Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.
Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.
Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.
Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.
Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.
Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.
Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.
Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Mulai Gengsi
Siang itu pantry cukup penuh. Tapi mata Ahsan langsung tertuju pada atasannya yang berdiri di depan dispenser. Alvero mengisi air putih ke tumbler besarnya.
"Buat stok ya, Pak." Kata Ahsan basa-basi.
Alvero menoleh singkat. "Iya, biar nggak bulak-balik."
Ahsan hanya manggut-manggut.
Setelah tumbler terisi penuh, Alvero berbalik menghadap Ahsan.
"San, Regan sudah pulang?"
"Sudah, Pak. Baru aja saya ketemu di kantin."
"Gimana hasilnya? Dia bilang?" Tanya Alvero, rasa penasaran seolah terus mendorong untuk mencari tahu.
"Gagal, Pak. Lagian Pak Predy emang licin. Jangankan Regan yang baru belajar. Orang-orang berpengalaman aja pada gak berhasil narik dia."
Alvero mengangguk tipis. Ia mematung lama di sana, berpikir untuk mengajak ngobrol Regan. Tapi bagaimana caranya, rasanya Alvero sudah mulai gengsi untuk menghubungi Regan, kalau bukan soal kerjaan.
Setelah memutar otak, dan mencoba melawan gengsinya. Ia menemukan satu cara.
"Ahsan, saya butuh bantuan kamu," mata Alvero mengintari sekitar. Seperti takut ada yang menguping rencana kecilnya.
Alis Ahsan mengernyit. "Bantuan apa?"
Alvero sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Ahsan. "Kamu balik lagi ke kantin, cerita ke Regan kalau saya nggak sempet makan siang. Dan bilang maag saya kambuh."
Ahsan refleks nyengir lebar. Tapi saat Alvero kembali menatapnya, ia cepat-cepat mengatupkan mulutnya.
"Ba-baik, Pak. Saya kesana sekarang, ya. Itung-itung sambil nunggu pantry kosong."
"Terima kasih, ya."
Ahsan hanya mengangguk. Ia melangkah keluar dari pantry. Tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Tidak butuh waktu lama, Ahsan sudah tiba di cafetaria. Bahkan, ia sudah duduk berhadapan dengan Regan.
"Kamu makan sendirian?" Tanya Ahsan.
Regan mengangguk sambil mengunyah.
"Kenapa nggak bareng Pak Al?" Tanyanya lagi, ia seperti orang bodoh. Padahal Ahsan tidak tahu kapan terakhir Regan dan Alvero makan bareng di cafetaria.
Regan hanya menggeleng. Ia tidak menjawab semua pertanyaan Ahsan.
Sampai akhirnya Ahsan menghela napas. "Pak Al sibuk, dia nggak sempat makan siang. Terakhir saya ke ruangannya... katanya maag dia kambuh."
Regan langsung menelan makanannya. Matanya sedikit membulat. "Kok bisa sampai maagnya kambuh?" Suara Regan naik satu oktaf.
Ahsan menggeleng cepat. "Saya nggak tahu."
Tidak ada jawaban lagi dari Regan, kali ini gerakan makannya sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Ahsan segera bangun dari duduknya. "Saya mau ke pantry dulu. Mau bikin kopi." Katanya sebelum pergi.
Setelah beberapa saat, makanan di depan Regan sudah habis. Regan membawa tempat makan kotor itu ke tempat yang sudah tersedia. Lalu mendekati meja yang di penuhi kotak makanan.
Regan mengambil makanan berat satu, puding, dan salad buah.
Langkahnya lebar saat ia keluar dari cafetaria. Tangannya penuh oleh kotak makanan yang ia bawa.
Di lantai dua puluh lima, lift baru saja tiba. Saat pintu terbuka, Regan segera keluar.
Langkah kakinya berhenti di depan pintu, ia berdiri di sana, lalu mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" Samar suara Alvero kini terdengar.
Regan memutar gagang pintu. Saat pintu terbuka, Alvero sedang duduk di kursi kerjanya. Wajahnya fokus di hadapan laptop.
"Siang, Pak Al. Saya dengar Bapak tidak sempat makan siang. Jadi saya bawakan." Regan menyimpan beberapa kotak makan itu di meja kaca.
Jemari Alvero langsung berhenti mengetik. "Terima kasih atas perhatiannya, Regan."
"Jangan sampai maagnya kambuh lagi. Sempatkan waktu untuk menjaga pola makan." Regan diam sebentar.
"Saya langsung undur diri." Kata Regan sambil mendekati pintu.
"Regan." Alvero cepat-cepat memanggilnya. Sebelum Regan benar-benar keluar dari ruangannya.
Tubuh Regan berbalik menatap Alvero. "Ada apa?" Tanyanya dengan alis mengernyit.
"Saya dengar kamu persentasi hari ini? Bagaimana hasilnya?" Tanya Alvero, ia pura-pura tidak tahu. Bukan untuk sekedar basa-basi, tapi juga untuk menahan Regan agar tidak cepat-cepat pergi.
