Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RACUN PELUMPUH SYARAF
"Kalau begitu, aku akan bayar kamu lebih mahal. Pakai seluruh isi kas kerajaan kalau perlu, asal kamu tidak pergi," jawab Arlon cepat, seolah tidak mau kalah.
Elena mendengus geli, kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan senyum miringnya.
"Isi kas kerajaan? Jangan sombong dulu, makan saja kita masih harus cari ubi di hutan. Sana, siapkan makanan yang kamu bilang tadi, aku lapar. Berlatih denganmu itu lebih menguras tenaga daripada membunuh sepuluh prajurit bayaran," perintah Elena, memberikan isyarat dengan kepalanya ke arah dapur kecil mereka.
Arlon tertawa, lalu berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Iya, Nyonya Pelindung. Untung aku pangeran yang serba bisa, jadi tukang cuci lantai sudah, sekarang jadi koki paviliun juga bisa," gerutu Arlon sambil melangkah menuju pojok ruangan tempat mereka menyimpan sisa makanan.
"Jangan banyak protes, atau aku tambahkan jadwal latihan pedang malam ini," ancam Elena tanpa melihat ke arahnya.
"Ampun! Iya, ini aku kerjakan sekarang!" seru Arlon dari arah dapur.
Suara kayu yang dipatahkan dan denting panci mulai terdengar dari dapur. Elena terdiam, matanya menatap punggung Arlon yang sibuk menyiapkan api.
Dalam hatinya, ada sedikit rasa gelisah yang muncul setiap kali dirinya memikirkan masa depan.
"Kenapa pria misterius itu memilihku? Kenapa dia begitu yakin aku bisa menjaga pangeran buangan ini?" batin Elena, jari-jarinya tanpa sadar mengusap gagang belatinya.
Tak lama, bau umbi bakar mulai tercium di ruangan yang sempit itu. Arlon kembali membawa dua buah umbi yang masih mengepul panas di atas piring tanah liat yang retak.
"Hanya ada ini, El. Maaf ya, calon Raja mu ini cuma bisa kasih makan begini sekarang," ucap Arlon sambil menyerahkan salah satu umbi kepada Elena.
"Tidak masalah," jawab Elena sambil menerima umbi itu dan mulai mengupas kulitnya yang menghitam.
Mereka berdua duduk berdampingan di kursi kayu panjang, makan dalam diam sejenak sebelum Arlon kembali membuka suara.
"El, jujur aku masih sangat penasaran, soal pria misterius yang kirim kamu ke sini, dan yang memberikan aku ramuan biru itu. Kamu beneran tidak punya petunjuk siapa dia?" tanya Arlon, suaranya rendah.
"Tidak, seperti yang kamu lihat waktu dia datang kesini memberikan ramuan biru itu, dia selalu pakai topeng dan jubah hitam. Suaranya juga berat. Tapi dia tahu banyak soal rahasia istana Belmont, bahkan dia tahu soal naga di dalam darahmu yang selama ini kamu sembunyikan," jawab Elena menggelengkan kepalanya perlahan.
Arlon terdiam, dia menatap sisa ubi di tangannya dengan dahi berkerut.
"Kalau dia tahu soal itu, berarti dia bukan orang sembarangan. Karena bahkan Selena dan Arkan saja cuma menduga-duga, mereka tidak pernah benar-benar yakin kalau aku punya kekuatan itu, makanya Selena meracuni ku, dan hal itu membuat darahku beku selama ini, " gumam Arlon, pelan.
"Makanya kita harus tetap waspada, jangan sampai kita lolos dari lubang buaya, malah masuk ke mulut harimau," ucap Elena, tatapannya menajam.
Arlon mengangguk setuju, lalu dia menoleh ke arah Elena dan tersenyum lebar, seolah beban di pundaknya baru saja terangkat.
"Apapun itu, setidaknya aku punya kamu sekarang. Setidaknya kalau nanti aku harus mati, aku tidak mati sendirian dan kesepian di tempat rongsokan ini," ucap Arlon dengan nada bercanda namun ada ketulusan di dalamnya.
