Begitu terbangun dari tidur, pikiran Su Niannian tiba-tiba terhubung dengan sebuah sistem bernama Sistem Cahaya Bulan. Dengan nada dingin, sistem itu memberikan perintah: Tugasmu adalah—menimbulkan masalah, memfitnah orang lain, dan menjadi wanita paling dibenci di seluruh kota. Su Niannian: ???
Tugas pertama: Memarahi Direktur Utama Jiang Lin di depan umum dan menyebutnya pria yang sombong. Dengan terpaksa dia melakukannya, lalu menunggu keputusan pemecatan. Namun nyatanya, pria itu sama sekali tidak marah, malah tersenyum dan berkata: "Kau menarik."
Tugas kedua: Memuji pria lain secara berlebihan di hadapannya. Dia memuji dengan cara yang kaku dan canggung, dalam hatinya dia merasa pasti kali ini masalah besar akan menimpanya.Namun Jiang Lin malah mengerutkan dahi dan bertanya: "Menurutmu, apa kelebihanku? "—Tunggu dulu, bukankah itu bukan inti permasalahannya?
Tugas ketiga, tugas keempat, dan seterusnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Su Niannian terbangun karena silau sinar matahari.
Gorden tidak tertutup rapat, sehingga seberkas cahaya keemasan jatuh tepat di wajahnya. Dia memicingkan mata sambil membalikkan badan, lalu tangannya menyentuh bantalan sofa di sampingnya — terasa dingin.
Jiang Lin tidak ada di sana.
Dia tertegun sejenak, lalu langsung duduk.
Suasana ruang tamu terasa hening, lilin semalam sudah habis terbakar dan hanya menyisakan noda lilin putih yang mengeras di atas meja tamu. Namun lampu di langit-langit ruangan kini menyala terang.
Entah sejak kapan aliran listrik sudah pulih.
Su Niannian mengambil ponselnya dan melihat ada belasan pesan masuk.
[Jiang Lin: Listrik sudah menyala, aku pulang.]
[Jiang Lin: Kau tidur dengan sangat lelap, jadi aku tidak membangunkanmu.]
[Jiang Lin: Pukul tujuh pagi, aku akan datang menjemputmu.]
Pesan terakhir dikirim pukul enam lewat lima puluh: [Kabari aku jika sudah bangun.]
Dia melirik jam di layar ponsel — tepat pukul enam lewat empat puluh lima.
Tinggal lima menit lagi dia akan tiba.
Su Niannian seolah tersentak dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka, menyikat gigi, dan berganti pakaian. Rambutnya belum sempat disisir rapi, namun bel pintu sudah berbunyi.
Dia berlari membuka pintu sambil masih memegang karet pengikat rambut di mulutnya.
Jiang Lin berdiri di ambang pintu sambil membawa dua kantong plastik. Melihat penampilannya yang masih berantakan, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Baru bangun?"
"Baru saja," jawab Su Niannian dengan suara yang tidak jelas, sambil menyingkirkan badan agar dia bisa masuk.
Jiang Lin berjalan masuk dan meletakkan kedua kantong itu di atas meja tamu. Satu kantong berisi pangsit kukus dan susu kedelai, sedangkan kantong lainnya berisi kotak penyimpanan, kantong sampah, dan selotip.
Su Niannian menatap peralatan pindahan itu dengan tatapan terkejut.
"Kau benar-benar membawanya?"
"Lalu bagaimana lagi?" jawab Jiang Lin sambil membuka kotak pangsit kukus itu. "Makanlah sarapan terlebih dahulu."
Keduanya duduk di sofa sambil menikmati sarapan. Su Niannian makan dengan tergesa-gesa hingga kuah pangsitnya tumpah mengenai jari-jarinya. Saat hendak mencari tisu, Jiang Lin sudah menyerahkannya padanya.
"Makanlah perlahan, tidak ada yang akan merebutnya darimu."
Su Niannian menerima tisu itu dan menunduk mengelap jarinya, sementara telinganya terasa sedikit hangat.
Padahal hubungan mereka sudah resmi ditetapkan semalam, namun perhatian kecil darinya tetap saja membuat detak jantungnya berpacu cepat.
