"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 // MBKCM
Ardan tiba di Jakarta, dia langsung masuk ke dalam mansion untuk menemui kakeknya. Mansion terlihat sepi. Dania dan ayahnya, Danu Abraham, rupanya sudah pulang satu jam yang lalu. Di ruang tengah, hanya tersisa Paman Arya yang masih setia duduk di sana, menemani Kakek Wirya yang sedang membaca koran sore.
Begitu sosok tegap Ardan melangkah masuk ke dalam ruangan, senyuman lebar langsung terkembang di wajah keriput Kakek Wirya. Pria tua itu meletakkan korannya dengan saksama.
"Ardan! Bagus, kamu sudah kembali," ujar Kakek Wirya, suaranya terdengar sangat renyah dan penuh kebanggaan. "Bagaimana urusan peresmian mall baru di Bandung? Lancar semuanya, kan? Oh iya, Bimo pasti sudah memberitahumu soal keputusan penting dari pertemuan kami dengan keluarga Abraham tadi siang, bukan?"
Ardan menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan meja kaca. Dia tidak langsung duduk. Postur tubuhnya tegak lurus, ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin bagai pahatan es, menyembunyikan badai emosi yang siap meledak di dalam dadanya.
Ardan menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam sepasang mata sang kakek. "Sudah, Kakek. Bimo sudah menyampaikan semuanya kepadaku tadi."
"Bagus kalau begitu! Jadi kamu sudah tahu kalau pertengahan bulan depan adalah hari besarmu. Segera persiapkan dirimu untuk.."
"Maaf, Kakek," potong Ardan dengan suara baritonnya yang terdengar sangat mutlak, memutus kalimat sang kepala keluarga tanpa ragu sedikit pun. "Aku datang kemari malam ini untuk meluruskan satu hal. Sebelum surat undangan resmi dicetak dan tersebar ke relasi bisnis kita... aku menyatakan membatalkan pernikahanku dengan Dania Abraham."
Brak!
Kakek Wirya seketika tertegun, tangannya bergetar hebat hingga tongkat kayu berujung perak yang selalu dia pegang terjatuh dan terbentur keras di atas lantai marmer, meskipun saat itu beliau sedang duduk di sofa empuknya.
Tidak hanya Kakek Wirya yang terkejut setengah mati. Di sudut sofa lain, Arya Arkatama juga ikut membelalakkan matanya kaget. Namun, jika rasa kaget Kakek Wirya didasari oleh amarah, rasa kaget Arya justru dipenuhi oleh secercah riak kemenangan yang tidak terduga.
"Ardan! Apa... apa yang baru saja kamu katakan, hah?!" Kakek Wirya langsung naik darah. Wajah tuanya seketika berubah merah padam. Napasnya memburu pendek-pendek, dan sebelah tangan kanannya secara refleks langsung memegangi dadanya yang mendadak terasa sangat sakit dan sesak bagai dihantam benda tumpul.
Melihat kesempatan emas untuk mencari muka di depan ayahnya, Arya dengan sigap langsung bangkit berdiri dan menghampiri Kakek Wirya. Dia memegangi pundak pria tua itu dengan raut wajah yang dibuat sekhawatir mungkin.
"Papa! Papa tenang dulu... tarik napas dalam-dalam, Pa. Tolong kendalikan emosi Papa," ujar Arya dengan suara yang lantang, berlagak sebagai penengah yang bijak. Dia kemudian menoleh tajam ke arah Ardan. "Ardan! Kamu ini apa-apaan, sih?! Kenapa baru pulang langsung membuat ricuh dan memancing penyakit jantung kakekmu kambuh?! Ayo, kita dengarkan dulu penjelasan Ardan, Pa. Jangan langsung emosi."
Ardan menatap pamannya dengan pandangan dingin, tahu betul ada udang di balik batu di balik sikap sok peduli pria itu. Ardan kemudian kembali memfokuskan tatapannya pada sang kakek yang masih terengah-engah.
