NovelToon NovelToon
Kembar Tiga Sang CEO Dingin

Kembar Tiga Sang CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:376.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julian_06

Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.

Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.

“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Kembar yang Menolak

Malam itu, Rafael baru saja mematikan lampu ketika gema notifikasi ponselnya memecah keheningan kamar. Dengan malas, dia meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur, berharap itu hanya pesan promosi yang bisa diabaikan. Namun, yang terpampang di layar membuat jantungnya berhenti sesaat.

"Ini dari polisi," gumamnya sambil membaca pesan itu sekali lagi untuk memastikan dia tidak salah lihat. "Ada kecelakaan... Leon dan Rick..."

"Ada apa, Sayang?" tanya Riana.

Rafael menoleh, wajahnya pucat.

"Leon terlibat kecelakaan bersama Rick, Kita harus ke rumah sakit sekarang."

Keduanya bergegas keluar dari tempat tidur, mengenakan pakaian paling cepat yang bisa mereka temukan dan berlari ke mobil. Selama perjalanan hanya terdengar desahan khawatir dari Riana."Bagaimana ini bisa terjadi, Rafael? Mereka berdua selalu hati-hati," kata Riana.

"Aku tidak tahu, Sayang. Aku benar-benar tidak tahu," jawab Rafael, fokus menyetir secepat mungkin menuju rumah sakit yang ditunjukkan GPS.

Sesampainya di rumah sakit, mereka disambut oleh seorang petugas yang langsung mengenali mereka.

"Pak Rafael, Bu Riana, silakan ikut saya."

Mereka melewati koridor yang terasa makin panjang setiap langkah, sampai akhirnya berhenti di ruang tunggu di mana seorang dokter sudah menunggu mereka.

"Bagaimana keadaan anak kami, Dokter?" tanya Rafael.

"Dia dalam kondisi stabil sekarang, tapi kami masih melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan tidak ada luka internal yang serius. Untuk Pak Rick, dia juga stabil hanya mengalami beberapa luka dan patah tulang. Kami melakukan yang terbaik."

lega.

Riana menutup matanya, menghela napas"Bolehkah kami menemuinya?"

"Tentu, tapi mungkin hanya sebentar. Dia masih lemah," kata dokter itu, memimpin mereka menuju kamar tempat Leon dirawat.

Mereka menghabiskan beberapa menit berikutnya di sisi tempat tidur Leon, memegang tangan yang terkulai lemas.

"Alya... Alya... Alya...." Gumam Leon.

Rafael dan Riana saling bertatapan karena putranya menyebut nama Alya.

"Maafkan, aku! Alya... Alya..."

sambung Leon.

"Leon sayang." Riana menangis sambil mengusap kepala putranya itu.

Sementara Rafael masih terdiam melihat kondisi putranya seperti ini dan Rafael berpikir apakah Leon dihantui rasa bersalah pada Alya karena perbuatan di masa lalu?

Ketika waktu mengunjungi habis, mereka berdua berjanji akan kembali besok meninggalkan ruangan dengan hati yang lebih tenang namun pikiran yang masih diliputi kekhawatiran.

Di perjalanan pulang, Rafael berusaha mencari tahu lebih banyak.

"Aku akan menghubungi pihak kepolisian lagi besok. Kita perlu tahu bagaimana ini bisa terjadi."

"Pasti ini gara-gara kesialan wanita pelayan itu, dia membawa petaka bagi Leon," ucap Riana.

Rafael hanya diam sambil fokus menyetir.

"Aku akan memberi pelajaran kepadanya," sambung Riana.

Keesokan harinya.

Ketika Rafael dan Riana memasuki kamar rumah sakit di mana Leon dirawat, mereka menemukan Leon sudah siuman dan tampak lebih baik, meskipun masih terlihat lelah.

Suasana di kamar itu terasa lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya."Pah, Mah? Kalian datang?" Leon menyapa dengan suara serak, tersenyum lemah.

Riana mendekat dan memegang tangan Leon, "Bagaimana perasaanmu, Nak?"

"Lebih baik, Mah. Semuanya terjadi begitu cepat. Mobil kita ditabrak dari belakang," jelas Leon.

