“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Terima kasih banyak.”
Tulis Elowen di catatannya untuk Cassian. Mereka sudah berada di dalam kamar.
Suasana canggung sebelumnya yang membuat Elowen menulis catatan untuk Cassian. Pria itu langsung mendekat ke arah Elowen.
“Aku tidak mengerti kau berterima kasih soal apa?” jawab Cassian.
Elowen lalu menulis lagi di catatannya.
“Di meja makan tadi, saat kau duduk di sampingku.”
Cassian menarik sudut bibirnya. Ekspresinya menghangat, kenapa juga istrinya berterima kasih soal hal seperti itu. Apa yang dilakukannya tentu akan dilakukan semua suami kan?
Dia hanya melakukan tugasnya untuk tidak mempermalukan istrinya di depan tamu.
Sayangnya sikap sederhana itu ternyata sangat berarti untuk Elowen.
“Kau tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan hal yang harus kulakukan. Sekarang kau perlu istirahat.” Ujar Cassian.
Elowen menahan napas.
Kata-kata beristirahat membuatnya terdiam. Bukan apa-apa, berada di dalam kamar yang sama lagi bersama Cassian membuatnya membeku.
Reflek Elowen menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya yang tiba-tiba muncul.
Cassian baru menyadari sesuatu saat itu juga. Astaga! Apakah dia baru saja menyuruh istrinya itu untuk tidur bersama dengannya.
Dia pun berdehem, membersihkan tenggorokan yang tiba-tiba saja terasa kering.
“Mmm, maksudku jika kau tidak nyaman. Kau bisa istirahat di ranjang, biar aku tidur di kursi panjang.” Cassian menunjuk kursi di dekat jendela.
Elowen menggeleng cepat. Tapi belum sempat ia menulis di catatannya, Cassian sudah mengucapkan hal yang mengejutkan.
“Apa kau keberatan kalau aku menyarankan tidur bersama?”
Cassian merendahkan suaranya. Ekspresinya yang tajam seolah mendambakan sesuatu.
Elowen terkesiap, tangannya berhenti menulis. Kepalanya sontak mendongak menatap Cassian. Mereka saling melihat dalam diam.
Beberapa detik menjadi lebih sunyi.
Suara napas mereka terdengar begitu jelas.
Itu semakin menggoda ketika sang duke hanya menggunakan kemeja dalamnya. Cassian sudah melepaskan jubah panjangnya.
Dia hanya mengenakan pakaian yang lebih santai saat di dalam kamar. Cassian merasa tergoda, entah karena suasana ini atau dia memang mengagumi betapa cantik istrinya.
Tatapan itu semakin dalam. Malam ini Elowen membuat Cassian tidak bisa melepaskan pandangannya.
Wajah putih istrinya itu semakin bercahaya diterpa cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar. Kamar sang duke memang tidak seterang milik Elowen.
Tapi, itu membuat suasana mereka menjadi intens.
Tanpa Cassian sadari, kakinya melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
Tangannya sudah terangkat ke udara, menyentuh rahang lembut Elowen. Telapak tangannya kasar tapi entah kenapa Elowen menikmatinya.
Matanya terpejam. Tidak pernah dia merasakan kenyamanan seperti ini.
Cassian mendekatkan bibirnya ke telinga Elowen. “Bolehkah aku menciummu?” suaranya yang memohon membuat Elowen mengangguk.
Lalu, tanpa menunggu waktu lama. Sang Duke menyentuh bibir Elowen dengan bibirnya. Ciuman itu lembut, memabukkan, membuat candu, dan sangat luar biasa.
Cassian terus memperdalam ciumannya.
Elowen tidak menolak, ini karena dia mengizinkannya. Dia mengizinkan Cassian menyentuhnya. Sentuhan yang lembut dan tanpa paksaan.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya Cassian melepaskan dirinya dari Elowen.
Matanya bergetar melihat wanita yang baru saja dia sentuh. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
Seolah terkejut dengan apa yang dilakukannya. Cassian mundur selangkah sampai menabrak meja rias di belakangnya.