Regan tidak langsung menjawab, ia diam beberapa saat. "Gagal," jawabnya singkat.
Alvero tersenyum tipis. Ia bangun dari duduknya, lalu mendekati Regan. Saat ia sudah berdiri di hadapan Regan, Alvero menepuk bahunya. "Tidak apa-apa, masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Masih ada waktu juga buat terus belajar."
Tatapan Regan kini lurus ke wajah Alvero. Ia nyengir kecil. "Iya," jawabnya singkat.
"Regan, Zio nanyainmu."
Senyum Regan langsung muncul. "Kalau Pak Al mengijinkan, besok sore saya ke rumah."
"Datanglah," jawab Alvero.
Keheningan kini menggantung diantara mereka. Hanya menyisakan sisa aroma kopi yang sudah dingin.
"Regan, ayok makan." Suara Alvero memecah keheningan itu.
Regan menggeleng pelan. "Saya sudah makan. Pak Al, saya permisi. Masih ada beberapa berkas yang harus saya pelajari." Ia berbalik membuka pintu, lalu keluar.
Alvero masih terpaku di tempatnya. Ruangan itu sekarang terasa jauh lebih luas. Matanya masih menatap lurus ke pintu yang sudah tertutup lagi.
Ingatannya menariknya mundur ke beberapa bulan terakhir. Ke masa Regan yang suka diam di ruangannya, numpang makan, numpang nyantai. Bahkan sambil mengganggu Alvero.
Alvero menghela napas panjang. Ia tidak menyangka tantangan yang Ia berikan benar-benar mengubah Regan secepat ini. Alvero memang ingin melihat Regan serius dalam bekerja. Tapi bukan berarti harus berjarak seperti ini.
Bukannya dulu Alvero menginginkan ketenangan di ruangannya. Tapi sekarang, ketenangan itu justru terasa aneh.
Biasanya, beberapa kali dalam sehari pintu terbuka tanpa di ketuk. Suara "Al..." selalu lebih dulu terdengar sebelum sosok Regan muncul.
Alvero akhirnya duduk di sofa, membuka kotak makanan yang Regan bawakan. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis.
Sementara di ruangan lain, Regan sudah duduk di kursi kerjanya. Kaki selonjoran ke atas meja kerja. Di tangannya ia memegang map merah, ekspresinya serius membaca isinya.
Regan menegakkan duduknya saat ketukan pintu terdengar. Ahsan masuk sambil membawa dua map.
"Regan, saya bawakan berkas yang kamu minta." Ahsan menyimpannya di atas meja kerja Regan.
"Terima kasih," jawab Regan sambil menutup map di tangannya.
"Regan, kamu dari ruangan Pak Al?" Tanya Ahsan.
Regan mendongak menatap Ahsan yang berdiri di samping meja kerjanya. "Iya, aku hanya mengantarkan makan makan siang. Memangnya kenapa?"
"Tidak, saya cuma bertanya."
Regan mengangguk sekali. Tapi tiba-tiba, ia ingat satu hal. Saat dia baru saja masuk ke cafeteria, bukannya dia sudah selesai makan. Lalu, kenapa Ahsan balik lagi. Dan sambil membawa informasi soal Alvero yang kelaparan.
"Ahsan, apa kamu yang memberi tahu Pak Al, kalau saya ada persentasi?" Tanya Regan.
"Hm, karena Pak Al nanyain kamu."
"Lalu, apa Alvero juga yang menyuruhmu untuk menyampaikan maag dia kambuh?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Ahsan membalikan pertanyaan Regan.
"Tidak, hanya sedikit aneh. Kenapa kamu tiba-tiba balik lagi ke kantin. Tapi tidak membawa apa-apa dari sana."
Ahsan mendesah pelan. "Suka-suka saya dong. Memangnya itu kantin milik keluargamu?"
Regan mengangguk. "Iya, aku pewaris kantin itu."
"Untung sajalah kamu pewaris kantin itu, saya harap tidak dengan perusahaannya. Saya pergi sekarang." Ahsan segera melangkah pergi.
Regan terkekeh. Diam-diam ia mengikuti Ahsan dari belakangnya. Regan tahu, Ahsan selalu mengumpat di belakangnya.
Saat Ahsan hendak menutup pintu, benar saja mulut Ahsan masih komat-kamit mengumpat.
"Kenapa rasanya kayak lagi menyaksikan drama boy love antara Regan dan Pak Al. Atasan aneh."
Regan menarik pintu itu dari dalam. "Hey, kamu pikir aku dan Alvero tidak normal?!"
Ahsan terlonjak kaget. Ia menoleh, lalu berlari kecil. "Kamu sendiri yang mengatakan itu, Regan!" Teriaknya sebelum masuk lift.
Regan hanya tertawa kecil. Ia kembali masuk ke ruangannya. Kembali duduk di kursi kerja, dan mulai tenggelam dalam berkas-berkas yang harus ia pelajari.
hati-hati lidah tak bertulang vey
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri