NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Taruhan Nyawa

​Raungan mesin jip militer memecah keheningan jalanan kota dengan sangat liar dan brutal. Radit mencengkeram kemudi dengan satu tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar, sementara tangan kirinya menggenggam erat telapak tangan Vina yang terkulai lemas di kursi penumpang.

Kepala Vina tersandat lemah dan terombang-ambing pada bahu tegap Radit, dengan sisa-sisa darah segar yang terus merembes dari sudut bibirnya yang mulai membiru.

​"Vina! Kumohon bertahanlah! Buka matamu, Sayang!" teriak Radit dengan suara parau dan pecah. Ia melirik sekilas ke arah wajah istrinya yang kian memucat bak kertas tanpa nyawa.

​Jip itu melesat zigzag, menyalip kendaraan lain dengan ugal-ugalan dan menerobos lampu merah tanpa memedulikan klakson yang bersahutan dari kendaraan lain. Radit benar-benar kehilangan kendali atas ketenangannya sebagai seorang perwira.

​"Sialan! Kenapa jalanan ini macet sekali?!" umpat Radit keras-keras, memukul kemudi dengan tangan kanannya hingga menimbulkan bunyi klakson panjang yang memekakkan telinga.

​Ia kembali menggenggam tangan Vina, membawanya ke depan bibirnya, mengecupi punggung tangan yang terasa sedingin es itu berkali-kali dengan air mata yang mulai meluncur deras membasahi pipinya sendiri.

​"Vina, jangan lakukan ini padaku... aku mohon. Kamu dengar aku, kan?! Vina, bicaralah! Bentak aku, marahi aku karena aku keras kepala tadi, tapi tolong jangan diam seperti ini!" ratih Radit, suaranya tercekat di tenggorokan oleh rasa sesak yang luar biasa menahan tangis.

​Penyesalan yang teramat sangat kini menghantam dada Radit bagai godam besar yang menghancurkan seluruh egonya. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang sempat menolak memercayai kata-kata Ica di kamar tadi.

Jika saja ia langsung mendengarkan penjelasan Vina tentang sup ayam itu, jika saja ia tidak membiarkan harga diri dan emosinya membutakan akal sehatnya, Vina tidak akan pernah nekat menelan racun itu demi membuktikan dirinya tidak bersalah.

​"Maafkan aku, Vina... maafkan aku. Bertahanlah sedikit lagi, rumah sakit sudah dekat. Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi setelah ini. Vina, bernapaslah!" pinta Radit setengah histeris saat merasakan napas Vina di bahunya semakin lama semakin tipis dan melemah.

​CIIIIEEETTT!

​Ban jip militer itu berdecit sangat keras dan berasap saat Radit menginjak rem secara mendadak tepat di depan pintu lobi IGD Rumah Sakit Militer. Tanpa sempat mematikan mesin mobil yang masih menderu, Radit melompat keluar, memutari kap mobil dan langsung menyambar tubuh ringkih Vina ke dalam gendongan bridal style-nya. Ia menerobos pintu kaca rumah sakit dengan tendangan kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya.

​"DOKTER! SUSTER! MANA DOKTER?! TOLONG ISTRI SAYA! CEPAT!" teriak Radit menggelegar, memenuhi seisi selasar rumah sakit dan membuat para petugas medis berlarian panik membawa brankar dorong.

​"Letakkan di sini, Pak! Tenang, Pak, apa yang terjadi pada pasien?!" tanya dokter jaga dengan sigap saat tubuh Vina dibaringkan di atas ranjang dorong.

​"Dia... dia menelan racun. Seseorang meracuni makanannya di rumah dan dia langsung memuntahkan darah!" jawab Radit dengan napas terengah-engah, kedua tangannya berlumuran noda darah segar yang berasal dari mulut Vina.

​"Cepat siapkan alat pompa lambung dan injeksi anti-toksin! Pasang ventilator sekarang!" perintah dokter itu tegas kepada para suster, sebelum akhirnya berbalik dan menahan dada Radit yang hendak ikut masuk. "Maaf, Tuan, Anda harus menunggu di luar. Kami akan melakukan tindakan darurat secepat mungkin."

​Pintu ruang tindakan ditutup dan dikunci rapat dari dalam. Radit melangkah mundur beberapa langkah dengan seluruh persendian yang mendadak terasa lemas.

Ia menyandarkan punggung tegapnya pada dinding lorong, lalu perlahan merosot hingga duduk berlutut di lantai marmer yang dingin. Kedua telapak tangannya yang bernoda darah Vina ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang kini basah dan tergugu oleh air mata penyesalan yang teramat dalam.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Di dalam mansion Laksmana telah berubah total menjadi layaknya sebuah penjara bawah tanah yang mencekam. Seluruh pintu dan jendela jati berukuran besar telah dikunci dan dipalang rapat dari luar oleh para penjaga gerbang atas perintah langsung.

​Di aula utama bawah yang luas dan dingin, puluhan pelayan—mulai dari tukang kebun, juru masak, hingga para pelayan dalam—berdiri berbaris rapi dengan tubuh gemetar hebat dan kepala menunduk dalam. Tidak ada yang berani bersuara. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang terasa mencekik leher.

