Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB : TARUHAN NYAWA DIBATAS ALTAR
Rantai asap hitam yang melilit tubuh Mayang semakin mengencang, mengeluarkan bunyi mendesis tipis setiap kali bersentuhan dengan kulit halusnya. Di atas udara gua yang pengap, wajah cantik tabib klan itu tampak meringis menahan sakit, kedua pergelangan tangannya tercengkeram erat oleh magis kegelapan yang terus-menerus menyedot sisa tenaga fisiknya.
"Dion... jangan dengarkan dia... cepat pergi..." rintih Mayang, suaranya terdengar terputus-putus, parau menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Dion masih berlutut di atas satu lututnya di atas lantai batu yang dingin. Sepasang matanya yang kini telah berubah menjadi ungu menyala seutuhnya, menatap nanar pada sosok wanita yang paling ia lindungi di dunia ini setelah Rhea. Tangan kanannya yang memegang belati perak tampak bergetar hebat. Sifat dominan dan insting predatornya sebagai pemburu tingkat atas berontak, ingin melesat ke depan dan memenggal kepala sosok di hadapannya. Namun, ancaman bahwa kristal itu bisa meledakkan jantung Mayang dari dalam seketika mengunci seluruh gerakannya.
Sosok berjubah kelabu itu terkekeh sangat rendah, menyukai keputusasaan yang kini terpancar dari aura sang naga legendaris. "Pilihan yang sangat mudah, bukan, Dion? Jatuhkan senjatamu, menyerahlah pada segel jiwa ini, maka aku berjanji akan menurunkan wanitamu dengan utuh. Jika tidak... kamu akan melihat tubuh indahnya hancur menjadi serpihan daging dalam hitungan detik."
Dion memejamkan matanya sesaat. Rahangnya mengeras sempurna hingga menciptakan garis tegas yang mengerikan di wajah tampannya. Di dalam kegelapan batinnya, ia bisa merasakan esensi sihir naga ungunya mengaum murka, menuntut untuk dilepaskan demi meratakan gua ini beserta applies di dalamnya. Namun Dion harus menggunakan otaknya, bukan sekadar amarah yang buta.
KLANG!
Suara besi beradu dengan batu menggema keras di dalam kesunyian gua. Dion melepaskan genggamannya, membiarkan belati perak pusaka klan itu jatuh tergeletak di atas tanah, menjauh dari jangkauan tangannya.
"Dion, tidak!" jerit Mayang dari atas udara, air matanya menetes turun melihat kepasrahan pria itu.
"Bagus... sangat penurut," puji sosok berjubah kelabu itu dengan mata kuning pekatnya yang berkilat puas. Ia melangkah maju dua langkah, mendekati Dion yang kini benar-benar tidak bersenjata. Sosok itu mengangkat kristal ungu di tangan kanannya, mengarahkannya tepat ke arah ubun-ubun kepala Dion. "Sekarang, buka gerbang jiwamu. Biarkan seluruh esensi kabut perak dan kekuatan naga purba di dalam darahmu mengalir masuk ke dalam wadah kristal ini!"
Tato naga di sepanjang punggung tegap Dion mulai berpendar keunguan, memancarkan hawa panas yang membakar jubah hitamnya. Dion mendongak, menatap lurus ke balik tudung gelap sosok misterius itu. "Kamu menginginkan kekuatanku? Ambil... ambil sepuasmu sampai tubuh rapuhmu itu hancur karena tidak sanggup menampungnya!"
Detik itu juga, Dion sengaja melepaskan seluruh dinding pertahanan magis di dalam tubuhnya. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk melakukan serangan balik yang tidak terduga.
WUUUUZZZH!
Arus sihir kabut perak bercampur ungu pekat meledak keluar dari tubuh Dion seperti air bah yang jebol dari bendungan. Tekanan angin magis yang begitu besar seketika tercipta di dalam gua, membuat batuan stalaktit di langit-langit gua retak dan berjatuhan. Energi murni itu melesat cepat, mengalir deras masuk ke dalam kristal ungu yang dipegang oleh sosok berjubah kelabu.
Awalnya, sosok berjubah kelabu itu tertawa kegirangan merasakan pasokan energi yang luar biasa besar masuk ke dalam senjatanya. "Ya! Ini dia! Kekuatan dewa yang akan membuatku menguasai seluruh wilayah luar lembah!"
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan detik, warna ungu di dalam kristal itu berubah menjadi terlalu terang, bergejolak liar seperti badai petir yang terkurung di dalam botol kaca. Tato segel sihir di sepanjang lengan sosok berjubah kelabu itu mendadak melepuh, mengeluarkan asap putih berbau daging terbakar.
"Apa... apa ini?! Berhenti, Dion! Kurangi aliran energimu!" teriak sosok itu mulai panik. Kulit tangannya yang memegang kristal mulai retak-retak, mengeluarkan darah segar berwarna hitam pekat. Kekuatan naga ungu Dion terlalu murni dan terlalu masif untuk diserap oleh kristal pemikat jiwa tingkat rendah miliknya.
"Kamu yang meminta ini, bajingan!" raung Dion, suaranya bergema seperti raungan naga sungguhan yang memecah keheningan malam.
Di saat konsentrasi sosok berjubah kelabu itu pecah total karena menahan rasa sakit di tangannya, lilitan rantai asap hitam yang menahan tubuh Mayang di udara mendadak melemah dan menipis. Tubuh Mayang seketika merosot jatuh ke bawah.
Melihat celah itu, Dion tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan kecepatan berburu yang luar biasa cepat, ia melesat maju ke depan, mengabaikan hantaman energi balik dari kristal. Tangan kirinya bergerak cepat menangkap tubuh ramping Mayang sebelum wanita itu menghantam lantai batu yang tajam, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya yang panas.
Sementara tangan kanan Dion yang bebas, bergerak secepat kilat menyambar kembali belati perak yang tergeletak di tanah, lalu menghentakkannya ke atas dengan putaran energi kabut perak yang tajam.
CRASH!
Belati perak itu melesat memotong pergelangan tangan kanan sosok berjubah kelabu hingga putus. Kristal ungu yang masih bergejolak hebat itu terlepas ke udara, sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai altar batu dan hancur berkeping-keping menjadi debu magis yang meledak.
BOOOM!
Ledakan energi dari hancurnya kristal itu melemparkan sosok berjubah kelabu hingga menghantam dinding gua dengan keras, memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Jubah kelabunya robek di sana-sini, menampilkan sosok aslinya yang ternyata adalah seorang pria tua bermata satu dengan wajah yang dipenuhi luka bakar kutukan.
Dion berdiri tegak, memposisikan tubuh besarnya sebagai perisai baja di depan Mayang yang masih terduduk lemas mengumpulkan kesadarannya. Ujung belati perak Dion meneteskan darah hitam, mengarah tepat ke leher pria tua yang kini terbaring tak berdaya di sudut gua.
"Katakan siapa yang mengutusmu ke sini sebelum aku mencincang sisa tubuhmu menjadi makanan serigala hutan," ancam Dion, suaranya sangat rendah, dingin, dan sarat akan kematian yang mutlak.
Pria tua bermata satu itu terbatuk-batuk, memegangi lengannya yang putus dengan wajah yang meringis kesakitan. Namun, bukannya ketakutan, ia justru menyunggingkan senyum ompong yang sangat mengerikan ke arah Dion.
"Kamu pikir... kamu sudah menang, Dion?" bisik pria tua itu dengan suara parau yang tersedat darah. "Aku hanyalah pembuka jalan... Kristal yang kuhancurkan tadi... adalah pemantik yang mengirimkan sinyal koordinat tempat ini ke wilayah Utara Jauh... Tuan Besar dari Sekte Bayangan Darah... kini sudah tahu di mana posisi naga ungunu bersembunyi..."
Pria tua itu tiba-tiba tertawa histeris, lalu dengan sisa kekuatannya, ia menggigit lidahnya sendiri hingga putus, memilih untuk mati bunuh diri di tempat daripada harus membocorkan informasi lebih lanjut ke tangan sang pemburu klan. Tubuhnya seketika menegang sebelum akhirnya terkulai kaku tak bernyawa.
Dion menatap mayat di hadapannya dengan tatapan yang sangat tajam. Informasi tentang Sekte Bayangan Darah seketika membuat atmosfer di dalam gua itu semakin mencekam. Musuh baru yang jauh lebih besar, lebih terorganisir, dan berasal dari luar Lembah Shrouded kini telah resmi mengincar mereka.
Dion buru-buru berbalik, berlutut di samping Mayang, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan wanitanya dengan cermat. "Mayang... kamu bisa mendengarku? Ada yang terluka?"
Mayang membuka matanya perlahan, mengangguk lemah sambil menyentuh pipi tegas Dion yang masih menyisakan sisa pendar sihir ungu. "Aku tidak apa-apa, Dion... Hanya sedikit lemas. Tapi... apa yang dikatakan orang itu tadi... utara jauh... kita tidak akan pernah aman, kan?"
Dion tidak langsung menjawab. Ia menarik tubuh Mayang ke dalam pelukan eratnya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut untuk menyalurkan rasa aman yang mutlak di tengah kegelapan gua. "Selama aku masih bernapas, Mayang... tidak ada satu pun bayangan yang akan kubiarkan menyentuhmu atau Rhea. Kita akan menghadapi mereka bersama."
Namun, tepat ketika mereka berdua bersiap untuk keluar dari gua tersebut, tanah di bawah kaki mereka mendadak bergetar hebat. Sebuah gempa tektonik magis yang berpusat dari arah utara terjauh Lembah Shrouded merambat cepat, meruntuhkan sebagian mulut gua dan menutup total jalan keluar mereka dengan bebatuan raksasa, mengurung Dion dan Mayang di dalam kegelapan total.