NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

Alam Fana – Langit di Atas Desa Angin Lembut.

Retakan raksasa yang mengoyak cakrawala menganga bagaikan mulut iblis yang kelaparan. Dari balik jurang dimensi tersebut, Sembilan Belas Kereta Perang yang ditarik oleh puluhan Naga Tulang Buta turun dengan gemuruh yang meremukkan gendang telinga. Langit yang tadinya cerah kini tertutup oleh badai lahar hitam pekat dan debu bintang mati.

Di atas kereta perang utama, Leluhur Harimau Perak berdiri dengan arogan. Zirah abadi yang membalut tubuh raksasanya memancarkan fluktuasi Kekacauan Purba sebuah energi yang mampu mengembalikan segala bentuk kehidupan kembali ke zaman prasejarah yang liar dan tak beradab.

Hanya dengan hembusan napas dari naga-naga penarik kereta itu, gunung-gunung di kejauhan mulai runtuh menjadi pasir, dan sungai-sungai menguap dalam hitungan detik. Penduduk Desa Angin Lembut, termasuk Kepala Desa Gou, telah jatuh pingsan, jiwa fana mereka tidak mampu menahan tekanan dari entitas yang berada di luar batas Samsara.

"HA HA HA! DUNIA YANG LEMAH DAN MENYEDIHKAN!" tawa Leluhur Harimau Perak menggelegar, menciptakan gelombang kejut yang meratakan hutan bambu di sekitar desa.

Mata peraknya yang tajam menatap ke bawah, menembus awan debu, dan langsung mengunci koordinat gubuk kecil berpagar bambu. Ia melihat tunas berdaun zamrud yang memancarkan Cahaya Penciptaan Murni, dan di dekatnya, ia melihat Cendekiawan Wu yang sedang berjongkok.

"Avatar Wu! Kerja bagus telah menandai tempat ini!" raung Leluhur Harimau Perak. "Tapi mengapa wujud fana-mu berjongkok di dekat kandang unggas kotor itu?! Cepat cabut Benih Surga itu, dan mari kita bakar tempat ini hingga menjadi lahar!"

Di halaman belakang, Cendekiawan Wu mendongak dengan wajah sepucat kertas beras. Tangannya yang masih memegang parang karatan bergetar hebat.

Ia ingin berteriak kepada armada itu. Ia ingin meraung memperingatkan Leluhur Harimau Perak: JANGAN TURUN! LARI! TEMPAT INI ADALAH NERAKA YANG MENYAMAR MENJADI HALAMAN RUMAH!

Namun, pita suara Wu telah sepenuhnya disegel oleh Hukum Kemanusiaan (Mortal Dao) yang menyelimuti pekarangan itu. Ia hanya bisa menganga bisu, menatap rekan-rekannya di angkasa layaknya menatap orang-orang bodoh yang sedang berjalan sukarela ke dalam mulut naga sesungguhnya.

Di dekat Wu, sang ayam jantan kampung yang baru saja berevolusi menjadi Kaisar Phoenix Api Purba mengepakkan sayap besi keemasannya. Jengger naganya berkobar. Ia bersiap lepas landas untuk membela wilayah teritorialnya dari naga-naga tulang di atas sana.

Namun, sebuah tangan kasar dengan lembut menekan punggung ayam jago itu ke bawah.

"Tenanglah, Jago. Kau belum diberi makan pagi, jangan buang-buang tenaga untuk melawan hama besar," suara yang sangat tenang dan datar mengalun.

Shi Hao melangkah maju dari teras belakang.

Sang Kaisar Asura tidak mengenakan zirah perang. Ia hanya mengenakan pakaian raminya yang sederhana. Mata kirinya tertutup kain putih bersih. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah Sapu Lidi alat pembersih fana yang diikat dari tulang daun kelapa kering.

Gu Qing Yi berdiri di ambang pintu dapur, masih memegang centong kayu. Nyonya Raja Dewa itu menatap ke atas langit dengan raut wajah sedikit jengkel.

"Suamiku," keluh Qing Yi, mengibaskan debu yang jatuh ke arah celemeknya. "Monster harimau itu membuat abu berjatuhan. Jika abunya masuk ke dalam panci kaldu ayamku, kuahnya akan menjadi pahit."

