NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Keputusan Yang Berat

"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kalian." Raisa terlihat pasrah dengan keputusan papa dan mama ibu tirinya.

Raisa Lestari Baskara, putri pertama Ardi Baskara yang akan di nikahkan dengan seorang pengusaha.

Meski sudah berulang kali menolak dan menentang keputusan mereka. Keduanya tetap bersikeras menikahkan Raisa, dengan pria yang sama sekali ia tidak cintai.

"Bagus, itu artinya kamu sudah setuju dengan keputusan yang kami ambil untukmu." Ibu tiri Raisa, terlihat sangat bahagia tanpa menyembunyikan ekspresi wajahnya di depan suaminya, Raisa dan putri kandungnya Indri.

Sedangkan Ardi dan Indri, tidak terlihat bahagia dengan keputusan Raisa, meski perasaan Ardi merasa lega dengan keputusan putrinya, akan tetapi jauh di dalam hatinya ia tak merasa tenang. Bagaimana bisa ia sebagai ayah menyerahkan putri kandungnya sendiri kepada orang yang menurutnya berhati dingin.

Begitupun dengan Indri, meskipun ia menolak perjodohan itu, tapi bukan berarti kakak perempuannya yang harus menikah dengan pria itu. Meski bukan saudara se ibu, Indri tetap sangat menyayangi Raisa saudari perempuannya.

"Raisa, kamu bisa memikirkan lagi keputusanmu!" Ardi, hanya tak sanggup melepaskan putrinya kepada pria lain yang belum putrinya cintai.

"Lalu apa Pah, apa kita punya jalan lain agar pernikahan ini tidak terjadi?" Setelah mengatakan itu Raisa berlari menaiki tangga meninggalkan mereka yang masih menatap kepergiannya.

"Mah, Pah?" Panggil Indri. "Bagaimana bisa kita membiarkan kak Raisa, menikahi pria itu?" Ia hanya berharap bahwa ada solusi lain yang bisa mereka lakukan tanpa adanya pernikahan gila itu.

"Kamu ini bicara apa? Sana kembali ke kamarmu" Marla sangat kesal dengan putrinya itu, sudah bagus Raisa menerima keputusannya, ia malah ingin mengacaukan segalanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut-nya tidak perlu ia tanyakan.

Saat Raisa tiba di kamarnya ia langsung mengunci pintu kamarnya, ia hanya ingin tenang tanpa ada gangguan dari luar. Berjalan perlahan menuju ranjangnya lalu menjatuhkan bokongnya di atas kasur empuk miliknya.

Tiba-tiba air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh mengaliri pipinya. Dunianya terasa hancur dan berantakan dengan keputusannya barusan. Saat melirik ke atas nakas Raisa melihat foto ibu kandungnya yang sedang tersenyum. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena menangis, Raisa mengambil foto ibunya.

"Mah, seandainya Mama ada di sini semua ini tidak akan terjadi kepada Raisa hiks hiks. Papa tega sama Raisa." Suara tangisan dan tubuh yang gemetar karena menangis Raisa mengadu kepada ibunya sambil memeluk fotonya.

"Setelah pernikahan itu, apakah Raisa akan bahagia Mah? Aku tahu setelah semua ini kehidupan Raisa akan berubah total." Kini ia tak lagi menangis melaingkan pandangannya terasa kosong hingga akhirnya terlelap.

Entah berapa lama ia tertidur, saat terbangun ia mendengar suara keributan dari lantai bawah, dengan malas ia berusaha bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamarnya untuk mengintip. Di ruang tamu ia bisa melihat dari lantai dua banyak pria di sana dan salah satu dari mereka duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya sambil bersandar, bisa Raisa tebak kalau dia adalah bos dari semua pria itu dan juga pria yang akan menikah dengannya.

Disana juga tampak Ardi berdiri di depan pria angkuh itu sambil merapatkan kedua telapak tangannya memohon bekas kasihan. "Saya mohon Tuan, saya akan melakukan apa saja untuk membayar Anda, agar putri saya tidak menikah dengan Tuan!" Raisa dari atas bisa mendengar dan melihat Ardi perlahan menjatuhkan dirinya di atas karpet untuk bersujud di hadapan pria itu.

