Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paginya pengantin baru.
Pagi hari setelah malam pertama yang canggung, Aruni terbangun dengan sinar matahari menyorot langsung ke wajahnya. Dia mengerjap, bingung sejenak. Di mana aku?
Oh. Hotel. Suite pengantin. Honeymoon…yang belum terjadi walaupun Aruni sedikit berharap.
Dia menoleh ke sofa. Kosong. Selimut dilipat rapi. Sena sudah tidak ada di sana.
Aruni mendudukkan dirinya, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Di meja samping ranjang, ada secangkir teh hangat dan selembar kertas.
Sarapan di restoran lantai 2. Jangan lama-lama.
Tulisannya rapi, tegas, tanpa basa-basi. Tipikal Sena.
Aruni tersenyum kecil sambil memegang cangkir teh. Hangatnya menembus telapak tangannya. Demi apa? dia buatin teh untukku.
The hangat masuk ke kerongkongan Aruni, membasahinya yang hampir kering dan juga menghagatkannya. Sama dengan kebaikan Sena yang sudah menghangatkan hati Aruni.
Awalnya Aruni mengira Sena adalah lelaki tegas, judes dan dingin. Karena setiap datang ke rumah untuk menjemput Bianca, wajahnya selalu terlihat kaku, galak dan tak ramah sama sekali. Untung saja dia ganteng, jadi Aruni memaklumi. Orang ganteng biasanya memang banyak tingkah, kan?
Tapi setelah melewati satu hari penuh bersamanya, Aruni baru tau jika Sena tidak sama seperti yang dia bayangkan selama ini. Hatinya baik sekali, walaupun penyampaiannya kurang enak di dengar telinga. But its oke, hati Auni kuat kok. Dia sudah biasa ditempa dengan banyak cacian dan makian, jadi hanya di judesi sedikit –tak ada pengaruhnya buat dirinya.
“Aku harus keluar… tapi pakai apa?” gumam Aruni. Dia celingukan ke akanan kiri.Dan menemukannya. Ada satu stel pakaian yang dilipat rapi di atas buffet tempat TV.
“Sepertinya itu pakaianku!” ucapnya giramg. Dengan cepat Aruni meloncat dari ranjangnya dan mengambil baju yang terlipat rapi itu. Kemeja bahan lembut warna putih, dan celana jeans. Tak lupa ada Bra dan cd sesuai dengan ukurannya.
“Kok dia bisa tau ukuran bra-ku, ya?” gumam Aruni penasaran. Ah! Peduli amat! Aku mau sarapan! Sudah laper banget!” Aruni bergegas menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Lalau menyisir rambut yang awalnya seperti sarang burung. Dia gulung asal lalu dia jepit pakai jedai besar yang tergeletak di dekat wastafel.
Aruni keluar dari kamar suit-nya, berjalan pelan mencari lift. “Tadi di tulis, restoran lantai dua, ya? oke!” Aruni menekan tombol dua dan lift pun mulai berjalan.
Tak lama, sampailah Aruni di restoran. Di sana dia melhatnya. Melihat Mas Sena-nya, suami tercintanya.duduk di meja dekat jendela. Rambutnya sedikit acak-acakkan tapi justru membuatnya terlihat lebih muda, dia memakai kaos lengan pendek warna hitam -kontras sekali dengan kulitnya yang utih bersih, dan celana pendek selutut dan sandal hotel. Biasa saja, tapi enath kenapa di mata Aruni dia terlihat sangat sempurna.
Ahh suami aku, gantengnya MashaAllah.
Dia tampak serius membaca sesuatu di ponselnya yang dia letakkan di sebelah piring.
Aruni pun berjalan cepat –mendekat. "Mas, pagi."
Sena menoleh. Matanya sempat berhenti sebentar di wajah Aruni, lalu kembali ke ponsel. "Pagi. Makanlah."
Sambil tersenyum cerah, Aruni duduk tepat di depan Sena. Pesanan sudah datang: nasi goreng, telur ceplok, jus jeruk, dan semangkuk buah potong. Porsi banyak. Untuk dua orang.
"Mas, dapat baju ini dari mana? Eh, Mas sudah makan?"
Sena menatap Aruni –bingung, “pagi-pagi pertanyaanmu banyak sekali!"
Aruni nyengir malu.
"Tadi keponakanku datang mengantar baju itu untukmu, dan aku belum makan. Sudah puas?”
Aruni nyengir lagi, “Bilangin sama keponakan Mas, makasih banyak ya. Yuk makan dulu, Mas.”
