
Langit menghitam, Gu Luban yang menyadari ini kemampuan penuh sang Rusa menutup matanya. Saat itu terlihat air hujan yang jatuh dari awan berhenti tak menyentuh tanah, setiap pedang berubah menjadi sebuah pedang kecil.
“Kau merasa dirimu agung?”
“Kalau begitu mana lebih kuat kau daripada kemampuan ku ini…” Gu Luban menengadahkan tangannya.
Saat awan gelap benar benar membuat suasana seperti malam Cahaya muncul dengan sekelibat mata menuju Gu Luban. Gu Luban yang menyadari hal ini mengayunkan tangannya keatas, saat itu ribuan pedang kecil mengeras membungkus Cahaya padat itu dan menghentikan serangan milik Sang Rusa.
“Apa!!!!”
“Kau-!” Andreas kembali ke wujud manusianya memperlihatkan kelelahan.
.
“Kekuatanmu cukup kuat untuk menembus pelindung arena”
“Tapi itu belum cukup untuk menjatuhkanku”
Gu Luban mengepalkan tangannya, saat itu Cahaya yang dibekukan retak dan akhirnya hancur menyisakan Cahaya Cahaya yang dibungkus oleh air jatuh ke tanah.
“Ugh…”
“Bagaimana kau bisa?!” Andreas menahan rasa lelah.
.
“Hmph”
“Kurasa dia bisa lebih kuat”
“Hanya saja tubuhmu lah yang terlalu lemah!”
Gu Luban turun dari arena meninggalkan Andreas, tak lama pembantu Andreas membawanya turun dari arena. Di tempat lain…. Argou terjatuh di sela sela pasar bersama Rupas.
“Agh…”
“Tuan mu itu!”
“Sangat lemah!”
.
“Berani kau mengatakan tuan lemah” Rupas menganggkat Argou dengan energinya.
“Kalau bukan karena kau masih berguna sudah pasti kau akan kuhancurkan”
“Hmph!” melepaskan Argou.
.
“Kegh”
“Kau!!!”
.
“Kalau bukan karena lawannya mahluk yang memiliki porsi dunia!”
“Bagaimana mungkin tuan kalah!”
Argou memegangi lehernya yang sakit, lalu melihat Ruby sedang berada di pasar.
“Hei!”
“Bagaimana dengan Wanita itu?” Argou menunjuk ke Ruby.
.
“Dirinya…”
“Cukup”
“Energi itu juga adalah porsi dunia…”
“Walau lemah….”
“Tapi kita bisa menggunakannya”
Rupas terlihat membentuk sebuah panah dari energinya…
“Kau akan menjadi sang kepercayaan Tuan kami yang paling setia…”
Argou melepaskan panahnya, tapi saat panah itu akan menyentuh Ruby sebuah bunga muncul melilit anak panah itu.
“Hmph” panah tersebut dilemparkan kembali ke arah Rupas.
Rupas menahan panah itu sampai terjatuh, dirinya menyadari sejak awal Ruby telah mengetahui keberadaan mereka. Ruby mendekati mereka.
“Kau pikir Tuan kalian yang rendahan itu bisa setara ibu kami?”
“Aku akan mengampunimu kali ini!”
“Tapi lain kali…”
“Tak akan sebaik ini”
Ruby keluar dari gang setelah memperingatkan Rupas. Rupas yang terlanjur malu menghilang meninggalkan Argou sendirian di tempat itu. Di tempat lain Marisa menceritakan tentang dewa luar dan kecurigaannya terhadap pelindung kota.
“Hmm jadi seperti itu…”
“Tapi….”
“Pelindung kota adalah sesuatu yang diatur Kerajaan”
“Kita tak bisa melakukan apa apa…”
Marisa menunduk, Cakra bertanya.
“Apakah raja pernah mengatakan sesuatu?”
“Kurasa tak mungkin orang sekuat dia tak menyadari ini…”
.
“Raja tak mau memperumit masalah”
“Dia tau kalau hal ini bisa berbahaya…”
“Tapi….” Handa memalingkan wajah.
.
“Ya sudah…”
“Hmm tapi sepertinya kau sadar?”
.
“Ya kau benar aku sadar…”
“Hanya saja…”
“Ini karena di kediaman kami memiliki formasi pelindung sendiri”
.
“Oh aku paham…”
Di arena sekarang giliran excalibur melawan resonan.
“Hup Hup” Excalibur melompat keatas arena dengan hati hati.
.
“Mari kita mulai saja…” Resonan bersiap.
Resonan mengisolasi ruang disekitar Excalibur dan mencoba mengapit Excalibur, tapi Excalibur dengan santai membelah ruang itu. Serangan selanjutnya Excalibur menyerang kali ini Excalibur membentuk sebuah tubuh manusia tanpa wajah untuk mengayunkannya. Saat Excalibur ditebaskan Resonan menahan dengan mengalihkan serangan itu ke tempat lain.
“Hehe memang pantas penguasa ruang”
“Aku selanjutnya akan menggunakan seluruh kekuatanku”
Excalibur terlihat bersinar, Resonan yang menganggap untuk serius melakukannya dengan serius. Ruang dihadapan resonan dipadatkan walau hanya seukuran kelereng tapi sudah membuat debu di sekitar arena tertarik ke ruang itu. Serangan dilemparkan, tebasan milik Excalibur terlihat melambat. Selain melambat tebasan ini juga seperti semakin menjauh, tapi tak lama energi pedang itu membesar terus membesar.
“Ini….” Resonan kaget.
Tebasan itu menyentuh ruang yang dilipat dan seketika terbelah saat terbelah sebuah Cahaya yang sangat terang muncul. Pada saat itu sebuah gunung terlihat terjadi pembelokan ruang dan hilang begitu saja tanpa bekas.
“Hah… Hah…”
“Itu tadi bahaya….” Excalibur melepaskan wujud manusia yang memegangnya.
.
“Ya…”
“Pelindung ini…”
“Kalau tidak pasti kota ini akan menghilang….”
Mereka berdua turun dari panggung, tak lama Ruby kembali dari pasar dengan membawa 4 kantong benih yang akan dia katakan untuk ditanam. Juga Marisa dan Cakra yang kembali dengan niat untuk menonton, Ruby yang melihat Marisa.
“Hei!”
“Aku ingin menantangmu!” sambil menunjuk ke Marisa.
.
“Kau yakin?”
“Tapi…” Melihat ke Cakra, dan Cakra mengangguk.
“Hmm, Baiklah!”
Marisa dan Ruby naik keatas Arena saat ini, arena tersebut berubah suasananya menjadi penuh dengan rumput akibat kemampuan Ruby.
“Bagaimana jikalau kita mulai?”
Marisa melangkah.
“Baik.”
“Majulah!”
Marisa menghentakkan kakinya membuat sebuah arena lain dengan skala yang lebih luas dan pelindung arena menyesuaikan. Ruby yang tak mau kalah mengayunkan tangannya membuat bunga bunga menampilkan pertarungan mereka yang tak bisa dilihat dari bunga bunga itu membentuk layar besar.
“Tunggu apalagi?” Ruby menatap Marisa.
Marisa membungkus tangannya dengan tenaga dalam dan kakinya juga termasuk menerjang kedepan. Saat itu juga Ruby mengayunkan tangannya membuat akar akan menjadi perisai, tapi Marisa mengalirkan energinya melalui kaki menghalangi perisai itu terbentuk. Saat akan dipukul Ruby menahan dengan menangkap tangan Marisa dan melemparkannya.
“Aku tak mengira tenagamu cukup besar!” Marisa menantang Ruby.
Marisa lalu menggunakan energinya untuk mengurung Ruby dan membentuk akar yang akan menancap hanya saja serangan itu Ruby tahan dengan sebuah bunga kecil. Marisa dan Ruby memanas mereka mengumpulkan semua energi mereka Marisa pada Sebuah akar hanya satu, sedangkan Ruby sebuah bunga. Saat serangan maju gelombang ledakan terasa sehingga menggoyangkan pelindung, ledakan besar terjadi saat bertemu. Di posisi luar sebuah gunung terlihat memiliki lubang kosong ditengahnya secara tiba tiba.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...