Rafael yang telah duduk di sisi lain tempat tidur, mengangguk paham.

"Kami sudah bicara dengan polisi. Mereka sedang menyelidiki semua kemungkinan.

Sekarang yang terpenting adalah kamu cepat sembuh."

Riana yang wajahnya masih terlihat khawatir, tiba-tiba berkata, "Ini pasti ulah Alya. Dia selalu membawa kesialan!"

Leon menggeleng dengan pelan. "Ini hanya kecelakaan dan tidak ada kaitannya dengan Alya."

"Kamu terlalu baik, Leon. Kamu selalu mencari alasan untuknya."

Rafael mengangkat tangan, mencoba meredakan situasi. "Riana, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan siapa pun. Fokus kita adalah pemulihan Leon."

"Maaf, Nak. Mama hanya sangat khawatir."

Leon menatap wajah sang papa.

"Pah, kamu sudah melihat video-video cucumu? Mereka lucu bukan? Anak-anak lucu itu korban dari keegoisan kita, terutama keegoisanku.

Mereka cucumu dan mereka anak kandungku, biarkan aku berjuang untuk mendekati mereka sekalian dengan Alya," ucap Leon.

"Mungkin kamu bisa mendekati anak-anakmu, tapi Alya...."

"Alya kenapa? Dia hanya pelayan? Yang jelas dia ibu dari ketiga anak kembarku, aku sadar dulu terlalu menyia-nyiakannya."

"Leon, kamu tidak pantas bersanding dengannya. Kita ini orang berada sedangkan dia hanya wanita miskin," ucap Riana.

"Aku tidak minta restu dari kalian, kalian tidak bisa menghalangiku untuk rujuk kembali kepada Alya," jelas Leon serius.

Di sisi lain.

Alya berdiri di depan kosnya mengintip ke arah jalan dengan tatapan menunggu. Tiga anak kembarnya yang masih bermain di sampingnya tampak tidak menyadari kegelisahan mama mereka.

Jam menunjukkan sudah lebih dari setengah jam dari waktu yang dijanjikan, tapi Leon yang telah berjanji akan mengantar mereka ke FairyCare hari itu belum juga muncul. Alya mulai gelisah. Dia menghela nafas panjang mengusap keningnya yang mulai berkeringat.

"Tidak mungkin Leon serius dengan ucapannya itu," gumamnya pada diri sendiri.

Dia melirik anak-anaknya yang kini asyik dengan permainan mereka, semakin menyadari bahwa dia harus segera menemukan solusi lain. Alya kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nomor Fairy Care untuk memberi tahu bahwa mereka akan terlambat.

"Mama harus mengantar kalian sendiri hari ini," katanya pada ketiga anaknya mencoba menyembunyikan rasa kecewa.

Anak-anaknya masih terlalu muda untuk memahami sepenuhnya situasi tersebut hanya mengangguk dan terus bermain.

Saat bersamaan Agra muncul dengan mobilnya tepat saat Alya tampak paling membutuhkan. Dia menurunkan jendela dan menyapa dengan senyum ramah.

"Hai, Alya. Kelihatannya kamu sedang kesulitan. Butuh tumpangan?"

Alya yang awalnya ragu memandang Agra dengan sedikit kecurigaan. Namun, melihat jam di tangannya dan menyadari keterlambatan yang sudah semakin parah, dia mengangguk.

"Ya, terima kasih, Pak Agra. Kami butuh tumpangan untuk ke FairyCare."

Mereka memasukkan anak-anak ke dalam mobil dan segera meluncur menuju FairyCare. Di dalam mobil, suasana cukup hening sampai Alya membuka percakapan tentang Leon yang tidak muncul.

"Leon seharusnya yang mengantar mereka hari ini, tapi dia tidak kunjung datang aku bahkan tidak yakin lagi apa dia serius dengan ucapannya," ujar Alya.

"Pria seperti Leon tidak bisa dipercaya.

Mungkin sudah waktunya kamu berhenti berharap dia akan berubah," katanya.

"Aku memang tidak terlalu berharap kepadanya," jawab Alya.

