"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu juga, setelah kesepakatan antara kedua ulama sepuh tercapai, Arash langsung dibawa pergi.
Mereka berjalan membelah kegelapan malam yang kian pekat, meninggalkan area pondok pesantren yang mulai sepi.
Perjalanan ini terasa sangat sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik yang saling bersahutan dan deru angin malam yang menusuk tulang.
Arash berjalan di belakang Kyai Umar yang melangkah dengan ketenangan luar biasa, sementara Kyai Hasan memilih tinggal di pesantren untuk terus mengetuk pintu langit melalui untaian doa dan zikirnya.
Jalur yang mereka tempuh bukanlah jalan setapak biasa.
Arash harus melewati hamparan persawahan yang luas, di mana kabut tipis mulai turun merayap di atas pucuk-pucuk padi.
Setelah itu, mereka menyeberangi jembatan bambu kecil yang melintang di atas sungai berarus deras yang airnya sewarna tinta hitam.
Perjalanan berlanjut semakin masuk ke dalam kekosongan, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pondok kayu kecil yang berdiri terisolasi di tengah lebatnya hutan bambu.
Suasana di sekitar pondok itu benar-benar mencekam.
Pohon-pohon besar menjulang tinggi seolah-olah siap menerkam siapa saja yang berani mengusik ketenangan mereka.
"Eyang, ini kita mau ngapain di sini?" tanya Arash dengan suara yang sedikit bergetar menahan takut.
Berulang kali cowok indigo itu mengusap tengkuknya lambat-lambat.
Bulu kuduknya sudah meremang sempurna sejak mereka menginjakkan kaki di perbatasan hutan tadi.
Dan entah sudah berapa banyak makhluk halus dengan berbagai wujud mengerikan yang dia lihat di sepanjang jalan tadi.
Ada sosok hitam besar bermata merah yang mengintip dari balik pohon beringin, ada barisan pocong yang bergeming di antara sela-sela rumpun bambu, hingga suara tawa melengking samar dari kuntilanak yang seolah sedang menyambut kedatangan mereka.
Tempat ini adalah sarang energi ghaib murni yang belum terjamah peradaban manusia.
Eyang Umar membalikkan badannya perlahan, menatap Arash dengan senyuman teduh yang tak pernah lepas dari wajah sepuhnya.
"Duduklah, Le."
"D—di sini, Eyang?" Arash menunjuk ke arah sebilah batu datar berlumut yang terletak tepat di bawah pancuran air alami yang mengalir dari celah bukit batu di samping pondok.
"Iya. Lepaskan bajumu, pakai sarung saja," perintah Kyai Umar dengan nada yang tenang namun mutlak, tidak menerima bantahan.
Mata Arash langsung membola penuh rasa terkejut.
Malam ini suhunya cukup ekstrem dan dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.
Sekarang, di tengah hutan angker yang gulita begini, dia justru disuruh membuka baju dan duduk bersila di bawah guyuran air mancur kecil?
Yang benar saja! Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan terkena hipotermia atau masuk angin akut esok hari.
"T—tapi Eyang, ini... dingin banget. Apa gak sebaiknya latihannya di dalam pondok aja?" tawar Arash mencoba bernegosiasi, giginya mulai gemertak beradu karena hawa dingin yang menguar dari air pancuran tersebut.
Eyang Umar kembali tersenyum misterius, tatapan matanya mengunci sepasang mata Arash.
"Bismillah, Le. Ayo cepat, jangan buang-buang waktu malammu."
Arash menghela napas berat, menyadari bahwa tidak ada jalan pulang atau celah untuk menghindar dari takdir ini.
Mengingat kembali pesan Mami Kayla dan Papinya di dalam mimpinya untuk menjadi laki-laki yang kuat dan tidak gampang tumbang, Arash memantapkan hatinya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena hawa dingin, dia melepas baju koko putihnya dan meletakkan peci hitamnya di atas sebuah batu kering.
Kini, dia hanya mengenakan kain sarung yang diikat kuat-kuat di pinggangnya.
Arash melangkah maju, lalu mendudukkan tubuh fisiknya dengan posisi bersila di atas batu datar yang basah, tepat di bawah kucuran air dingin yang langsung membasahi rambut dan punggung telanjangnya.
Rasa dingin yang luar biasa seketika menyengat saraf-saraf tubuhnya, membuat Arash refleks tersedak napas.
"Bacalah zikir selama yang kamu bisa, Le. Tunggu sampai fajar menyingsing di ufuk timur. Kamu harus bisa menahan diri, menahan godaan, menahan rasa takut, dan menahan segala tipu daya yang akan mendekatimu malam ini. Jika kamu berhasil melewati malam ini dengan hati yang tetap terpaut pada Allah, insyaallah kamu lulus," jelas Kyai Umar sembari melangkah mundur beberapa tapak.
"Lulus?" gumam Arash di sela-sela deru suara air.
"Jika nanti di tengah malam kamu merasa sudah tidak sanggup lagi menahannya, kamu bisa bangkit dan masuk ke dalam pondok kecil itu. Di dalam sana sangat aman, Eyang sudah memagarinya dengan ayat-ayat pelindung. Besok pagi, saya dan Eyangmu yang akan datang ke sini untuk menjemput kamu kembali," imbuh Kyai Umar lagi.
Arash mengangguk paham, namun sedetik kemudian dia menyadari sesuatu yang janggal dari kalimat sang ulama sepuh.
"Loh... ini maksudnya, saya ditinggal di sini sendirian, Eyang?"
Kyai Umar tidak menjawab pertanyaan Arash dengan kata-kata.
Beliau hanya memberikan satu senyuman sarat arti yang sangat dalam, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah pergi, berjalan menembus kegelapan hutan bambu dengan sangat cepat hingga bayangan putih jubahnya menghilang dalam sekejap mata.
Kini, tinggallah Arash sendirian di tengah kegelapan hutan yang mencekam. Suara gemercik air pancuran di punggungnya terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulitnya.
‘Ya Allah, gini amat yah ujian nya.’
Arash menatap sekitar, semakin seram membuat bulu kuduknya berdiri.
‘Tahu gini, tadi aku bawa Lala. Haduh, tu anak besok ngereog deh pasti, karena aku gak pulang malam ini,’
Menghela napas berat, Arash memejamkan mata rapat-rapat, mengatur ritme napasnya yang memburu karena dingin.
Dia mulai menggerakkan bibirnya, melantunkan kalimat zikir, 'Ya Hayyu Ya Qayyum... Ya Hayyu Ya Qayyum...' di dalam hati dengan penuh penekanan spiritual.
Baru saja zikir itu berjalan beberapa putaran, atmosfer di sekeliling pondok mendadak berubah drastis.
Angin bertiup kencang, menggoyang rumpun bambu hingga mengeluarkan suara derit yang memilukan.
Sinyal radar indigo di dalam diri Arash bergetar hebat pada skala maksimal.
Dari balik kegelapan semak-semak, puluhan pasang mata ghaib berwarna merah darah dan kuning menyala mulai bermunculan satu per satu, mengunci pandangan mereka pada tubuh telanjang dada Arash yang sedang bersila.
Ujian ghaib yang sesungguhnya untuk menguji kelayakan Arash sebagai pewaris ilmu hikmah sejati telah resmi dimulai.
Wuusshhh ….
‘Astagfirullah al adzim,’
kmu pasti bisa
apa lg kedua orangtua kmu sudah berpesan waktu itu dgn kemampuan kmu sbg anak indigo bisa membantu oranglain yg membutuhkan
mungkin sipocong meninggalnya juga disekolah..atau lbh mirip kayak lala jd korban juga
krn Arash gak bisa nepatin janji😁😁
semoga kamu ns melewati mlm in dengan sempurna.
nikmati aj rash semoga kamu lulus.
gak pa pa gak bawa Lala dr pada ntar ia betah dstu gegara bnyak teman nya, ya kan 😁