Shi Hao mengangguk pelan, mengangkat wajahnya menatap ke arah armada raksasa yang menutupi matahari.

"Aku tahu, Istriku. Mereka sangat tidak sopan. Aku akan segera membersihkannya," jawab Shi Hao.

Genggaman Shi Hao pada gagang sapu lidi itu mengerat. Saat jari-jari sang Kaisar meremas bambu pengikat sapu tersebut, udara di seluruh dunia fana mendadak membeku. Niat membunuh Asura yang selama ini ia kubur dalam-dalam merembes keluar, menyusup ke dalam setiap batang lidi fana di tangannya.

Di atas langit, Leluhur Harimau Perak menyipitkan matanya. Ia melihat pria buta bersandal jerami di bawah sana menodongkan sapu lidi ke arahnya.

"Semut fana berani menantang langit?!" Leluhur Harimau Perak mendengus jijik. "Mati dan jadilah abu!"

Sang siluman prasejarah mengangkat tombak raksasanya, memadatkan ribuan pusaran badai kosmik hitam, lalu melemparkan tombak itu lurus ke arah Shi Hao.

Tombak itu melesat seperti komet pemusnah. Gaya gravitasinya saja mampu merobek benua menjadi dua bagian! Kecepatannya melampaui kilat, membawa hukum yang tidak bisa dihindari oleh entitas mana pun di Alam Atas, apalagi dunia fana!

Jaraknya tinggal seratus tombak... sepuluh tombak...

Shi Hao tidak bergeser satu inci pun. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma embun dan tanah basah di pekarangannya.

"Jika tamu datang membawa kotoran di kaki mereka..." gumam Shi Hao pelan, menyatukan seluruh esensi ketenangan fana dan kemurkaan abadi ke dalam otot lengannya.

Shi Hao mengayunkan sapu lidi itu dari bawah ke atas dalam satu gerakan sapuan yang sangat sederhana, persis seperti menyapu dedaunan kering ke udara.

"Teknik Asura"

SWUSSSSH!

Tidak ada benturan sihir yang membutakan mata. Tidak ada auman naga yang membelah telinga.

Sapu lidi itu melepaskan seberkas gelombang angin berbentuk bulan sabit keemasan yang sangat tipis. Gelombang itu melesat ke atas dalam keheningan yang menakutkan.

Ketika tombak badai kosmik milik Harimau Perak bertabrakan dengan gelombang angin dari sapu lidi tersebut... tombak raksasa yang membawa kekuatan penghancur galaksi itu tidak meledak. Ia terurai.

Bilah sabit angin fana itu menetralkan segala bentuk sihir dan hukum karma pada tingkat yang paling mendasar. Tombak itu hancur menjadi serpihan debu kayu biasa, lalu tersapu bersih oleh angin.

Namun, gelombang sabit keemasan itu tidak berhenti.

Ia terus melaju ke atas langit, membesar dalam sekejap mata hingga merentang menutupi seluruh cakrawala.

Leluhur Harimau Perak membelalakkan matanya, teror murni meremukkan akal sehat abadinya. Ia mencoba mengangkat perisai Kekacauan, ia mencoba memundurkan kereta perangnya, ia mencoba memutar waktu namun tidak ada satupun yang berhasil. Hukum Mortal Dao menolak segala bentuk keajaiban surgawi.

ZRAAAAAASH!

Gelombang angin sapu lidi itu melewati armada Kekacauan Purba layaknya pisau tukang daging memotong bayangan air.

Hening.

Angin berhenti berhembus.

Di atas langit, Sembilan Belas Kereta Perang yang terbuat dari logam abadi terbelah menjadi dua dengan potongan yang sangat halus. Puluhan Naga Tulang Buta membeku di udara, sebelum akhirnya hancur menjadi serbuk abu yang tertiup angin fana.

Leluhur Harimau Perak masih berdiri di atas keretanya yang terbelah. Ia menunduk menatap dadanya sendiri. Zirah abadi yang konon tak bisa ditembus oleh pedang dewa mana pun... kini memiliki satu garis sayatan lurus.

"B-Bagaimana... mungkin... sebuah sapu..."

KRAAAK!

Garis sayatan itu meledak. Inti Kekacauan di dalam tubuh Harimau Perak hancur berkeping-keping. Hukum keabadian yang menopang tubuh raksasanya dilucuti secara paksa.

