Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 35.
Hujan akhirnya berhenti menjelang dini hari. Langit masih diselimuti awan gelap ketika rapat di Mansion Romanov berakhir. Namun tidak seorang pun benar-benar meninggalkan pekerjaannya. Sejak Ramon membelot dan mengungkap keberadaan Black Throne, semua orang sadar bahwa perang telah memasuki babak baru.
Di ruang strategi, peta kota memenuhi layar besar. Titik-titik merah menandai wilayah kekuasaan Black Throne, sedangkan titik biru menunjukkan area yang dikuasai Romanov dan Sullivan.
Antonio berdiri di depan layar sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kita punya tujuh target."
Lorenzo menggeleng pelan.
"Bukan."
Antonio menoleh. "Maksudmu?"
"Kita hanya punya satu."
Ruangan kembali hening.
Lorenzo mengambil sebuah pena laser lalu mengarahkannya ke salah satu titik merah yang berada di kawasan pelabuhan timur.
"Gudang senjata ini."
"Kenapa bukan yang lain?" Antonio mengernyit.
"Karena ini bukan gudang."
Semua mata langsung tertuju kepada Lorenzo. "Ini pusat distribusi, satu gudang ini memasok empat wilayah sekaligus. Kalau tempat ini lumpuh, Joseph akan dipaksa memindahkan seluruh jalur logistiknya."
Velicia yang sejak tadi memperhatikan peta perlahan mengangguk. "Dan saat mereka memindahkan logistik, mereka pasti membuka jalur baru."
Lorenzo membalas tatapan wanita itu. "Itulah... yang kita tunggu."
"Kalian berdua benar-benar berpikir dengan cara yang sama." Leon tersenyum tipis.
Antonio menghela napas panjang. "Kalau begitu, kita serang malam ini."
"Tidak." Lorenzo kembali menolak. "Kita buat mereka menyerang lebih dulu."
Antonio mulai kehilangan kesabaran. "Lorenzo, sejak kapan kau jadi suka menunggu?"
Tatapan Lorenzo tetap tenang. "Sejak aku tahu lawanku bukan Joseph, melainkan seseorang yang lebih pintar darinya."
Ucapan itu membuat Antonio akhirnya terdiam.
Sementara itu...
Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di kawasan pelabuhan utara.
Joseph Bonanno sedang berdiri di hadapan belasan komandan Black Throne. Semua pria di ruangan itu mengenakan pakaian hitam dengan lambang ular bermahkota di dada kiri.
Joseph berjalan perlahan mengelilingi meja rapat. "Ramon sudah membelot."
Tak seorang pun tampak terkejut, seolah mereka sudah mengetahuinya.
"Apakah kita mengejarnya, Tuan?"
"Tidak." Joseph menggeleng.
"Kenapa?"
"Karena dia sedang melakukan pekerjaan untuk kita."
Beberapa komandan saling berpandangan, Joseph berhenti di depan peta kota. "Romanov sekarang memiliki lebih banyak informasi, mereka akan mulai percaya diri dan mereka akan menyerang."
"Lalu?"
Joseph tersenyum. "Itulah yang kita inginkan."
Seorang pria bertubuh besar mengangkat tangan. "Bagaimana dengan Lorenzo Sullivan?"
Tatapan Joseph berubah dingin. "Dia terlalu berbahaya."
"Kalau begitu saya akan membunuhnya."
Joseph tertawa kecil. "Kalau semudah itu, dia sudah mati sejak beberapa tahun lalu.“
Joseph menekan sebuah tombol di meja, monitor besar menyala. Di layar muncul foto Velicia, kemudian Lorenzo. Disusul Antonio. Terakhir... Michael Kensington.
"Mulai hari ini, empat orang ini adalah prioritas. Terutama..." Joseph menunjuk foto Velicia. "...wanita ini."
"Kenapa bukan Leon Romanov?" Salah satu komandan tampak bingung.
Joseph tersenyum tipis. "Karena hati sebuah keluarga, lebih mudah dihancurkan daripada kepalanya."
...*****...
Di sisi lain kota.
Michael Kensington masih berada di kantor organisasinya.
Sejak memutus kerja sama dengan Dante Moretti dan resmi bercerai dengan Velicia, organisasi Kensington kehilangan banyak pengaruh.
Beberapa wilayah bahkan mulai melepaskan diri.
Aaron masuk membawa sebuah map.
"Tuan.“
"Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu."
Michael membuka map tersebut, isinya foto-foto pergerakan Joseph Bonanno. Namun yang membuatnya membeku bukan foto Joseph, melainkan foto Ramon. Pria itu terlihat memasuki kawasan Romanov beberapa jam sebelumnya.
Michael mengernyit. "Ramon bekerja sama dengan Romanov?"
"Sepertinya begitu."
Aaron ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau itu benar... berarti Black Throne akan mulai bergerak lebih cepat."
Michael menutup map itu perlahan.
"Siapkan mobil."
Aaron tampak bingung. "Kita mau ke mana?"
"Ke Mansion Romanov."
Aaron langsung terdiam. "Tuan, mereka tidak akan menerima kedatangan kita."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Michael mengambil mantel hitamnya. "Aku tidak datang sebagai musuh, aku datang untuk memperingatkan mereka."
Sementara Velicia baru saja keluar dari ruang rapat ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak dikenal, Ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
Tak ada jawaban, hanya suara napas pelan. Beberapa detik kemudian terdengar suara pria yang diubah menggunakan alat elektronik.
"Nona Romanov..."
Velicia langsung menghentikan langkahnya. "Siapa?"
"Salam dari seseorang, yang akan segera menghancurkan keluargamu."
Klik.
Sambungan terputus.
Velicia langsung menghubungi Antonio. "Kak."
"Ada apa?"
"Perintahkan seluruh anggota keluarga keluar dari jadwal tetap."
"Maksudmu?"
"Kita baru saja menjadi target."
Belum sempat Antonio bertanya lagi, ledakan besar tiba-tiba mengguncang salah satu gudang Romanov di kawasan barat.
BOOOOM!!
Getaran ledakan bahkan terasa hingga ke dalam mansion. Alarm darurat langsung meraung, puluhan pengawal berlari keluar sambil mengokang senjata.
Antonio segera menarik pistol dari balik jasnya. "Laporan!"
Seorang anggota intelijen berlari masuk dengan napas memburu. "Tuan Antonio! Gudang logistik barat diserang!"
"Korban?"
"Belum diketahui!"
Velicia menatap Lorenzo, tatapan mereka bertemu. Tanpa perlu berbicara, keduanya langsung memahami hal yang sama. Perang yang sebenarnya, akhirnya benar-benar dimulai.