​Di ujung aula, Nyonya Besar Laksmana duduk dengan anggun namun mematikan di atas kursi kebesarannya. Wajahnya yang pucat karena sakit kini digantikan oleh sorot mata singa betina yang murka.

Di samping kanannya, Bi Asih berdiri tegas sambil memegang baki perak berisi pecahan mangkuk dan sisa makanan beracun yang mulai mengeluarkan bau asam kimia menyengat.

​"Siapa..." Suara Nyonya Besar terdengar rendah dan pelan, namun gema suaranya sanggup membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri.

​Nyonya Besar berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah perlahan mendekati barisan para pelayan. Ketukan ujung selopnya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi siapa pun pelakunya.

​"Siapa di antara kalian yang merasa nyawanya sudah terlalu banyak, sampai berani memasukkan racun ke dalam makanan di rumahku, hah?!" bentak Nyonya Besar tiba-tiba, suaranya menggelegar penuh amarah yang menuntut jawaban.

​Seluruh pelayan tersentak mundur, beberapa di antaranya mulai terisak ketakutan. Bi Kepala Pelayan yang berdiri di barisan paling depan mencoba memberanikan diri untuk angkat bicara dengan suara gemetar. "N-Nyonya Besar... mohon ampun. Tapi di dapur tadi yang memegang makanan dan memasak hanya Vina dan Ica. Kami semua tidak ada yang berani mendekati kompor..."

​Nyonya Besar menghentikan langkahnya tepat di depan Bi Kepala Pelayan. Matanya menyipit tajam penuh intimidasi. "Kau menuduh menantuku meracuni suaminya sendiri? Atau kau mau menuduh dia mencoba membunuhku setelah dia berlutut dan memuntahkan darah di depanku demi membuktikan kebenaran?!"

​"B-Bukan begitu, Nyonya... tapi—"

​"Ica, maju!" potong Nyonya Besar dengan nada dingin yang mutlak.

​Ica yang sejak tadi menangis langsung melangkah keluar dari barisan dengan tubuh gemetar, berlutut di lantai tepat di depan kaki Nyonya Besar. "I-Iya, Nyonya Besar..."

​"Katakan padaku, dengan jelas dan jangan ada yang kau tutupi satu huruf pun. Apa yang kau lihat di dapur bawah tadi sebelum peristiwa ini terjadi?" perintah Nyonya Besar, matanya melirik ke arah seluruh pelayan, memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi wajah mereka satu per satu.

​"Tadi... saat Nyonya Vina pergi ke ruang penyimpanan belakang, saya sedang mencuci tangan di wastafel, Nyonya," ucap Ica terbata-bata sambil menghapus air matanya yang terus mengalir. "Saat saya berbalik, saya melihat siluet punggung seorang pelayan yang memakai baju dan celemek hitam. Tangannya memegang botol kaca kecil dan menuangkan cairan bening ke dalam panci sup Tuan Muda dan panci masakan untuk Nyonya Besar! Saat saya teriaki, orang itu langsung berbalik dan kabur lewat pintu belakang yang tembus ke lorong jemuran!"

​Mendengar kesaksian Ica yang begitu detail, Bi Kepala Pelayan langsung memotong dengan nada ketus dan keras, mencoba membalikkan keadaan dan memojokkan Ica. "Nyonya Besar, jangan langsung percaya pada anak ini! Dia itu sekongkolan Vina sejak awal! Bisa saja ini semua hanya akal-akalan dan sandiwara mereka berdua untuk membuat drama agar dimaafkan dan dikasihani oleh Nyonya!"

​"Diam kau! Jangan berani memotong pembicaraanku lagi!" bentak Nyonya Besar, membuat Bi Kepala Pelayan seketika bungkam dengan wajah pias dan ketakutan. Nyonya Besar kembali menatap ke arah Ica yang masih berlutut. "Apa kau mengenali wajahnya, Ica? Atau ada ciri fisik tertentu yang kau ingat dari pelakunya?"

​Ica menggeleng cepat dengan panik dan menyatukan kedua telapak tangannya memohon. "M-Mukanya ditutup kain hitam, Nyonya Besar! Tapi... tapi postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan dia memakai seragam pelayan wanita berwarna hitam!"

​Mendengar kata 'seragam pelayan wanita' dan 'postur tubuh tidak terlalu tinggi', beberapa pelayan di barisan belakang mulai saling berbisik dan melirik satu sama lain. Sementara di sudut barisan tengah, seorang pelayan bernama Ika tampak meremas ujung celemeknya dengan sangat erat. Keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya dan matanya bergerak gelisah mencari jalan keluar yang mustahil ada di ruangan terkunci itu.

​Nyonya Besar Laksmana tersenyum dingin, sebuah senyuman penuh dugaan dan ancaman yang mematikan. Ia berbalik dan menatap dua ajudan militer bersenjata yang sejak tadi berjaga di depan pintu utama aula.

​"Kalian berdua, ambil kunci cadangan," perintah Nyonya Besar dengan suara yang teramat tenang namun mengerikan. "Geledah setiap sudut kamar pelayan di mansion ini tanpa terkecuali! Cari botol kaca kecil, kain hitam, dan seragam yang masih basah oleh keringat. Jangan lewatkan satu jengkal pun! Jika kalian menemukannya di kamar siapa pun... seret orang itu ke hadapanku hidup atau mati!"

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!