Tubuh raksasanya menyusut dengan cepat, kehilangan segala sisa aura dewanya, hingga ukurannya tak lebih besar dari seekor harimau hutan biasa. Ia jatuh menukik dari langit, kehilangan kesadaran bahkan sebelum menyentuh atmosfer bawah.

Gedebuk!

Harimau Perak mantan Raja Leluhur dari Jurang Kekacauan jatuh dengan wajah membentur tanah lumpur di pekarangan belakang, tepat di samping Cendekiawan Wu. Gigi taring kebanggaannya patah satu karena membentur batu kerikil.

Ayam jago (Kaisar Phoenix) melompat ke atas kepala harimau yang pingsan itu, menepuk-nepuk sayapnya dengan bangga, lalu berkokok sangat nyaring.

KUKURUYUUUUK!

Suara kokok ayam itu bergema, tidak hanya membangunkan penduduk desa yang pingsan, tetapi juga mengusir sisa-sisa awan hitam di langit, mengembalikan cahaya matahari pagi yang cerah ke atas Desa Angin Lembut.

Retakan dimensi di langit pun secara otomatis terjahit kembali oleh sisa-sisa Mortal Dao dari sapuan Shi Hao, menyegel celah itu dari pihak Jurang Kekacauan yang berada di seberang sana.

Di bawah teras, Shi Hao menurunkan sapu lidinya. Ia menepuk-nepuk debu dari jubah raminya, lalu memutar tubuhnya menghadap Cendekiawan Wu yang sedang bergetar hebat memeluk lututnya sendiri.

Shi Hao melemparkan sapu lidi itu, dan benda fana tersebut mendarat tepat di depan ujung kaki Cendekiawan Wu.

"Tuan Wu," panggil Shi Hao, nada suaranya mengembalikan kengerian yang membuat bulu kuduk berdiri. "Teman-teman dari kampung halamanmu membuang sampah sembarangan di halamanku. Bawa sapu ini, dan kumpulkan puing-puing tulang yang jatuh di luar pagar agar tidak melukai kaki anak-anak desa."

Sang Kaisar Asura menunjuk dengan ujung jarinya ke arah harimau perak yang sedang diinjak-injak oleh ayam jago.

"Dan mandikan kucing besar yang kotor itu. Mulai besok, dia bertugas menjaga lumbung padi kita dari tikus sawah. Jika dia menolak memakan tikus..." Shi Hao sedikit memiringkan kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "...Istriku sudah lama ingin mencoba membuat mantel bulu dari kulit macan sungguhan."

Cendekiawan Wu, Avatar dari Jurang Kekacauan yang agung, langsung bersujud hingga kepalanya membentur tanah berulang kali.

"S-Siap laksanakan, Yang Mulia! Saya akan menyapunya sekarang juga! Saya akan memandikan kucing ini hingga bersih!" tangis Wu pecah, menyadari bahwa Tiga Ribu Dunia ini telah jatuh ke tangan tiran terburuk yang pernah ada seorang tiran yang menggunakan kekuatan untuk memaksakan kehidupan bertani!

1
Purnama Servis Kamera Demak
Seorang kaisar jadi penjaga gudang es. Wkwkwk
HINATA SHOYO
masuk..kehalaman.perkarang rumah.sihaou kelar hidup mau sekuat appn tdk artinya di mata sihaou🤣🤣🤣🤣
saniscara_Patriawuha
mantaffffff...
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Purnama Servis Kamera Demak
Jadi kan tetangga sebelah yang baik thor
OldMan
🤣🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
HINATA SHOYO
seru2.sgera up tor gaskeennnnnn💪💪💪💪💪3
saniscara_Patriawuha
sikattttt sudahhhhh manggg minnnn
saniscara_Patriawuha
gassssd pollll manggg surrrrrr....
OldMan
kereen baget ceritanya 🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
nadin al adiyaat syamn
jadi slice of life
HINATA SHOYO
gk ada harga.dirinya kalian di hadapan raja.sgla monster🤣🤣🤣
saniscara_Patriawuha
gassddd polllll deuiiiii....
saniscara_Patriawuha
gassss polllll....
HINATA SHOYO
cari penyakit masuk ke.halaman raja segela monster kelar hidupmu🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!