"Tidak lapar."
"Masa sih? Padahal badannya tinggi besar, tapi makannya Cuma seuprit, emang kuat?"
“Kuat apa?” Sena menaikkan sebelah alisnya –menatap tajam ke arah Aruni.
Aruni terdiam, “kuat… kerja seharian dengan makan sedikit…Mas kira apa sih? Mikirnya jorok pasti ya?”
Sena mendesah, lalu kembali focus ke ponselnya lagi "Kamu itu yang pertanyaannya ambigu! Bikin orang salah paham!”
“Aruni, Saya sedang memikirkan sesuatu."
"Apa?"
"Bali."
Aruni mengerjap. "Bali? Maksudnya?"
Sena meletakkan ponselnya. Wajahnya datar tapi matanya menunjukkan kelelahan. "Sebelumnya Saya dan Bianca sudah memesan honeymoon ke Bali. Tiket pesawat, vila tepi pantai, semua sudah dibayar lunas. Totalnya... tidak sedikit."
Aruni terdiam. Honeymoon yang seharusnya untuk Bianca dan Sena.
"Saya sedang berpikir… karena kita tidak mungkin berangkat, Saya akan meminta refaund, dan-"
"Mengapa tidak mungkin?" sela Aruni cepat.
Sena menatapnya. "Apa?"
"Berangkat, Mas. Ke Bali."
"Aruni, itu honeymoon. Untuk pengantin baru. Kita... kita bukan—"
"Tapi kita sudah menikah," potong Aruni pelan. "Di mata hukum dan keluarga, kita suami istri. Kalau tidak berangkat, orang akan curiga. Bukannya Mas sendiri yang bilang semalam? Tidak sopan kalau tidur terpisah di malam pertama? Nah, kalau tidak honeymoon, juga tidak sopan." Aruni tampak sangat bersemangat. Sepertinya dia menginginkan honeymoon ini.
Sena terdiam. Dia tidak menyangka argumennya sendiri akan berbalik menyerang.
"Tapi rasanya konyol sekali. Kita hanya pura-pura, tapi di sana semua fasilitas sebagai pengantin baru tersedia. Bukannya akan terasa tidak nyaman untuk kita…”
Aruni tersenyum tipis. "Aku tahu, Mas. Tapi aku tidak pernah ke Bali sebelumnya." Aruni menatap Sena dnegan tatapan memelas, seperti anak anjing.
"Tidak pernah?"
"Tidak pernah."
Sena mengerutkan kening. "Bagaimana mungkin? Liburan keluarga? Sekolah? Apa pun?"
Aruni menunduk, memotong telur ceploknya agar tidak perlu menatap mata Sena. "Keluargaku dulu... tidak seperti keluarga Kak Bianca. Liburan ke luar kota saja tidak pernah. Keluar rumah saja sering tidak diizinkan."
Ada jeda. Sena tidak langsung menjawab.
Mata Aruni terasa sedikit perih, tapi dia menahannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangis. Jangan lemah di depan Sena.
"Ayahmu?" tanya Sena akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. “Melarang?”
Aruni mengangguk kecil. "Dia... kasar. Tidak suka aku dan Mama keluar rumah. Kalau kami nekat, dia marah. Kadang... memukul."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Aruni menggigit bibir. Kenapa aku cerita begini? Dia pasti kasihan. Aku tidak butuh rasa kasihan.
Tapi Sena tidak mengatakan apapun. Hanya diam. Dan keheningannya terasa... anehnya justru nyaman. Tidak ada pertanyaan menyudutkan. Tidak ada komentar sinis.
Lalu Sena berbicara. "Jadi kamu tidak pernah ke pantai?"
"Hah?"
"Pantai. Kamu pernah lihat laut langsung?"
Aruni menggeleng pelan.
Sena menghela napas panjang. Lalu, tanpa diduga, dia mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol. "Penerbangan jam 2 siang. Kita bisa packing sekarang."
Aruni terbelalak tak percaya. Tapi akhirnya menyeringai bahagia.
“Serius?”
Sena mengedikan bahunya, “proses refaund pasti berbelit-belit, Saya malas, jadi lebih baik pakai saja. Nggak mau?”
Aruni mengangguk mantap lalu buru-buru menghabiskan sarapannya.
“Pelan aja makannya, nggak usah buru-buru,” ingat Sena.
Sena mengangkat gelas jusnya, menyembunyikan senyum kecil di balik gelas itu lalu pura-pura meminumnya. Sayangnya Aruni tidak melihatnya.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