Setelah selesai makan, Jiang Lin berdiri dan melihat sekeliling apartemen kecil itu.
Luasnya sekitar tiga puluh meter persegi, terdiri dari satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya tidak terlalu banyak, namun barang-barang terlihat berantakan di mana-mana — ada tumpukan pakaian yang belum dilipat di atas sofa, kotak kiriman yang terselip di bawah meja tamu, dan tumpukan piring kotor di dalam wastafel dapur.
"Apakah kau biasanya tinggal seperti ini?" tanya Jiang Lin.
"Apa salahnya?" jawab Su Niannian sambil melirik sekeliling dengan perasaan bersalah. "Ini namanya... terlihat seperti tempat tinggal yang dihuni manusia."
"Ini namanya sarang babi," balas Jiang Lin sambil melipat lengan bajunya. "Mari mulai membereskan pakaian. Yang mana saja yang akan dibawa?"
Su Niannian hendak berkata bahwa dia belum memutuskan untuk pindah, namun melihat dia sudah mulai melipat pakaian di sofa, kalimat itu tertelan kembali di tenggorokannya.
Dia menghela napas dan masuk ke kamar tidur, lalu membuka lemari pakaiannya.
Keduanya bekerja sama selama lebih dari satu jam — satu melipat dan satu memasukkan barang ke dalam kotak. Ternyata barang-barang Su Niannian jauh lebih banyak dari yang dia bayangkan. Ada tujuh hingga delapan buah jas musim dingin saja, sepatunya memenuhi dua rak sepatu, dan yang paling mencolok adalah boneka beruang raksasa yang menempati hampir setengah ruangan.
Jiang Lin menatap boneka yang tingginya hampir menyamai manusia itu dan terdiam selama dua detik.
"Ini juga akan dibawa?"
"Tentu saja," jawab Su Niannian sambil memeluk boneka itu dengan wajah serius. "Namanya Tuan Bulat, sudah menemaniku selama tiga tahun."
Jiang Lin meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa lagi, lalu memasukkan boneka itu ke dalam kantong plastik ukuran besar.
Su Niannian tersenyum kecil dalam hati.
Saat sedang membereskan barang-barang, Su Niannian menemukan sebuah kotak tua di sudut paling dalam lemari.
Kotak itu terbuat dari kayu, seukuran telapak tangan, diukir motif bunga, dan gemboknya sudah berkarat.
Jiang Lin meliriknya sekilas: "Apa itu?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Su Niannian sambil berusaha menyembunyikannya kembali ke dalam lemari, namun tangan Jiang Lin lebih cepat dan sudah mengambil kotak itu.
"Gemboknya sudah berkarat," katanya sambil menatap kotak itu. "Sudah berapa lama kau tidak membukanya?"
"Sudah bertahun-tahun," jawab Su Niannian sambil berusaha mengambilnya kembali. "Kembalikan padaku."
Jiang Lin mengangkat tangannya agar tidak terjangkau dan tidak memberikannya.
"Apakah ada rahasia di dalamnya?"
"Tidak ada!"
"Lalu mengapa kau terlihat begitu gelisah?"
Su Niannian menggigit bibirnya dan terdiam.
Jiang Lin menatap ekspresinya lalu tersenyum kecil, kemudian meletakkan kotak itu kembali ke dalam lemari.
"Aku tidak akan membukanya," katanya. "Sampai kau bersedia menunjukkannya padaku suatu hari nanti."
Su Niannian menghela napas lega, namun hatinya terasa sedikit aneh — dia bisa saja membukanya karena gemboknya sudah rusak, namun dia memilih untuk tidak melakukannya.
Dia menghormati privasinya.
[Pemberitahuan Sistem: Tingkat ketertarikan orang yang dituju meningkat 1 poin. Tingkat ketertarikan saat ini: 82/100.]
[Analisis Sistem: Sikap menghormati privasi telah meningkatkan rasa aman pengguna secara signifikan, sehingga tingkat ketertarikan meningkat.]
