NovelToon NovelToon
KEMBALI NYA SANG DEWA

KEMBALI NYA SANG DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guncangan Global & Jangkar Virtual

Keheningan yang merayap di dalam ruang bawah tanah di pinggiran kota Moscow itu terasa jauh lebih membekukan ketimbang badai salju yang sedang mengamuk hebat di luar sana. Yuri Volkov masih berdiri mematung, menatap nanar ke arah sisa asap hitam yang mengepul tipis dari layar monitor utamanya yang baru saja meledak kecil. Bau sangit tembaga terbakar menyeruak, mengisi rongga dadanya dengan rasa sesak yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.

Di sampingnya, sang kepala teknisi siber yang bertubuh kurus tampak melorot dari kursinya, jatuh berlutut di atas lantai beton yang dingin. Kedua tangan pria itu gemetar hebat, memegangi dadanya seolah ada sepasang tangan tak kasat mata yang baru saja meremas jantungnya dari dalam. Dari sela-sela penutup telinga militer yang masih melekat di kepalanya, darah segar berwarna merah kental perlahan menetes, membasahi kerah kemejanya yang kusut.

"Tuan... Tuan Yuri..." suara teknisi itu parau, nyaris berupa bisikan yang terputus-putus. "Sinyal balik itu... Dia tidak menyerang sistem pertahanan kita. Dia... dia membalikkan seluruh gelombang elektromagnetik ke kabel fiber optik utama. Seluruh bank data cadangan kita di Siberia... semuanya hangus dalam satu milidetik."

Yuri tidak menyahut. Lidahnya mendadak kelu. Sepasang matanya terkunci pada satu-satunya layar cadangan berukuran kecil di sudut ruangan yang masih menyala redup. Di sana, logo jam pasir yang menjadi simbol The Khronos Network telah berubah wujud. Garis-garis digitalnya meliuk, memancarkan pendaran cahaya biru elektrik yang begitu pekat, begitu murni, dan begitu maut.

Bagi dunia hitam internasional, lambang itu bukan sekadar grafis komputer. Itu adalah tanda tangan dari sebuah legenda hidup. Sosok yang lima tahun lalu mengacak-acak konstelasi satelit mata-mata milik oligarki Barat, menenggelamkan reputasi agensi intelijen terkemuka seperti anak kecil yang bermain lumpur, lalu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan seujung rambut pun jejak kaki.

"Z..." nama itu lolos dari sela gigi Yuri yang bergemertak. Wajah sang bos mafia Rusia yang biasanya kemerahan penuh arogansi, kini perlahan luntur menjadi seputih kertas. "Penguasa Langit Virtual... Dia... Dia tidak mati. Dia ada di Jakarta."

"Tutup semua jalur! Putus koneksi internet fisik ke seluruh gedung ini sekarang juga!" tergah Yuri tiba-tiba, suaranya naik beberapa oktav, melengking penuh kepanikan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Jangan lewatkan satu kabel pun! Jika bajingan itu memutuskan untuk melacak koordinat geografis kita, besok pagi tempat ini hanya akan menjadi kuburan massal yang tak tercatat di peta!"

Sementara itu, ribuan kilometer dari dinginnya Moscow, kehangatan malam Jakarta berembus pelan melalui celah ventilasi lantai bawah tanah Menara Narendra. Udara di dalam ruangan itu terasa tenang, hampir-hampir kontras dengan badai informasi yang baru saja meluluhlantakkan salah satu sindikat terbesar di Eropa Timur.

Kenji mengembuskan napas pendek. Ia menarik kembali jemarinya dari atas papan ketik laptop tuanya yang sudah kusam. Pendaran cahaya biru yang sempat menyelimuti ujung-ujung jarinya perlahan memudar, kembali berbaur dengan warna kulitnya yang sawo matang. Di layar monitor usang bersetiker pudar itu, logo jam pasir biru elektrik perlahan runtuh, berganti dengan deretan baris teks hijau yang bergulir dengan ritme yang lambat dan damai.

Di belakang sofa kulit tempat Kenji duduk, Nadia Narendra masih berdiri seperti patung lilin. Gaun malamnya yang anggun tampak sedikit kusut di bagian bawah, sisa dari ketegangan beberapa jam lalu di lantai atas. Sepasang matanya yang indah menatap punggung Kenji dengan campuran rasa ngeri dan takjub yang teramat sangat. Sebagai wanita yang sejak lahir dididik untuk memimpin gurita bisnis bernilai triliunan rupiah, Nadia paham betul arti dari kekuasaan. Namun, jenis kekuasaan yang baru saja ditunjukkan oleh pemuda berkemeja oblong di depannya ini berada di luar batas logikanya. Itu bukan lagi sekadar keahlian, melainkan sebuah dominasi mutlak yang mengerikan.