"Seharusnya begitu," jawab Agra sambil tersenyum.

Setibanya di Fairy Care.

Agra memarkir mobil di depan Fairy Care.

"Kamu adalah ibu yang luar biasa.

Terkadang mungkin lebih baik jika kamu fokus pada apa yang terbaik untukmu dan anak-anak daripada terus menunggu Leon yang mungkin tidak pernah berubah atau kamu bisa mencari pria lain untuk menjadi papa mereka, contohnya aku," ucap Agra dengan senyuman manisnya.

Alya terdiam agak bingung.

"Aku siap menjadi papa mereka apalagi aku sangat menyukai anak-anak yang lucu seperti mereka," ucap Agra setelah mereka bersama-sama turun dari mobil.

"Wuiiihh.... air mancur," ucap Farid melihat Fared pipis di ban mobil mewah milik Agra.

Alya terkejut sementara Agra langsung diam. Alya lantas menarik Fared dan meminta maaf atas ketidaksopanannya.

"Maafkan anakku!" ucap Alya.

Agra tersenyum. "Tak apa, dia hanya anak-anak saja."

"Fared, minta maaf pada Om Agra!" ucap Alya.

"Nggak mau!"

"Fared!" ucap Alya dengan mata mendelik.

"Yaudah deh, aku minta maaf Om Agra," ucap Fared dengan terpaksa.

Di dalam hati Agra terlihat kesal apalagi melihat sikap anak-anak itu menjengkelkan seperti Leon bahkan sama persis.

"Hahaha... tak apa, sayang. Ini hanya mobil saja," ucap Agra agak mendongkol.

Setelah itu mereka bertiga masuk ke FairyCare karena sudah di jemput oleh Bu Yanti, mereka melambaikan tangan dan sekarang Agra bisa berduaan dengan Alya dengan tenang setelah anak-anak berisik itu tidak bisa diam selama perjalanan di dalam mobilnya.

Mereka menuju ke tempat kerja bersama-sama, Agra memang menyukai Alya tapi belum bisa sepenuhnya menerima anak-anak kembar nakal itu.

"Leon menyuruhku untuk berhenti bekerja," ucap Alya.

"Tak usah pedulikan dia, kamu sangat butuh pekerjaan ini demi menghidupi anak-anakmu. Oh iya, niatku ingin memindahkanmu ke kantorku," jelas Agra.

"Apa maksud Pak Agra?" tanya Alya bingung.

"Kamu belum dengar jika Leon dilengserkan dari perusahaannya dan yang menggantikan adalah aku? Sebentar lagi aku akan menjadi direktur utama dan aku akan memberimu pekerjaan lebih baik di kantor itu, tentu saja dengan gaji yang tinggi," jawab Agra.

"Jadi Pak Agra sudah tidak mengurus hotel itu lagi?"

"Masih, tapi aku akan menyuruh orang lain untuk mengurusnya sedangkan aku akan bekerja penuh di perusahaan baruku," jelas Agra.

Alya terdiam sambil memandang ke arah kaca mobil, dia memang sudah tahu sejak dulu jika Leon tidak akur dengan sepupunya.

"Bagaimana dengan si kembar setelah menerima barang-barang pemberianku?" tanya Agra.

"Ah itu... Pak Agra terlalu berlebihan memberikan anak-anak barang itu. Aku akan mengembalikannya," ucap Alya.

"Tak usah, aku akan marah jika kamu mengembalikannya. Benda-benda itu sangat berguna bagi kegeniusan mereka, kamu belum menyadari jika mereka terutama Farad adalah anak-anak berbakat di bidangnya."

Alya hanya tersenyum saja, tiba-tiba wajah Agra mendekat dan jarak mereka hanya beberapa senti. Alya mundur perlahan, ia merasa Agra semakin hari semakin menunjukkan ketertarikannya.

"Kamu mau jadi pacarku?" tanya Agra.

***

Dengan kursi roda didorong oleh Riana, Leon memasuki ruangan di mana Rick dirawat. Suasana di ruangan itu hening hanya suara alat-alat medis yang berbunyi lembut. Rick terbaring tak sadarkan diri, tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu membuat Leon menelan ludah merasakan hatinya berat.

"Kamu kuat, Leon. Rick juga kuat. Dia akan melewati ini," ucapnya.

Leon menggenggam tangan Rick yang dingin merasakan kenangan masa lalu mereka bersama mengalir dalam benaknya.

"Kamu harus bangun, Rick. Aku masih butuh kamu, kamu bukan asistenku melainkan temanku," bisik Leon.

"Baiklah, kita harus kembali ke ruanganmu sendiri," ucap Riana.

Ketika Leon kembali ke ruang rawat inapnya, dia menemukan televisi sudah menyala. Suara reporter mengisi ruangan mengumumkan berita terkini dari dunia bisnis.

"Hari ini, Sagara Alfath alias Agra resmi dilantik sebagai direktur baru..."

Leon mendengar nama sepupunya, menghentikan kursi rodanya dan mendongak ke layar. Wajahnya berubah ketika dia menyaksikan Agra berpakaian jas yang rapi, tersenyum di podium, menerima tepuk tangan dari hadirin.

Leon memalingkan wajah dari televisi, hatinya dipenuhi rasa kecewa yang mendalam.

"Papa akan menyesal karena memilih Agra untuk posisi itu," ucap Leon.

"Mama juga tidak tahu apa yang dipikirkan Papamu kenapa dia malah memberikan jabatan itu pada Agra," jawab Riana.

Saat layar menampilkan wawancara Agra yang tengah menjawab pertanyaan reporter dengan senyum lebar, Leon masih memperhatikan dengan perasaan kesal.

"Apakah ada seseorang khusus yang menjadi inspirasi Anda dalam karir ini?"

Agra tanpa ragu menyebut nama.

"Ya, saya sangat beruntung memiliki

pendamping yang luar biasa, Alya Renatha," ujar Agra, matanya berbinar. "Dia benar-benar penyemangat dan inspirasi saya."

Mendengar nama Alya disebut, Leon terpaku.

"Alya? Mantan istriku, Alya?" desisnya hampir tidak terdengar.

Riana yang duduk di sampingnya, terkejut melihat reaksi anaknya.

"Leon, kamu tidak tahu tentang ini?" tanyanya.

Leon menggeleng, matanya masih tertuju pada layar. "Tidak, Mah. Ini pertama kali aku mendengarnya. Alya dan Agra?

Sejak kapan?"

Riana hanya bisa mengerutkan kening, sama terkejutnya. Di televisi, Agra terus berbicara tentang bagaimana Alya telah mendukungnya selama masa-masa sulit dan bagaimana pentingnya memiliki pasangan yang mengerti dan mendukung dalam karier.

Leon merasa seperti ada ribuan pikiran bercampur aduk di kepalanya. Alya yang selama ini dia anggap masih bagian dari masa lalunya yang mungkin bisa kembali ternyata sudah melanjutkan hidup dengan sepupunya yaitu Agra.

Setelah wawancara selesai, Leon meminta Riana untuk mematikan televisi.

Ruangan menjadi sunyi, dan dalam keheningan itu, Leon mencoba mencerna informasi yang baru saja dia terima.

"Aku harus bicara dengan Alya, aku perlu klarifikasi dari dia. Hah.... aku lupa jika belum meminta nomornya," ucap Leon.

"Sudahlah Leon! Untuk apa kamu masih meributkan ini? Wanita banyak di luaran sana, kalian sepupu merebutkan wanita yang sama apalagi seorang pelayan sangat memalukan," jawab Riana.

"Jika Alya mau melanjutkan hidupnya lagi aku merestuinya tapi jangan dengan Agra!" tegas Leon.

Di sisi lain.

Di tempat kerjanya, Alya mengepel dengan pikiran yang jauh melayang. Dia menghela nafas panjang.

Dalam hati kecilnya, dia masih mempertanyakan apakah menerima Agra adalah keputusan yang benar atau hanya solusi sementara karena ia hanya ingin Leon menjauh darinya dan anak-anaknya.

"Apakah ini yang terbaik untukku?

Semoga saja Leon tidak mendekatiku lagi apalagi aku sudah berpacaran dengan sepupunya yang selama ini menjadi saingan beratnya," batin Alya sambil memeras air dari pel dan melanjutkan tugasnya.