Su Niannian melirik tampilan sistem itu sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Pukul dua siang, seluruh barang-barang sudah terkemas rapi. Terdapat delapan kotak kardus, tiga kantong anyaman, dua koper, ditambah boneka beruang raksasa itu.
Jiang Lin menatap tumpukan barang itu dan mengerutkan kening: "Luas rumahmu hanya tiga puluh meter persegi, bagaimana bisa muat barang sebanyak ini?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Su Niannian dengan jujur.
Mereka melakukan dua kali perjalanan untuk memindahkan semua barang itu ke dalam mobil Jiang Lin. Bagasi mobilnya memang cukup luas, namun tetap terisi penuh hingga penuh. Ekor Tuan Bulat terlihat mencuat dari celah bagasi dan bergoyang-goyang tertiup angin.
Su Niannian duduk di kursi penumpang sambil melihat ekor boneka itu bergerak-gerak di kaca spion, lalu tersenyum kecil.
"Ada apa yang lucu?" tanya Jiang Lin sambil menyalakan mesin mobil.
"Tidak ada apa-apa," jawab Su Niannian sambil menggeleng. "Hanya merasa... seolah Tuan Bulat juga terlihat senang."
Jiang Lin meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa, namun sudut bibirnya tetap terangkat.
Perjalanan dari rumah sewaan Su Niannian menuju apartemen Jiang Lin memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Su Niannian belum pernah ke sana sebelumnya, hanya tahu bahwa rumahnya berada di kawasan perumahan mewah di bagian utara kota. Saat mobil memasuki area parkir bawah tanah, dia melihat lantai yang mengkilap dan deretan tempat parkir yang tertata rapi, sehingga hatinya terasa sedikit gugup.
Lift langsung menuju lantai delapan belas.
Jiang Lin membuka pintu rumahnya, dan Su Niannian berdiri di ambang pintu sambil melirik ke dalam.
Kemudian dia tertegun sejenak.
Bukan karena dia belum pernah melihat apartemen mewah — dia pernah melihatnya di drama televisi. Namun rumah Jiang Lin terasa... lebih hangat dari yang dia bayangkan.
Tidak terasa dingin seperti rumah pameran. Di ruang depan terdapat sebuah tanaman merambat, di samping rak sepatu tergantung sebuah payung, di atas sofa ruang tamu terdapat dua buah bantal, dan di meja tamu tergeletak sebuah buku yang baru dibaca setengah halaman.
Dapur tidak terlalu luas namun lengkap dengan peralatan masak, dan panci serta piring tertata rapi di rak.
Di balkon tergantung sebuah kemeja putih — kemeja yang dipakai Jiang Lin kemarin.
"Sudah cukup melihatnya?" tanya Jiang Lin dari belakang. "Masuklah."
Su Niannian melepas sepatunya dan berjalan masuk, lalu berkeliling melihat setiap sudut rumah itu.
Rumah itu terdiri dari tiga kamar tidur dan satu ruang tamu — kamar tidur utama, ruang kerja, dan kamar tamu. Di ruang kerja terdapat rak buku yang memenuhi satu dinding, sedangkan di meja kerjanya terdapat dua layar komputer. Kamar tamu terlihat kosong, hanya ada satu tempat tidur dan satu lemari.
"Kau akan tidur di sini," kata Jiang Lin sambil menunjuk ke arah kamar tamu.
Su Niannian mengangguk dan menarik kopernya masuk.
Namun dia segera menyadari satu masalah — kamar tamu tidak memiliki lemari pakaian.
"Di mana aku akan meletakkan pakaianku?" tanyanya.
Jiang Lin meliriknya sekilas, lalu berjalan menuju pintu kamar tidur utama dan membukanya: "Taruh di sini."
Su Niannian tertegun sejenak: "Di kamar tidurmu?"
"Lemari di kamar ini lebih luas," jawab Jiang Lin dengan nada yang wajar. "Kau gunakan setengahnya, aku gunakan setengahnya."
Su Niannian hendak berkata bahwa ini sama saja dengan tinggal bersama, namun segera menyadari bahwa memang begitulah keadaannya — dia sudah pindah dan tinggal di sini.