Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Tenang
Alan melangkah masuk ke dalam kamar.
Tatapannya masih tertuju pada pria yang duduk di samping ranjang Mama Olive.
Pria itu berdiri perlahan.
"Alan..."
"Jangan panggil nama gue."
Suara Alan terdengar datar.
Sephia yang baru saja masuk bersama Sagara langsung berhenti.
Ia menoleh pada Alan.
Lalu pada pria itu.
Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu asing.
Pria itu menarik napas panjang.
"Papa cuma mau lihat keadaan Mama."
Alan tertawa kecil.
Namun tidak ada sedikit pun rasa khawatir di wajahnya.
"Baru sekarang?"
Olive yang sejak tadi hanya diam langsung menatap putranya.
"Alan..."
"Kenapa, Ma?"
Alan menoleh pada Olive.
"Dia bilang mau lihat keadaan Mama."
"Memangnya kenapa?"
Pria itu kembali menatap Alan.
"Alan, Papa tahu kamu marah."
"Marah?"
Alan tersenyum tipis.
"Lo pikir gue cuma marah?"
Ruangan itu kembali hening.
Sephia tidak tahu harus berbuat apa.
Ia bahkan tidak tahu siapa pria yang sedang berdiri di hadapan mereka.
Namun melihat ekspresi Alan...
Sephia tahu, ini bukan sekadar pertengkaran biasa.
Alan menatap pria itu.
"Lo pergi ninggalin Mama."
"Terus sekarang tiba-tiba datang ke sini bawa bunga?"
"Alan."
Olive memanggilnya lebih tegas.
Namun Alan tidak mengalihkan pandangannya.
"Lo pikir bunga itu bisa bikin semuanya selesai?"
Pria itu terdiam.
Alan tertawa pendek.
"Atau lo cuma mau kelihatan kayak suami yang perhatian?"
Wajah pria itu berubah.
"Jaga bicaramu."
Untuk pertama kalinya, suara pria itu terdengar lebih tegas.
Alan langsung menatapnya.
"Kenapa?"
"Takut?"
Pria itu mengepalkan tangannya.
"Alan, ini bukan tempat untuk membicarakan masalah kita."
"Masalah kita?"
Alan mengulang perkataan itu.
Kemudian ia tersenyum miring.
"Lo bahkan masih bisa bilang ini masalah kita?"
Sephia menundukkan pandangan.
Sagara yang berdiri di sampingnya hanya diam.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyela.
Hingga akhirnya Olive berkata pelan,
"Alan... cukup."
Alan terdiam.
Olive menatap putranya.
"Jangan di depan teman-temanmu."
Alan baru menyadari keberadaan Sephia dan Sagara.
Wajahnya sedikit berubah.
Sephia menatapnya.
Tidak ada rasa takut di matanya.
Tidak juga rasa ingin tahu yang berlebihan.
Hanya khawatir.
Alan mengalihkan pandangan.
Pria itu mengambil jasnya dari kursi.
"Papa pergi."
Alan tidak menjawab.
Pria itu berjalan melewati mereka.
Namun sebelum keluar...
Ia berhenti di depan Sephia.
Sejenak, tatapan mereka bertemu.
Pria itu mengangguk kecil.
Sephia refleks membalasnya.
Kemudian pria itu pergi.
Pintu kamar tertutup.
Hening.
Alan masih berdiri di tempatnya.
Tangannya mengepal.
Sephia memandang punggungnya.
Lalu pelan-pelan berkata,
"Lan..."
Alan tidak menjawab.
"Lo nggak apa-apa?"
Alan menghela napas panjang.
Kemudian menoleh.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun kali ini...
Sephia tahu.
Senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
"Gapapa."
Dan untuk pertama kalinya...
Sephia tahu bahwa Alan sedang berbohong.
Pintu kamar tertutup.
Alan masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja dilewati ayahnya.
Beberapa detik berlalu.
“Alan...”
Suara Olive terdengar pelan.
Alan tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengembuskan napas panjang, lalu menoleh ke arah Mamanya.
“Maaf, Ma.”
Olive menggeleng pelan.
“Gapapa.”
Alan memaksakan senyum kecil.
“Alan keluar sebentar.”
Olive hanya mengangguk.
Alan kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar.
Sephia yang sejak tadi diam memperhatikannya.
Tatapan Alan terlihat berbeda.
Bukan hanya marah.
Ada sesuatu yang membuatnya terlihat seperti sedang berusaha keras menahan dirinya sendiri.
Sephia menoleh sebentar ke arah Sagara.
Cowok itu sudah duduk diam di kursi.
Tatapannya tertuju pada Olive.
Sagara tidak mengatakan apa-apa.
Seolah mengerti bahwa Alan mungkin memang membutuhkan waktu sendirian.
Sephia kembali menatap pintu.
Beberapa detik kemudian, ia akhirnya berdiri.
“Gue keluar sebentar ya, Tante.”
Olive tersenyum kecil.
“Iya, Nak.”
Sephia pun menyusul Alan.
---
Alan berdiri di ujung lorong rumah sakit.
Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas di dekat jendela besar.
Di bawah sana, kendaraan tampak bergerak kecil di antara gedung-gedung.
Sephia berjalan perlahan mendekatinya.
Ia tidak langsung memanggil.
Hanya berdiri beberapa langkah di belakang Alan.
Alan menyadari kehadirannya.
“Ngapain lo ke sini?”
Sephia mengangkat bahu.
“Gue juga mau lihat pemandangan.”
Alan melirik ke arahnya.
