Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 Tikus di Dalam Sarang
Pagi yang tenang kembali menyelimuti Desa Sekar. Suara deburan ombak terdengar samar-samar dari kejauhan. Anak-anak kecil tampak berlarian riang menuju bangunan sekolah darurat, sementara para nelayan mulai sibuk bersiap untuk melaut. Dan seperti biasa, Kael sudah berdiri tegap di depan kelas sederhana yang ia bangun bersama warga desa.
"Baik, sekarang siapa yang bisa menjawab pertanyaan di papan tulis?" tanya Kael dengan nada suara yang bariton namun ramah.
"Saya, Pak Guru!" seru seorang anak laki-laki di baris depan sambil mengacungkan jarinya tinggi-tinggi.
"Saya juga bisa, Pak Guru!" timpal murid perempuan di sebelahnya tidak mau kalah.
Kael tersenyum tipis, lalu menunjuk salah satu murid yang duduk di pojok. "Coba kamu, Budi. Berapa jawabannya?"
Di sudut ruangan kelas yang bersahaja itu, Hana memperhatikan interaksi tersebut sambil menyandarkan bahunya di kosen pintu. Seulas senyum kecil menghiasi wajah cantiknya. Sangat sulit membayangkan bahwa pria tegap yang dulu pertama kali ia temukan terdampar sekarat di tepi pantai, kini telah bertransformasi total menjadi bagian dari urat nadi desa ini. Bahkan, anak-anak kecil di sini sangat menyukai kepribadiannya yang tegas namun penyabar.
Di sisi lain desa, suasana yang berbeda justru terlihat di halaman belakang.
Teri sedang mengerahkan tenaganya untuk membantu Pak Deden memperbaiki pagar pembatas bambu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
"Tarik yang kuat talinya, Teri!" teriak Pak Deden dari balik pagar sembari menahan pasak kayu.
"Baik, Pak!" sahut Teri sigap.
Ia langsung menarik tali ijuk tersebut dengan sekuat tenaga. Namun, ia lupa mengontrol kekuatan fisiknya yang setara dengan agen elit terlatih.
Krakkk! Dhuaarr!
Tiang bambu utuh itu seketika tercabut kasar dari dalam tanah dan patah menjadi dua bagian. Pak Deden langsung membelalakkan matanya sempurna, mulutnya menganga menatap potongan bambu di tangan Teri.
"..." Teri terdiam seribu bahasa, menatap pasrah ke arah bambu yang hancur.
"..." Pak Deden pun hanya bisa melongo kaku.
Pria tua itu akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menepuk pelan pundak Teri. "Lain kali, tolong pelan-pelan saja ya, anak muda. Tenagamu ini seperti kerbau jantan."
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ujar Teri sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya tampak sangat bersalah. Melihat ekspresi canggung dan kikuk dari pemuda kota itu, Pak Deden justru malah tertawa terpingkal-pingkal.
Sementara suasana damai nan jenaka itu berlangsung di Desa Sekar... ribuan kilometer jauhnya di belahan bumi yang lain, situasi yang terjadi justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.
Di dalam markas pusat organisasi Shadow Crown, suasana ruangan terasa sangat tegang, mencekam, dan dipenuhi oleh kabut saling dicurigai satu sama lain. Sebuah rapat darurat tingkat tinggi sedang berlangsung di dalam ruang kedap suara. Belasan petinggi senior organisasi duduk mengelilingi meja marmer panjang dengan wajah-wajah yang mengeras.
"Sudah cukup semua sandiwara ini!" seru salah seorang pria tua berambut putih sembari memukul meja marmer dengan keras hingga menimbulkan dentuman nyaring.
"Lalu, berapa lama lagi kita harus menunggu tanpa kepastian yang jelas?" sahut petinggi di sebelahnya, ikut memprovokasi suasana.
"Kita bahkan tidak tahu pasti apakah Kael saat ini masih hidup atau sebenarnya sudah membusuk di dasar laut!" cetus pria tua itu lagi dengan napas memburu.
Beberapa orang yang duduk di sisi kiri meja langsung mengangguk-angguk setuju.
"Benar, apa yang dikatakannya masuk akal," bisik salah satu dari mereka.
"Sudah berbulan-bulan lamanya sejak insiden kapal itu," timpal yang lain dengan nada khawatir.
"Tidak ada kabar resmi, bahkan tidak ada satu pun bukti fisik yang ditunjukkan kepada kami," potong seorang pria paruh baya di ujung meja. "Bagaimana jika sang Ketua memang sudah mati? Kita tidak bisa membiarkan organisasi ini berjalan tanpa arah!"
Kalimat telak itu seketika membuat seluruh isi ruangan menjadi sunyi senyap. Semua mata kini perlahan-lahan beralih tertuju pada sosok yang duduk tenang di ujung meja paling utama.
Enzo tetap diam di posisinya. Kedua tangannya terlipat dengan santai di depan dada, sementara tatapan matanya terasa sangat dingin dan menusuk, persis seperti biasanya.
"Apa Anda punya bukti nyata?" tanya Enzo dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup mengintimidasi siapa saja yang mendengarnya.
Mendengar pertanyaan dingin itu, semua orang di dalam ruangan langsung menoleh dan menahan napas mereka. Pria tua yang tadi memukul meja mendadak mengernyitkan dahinya, merasa tersinggung. "Bukti apa yang kau maksud, Enzo?"
"Bukti autentik bahwa Ketua kita sudah mati," jawab Enzo tegas, kini menatap lurus tepat ke dalam manik mata pria tua tersebut.
Pria tua itu seketika terbungkam, lidahnya mendadak kelu dan ia kembali duduk perlahan di kursinya. Enzo melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang lambat namun penuh penekanan. "Jika tidak ada bukti fisik di tangan Anda, maka jangan pernah berani membuat kesimpulan murahan di dalam ruangan ini."
Seorang petinggi senior lainnya yang bertubuh tambun tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan wajah kemerahan. "Tapi kabar buruk itu sudah menyebar luas ke seluruh dunia bawah, Enzo! Kita tidak bisa menutup mata!"
"Kami terus menerima laporan keresahan dari berbagai wilayah kekuasaan kita setiap harinya," tambah pria tambun itu lagi dengan nada mendesak.
"Banyak anggota di level bawah yang sudah telanjur percaya bahwa Ketua telah gugur dalam tugas," ujar petinggi lain ikut menimpali.
Enzo menatap mereka semua bergantian tanpa ekspresi sedikit pun di wajah kakunya. Namun, di dalam kepalanya, otak Enzo bekerja dengan sangat cepat. Dan itulah akar masalah yang sebenarnya. Seseorang dari dalam lingkaran ini sengaja meniupkan dan menyebarkan rumor busuk tersebut.
Seseorang yang memiliki ambisi besar untuk menghancurkan kejayaan Shadow Crown langsung dari dalam fondasinya.
Setelah rapat darurat yang melelahkan itu akhirnya berakhir dengan kebuntuan.
Enzo melangkah kembali ke dalam ruang kerja pribadinya. Pintu baja tebal baru saja tertutup rapat ketika salah satu anggota intelijen elitnya masuk melalui pintu rahasia di balik lemari buku.
"Tuan Enzo," sapa anggota elit itu sembari membungkuk hormat.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Enzo pendek tanpa membalikkan badan, tangannya sibuk menuangkan segelas air putih.
"Kami berhasil menemukan satu tikus lagi, Tuan," lapor anggota intelijen itu dengan suara berbisik yang terukur.
Sepasang mata Enzo mendadak menyipit tajam, tangannya berhenti bergerak. "Satu lagi?"
"Benar, Tuan. Orang yang bertanggung jawab menyebarkan isu kematian Ketua di distrik barat," jawab anak buahnya sigap.
Atmosfer di dalam ruangan mewah itu mendadak berubah menjadi jauh lebih dingin dan menekan dalam sekejap. "Di mana posisinya sekarang?" tanya Enzo dengan nada suara yang bergetar rendah.
"Sudah kami amankan di ruang isolasi bawah tanah, Tuan," jawab si anak buah patuh.
Enzo langsung berdiri tegak dan merapikan kancing jas hitamnya. "Antarkan aku ke sana sekarang juga."
Sementara itu, di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap, pengap, dan hanya diterangi oleh sebola lampu minyak yang temaram.
Seorang pria paruh baya tampak duduk terikat dengan rantai besi tebal di sebuah kursi kayu. Tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka memar kebiruan, dan keringat dingin tampak mengalir deras membasahi seluruh wajahnya yang pucat pasi.
Cklek...
Ketika pintu besi ruangan itu terbuka perlahan dari luar, wajah pria yang terikat itu seketika berubah menjadi seputih kertas. Rasa takut yang amat sangat terpancar jelas dari sepasang matanya.
Enzo melangkah masuk ke dalam ruangan dengan sangat perlahan. Langkah kakinya terdengar begitu konstan dan tenang di atas lantai beton. Namun, justru ketenangan yang dingin itulah yang membuat banyak orang di dunia bawah merasa jauh lebih takut kepadanya dibandingkan melihat iblis sekalipun.
Enzo menarik sebuah kursi besi yang kosong, lalu duduk dengan santai tepat di hadapan pria yang gemetar ketakutan itu. "Siapa orang yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Enzo langsung pada intinya, menatap datar ke arah targetnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan panik, rantai di tubuhnya berdenting nyaring. "A-aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Tuan Enzo! Tolong lepaskan aku!"
"Kau berbohong," sahut Enzo dengan nada suara yang sangat datar, hampir tanpa emosi.
"Aku serius dan bersumpah demi nyawaku, Tuan!" jerit pria itu dengan suara yang serak dan bergetar hebat. "Kami hanya diperintah melalui telepon misterius untuk menyebarkan kabar kebohongan bahwa Ketua Kael sudah mati!"
"Siapa nama orang yang memberi perintah itu di telepon?" kejar Enzo lagi, tatapannya mengunci pergerakan korbannya.
"Aku tidak tahu! Nomornya selalu disamarkan dan berganti-ganti setiap kali menghubungi kami!" tangis pria itu pecah, memohon belas kasihan.
Enzo mengembuskan napas panjang secara perlahan, lalu bersandar pada sandaran kursinya. "Jawaban yang sangat membosankan dan membuang-buang waktuku saja."
Mendengar kalimat pendek itu, pria yang terikat langsung pucat pasi dan menelan ludahnya dengan susah payah. Karena seluruh anggota Shadow Crown tanpa terkecuali tahu betul akan satu fakta krusial saat seorang Enzo mulai kehilangan kesabarannya yang tipis, maka itulah tanda bahwa malaikat maut sudah berdiri tepat di belakang punggung mereka.
Bersambung...