Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam di Atas Mata Pisau
Malam turun di Kastil Blackiron dengan berat yang tidak wajar.
Biasanya, setelah Festival Titik Balik Matahari, sisa-sisa kehangatan dan semangat masih akan terasa mengambang di udara selama beberapa hari. Namun, kedatangan Vespera Blackwood telah menyedot semua itu keluar, seperti jendela yang pecah di tengah badai, membiarkan kebekuan masuk kembali dan mencekik setiap lorong.
Elara berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Pantulannya menatap balik dengan wajah pucat namun mata yang nyalang.
Malam ini adalah makan malam resmi penyambutan tamu. Vespera menuntutnya. Wanita itu tidak sudi makan di ruang makan pribadi yang intim di Sayap Timur. Dia meminta, dengan nada manis yang penuh bisa, agar makan malam disajikan di Ruang Perjamuan Formal—ruangan yang sudah tidak digunakan sejak pemakaman orang tua Kaelen.
"Tarik lebih kencang, Martha," perintah Elara pelan.
Di belakangnya, Martha mengeratkan tali korset gaun Elara. Kali ini, Elara tidak memilih gaun berwarna lembut atau cerah. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru malam yang gelap, hampir hitam, dengan sulaman perak tajam di leher dan lengan. Itu adalah baju zirah dalam bentuk kain. Ia harus terlihat seperti Nyonya Rumah yang tidak tersentuh, bukan gadis desa yang intimidasi oleh tamu kota.
"Nyonya," bisik Martha, tangannya merapikan rok gaun itu dengan cemas. "Dapur... suasananya buruk. Pelayan pribadi Lady Vespera masuk ke sana tadi sore, mengkritik semua bumbu, membuang sup yang sudah saya buat karena katanya 'terlalu amis untuk lidah bangsawan'. Dia memerintahkan menu baru."
Elara berbalik, menatap Martha. "Dan kau membiarkannya?"
Martha menunduk, wajahnya memerah karena marah dan malu. "Dia membawa nama Keluarga Blackwood, Nyonya. Dan dia bilang Tuan Kaelen tidak akan keberatan karena itu menu favorit Lady Lyra."
Nama itu lagi. Kartu as yang selalu dimainkan Vespera untuk melumpuhkan seisi kastil.
"Biarkan dia memakan apa yang dia mau," kata Elara dingin. "Tapi pastikan piringku dan piring Tuan Duke diisi dengan masakanmu, Martha. Aku tidak sudi memakan nostalgia basi."
Martha mengangguk, sedikit lega melihat ketegasan nyonyanya. "Baik, Nyonya."
Elara menarik napas panjang, memasang anting perak warisan ibunya, lalu berjalan keluar kamar. Langkahnya bergema di koridor batu yang sepi. Ia bukan berjalan menuju pesta makan malam; ia berjalan menuju eksekusi.
Ruang Perjamuan Formal adalah definisi dari kemegahan yang suram.
Langit-langitnya tinggi, hilang dalam kegelapan di atas sana. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu ek hitam yang diukir dengan adegan perburuan kuno. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang yang bisa menampung lima puluh orang terbentang seperti jalan raya kayu yang mengkilap.
Lilin-lilin dinyalakan, namun cahayanya seolah ditelan oleh kegelapan ruangan.
Vespera sudah duduk di sana. Dia memilih kursi di sisi kanan kepala meja—posisi tamu kehormatan, atau dalam beberapa tradisi, posisi nyonya rumah kedua. Dia mengenakan gaun merah darah yang mencolok, kontras dengan gaun berkabung hitamnya tadi pagi. Di lehernya melingkar kalung berlian yang berkilauan tajam.
Kaelen duduk di kepala meja. Dia mengenakan pakaian formal hitamnya, namun dia terlihat seperti tahanan yang sedang menunggu vonis. Wajahnya kosong, matanya menatap gelas anggur di depannya tanpa benar-benar melihatnya. Tangan kanannya terkepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih.
Saat Elara masuk, Silas menarik kursi di seberang Vespera—di sisi kiri Kaelen.
"Selamat malam," sapa Elara, suaranya datar. Ia duduk dengan anggun, mengabaikan tatapan Vespera yang menelanjanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau terlambat dua menit," komentar Vespera sambil tersenyum miring. Ia memutar gelas anggurnya perlahan. "Lyra tidak pernah terlambat. Dia selalu menghargai waktu Kaelen."
Serangan pertama, diluncurkan bahkan sebelum serbet dibuka.
"Aku sibuk mengurus rumah tangga," balas Elara tenang, membuka serbetnya dan meletakkannya di pangkuan. "Sesuatu yang mungkin tidak perlu dikhawatirkan oleh seorang tamu."
Mata Vespera menyipit sedikit. "Rumah tangga," cemoohnya. "Kau menyebut benteng batu ini rumah tangga? Tempat ini lebih mirip mausoleum. Dingin. Sepi. Tanpa jiwa."
Vespera menoleh pada Kaelen, suaranya berubah menjadi nada yang menyakitkan hati, lembut dan penuh manipulasi. "Ingat tidak, Kaelen? Dulu kau berjanji akan merenovasi tempat ini untuk Lyra. Kau bilang kau akan mengganti jendela-jendela sempit ini dengan kaca lebar supaya dia bisa melihat matahari terbit. Kau bilang kau akan menanam taman mawar di sepanjang dinding timur."
Kaelen tidak bergerak. Dia tidak menjawab. Hanya otot di rahangnya yang berkedut, satu-satunya tanda bahwa dia mendengar setiap kata itu.
"Janji itu mati bersamanya," kata Kaelen akhirnya, suaranya serak dan rendah.
"Janji itu tidak mati," Vespera mendesah dramatis. "Janji itu hanya... tertunda. Aku masih menyimpannya, Kaelen. Di dalam surat-surat yang kau kirim padanya. Aku membacanya setiap malam."
Elara merasakan mual di perutnya. Vespera tidak hanya membawa kenangan; dia membawa bukti fisik cinta masa lalu Kaelen untuk menyiksa pria itu di depan istri barunya.
Pelayan mulai menyajikan makanan.
Di depan Vespera, tersaji hidangan burung puyuh panggang dengan saus anggur—menu yang rumit dan halus.