Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau kemana Arsen!
Rindu meletakkan ponselnya di kursi penumpang. Dadanya terasa sangat sesak, seolah udara di sekitarnya mendadak menguap setelah membaca deretan kalimat dari Arsen. Kata-kata manis yang biasanya menjadi penawar duka dan mampu menenangkan hatinya, kini justru terasa bagaikan sembilu yang menyayat perih.
Ia menarik napas panjang yang patah-patah, berusaha menguasai gemuruh di dadanya, lalu memutar kunci kontak untuk menyalakan mesin mobil.
Tanpa berpikir panjang, Rindu memutar setir dan membelokkan kendaraannya menuju gedung kantor Arsen.
Sepanjang perjalanan, pikirannya mendadak menjadi riuh. Berbagai pertanyaan yang menuntut kejelasan terus berputar tanpa kunjung menemukan jawaban yang menenangkan.
"Semoga aku hanya terlalu curiga," bisiknya pada diri sendiri.
Ia terus mengulang harapan dangkal itu di dalam hati, mencoba membendung kecurigaan yang kian merayapi logikanya.
Sekitar tiga puluh menit menembus kemacetan kota, gedung pencakar langit tempat perusahaan Arsen bernaung akhirnya berdiri megah di pelupuk mata.
Rindu perlahan mengendurkan injakan pedal gas dan memperlambat laju mobilnya. Dari kejauhan, pintu keluar-masuk area parkir gedung itu sudah mulai terlihat.
Namun, baru saja ia hendak membelokkan mobilnya untuk memasuki area parkir, sebuah sedan hitam mewah meluncur keluar dari gerbang utama perusahaan tersebut.
Rindu spontan menginjak rem pelan.
Matanya, tak berkedip menatap kendaraan itu.
Mobil itu... ia sangat mengenalnya.
Setiap jengkal bagian luar kendaraan itu dihafalnya luar kepala. Pelat nomor cantiknya, velg kustom berwarna hitam legam. Itu tak salah lagi adalah mobil milik Arsen.
"Mas, Arsen" gumamnya sangat lirih, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Jantung Rindu mendadak berdegup kencang secara tak beraturan, menghantam rongga dadanya hingga terasa ngilu.
Baru beberapa menit yang lalu Arsen mengirimkan pesan singkat. Suaminya itu akan pulang sangat larut malam ini.
Jika alasannya demikian, kenapa sekarang lelaki itu justru meninggalkan kantor di jam yang masih sangat sore?
Tanpa sadar, jemari Rindu menggenggam lingkaran kemudi semakin erat.
Rasa bimbang mendadak melumpuhkan pikirannya sejenak. Haruskah ia langsung menelepon Arsen untuk meminta penjelasan? Atau sebaiknya ia berpura-pura tidak melihat apa-apa dan kembali pulang menunggu di rumah?
Namun, bayangan ucapan Bu Fina, rekan kerja suaminya, saat mereka tak sengaja bertemu di supermarket tadi siang kembali berputar tajam di kepalanya.
"Pertemuan terakhir kami waktu ulang tahun perusahaan tahun lalu."
Kalimat itu menjadi kepingan teka-teki yang menghancurkan semua kebohongan Arsen. Tekad Rindu seketika membulat.
Dinding kepercayaan yang dibangunnya bertahun-tahun merosot tajam.
Ia membatalkan niatnya untuk berbelok ke area parkir. Sebaliknya, Rindu memutar setir dan diam-diam membelokkan mobilnya, membuntutinya dari jarak aman.
Rindu sengaja menjaga jarak beberapa kendaraan di belakang sedan hitam itu agar keberadaannya tidak memantik kecurigaan.
Ia memanfaatkan bus kota dan truk kecil yang melintas di antara mereka sebagai benteng penyamaran. Telapak tangannya mulai dingin dan berkeringat dingin menahan ketakutan yang mencekam.
Ini adalah kali pertama dalam pernikahan mereka Rindu nekat melakukan hal sejauh ini, membuntuti suaminya sendiri bagai seorang detektif.
Di depan sana, mobil Arsen melaju dengan sangat tenang. Kendaraan itu berbelok menyusuri jalan utama yang justru mengarah lurus ke kawasan pusat kota, arah yang sepenuhnya berlawanan dari jalan menuju hunian hangat mereka.
Rindu terus menginjak pedal gas, menyejajarkan ritme jalannya. Semakin jauh kendaraan itu bergerak melintasi riuk lalu lintas kota, semakin pekat pula firasat buruk yang merenggut kedamaian hatinya.
Rindu terus menahan napas setiap kali lampu lalu lintas memaksa kendaraannya berhenti beberapa meter di belakang sedan hitam itu.
Berbagai spekulasi buruk berputar liar di dalam kepalanya, menciptakan kebisingan yang meremukkan dadanya.
Ke mana sebenarnya Arsen hendak pergi? Mengapa suaminya harus merancang kebohongan sedemikian rapi hanya untuk mendatangi suatu tempat di jam kerja?
Pertanyaan-pertanyaan yang menggebu dan menuntut kejelasan itu akhirnya menemukan titik terang tak lama kemudian.
Sedan hitam milik Arsen melambatkan lajunya, menyalakan lampu sein kiri, lalu memutar setir memasuki gerbang megah sebuah kawasan apartemen mewah berarsitektur modern di sudut elite pusat kota.
Gedung pencakar langit itu menjulang tinggi dengan pendar cahaya lampu hias yang memantul di kaca-kaca jendela, mempertegas kesan eksklusif dan privat bagi para penghuninya.
Rindu menelan ludah yang terasa sangat pahit. Hatinya bagaikan dihimpit batu besar.
Ia sengaja memberi jeda beberapa meter di belakang, membiarkan mobil Arsen melewati palang otomatis dan pos pemeriksaan keamanan terlebih dahulu.
Tangan Rindu yang mencengkeram kemudi kini terasa semakin dingin dan bergetar hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, sementara napasnya terasa kian berat dan patah-patah.
Dengan sisa keberanian yang memaksakan diri, Rindu mengarahkan mobilnya menyusul masuk ke area parkir basement gedung tersebut.
Di dalam area parkir yang remang dan dingin, gema suara mesin mobil Arsen terdengar menuntun langkah Rindu dari kejauhan.
Ia memarkirkan kendaraannya beberapa baris di belakang mobil suaminya, berlindung di balik bayang-bayang pilar beton besar agar tidak mencolok.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