"Papa...?" Raisa berteriak dari atas.

Suara itu membuat semua orang dari lantai bawah segera melihat ke atas, termaksud pria itu, lalu mata Raisa dan pria itu bertemu sebentar walau hanya sebentar. Raisa segera berlari turun menghampiri Ardi yang masih bersujud. "Pah, ayo bangun. Papa tidak perlu melakukan ini. Raisa sudah bilang kan kalau aku akan menikah dengannya." Sambil melirik pria yang duduk di kursi sekilas.

Pria itu tampan dan juga menawan akan tetapi auranya terlalu dingin hingga membuat Raisa bergidik ngeri, itulah yang di rasakan Raisa kesan pertama pada calon suaminya.

"Bagus jika kamu setuju, karena aku tidak berniat memberikan waktu lagi untuk ayahmu membayar semua utangnya." Ucap pria itu dengan aura dinginnya. "sudah terlalu banyak waktu yang kamu habiskan" Ucapnya lagi menatap Ardi. Pria itu lalu berdiri dan menatap Raisa. "Nanti malam sopir akan datang menjemputmu. Kita akan pergi mempersiapkan baju pernikahan kita." Lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari calon istrinya.

Di dalam mobil menuju kediamannya pria itu mengobrol dengan asistennya. "Apa kamu sudah cari tahu?"

"Iya Tuan, nama gadis itu adalah Raisa Lestari, umurnya baru sekitar 25 tahun dan baru menyelesaikan kuliahnya, ibunya meninggal ketika ia baru berusia tiga tahun." Jelasnya menjawab sang Tuan.

"Lalu yang tadi adalah ibu tirinya?" Tanyanya sambil menyunggingkan senyumnya.

"Betul Tuan."

"Pantas saja, dia menyerahkan anak pertamanya yang ternyata bukan anak kandungnya."

Tak lama kendaraan yang mereka tumpangi tiba di sebuah rumah mewah. Rumah itu terlihat sangat besar dan mewah, banyak para pelayan yang mondar-mandir mengurus rumah dan pekerjaan lainnya.

Pria itu bernama Senopati Aditama. Ia seorang pengusaha besar, bisa di bilang Senopati salah satu pengusaha terbesar di negara itu. Keluarganya memiliki banyak bidang usaha yang di wariskan kepadanya sebagai anak tunggal setelah kedua orang tuanya meninggal. Senopati adalah pria berhati dingin, karena kebahagian baginya selalu hilang di saat ia merasakan kebahagian itu. Ia baru berusia 28 tahun, dan memimpin perusahaan keluarganya di usia 24 tahun, itu usia yang sangat mudah akan tetapi tidak ada pilihan lain saat itu mau tidak mau ia harus mengambil keputusan, itu karena kedua orang tuanya telah tiada.

"Tuan, malam ini anda ingin makan malam apa?" Kepala pelayanan yang biasa mengurus semua keperluan Senopati di rumah masuk menghampiri pria itu lalu bertanya. "Jika ada yang ingin Tuan, makan saya akan menyiapkan segera?"

"Itu tidak perlu Bi Lastri, aku akan makan di luar bersama calon pengantin wanitaku."

"Sungguh, Bibi berharap kamu bisa menjalani rumah tangga dengan baik setelah kalian menikah." Harapan Bi Lastri hanya sederhana ingin melihat anak majikannya hidup bahagia, selama ini ia sudah menyaksikan Senopati tumbuh dengan kurangnya perhatian dan kasih sayang.

Semasa kedua orang tuanya hidup mereka hanya sibuk pada pekerjaan dan bisnis mereka, sangat jarang mereka pulang kerumah, disaat mereka pulang terkadang Senopati tertidur atau tidak ada di rumah sehingga pertemuan itu jarang terjadi.

"Aku tidak bisa berharap lebih Bi Lastri" Wajahnya terlihat sendu.

"Kenapa Tuan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!