"Kakek... maafkan aku harus mengatakan ini sekarang," tutur Ardan, suaranya melembut namun tetap sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku tidak bisa melanjutkan sandiwara ini lagi. Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Selama ini aku sudah mencoba memaksakan diriku demi bisnis dan keinginan keluarga, tapi setelah merenungkannya matang-matang, aku merasa benar-benar tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Sementara Ardan terus berbicara, isi kepala Arya justru sedang berputar dengan sangat cepat, menyusun rencana licik yang teramat sangat busuk. Di dalam otaknya, Arya langsung menyimpulkan dengan penuh percaya diri. "Hahaha, Ardan... kamu pasti ragu menikah dengan Dania karena kamu mandul, kan? Kamu pasti berpikir buat apa menikah dan membangun keluarga kalau kamu tidak akan pernah bisa memberikan keturunan bagi Arkatama! Pernikahan tidak ada artinya bagimu sekarang!"
Arya menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak di tempatnya berdiri. Baginya, ini adalah sebuah pertunjukan yang teramat sangat indah yang disajikan langsung oleh keponakannya sendiri. Arya memutuskan dia akan menggunakan momen pembatalan sepihak ini untuk melancarkan serangan akhir. Dia akan membuka rahasia kemandulan Ardan ke seluruh jaringan media nasional.
Skenarionya akan sangat sempurna menurut Arya. "Berita utama minggu ini, Batalnya pernikahan agung sang penerus Arkatama Group, Ardan Arkatama, dengan putri konglomerat Dania Abraham, karena Ardan diketahui mengalami masalah kesehatan reproduksi mutlak alias mandul! Ardan akan hancur, dan sahamnya akan jatuh ke tanganku!" Arya bersorak gembira di dalam hatinya, menyimpan ide brilian tersebut rapat-rapat.
Namun, di permukaan, Arya masih menunjukkan sikap sok menengahi konflik antara keponakan dan ayahnya itu. "Ardan, tapi ini menyangkut nama baik dua keluarga besar, loh. Kamu tidak bisa egois hanya karena alasan cinta sepele begitu!"
"Keputusanku sudah bulat, Paman. Meski dipaksa dengan cara apa pun, aku tetap tidak akan pernah mau menikah dengan Dania," tegas Ardan, menutup seluruh celah negosiasi.
Kakek Wirya menatap Ardan dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kekecewaan yang teramat sangat mendalam. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi, membuat pria tua itu tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata makian.
"Kamu... membuat kakek kecewa, kamu mencoreng nama baik Arkatama." bisik Kakek Wirya lirih, matanya mulai memejam menahan nyeri yang hebat di jantungnya.
"Papa! Sudah, jangan bicara lagi," potong Arya sigap, memapah tubuh lemah Kakek Wirya untuk berdiri. "Ardan, lihat apa yang sudah kamu lakukan pada kakekmu! Pa, ayo saya bantu ke dalam kamar sekarang untuk minum obat dan beristirahat. Biar saya yang urus anak keras kepala ini nanti."
Ardan hanya berdiri mematung, menatap punggung pamannya yang menuntun Kakek Wirya masuk ke dalam lorong menuju kamar utama. Ardan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tahu betul, badai malam ini hanyalah sebuah awal dari peperangan besar yang sesungguhnya. Karena sampai detik ini, Dania dan ayahnya belum tahu sama sekali soal keputusan pembatalan sepihak ini. Begitu fajar menyingsing besok, Jakarta dipastikan akan gempar.
***
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit, Malam hari di kota Bandung terasa jauh lebih sunyi namun pekat oleh hawa dingin. Di dalam kamar lantai dua ruko Twin's Florist, Kiana sedang bersujud di atas sajadah putihnya. Di dalam keheningan malam, air matanya menetes membasahi kain tempat sujudnya saat dia mencurahkan seluruh rasa sesak, luka, dan ketakutan hatinya langsung kepada Sang Pencipta.
Kiana berbisik di sela-sela isaknya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri berulang kali bahwa keputusannya untuk mengusir Ardan siang tadi adalah jalan terbaik yang harus dia ambil demi keselamatan dan kedamaian masa depan dua janin di dalam kandungannya.
"Ya Allah... kuatkan hamba... lindungilah anak-anak hamba..." doa Kiana lirih sembari bangkit dari sujudnya.
Namun, keheningan dan kesedihan yang syahdu di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi mencekam dalam hitungan detik.
Gdbaaar...gdbarrr..
Sebuah suara gedoran pintu yang teramat sangat keras, kasar, dan beruntun mendadak menggema dari arah pintu kaca lantai satu ruko. Suara itu begitu nyaring, memecah kesunyian malam pinggiran kota. Itu tidak mungkin Saskia atau Rio. Saskia sudah mengatakan dia tidak akan datang hari ini dan ini sudah malam. Sedangkan Rio dia pasti akan memanggil namanya jika saja kembali lagi ke toko jika ada barangnya yang tertinggal.
Kiana seketika tersentak, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat karena terkejut. Dengan tubuh yang gemetar dan masih mengenakan mukena putih panjangnya, Kiana perlahan melangkah keluar kamar dan menuruni tangga kayu satu per satu dengan sangat hati-hati. Dia sengaja tidak menghidupkan saklar lampu di lantai satu, membiarkan ruangan toko bunganya tetap gelap gulita agar orang di luar mengira toko itu sudah kosong berpenghuni.
Kiana berjalan mengendap-endap mendekati area pintu depan. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, mengintip sedikit saja dari balik celah tirai kain tebal yang menutupi seluruh permukaan pintu kaca rukonya.
Begitu pandangan matanya berhasil menangkap sosok pria yang sedang berdiri di bawah sorot lampu jalanan depan ruko, seluruh sendi di tubuh Kiana mendadak terasa lemas, dan jantungnya seolah mencelos jatuh ke dasar lambung.
Pria yang sedang berdiri dengan semangat sembari terus mengetuk dan menggedor pintu rukonya... tidak lain dan tidak bukan adalah Dafa.
Kiana dengan kecepatan kilat langsung melepaskan cengkeraman tangannya pada tirai, menutupnya kembali rapat-rapat sebelum sepasang mata Dafa sempat melihat pergerakannya dari dalam kegelapan. Napas Kiana memburu pendek, rasa mual mendadak menyerang perutnya akibat gelombang kepanikan yang luar biasa.
Dengan langkah yang diusahakan tanpa suara, Kiana perlahan-lahan kembali melangkah mundur, menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu masuk ke dalam kamarnya dan memutar kunci pintu kamarnya rapat-rapat dari dalam. Dia terduduk lemas di balik pintu dengan punggung bergetar hebat.
Dafa. Pria bajingan yang merupakan mantan kekasihnya dulu, pria yang dengan teganya berniat menjadikan Kiana sebagai tumbal pemuas nafsu bos rentenir demi melunasi tumpukan hutangnya, kini telah kembali lagi ke dalam hidupnya setelah menghilang bak ditelan bumi selama berbulan-bulan.
Melalui kilasan singkat di bawah lampu jalan tadi, Kiana bisa melihat bahwa Dafa terlihat sangat baik-baik saja, berpakaian rapi dan tampak makmur. Hal itu sungguh berbanding terbalik dengan nasib Kiana yang selama lima bulan ini harus menanggung segala akibat dari perbuatan bejat pria itu, harus rela resign dari pekerjaan mengasingkan diri dari orang yang mungkin mengenalinya karena hamil di luar nikah, dan harus berjuang setengah mati untuk tetap hidup seorang diri.
Kiana tahu betul watak mantan kekasihnya itu. Dafa datang kemari pasti bukan untuk meminta maaf dengan tulus. Pria ular itu pasti datang karena mencium adanya keuntungan materi yang bisa dia ambil lagi dari kehidupan Kiana saat ini.
Kiana memegangi perut buncitnya dengan kedua tangan yang basah oleh keringat dingin. Entah dari mana dan bagaimana cara Dafa bisa mengetahui keberadaan rukonya di Bandung ini, Kiana belum tahu. Namun satu hal yang pasti, mulai hari ini dan detik ini juga, Kiana harus meningkatkan kewaspadaannya hingga tingkat tertinggi. Bahaya baru yang tidak kalah mengerikan dari Ardan kini telah resmi mengetuk pintu hidupnya.