"Kenji..." suara Nadia memecah keheningan, terdengar begitu halus dan bergetar. "Apa... apa yang sebenarnya baru saja kau lakukan kepada mereka?"

Kenji tidak langsung menoleh. Ia meraih cangkir kopi hitam di atas meja, menyesapnya sedikit, lalu mendecah pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah kubilang pada pelayanmu tadi, kopi ini jangan diberi gula. Terlalu manis. Membuat lidah jadi tumpul."

Nadia mengerjapkan mata, merasa tidak percaya bahwa di tengah situasi hidup dan mati seperti ini, hal pertama yang dikeluhkan Kenji adalah takaran gula pada kopinya. "Kenji, aku serius. Volkov Syndicate bukan organisasi sembarangan. Mereka punya koneksi dengan militer dan—"

"Hanya memasang pagar gaib," potong Kenji santai, suaranya sedatar air di dalam sumur tua. Ia memutar kursinya, menatap Nadia dengan sepasang mata hitamnya yang tenang namun menghanyutkan. "Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun peretas, broker informasi, atau pembunuh bayaran kelas dunia yang berani menginjakkan kaki dalam radius lima kilometer dari menara ini. Mereka terlalu pengecut untuk menghadapi bayangan masa lalu yang baru saja kubangun kembali."

Kenji bangkit dari duduknya. Ia meregangkan otot-otot lehernya hingga terdengar bunyi kertakan kecil. Kaus oblong putihnya yang sedikit longgar dan celana jinsnya yang memudar membuat ia tampak seperti pemuda biasa yang baru saja selesai begadang di warung kopi, bukan seorang monster siber yang baru saja menggetarkan belahan bumi utara.

Ia melangkah meninggalkan meja, berjalan menuju sebuah ruangan kaca di sudut pangkalan bawah tanah tersebut. Di dalam sana, sebuah tabung medis berteknologi tinggi—sebuah polong regenerasi sel kuantum yang baru saja dipindahkan atas perintahnya—berdiri dengan pendaran cahaya hijau lembut. Di dalamnya, seorang gadis remaja dengan wajah pucat tampak tertidur pulas dengan masker oksigen yang melekat erat di hidungnya. Hana, satu-satunya jangkar yang mengikat Kenji dengan kemanusiaannya di dunia ini.

Nadia melangkah mengikuti dari belakang, menjaga jaraknya agar tetap sopan namun cukup dekat untuk mendengar setiap helaan napas pemuda itu. "Lalu, setelah ini apa rencana kita? Apakah kita harus memperketat penjagaan luar? Narendra Group bisa menyewa sistem keamanan paramiliter dari Singapura jika kau mau."

Kenji berhenti di depan dinding kaca, menatap wajah adiknya yang tampak begitu damai. "Tidak perlu. Tentara bayaran atau penjaga konvensional hanya akan membuat tempat ini berisik. Mereka tidak akan berguna jika musuh sesungguhnya mulai bergerak. Sekarang, ada hal yang jauh lebih krusial yang harus kuselesaikan."

Kenji menunjuk ke arah salah satu layar monitor sekunder yang terhubung dengan sistem penopang hidup Hana. Namun, alih-alih menampilkan grafik detak jantung atau tekanan darah, layar itu justru menampilkan sebuah antarmuka web yang sangat familiar bagi para pencinta literasi digital: halaman dasbor penulis untuk platform NovelToon.

Nadia mengernyitkan dahi. Ia melangkah maju satu tindak, mencoba memastikan bahwa matanya tidak salah lihat. Di atas layar, terpampang sebuah judul draf cerita: 'Dewa Perang Sibernetik'.

"NovelToon?" Nadia bertanya dengan nada suara yang dipenuhi rasa sangsi yang tak terbendung. "Kau... kau membawa seluruh perangkat pelindung medis tercanggih di negara ini, meretas mafia Rusia, dan sekarang kau berdiri di sini untuk... mengurus sebuah novel online?"

Kenji tersenyum tipis, sebuah lengkungan kurva yang sarat akan ironi misterius di sudut bibirnya. "Kau tidak akan paham, Nona Nadia. Dunia virtual ini terlalu luas, dan energi dari Bio-Core di dalam tubuhku ini terlalu besar. Setiap kali aku menggunakannya, fluktuasi energinya akan memancar ke langit seperti suar menyala, memancing satelit radar milik Pentagon atau faksi global lainnya untuk melacak posisiku."

Kenji berjalan kembali ke arah laptop tuanya, menatap baris-baris kode yang kini mulai menyatu dengan sistem pengunggahan data NovelToon.

"Server pusat mereka memiliki arsitektur enkripsi kuantum yang sangat unik—sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh para pengembang aplikasinya sendiri," lanjut Kenji, jemarinya kembali menari di atas papan ketik dengan gerakan yang teramat anggun. "Dengan menyamarkan seluruh aliran data kekuatanku ke dalam bentuk teks cerita dan mengunggahnya ke sana, aku bisa mencuci fluktuasi energi ini menjadi data sampah yang legal di mata dunia. Itu adalah jangkar jiwaku agar tetap tersembunyi di dunia nyata."

Di layar laptop tua itu, sebuah jendela notifikasi mendadak muncul dengan kilatan warna emas yang memukau:

[ SISTEM NOVELTOON: PROSES VALIDASI DRAF BAB 31-35 SELESAI. ]

[ MENUNGGU TANDA TANGAN DIGITAL OTORITAS PENULIS UNTUK MENGUNCI KONTRAK EKSKLUSIF. ]

Kenji mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di atas tombol Enter. Sejujurnya, ia bisa merasakan ada desiran hangat yang mengalir dari balik dadanya, merambat menuju ujung telunjuknya. Sebuah ketukan lagi, dan posisi finansial serta perlindungan hukum atas identitasnya akan terkunci dengan sempurna di dalam server paling aman di bumi.

Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan tombol yang sudah halus itu, layar monitor laptopnya mendadak bergetar hebat. Baris kode hijau di layarnya tersapu bersih, digantikan oleh gelombang warna merah darah yang berdenyut cepat seperti detak jantung yang panik. Seluruh lampu neon di dalam ruangan bawah tanah Menara Narendra meredup seketika, menyisakan kegelapan yang mencekam selama setengah detik sebelum generator cadangan mengambil alih.

[ PERINGATAN TINGKAT TINGGI! INTERVENSI JARINGAN ASING TERDETEKSI DI RADIUS REGIONAL! ]

[ PROSES VALIDASI KONTRAK DIHADANG OLEH DINDING API ENKRIPSI: 'VIPER_NET' (SEKTOR SELAT MALAKA). ]

Kenji tidak bergerak. Jarinya masih menggantung di udara. Namun, sepasang matanya yang semula hitam legam perlahan-lahan diselimuti oleh kilatan riak listrik berwarna biru murni yang berderak halus. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan oleh selembar ekspresi dingin sedingin es kutub yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya kehilangan keberanian untuk bernapas.

Di tengah-tengah layar yang memerah, sebuah kotak dialog baru muncul secara paksa, memutus seluruh akses jalurnya ke server NovelToon. Sebuah pesan teks berbahasa Inggris kuno tertulis di sana, huruf demi hurufnya muncul dengan suara ketikan yang berdengung parau di speaker laptopnya:

"Menemukanmu, Z. Kontrak digital ini... dan kepala kosongmu yang berharga itu, adalah milik Konsorsium kami sekarang. Selamat datang di jaringan beracun Viper."

Nadia yang berdiri di samping meja refleks membekap mulutnya sendiri. Atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah drastis, terasa begitu berat dan pekat hingga oksigen seolah-olah lenyap dari udara.

Kenji menurunkan tangannya perlahan, menepuk pinggiran laptop tuanya dengan ketukan ritmis yang santai. Riak listrik di matanya justru menyala semakin terang, memantulkan bayangan logo ular siber yang kini menari-nari di layarnya.

"Baru saja kuberi peringatan pada serigala di utara," bisik Kenji, suaranya terdengar begitu lembut namun bergaung menakutkan di dalam ruangan yang sunyi itu. "Rupanya sudah ada seekor ular kecil di selat selatan yang sudah bosan bernapas dan tidak sabar untuk menjadi rongsokan."

Ia kembali duduk, menarik cangkir kopinya yang manis, lalu meminumnya sampai tetes terakhir seolah tidak terjadi apa-apa. "Nona Nadia, tampaknya malam kita masih sangat panjang."

1
SANG
Pantang mundur. Oke💪👍
SANG
Bintang lima untukmu Thor semangat terus pantang mundur lanjutkan aksimu thor keren banget bro
SANG
Lanjut dek💪👍
Nikolaus Bahang
gak jelas ceritanya anjing...awal Pluto sudah kena tangkap skrg ada lagi pluto
Nikolaus Bahang: 🤣🤣🤣🤣 lihat ulang la Thor apa yg di tulis
total 2 replies
SANG
Enak tenang 👍💪Bunga untukmu bro/CoolGuy//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Meloho👍💪
SANG
Menakjubkan💪👍
SANG
Luar biasa bro💪👍
SANG
Mantap bro
SANG
Keren bro💪👍
Manusia Ikan 🫪
:v
Manusia Ikan 🫪
aku sih curiganya Kenji ini admin Zeus yang itu🤫
the misterius author 🐐: hust jangan kasih tau orang bg 🤣
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
kwoakwoa kena iklan judol/Facepalm/
the misterius author 🐐: parah 🤣
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
heleh :v
Manusia Ikan 🫪
mending pindah kerja🐥
the misterius author 🐐
sayang kalau gak baca guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!