***

Di dalam kamarnya Miki duduk sambil mengacak-acak majalah di tangannya dengan ekspresi penuh kemarahan. Tiap kali melihat wajah Alya muncul dalam pikirannya, amarahnya semakin membara. Baginya, tidak masuk akal bahwa Alya, seorang pelayan,bisa menjadi pusat perhatian dari dua pria kaya dan berpengaruh seperti Leon dan Alya.

"Bagaimana mungkin? Itu seharusnya posisiku," geram Miki membuang majalah itu ke lantai.

Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kehidupan Alya tampaknya menjadi lebih baik.

Miki bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan mondar-mandir di kamarnya, merencanakan langkah selanjutnya.

"Jika dia bisa mendapat perhatian mereka dengan mudahnya, aku pastikan dia juga bisa kehilangan semuanya dengan cepat," gumam Miki suaranya dingin.

Saat merenungkan lebih lanjut, Miki keringat akan insiden kecelakaan yang baru-baru ini dialami Leon. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya saat dia mengingat bagaimana dia ikut terlibat dalam kecelakaan Leon kemarin.

Miki mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan kepada salah satu kontaknya yang bisa dia percaya untuk melakukan tugas-tugas kotor.

"Aku butuh kamu untuk menemukan informasi lebih banyak tentang Alya Renatha, Segalanya!!! Aku ingin tahu kelemahannya, rahasia gelapnya, apa saja yang bisa digunakan untuk menghancurkannya."

Setelah itu Miki dengan wajah psikonya tersenyum tipis.

"Hahaha... bagaimana Leon? Apa kamu bisa melawan cewek psiko ini? Ini masih permulaan saja dan aku pastikan mantan istrimu itu tinggal nama saja di dunia ini," gumam Miki.

***

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan saat Agra dan Alya tiba di Fairy Care untuk menjemput ketiga anak kembar. Alya yang hatinya dipenuhi perasaan tidak enak karena keputusannya menerima Agra sebagai kekasih mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

Saat mereka memasuki area FairyCare ,Farad, Fared dan Farid berlari keluar dari ruangan dengan riang. Ketiganya memeluk Alya dengan erat.

"Mama" seru Farid sambil menempel erat di kaki Alya.

Alya memeluk mereka satu per satu, hatinya terasa lebih ringan seketika.

"Bagaimana hari ini, anak-anak?" tanyanya dengan lembut.

"Seruuu!!" sahut mereka.

"Hei, Farad, Fared dan Farid," sapa Agra.

"Hai Om Agra." Hanya Farad yang mau menyapanya.

"Yuk pulang! Kita mampir ke restoran dulu untuk makan malam. Mau?"

"Mau!" sahut Farad paling bersemangat.

"Mama, Papa Leon kok nggak datang?" tanya Farid.

"Iya, Mah. Papa Leon seharian ini nggak terlihat," sahut Fared.

Agra terdiam dengan wajah tidak sukanya dari pertanyaan itu."Eh, mungkin dia sibuk. Di sini ada Om Agra yang jauh lebih baik dari Papa Leon." jelas Alya.

"Nggak mau! Aku maunya Papa Leon, walau dia menyebalkan tapi dia baik dan lucu," jawab Fared.

"Aku nggak mau pulang jika Papa Leon belum kesini," ancam Farid.

Agra melembutkan wajahnya dan

berjongkok di depan mereka.

"Dia bukan Papa yang baik dan dia sangat jahat. Mulai sekarang dengan Om saja, ya? Om bisa jadi Papa kalian," ucap Agra.

"Hemmm..."

Mereka lalu menuju ke restoran bersama-sama.

Sore berubah menjadi malam saat mereka tiba di restoran. Alya, Agra, dan ketiga anak kembar memasuki tempat yang cukup ramai, harapan untuk makan malam yang tenang mulai terkikis seiring dengan tingkah laku Farad, Fared dan Farid yang tampak lebih hiperaktif dari biasanya.