"Jangan ngomong soal mati terus, aku bosan dengarnya. Lebih baik kamu habiskan makananmu, lalu istirahat sebentar. Sore nanti kita akan mulai latihan kontrol energi lagi, dan kali ini aku tidak akan segan-segan kalau kamu malas, aku akan memukul mu," jawab Elena sambil berdiri dan membereskan piring mereka.
Arlon hanya bisa mendesah pasrah, namun dalam hatinya dia bersyukur. Di balik dingin dan galak nya sikap Elena, dia tahu gadis itu adalah satu-satunya orang yang benar-benar berdiri di pihaknya saat ini.
*****
"Bibi, kenapa kita tidak suruh pengawal saja buat menggeledah kendi itu tadi? Aku yakin perempuan desa itu menyembunyikan sesuatu," keluh Clarissa sambil menghentakkan kakinya kesal.
Ratu Selena mengoleskan krim ke tangannya dengan tenang, matanya menatap pantulan Clarissa di cermin.
"Gunakan otakmu sedikit, Clarissa, kalau kita memaksa menggeledah saat Arlon muntah darah di depan mata kita, pelayan-pelayan akan bergosip kalau aku ratu yang tidak punya hati. Aku butuh nama baik sampai Arkan resmi jadi putra mahkota," jawab Selena, dingin.
"Tapi Ibu, Arlon itu aneh!" ucap Arkan yang tiba-tiba muncul dari balik tirai balkon sambil memegang gelas anggur.
"Kemarin waktu di lapangan latihan, dia bisa menghancurkan papan sasaran," lanjut Arkan, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Justru karena itu, Arkan, aku tidak suka kejutan, kalau dia memang punya sisa tenaga, kita harus pastikan tenaga itu habis sebelum dia melangkah ke altar Api Abadi," jawab Ratu Selena memutar kursinya, menatap putra kesayangannya itu dengan tajam.
"Lalu apa rencananya, Ibu?" tanya Arkan, wajahnya mulai menunjukkan seringai licik.
Ratu Selena memberi isyarat agar Arkan dan Clarissa mendekat, dia berbisik dengan suara yang sangat rendah, namun penuh racun.
"Festival Musim Semi nanti adalah persembahan untuk leluhur. Raja Alaric sangat terobsesi dengan keajaiban, jika Arlon muncul membawa hadiah murahan, dia hanya akan jadi bahan tertawaan. Tapi, aku ingin sesuatu yang lebih pasti," ucap Ratu Selena.
"Maksud Ibu?" tanya Arkan mengerutkan kening.
"Aku sudah menyuruh orang untuk menukar minyak suci yang akan digunakan untuk menyalakan api persembahannya," bisik Selena sambil tersenyum miring.
"Bukan minyak biasa, tapi minyak yang dicampur dengan serbuk racun. Begitu Arlon mencoba menyalakan api, bukan pendar indah yang akan muncul, tapi ledakan kecil yang akan membakar tangannya sendiri," lanjut Selena, tersenyum licik.
"Jadi dia akan terlihat seperti pangeran yang dikutuk oleh leluhur?" tanya Clarissa langsung menutup mulutnya, tapi matanya berkilat senang.
"Benar! Raja akan melihatnya sebagai pertanda buruk, dia akan dianggap pembawa sial bagi kerajaan Belmont," jawab Selena dengan tawa rendah yang mengerikan.
"Wah, Ibu memang yang terbaik," puji Arkan sambil meneguk anggurnya.
"Tapi bagaimana dengan istri desanya itu? Elena? Dia terus-terusan menghalangi kita," tanya Arkan kesal.
Ratu Selena mengambil sebuah botol kecil dari laci riasnya, botol itu berisi cairan bening yang tampak biasa saja.
"Clarissa, kamu punya tugas," ucap Selena sambil memberikan botol itu pada Clarissa.
"Tugas apa, Yang Mulia?" tanya Clarissa dengan patuh.
"Berikan ini pada Elena, katakan ini ramuan dari tabib istana untuk Arlon, gadis itu akan mencicipi sebelum di berikan ke Arlon," jawab Selena, tersenyum licik.
"Ini bukan racun yang mematikan, hanya akan membuat saraf seseorang menjadi kaku selama dua belas jam, jika Elena tidak bisa bergerak, dia tidak akan bisa membantu Arlon di altar," jelas Selena.