NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Penyatuan Setelah Dua Tahun

Pintu kayu jati kamar utama ditutup dengan dentuman keras yang menggema, seketika memutus suara rintik hujan di luar. Cengkeraman tangan Damian di pergelangan tangan Valerian baru terlepas setelah mereka berdiri di tengah remang-remang ruangan yang luas itu. Aura Damian begitu pekat oleh amarah, ego yang terluka, dan riak cemburu yang sejak siang tadi membakar seluruh akal sehatnya.

Valerian melangkah mundur dua langkah, memeluk tubuhnya sendiri dengan jemari yang gemetar. Ia menatap suaminya dengan tatapan pias. Di depan cermin besar, Damian perlahan menanggalkan jas hitamnya, melemparnya kasar ke atas sofa, lalu melonggarkan dasinya dengan gerakan yang teramat kaku dan dingin.

"Jadi..." Damian berbalik, menatap lurus ke dalam sepasang mata Valerian yang mulai digenangi air mata. Pria itu berjalan mendekat, memotong jarak di antara mereka dengan langkah yang mengintimidasi. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, Valerian?"

Valerian tercekat. "Maksudmu apa, Damian?"

"Jangan berlagak bodoh!" bentak Damian, suaranya bariton dan bergetar hebat. "Kau gelisah saat mendengar rencana pertunangan Aksa. Kau mendadak berada di lorong dapur bersamanya. Dan siang tadi, adikku yang berengsek itu sengaja memancingku keluar dari ruangan kerja demi bisa berada di dekatmu, bukan?! Katakan padaku, Valerian... apakah kau merasa kesepian di rumah ini? Apakah kau menginginkan seorang pria?"

Damian mencengkeram dagu Valerian, memaksa wanita itu mendongak menatap sepasang netra elangnya yang menyala berbahaya. "Jika kau memang menginginkan kehangatan, jika kau menginginkan seorang pria yang menyentuhmu, maka aku akan memberikannya malam ini. Aku adalah suamimu yang sah. Tunjukkan padaku... tunjukkan kalau kau menginginkanku, Valerian!"

Valerian membeku, seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir. Perintah Damian terdengar begitu menuntut dan merendahkan. Logika dan hatinya yang telah terpikat oleh kelembutan serta gairah posesif Aksa berteriak menolak. Ia ragu, jemarinya meremas ujung pakaiannya dengan sangat kuat, bingung harus berbuat apa di bawah kungkungan suaminya.

Melihat keraguan di mata istrinya, seringai dingin yang penuh ancaman terukir di wajah tampan Damian. "Kenapa? Kau tidak bisa? Dengar, Valerian... jika malam ini kau menolakku dan tidak bisa membuktikan kesetiaanmu sebagai istri, besok pagi aku sendiri yang akan mendatangi orang tuamu. Aku akan mencabut seluruh suntikan dana investasi pada perusahaan ayahmu dan melaporkan kelakuan anehmu di rumah ini."

Kata-kata Damian bagai belati yang menusuk langsung ke titik terlemah Valerian. Ia adalah satu-satunya harapan orang tuanya agar bisnis keluarga mereka bisa kembali jaya dan selamat dari kebangkrutan. Ia tidak mau kedua orang tuanya yang sudah sepuh kepikiran hingga jatuh sakit jika sampai kerja sama bisnis ini hancur berantakan.

Rasa takut akan kehancuran keluarganya perlahan mengubur seluruh keraguan di dalam diri Valerian. Dengan napas yang memburu tajam, ia mengambil keputusan nekat. Jika ia harus menyerahkan tubuhnya malam ini demi melindungi orang tuanya, maka ia akan melakukannya—namun dengan caranya sendiri.

Valerian mendongak, tatapan matanya yang semula pias mendadak berubah menjadi begitu sayu dan menggoda. Ujung bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman sensual yang belum pernah Damian lihat selama dua tahun pernikahan mereka.

Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Valerian melangkah maju, merapatkan tubuh rampingnya ke dada bidang Damian. Jemarinya yang lentik bergerak berani, mengusap perlahan rahang tegas Damian, lalu turun membuka satu per satu kancing kemeja suaminya dengan keahlian yang memikat. Valerian mengeluarkan semua gairahnya, sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi di balik jubah tidur satin yang sengaja ia biarkan melonggar di bahunya.

Damian tersentak, seluruh otot tubuhnya menegang ketika merasakan kehangatan kulit Valerian yang bergesekan langsung dengan tubuhnya. Namun, Damian mencoba menahan diri. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menolak untuk kalah terlalu cepat oleh godaan istrinya. Ia ingin melihat sejauh mana Valerian bisa melangkah, ia ingin melihat sisi yang lebih agresif dan gragas dari wanita yang biasanya selalu pasif dan ketakutan di depannya.

"Hanya sebatas ini kemampuanmu menggoda suamimu, Valerian?" bisik Damian parau, mencoba meremehkan meski napasnya sendiri mulai memburu panas. "Tunjukkan padaku sisi gragas-mu yang sebenarnya jika kau memang menginginkanku."

Tantangan dari Damian justru memicu adrenalin di dalam diri Valerian. Dengan tatapan mata yang menggelap oleh gairah semu, Valerian menarik kerah kemeja Damian dengan kasar, memaksanya menunduk, lalu langsung membungkam bibir Damian dengan ciuman yang teramat liar, menuntut, dan penuh keliaran yang agresif. Ia meraba punggung tegap Damian, mencakar perlahan kulit suaminya, menunjukkan sisi gragas yang belum pernah terbayangkan oleh Damian sebelumnya.

Damian kehilangan seluruh pertahanannya seutuhnya. Gairah purba di dalam dirinya meledak sepenuhnya menghadapi keliaran Valerian malam itu. Dengan satu sentuhan kuat, Damian mengangkat tubuh Valerian, mengempaskannya ke atas ranjang besar mereka, dan langsung mengukungnya di bawah tubuh jangkungnya.

Suara desahan yang teramat intim dan penuh kepasrahan pun pecah, memecah kesunyian malam di dalam kamar utama.

Sementara itu, di balik dinding pembatas kamar sebelah yang hanya berjarak beberapa meter, suasana terasa begitu dingin dan menyiksa.

Aksa berdiri mematung di dekat dinding pembatas kamarnya yang terhubung langsung dengan posisi ranjang utama kamar Damian. Sejak suara pintu kamar sebelah dibanting tadi, Aksa tidak bisa tenang. Sisi posesif dan protektifnya meronta, membuatnya terus berdiri di sana, menempelkan telinganya pada dinding kayu dengan kepalan tangan yang kian mengeras rapat.

Namun, apa yang ia dengar malam ini adalah sebuah siksaan batin yang paling kejam sepanjang hidupnya.

Malam yang diguyur gerimis itu kian larut, namun suhu di dalam kamar utama justru semakin membakar. Segala dinding kecurigaan dan amarah yang semula menguasai Damian kini telah meleleh, berganti menjadi luapan gairah murni yang tak lagi bisa ia bendung. Ancaman tentang perusahaan orang tuanya seketika menguap dari benak Valerian, tergantikan oleh naluri bertahan dan kepasrahan total untuk menuntaskan malam ini demi kebaikan semua pihak.

Di atas ranjang besar mereka, malam itu benar-benar menjadi milik mereka berdua. Valerian, dengan seluruh sisa keberanian dan kepasrahannya, benar-benar menyerahkan hidup dan raganya pada malam ini. Ia bergerak menyingkirkan sisa jubah tidurnya, memberikan keindahan buah dadanya pada suaminya itu—pria yang secara sah di mata hukum dan agama memang seharusnya menikmati keindahan tersebut sejak dua tahun lalu.

Damian menatap pemandangan indah di bawahnya dengan sepasang netra elang yang menggelap penuh dahaga. Tanpa ragu sedikit pun, lengan kekar Damian meraih tubuh Valerian, mendekapnya erat, lalu menundukkan kepalanya untuk menghisap puncak kembar milik istrinya dengan penuh kelaparan. Setiap suara hisapan yang basah dan dalam itu menggema di keheningan kamar, menciptakan sensasi kejut yang membuat Valerian semakin bergairah dan melenguh tinggi.

Pelan-pelan Damian... lembutlah..." bisik Valerian lirih dengan suara parau yang terputus-putus. Jemarinya tertanam di antara rambut hitam suaminya, mencoba mengatur ritme hisapan Damian yang kian menuntut dan liar.

Sentuhan itu memicu kehangatan intens yang selama ini dipendam oleh Damian. Ia merasa seolah baru saja menemukan mata air di tengah padang pasir; tubuh Valerian yang biasanya kaku dan dingin kini terasa begitu hidup, hangat, dan mengikatnya dalam candu yang tak mau ia akhiri.

Tak puas hanya di atas ranjang, gairah yang membara membawa mereka untuk mengeksplorasi sudut lain ruangan. Damian mengangkat tubuh ramping Valerian dalam satu hentakan kokoh, membawa mereka berpindah ke atas sofa beludru mewah di dekat dinding kaca yang menghadap langsung ke arah luar.

Mereka berganti posisi untuk menikmati penyatuan yang kian memuncak. Kali ini, Valerian berada di atas, mengangkang di atas pangkuan Damian yang tegap. Dengan posisi memegang kendali penuh, Valerian bergerak dengan sisa energinya, menciptakan ritme penyatuan yang dalam dan memabukkan, sementara Damian mencengkeram pinggang rampingnya dengan urat-urat tangan yang menegang.

Damian benar-benar menikmati setiap inci tubuh istrinya yang sah. Dari atas sofa tersebut, tatapannya menyapu lekuk punggung Valerian yang berkeringat, lehernya yang mendongak pasrah, hingga desahan-desahan liar yang terus meluncur bebas dari bibir manis istrinya. Damian merasa seperti seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah kekuasaan paling berharga dalam hidupnya—sebuah wilayah yang selama ini ia abaikan karena keangkuhannya sendiri.

Namun, setiap kepuasan yang terjadi di atas sofa itu adalah belati panas yang menghujam jantung Aksa di kamar sebelah.

Aksa mengepalkan tinjunya hingga berdarah, menatap dinding kamar utama dengan tatapan membunuh. Malam ini, Damian mungkin memenangkan tubuh istrinya, namun Aksa bersumpah, ini adalah kali terakhir ia membiarkan pria lain menyentuh wanita miliknya.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!