Anak-anak berlarian ke sana kemari, tertawa dan berteriak dengan kegembiraan yang tampaknya tidak terkendali. Fared dan Farid khususnya tampaknya sengaja membuat keonaran, mungkin sebagai bentuk protes kecil mereka terhadap kehadiran Agra.

"Anak-anak, ayo tenang sedikit," coba Alya mengatur mereka.

"Tak masalah, namanya pun anak-anak," jawab Agra masih santai.

Agra mencoba membantu mengarahkan anak-anak kembali ke meja dengan berbagai siasat dan lelucon, namun hanya Farad yang tampak merespon dengan baik. Fared dan Farid terus menguji kesabaran dengan berlari-lari kecil dan bersembunyi di bawah meja.

"Tidak biasanya mereka seperti ini,"

Alya berbisik kepada Agra, rasa malu bercampur heran. "Mereka biasanya lebih tenang."

"Mungkin ini cara mereka untuk mengujiku," jawab Agra dengan suara rendah, mencoba tetap positif meski jelas terlihat sedikit kerepotan.

Saat pelayan datang membawakan makanan, tiba-tiba Fared dan Farid menyenggolnya sampai tumpah di jas Agra yang masih baru dan mahal. Alya terkejut dan lekas mengelap tumpahan itu, ia juga terus meminta maaf.

Sementara mata Agra menatap tajam kedua kembar nakal itu, Fared dan Farid pun juga menatap tajam Agra, mereka tahu jika Agra tak sepenuhnya baik.

"Papa kami itu Papa Leon" protes mereka.

1
C2nunik987
udah cukup 5 aja Leon ....tetap waspada ma Agra ....selamat iahhh punya 2 puteri kembar bakal jd kesayangan papa Leon kalian berdua twins sister 😍🍼🍼😍
C2nunik987
Agra bunuh sja atau jebloskan lagi ke penjara ....cap tangan darah siapa itu ?
C2nunik987
apa ada musuh Leon diantara para badut itu ?
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡
C2nunik987
F3 duplikat Leon hdp opa dan Leon jd happy tapi gemes ma keusilan mrk 😅😅😅
C2nunik987
Riana read 😂😂😂
C2nunik987
udahlah opa jadikan Dela adiknya Leon saja trs cari istri yg lbh segalanya dr Risna 😍😍
C2nunik987
😅😅😅😅 Leon udh kalang kabut anaknya kejang kejang ternyata drama 🙈🙈🙈
C2nunik987
pelajaran buat Dela bawa ke gereja nikahi dia opa 😂😂😂
C2nunik987
Dela sbnrnya km begitu beneran miskin atau minus akhlak sich .... beneran butuh duit dr Riana utk bertahan hidup?
C2nunik987
jadi Dela ulat bulu yg dikirim Rania 😡😡😡
C2nunik987
Alya jgn curiga percaya ma suami biar rmh tangga mu baik baik saja 😍😍Leon udh waras loh jgn bikin dia balik lagi jg tukang selingkuh 😡😡
C2nunik987
hallah ada ada aja opa ma Della 😅😅😅
C2nunik987
thorrr ksh Leon anak perempuan kembar 2 aja ...itu Riana dan Rafael ga salahhh hdp rmh tangga tapi msg msg ?🙈🙈🙈😡😡😡
C2nunik987
awas jatuh triplets ini juga luar biasa bandel nya iahhh😅😅😅
C2nunik987
😅😅😅😅anak anak Leon konyol ....Leon ksh kesempatan Farad buktikan kecerdasan nya itu duplikat mu genius 😍😍
C2nunik987
Farid duduk dkt cewek mlh ngompol 😂😂😂😂
C2nunik987
mabuk durian 😅😅😅😅
C2nunik987
ia Alya kudu bljr bela diri ....sembuhin trauma nya....percaya pada suami ...jujur sama suami cerita klo ada masalah ....mumpung jd istri Leon kudu pinter nyimpen aset berharga
C2nunik987
Leon temperamental Alya polos dan tak berdaya mudah dihasut anak anak nya kepo tingkat dewa 😂😂😂😂
C2nunik987
Jordan sengaja memanfaatkan keadaan dan perasaan alya 🙈🙈🙈😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!