Bunyi bruk membuat Elowen membuka mata.
Ada apa?
Kenapa wajah Cassian terlihat tercengang?
Apa ada ada sesuatu?
Elowen memajukan langkahnya, berusaha memegang tangan Cassian. Tapi pria itu menghindar.
Lalu detik kemudian dia berkata, “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau tidurlah dulu.”
Setelah itu Cassian meninggalkan Elowen yang masih berdiri mematung. Bertanya-tanya dengan sikap Cassian.
Apa pria itu menolaknya? Setelah dia mengijinkan pria itu menyentuhnya. Setelah Elowen siap untuk menyerahkan dirinya lagi.
Kenapa rasanya seperti ada yang sedang menyeret pecahan kaca di hatinya. Perih tapi tidak terlihat.
***
“Apa yang sebenarnya kau lakukan Cassian. Dasar bodoh?!” umpat Cassian saat masuk ke dalam ruang kerjanya.
Pria itu melemparkan dirinya di atas kursi mahogani dengan meja besar dan panjang dengan ukiran khas kerajaan Arvendale.
Cassian sedang merutuki dirinya karena hampir meniduri Elowen lagi. Meski kali ini mungkin tidak separah sebelumnya.
Dia melihat kalau itu bukan nafsu sepihak. Elowen menginginkannya juga. Walaupun dia tidak tahu kenapa alasan Elowen menginginkan hal itu.
“Tidak mungkin dia jatuh cinta padaku. Kalau pun dia mulai jatuh cinta. Itu bukan hal yang bisa diteruskan.”
Bagaimanapun Cassian tidak mau hubungannya dengan Elowen semakin jauh. Tidak ada hubungan intim karena Cassian tidak ingin memiliki keturunan.
Ini bukan soal perjanjian Cassian dan ibunya. Tapi karena Cassian bertekad tidak ingin mewariskan gelar Duke.
Satu-satunya balas dendam yang ingin Duke berikan pada keluarganya adalah jabatan Duke akan berakhir di dirinya.
“Aku harus menahannya. Aku tidak boleh menyentuh, meniduri, atau membuat Elowen hamil.”
Cassian sudah bertekad soal hal itu.
Dia sudah membuat satu pemberontakan. Menikah dengan wanita yang penuh kekurangan dan dari keluarga yang jauh statusnya dengan dirinya.
“Maafkan aku Elowen. Kau harus terseret dalam hal ini.” Cassian menggumam sendiri di meja kerjanya.
Kedua tangannya menopang dagu, matanya lurus melihat lukisan mendiang ayahnya, Duke Adam James Arthur.
Tatapan yang membara dan penuh dendam.
“Lihatlah ayah, aku tidak akan pernah memberikan apa yang kau inginkan. Kau suka wanita sempurna, aku akan memberikan sebaliknya. Kau suka dengan jabatan ini, aku yang akan mengakhirinya. Lihatlah di atas sana dengan murka. Karena saat aku bertemu denganmu nanti… aku akan bilang kau sudah kalah. Aku yang menang.”
Tidak ada yang tahu betapa bencinya sang duke dengan ayahnya sendiri.
Selama ini Cassian menyimpan dendam yang amat besar dengan pria gagah dalam lukisan yang ada di ruang kerja miliknya.
Elowen bangun di pagi di ranjang kamar Cassian sendiri. Pria itu tidak masuk ke dalam kamarnya lagi setelah dia pergi ke ruang lain dengan alasan pekerjaan.
Penolakan itu membuat Elowen kembali sedih.
Cassian selalu bersikap seperti itu.
Cassian bisa terlihat sangat mencintainya, membela, dan memilihnya. Tapi di waktu lain dia akan bersikap sebaliknya. Dingin, dan penuh penolakan.
“Aku tidak pernah tahu hatimu, Duke. Apa kau mencintaiku atau sebaliknya?” gumam Elowen dalam hati sambil melihat ke jendela.
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer