NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pukul dua siang, badai di ruang sidang telah sepenuhnya berlalu. Faksi pengkhianat telah dibersihkan hingga ke akar-akarnya, menyisakan stabilitas mutlak bagi Baskara Group yang tercermin dari grafik hijau saham mereka yang melonjak naik di papan perdagangan lantai bursa.

Di dalam ruang kerja CEO yang sepi, Kirana sedang merapikan sisa berkas di atas meja kerja Radit saat pria itu berjalan mendekat dari belakang. Tanpa peringatan, Radit melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang Kirana, menarik punggung wanita itu agar bersandar erat pada dadanya yang bidang.

Kirana tersentak pelan, namun dia tidak memberontak. Dia meletakkan tangannya di atas lengan Radit yang melingkar di perutnya.

"Radit, kita masih di dalam kantor. Aturan Baru Pasal 1..." Kirana berbisik, meskipun nada protesnya kini terdengar sangat lemah dan tidak bertenaga.

"Aturan Baru Pasal 1 sudah mati dan dikubur di ruang RUPSLB tadi siang, Sayang" bisik Radit di dekat telinga Kirana, membuat bulu kuduk sekretarisnya meremang oleh getaran suaranya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Kirana, menatap pantulan kebersamaan mereka pada kaca jendela yang menampilkan langit Jakarta yang kini cerah benderang. "Mulai detik ini, tidak ada lagi Pihak Pertama atau Pihak Kedua. Yang ada hanyalah kita".

Kirana memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan dan rasa aman yang melingkupinya. Perjalanan lima tahun yang penuh dengan batasan profesional, rahasia masa lalu, dan intrik korporat yang melelahkan akhirnya bermuara di tempat yang tepat. Di pelukan pria yang tidak hanya menjadi bosnya, melainkan pelindung dan masa depannya.

"Ya.." jawab Kirana lembut, berbalik di dalam pelukan Radit untuk menatap wajah tampan pria itu tanpa ada lagi sekat jarak di antara mereka. "Mulai sekarang... hanya ada kita".

___

Keesokan harinya.

Ruang kerja CEO Baskara Group tidak pernah terasa seluas dan selonggar ini. Sinar matahari siang menembus kaca besar yang menghadap langsung ke arah bundaran faksi SCBD, memantulkan kilau keemasan di atas meja mahoni yang kini bersih dari draf-draf konflik. Papan tulis kecil yang penuh coretan strategi perang melawan Pak Baskoro dan Hasan Mulia sudah dihapus bersih oleh petugas kebersihan satu jam yang lalu.

Kirana berdiri di sisi meja, memegang secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Radit. Alih-alih mengenakan setelan blazer hitam kaku yang biasa dia gunakan sebagai perisai profesionalnya, hari ini dia memilih mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang senada dengan warna dasi Radit. Kacamata berbingkai tebal itu masih bertengger di hidungnya, namun tatapan di balik lensa itu kini jauh lebih santai dan hidup.

"Kopi Anda, Pak CEO" ujar Kirana dengan nada formal yang sengaja dibuat-buat, lalu meletakkan cangkir keramik itu di atas tatakan kayu.

Radit yang sedang memeriksa laporan pergerakan saham pasca-RUPSLB di komputernya, mendongak. Sebuah senyuman lebar langsung terukir di wajah tampannya saat melihat Kirana. Dia mendorong kursinya ke belakang, lalu meraih pergelangan tangan Kirana dengan gerakan lembut namun pasti, menarik wanita itu hingga terduduk di atas sandaran lengan kursi kerjanya.

"Masih memanggilku Pak CEO setelah apa yang terjadi di RUPSLB kemaren?" goda Radit, tangannya beralih melingkari pinggang Kirana, menahan wanita itu agar tidak bergeser menjauh.

"Kita berada di area kantor, Radit. Dan jika saya tidak salah ingat, meskipun Aturan Baru Pasal 1 sudah dihapus, kode etik dasar karyawan Baskara Group tentang profesionalisme di tempat kerja masih berlaku" jawab Kirana, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang perlahan merayap di kedua pipinya. Dia meletakkan sebelah tangannya di bahu Radit untuk menjaga keseimbangan.

"Kode etik itu dibuat olehku, dan aku bisa dengan mudah menambahkan satu pasal pengecualian khusus untuk Sekretaris Utama yang juga merangkap sebagai calon nyonya besar di kantor ini" balas Radit dengan binar mata usil yang sangat familier bagi Kirana.

Radit mengambil cangkir kopinya dengan tangan yang bebas, menyesapnya sedikit, lalu menatap Kirana dengan pandangan yang lebih dalam dan serius.

"Bagaimana dengan sisa-sisa staf di luar? Apakah mereka masih menatapmu seolah-olah kamu adalah karakter di dalam film drama korporat?"

Kirana mengembuskan napas pendek, mengingat bagaimana suasana di luar ruangan sejak pagi tadi.

"Tika dan beberapa staf humas sempat menatap saya dengan pandangan tidak percaya saat membaca artikel Fakta Nusantara. Tapi begitu draf resmi mengenai pengangkatan saya sebagai penanggung jawab penuh proyek koridor timur pasca-idepakan Pak Baskoro turun, mereka langsung kembali ke mode sibuk. Di dunia ini, kinerja nyata selalu lebih membungkam gosip daripada pernyataan pers apa pun".

"Itulah sebabnya aku tidak pernah salah memilihmu sejak lima tahun lalu," Radit meletakkan kembali cangkir kopinya, lalu jemarinya bergerak lembut mengusap helaian rambut Kirana yang membingkai wajahnya. "Kamu tahu, Ibuku menelepon tadi pagi".

Kirana menegang sedikit. Meskipun Ibu Sofia telah membantunya secara luar biasa dalam menjebak Hendrawan dan membongkar konspirasi Baskoro, Kirana masih merasakan kedutan gugup setiap kali memikirkan mantan detektif wanita yang memiliki intuisi setajam pisau itu.

"Apa yang dikatakan Ibu Sofia?"

"Beliau bilang, karena badai di dewan komisaris sudah reda dan saham perusahaan sudah kembali meroket, kita tidak punya alasan lagi untuk menunda acara pertunangan yang... katakanlah, lebih resmi dan intim di lingkungan keluarga besar," Radit menjeda kalimatnya, mengamati ekspresi Kirana yang tampak terkejut. "Beliau sudah memesan tempat di sebuah resor privat di Bali untuk akhir bulan ini. Hanya untuk keluarga inti dan beberapa kolega terdekat yang benar-benar bersih dari faksi Baskoro".

Kirana terdiam sejenak. Akhir bulan ini. Itu artinya kurang dari tiga minggu lagi. Menjadi tunangan kontrak demi menyelamatkan korporasi adalah satu hal, namun melangkah ke dalam sebuah ikatan keluarga yang sah di bawah pengawasan Ibu Sofia adalah lembaran baru yang sepenuhnya berbeda.

"Radit, apakah kamu yakin... ini bukan keputusan yang terlalu terburu-buru?" tanya Kirana pelan, matanya menatap jemari Radit yang kini bertautan dengan jemarinya. "Kita baru saja keluar dari krisis hukum. Nama ayah saya mungkin sudah dibersihkan dari tuduhan manipulasi oleh artikel kemaren, tapi sejarah tetaplah sejarah".

Radit menghentikan gerakan jemarinya. Dia menegakkan tubuh, menangkup wajah Kirana dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu untuk melihat langsung ke dalam matanya yang memancarkan keyakinan mutlak.

"Kirana, dengarkan aku," ucap Radit, suaranya bariton dan penuh penekanan yang menenangkan. "Lima tahun aku memperhatikanmu bekerja di sampingku. Aku melihat bagaimana kamu melindungi perusahaan ini seolah-olah ini milikmu sendiri. Jika ada orang di dunia ini yang paling berhak berdiri di sampingku saat aku memimpin Baskara Group, orang itu adalah kamu. Bukan karena kontrak, bukan karena strategi krisis, tapi karena aku menginginkannya. Dan aku tahu, jauh di dalam hatimu yang keras kepala itu, kamu juga menginginkan hal yang sama".

Air mata tipis kembali menggenang di sudut mata Kirana, namun kali ini digantikan oleh senyuman tulus yang sangat manis. Logika kaku yang selama ini dia agungkan akhirnya menyerah sepenuhnya pada ketulusan pria di depannya.

"Iya," bisik Kirana, menyandarkan dahinya pada dahi Radit, membiarkan kehangatan pria itu mengusir sisa-sisa keraguan terakhir dalam dirinya. "Saya juga menginginkannya, Radit".

Pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk dari luar, memecah momen intim di antara keduanya. Kirana dengan cepat berdiri dari sandaran lengan kursi, merapikan blusnya dan memasang kembali topeng profesionalnya dalam hitungan detik, sementara Radit kembali membetulkan posisi duduknya di belakang meja dengan helaan napas pasrah.

"Masuk" ujar Radit dengan nada suara yang kembali formal.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!