Sephia berdiri di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Tidak ada yang bertanya tentang pria tadi.
Tidak ada yang memaksa Alan bercerita.
Sephia hanya berdiri di sana.
Dan entah kenapa...
Hal itu justru membuat Alan sedikit lebih tenang.
“Lo nggak penasaran?” tanya Alan tiba-tiba.
Sephia menoleh.“Penasaran.”
“Terus?”
“Ya...” Sephia kembali memandang ke depan.
“Kalau lo mau cerita, nanti juga cerita.”
Alan terdiam.
“Kalau nggak?”
“Ya nggak apa-apa.”
Sephia mengangkat bahu.
“Gue juga nggak mau maksa.”
Alan menatapnya beberapa saat.
Kemudian kembali memandang ke luar jendela.
“Dia bokap gue.”
Sephia mengangguk pelan.
“Oh.”
Hanya itu.
Alan sedikit mengernyit.
“Oh doang?”
Sephia menoleh.
“Terus gue harus bilang apa?”
Alan tidak bisa langsung menjawab.
Sephia melanjutkan,
“Gue tahu lo lagi nggak mau cerita.”
“Kalau gue nanya terus juga pasti bikin lo makin kesel.”
Alan menatapnya.
Sephia kemudian tersenyum kecil.
“Jadi yaudah.”
“Gue di sini aja.”
Alan terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa...
Dadanya terasa sedikit lebih ringan.
“Lo aneh.”
Sephia langsung menoleh.
“Hah?”
“Biasanya orang kalau penasaran nanya terus.”
“Ya gue juga penasaran.”
“Cuma?”
Sephia mengerutkan hidung.
“Cuma gue masih punya perasaan.”
Alan menatapnya.
Sephia langsung mengalihkan pandangan.
“Apaan sih liat-liat?”
Alan tertawa kecil.
Tawa yang kali ini terdengar lebih nyata.
“Gue di sini aja.”
Alan masih menatap Sephia.
“Lo nggak harus di sini.”
Sephia mengangkat bahu.
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Ya gue mau.”
Jawaban itu membuat Alan terdiam.
Sephia kembali menyandarkan kedua tangannya pada pagar pembatas.
“Lagian gue udah jauh-jauh ke sini.”
Alan tertawa kecil.
“Jauh-jauh?”
“Iya.”
“Padahal naik mobil.”
“Ya tetep aja jauh.”
Alan menggeleng pelan.
“Logika lo aneh.”
“Biarin.”
Untuk beberapa saat, mereka kembali diam.
Namun kali ini suasananya tidak terasa canggung.
Sephia tidak lagi mencoba melihat wajah Alan untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Sementara Alan juga tidak merasa harus terus menyembunyikan ekspresinya.
“Pia.”
“Hm?”
“Lo takut sama gue?”
Sephia langsung menoleh.
“Hah?”
“Tadi.” Alan menatapnya. “Waktu gue marah.”
Sephia terdiam sebentar.
Lalu menggeleng.
“Enggak.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Sephia berpikir sejenak.
“Ya... gue juga nggak tahu.”
Alan mengangkat sebelah alisnya.
“Jawaban lo selalu aneh.”
“Ya emang gue nggak takut.”
Sephia kembali memandang ke depan.
“Lo marah sama orang yang bikin lo marah.”
“Bukan tiba-tiba marah sama gue.”
Alan terdiam.
Sephia melanjutkan dengan santai.
“Kalau lo tiba-tiba marah sama gue, ya mungkin gue takut.”
Alan menatapnya.
“Gue pernah marah sama lo?”
Sephia langsung menoleh.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu gue nggak minum susu cokelat yang lo kasih.”
Alan mengernyit.
“Itu bukan marah.”
“Itu muka lo udah kayak mau manggil polisi.”
Alan tertawa.
“Lebay.”
“Beneran.”
“Lo aja yang nggak tahu bedain muka gue.”
Sephia mengerutkan kening.
“Terus muka lo waktu marah kayak apa?”
Alan terdiam.
Sephia juga ikut diam.
Pertanyaan itu tiba-tiba terasa sedikit lebih serius dari yang ia maksudkan.
Alan kembali menatap ke luar jendela.
“Kayak tadi.”
Sephia tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia hanya mengangguk kecil.
“Oh.”
Alan menoleh.
“Cuma oh?”
Sephia mengangkat bahu.
“Ya gue nggak tahu mau jawab apa.”
Alan tersenyum kecil.
“Pantes.”
Sephia langsung mendelik.
“Apaan?”
“Lo emang nggak peka.”
“Hah?”
“Enggak.”
Alan segera mengalihkan pandangannya.
Sephia menatapnya dengan curiga.
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, pintu kamar rawat terbuka.
Sagara berdiri di sana.
“Pia.”
Sephia menoleh.
“Ya?”
“Tante Olive nanyain kalian.”
“Oke.”
Sephia kemudian menatap Alan.
“Yuk?”
Alan mengangguk.
“Iya.”
Mereka bertiga kembali masuk ke kamar.
Suasana di dalam sudah jauh lebih tenang.
Olive tersenyum ketika melihat mereka.
“Lama sekali.”
Sephia langsung tersenyum.
“Maaf, Tante.”
“Alan perlu di bujuk.”
Alan spontan menoleh.
“Lah?”
Sephia menahan tawa.
“Bercanda.”
Olive ikut tertawa kecil.
Sagara hanya menggeleng.
Alan memandang Sephia dengan tatapan kesal.
Namun kali ini...
Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.
Hanya sisa lelah yang perlahan mulai menghilang.