NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Bawah Langit Berbintang

Malam itu, langit Jakarta tampak begitu bersih dari awan gelap, bertabur bintang yang berkelap-kelip lembut seolah semesta pun ikut menyaksikan langkah penting yang sedang diambil oleh dua keluarga besar yang telah terjalin persahabatan puluhan tahun. Angin malam berhembus sejuk menyapu dedaunan pohon trembesi yang rindang di halaman, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga melati yang tumbuh subur di sudut taman. Di sebuah kediaman luas bergaya klasik modern di kawasan elit Jakarta Selatan, lampu-lampu taman menyala temaram memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyambut kedatangan tamu kehormatan dengan kesan damai namun penuh keagungan. Pagar besi tempa yang rumit, kolam air mancur dengan aliran air yang tenang, serta fasad bangunan yang terbuat dari batu alam berkualitas tinggi menyampaikan pesan kesederhanaan yang berkelas—sesuai dengan karakter pemiliknya yang rendah hati namun memiliki kedudukan yang dihormati.

Di ruang tamu utama yang luas dan tinggi langit-langitnya, dihias dengan ukiran kayu jati pilihan yang dikerjakan oleh pengrajin terbaik dari Jawa Tengah serta lukisan-lukisan bernilai tinggi karya pelukis legendaris nusantara, Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang duduk dengan tenang meski di dalam dadanya hatinya berdebar penuh harap sekaligus rasa tanggung jawab yang besar. Ia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang pas di badan, dipadukan dengan kemeja berwarna krem yang memancarkan kesan sopan dan dewasa. Di sebelahnya duduk dua orang yang menjadi pendukung sekaligus saksi paling berharga baginya dalam perjalanan hidup ini: Roy Arka Denta, pamannya yang juga pengacara kepercayaan keluarga yang selalu berdiri di sisi Bhumi dalam setiap urusan penting; serta Kombespol Andi Rajo Alam Sikumbang, paman sekaligus orang yang selama ini mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan ketegasan layaknya anak kandung sendiri. Mereka bertiga diundang khusus oleh Bapak Guntur Maheswara dan istrinya untuk menghadiri jamuan makan malam sekaligus membicarakan secara mendalam masa depan hubungan Bhumi dengan putri semata wayang mereka, Anindya Sandra Satyarini.

Suasana di ruang tamu itu terasa hangat namun penuh harap. Obrolan ringan sempat mengalir di antara mereka sambil menunggu tuan rumah, menyentuh perkembangan pembangunan cabang baru Sikumbang Corporation di luar pulau serta perkembangan kasus besar yang sedang ditangani oleh kepolisian. Namun tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan. Guntur Maheswara dan istrinya, Rissa, berjalan beriringan masuk ke ruangan dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Keduanya menyambut tamu dengan senyum hangat yang memancarkan keramahan tulus, senyum yang sama seperti saat mereka menyambut tetangga dan sahabat lama di masa lalu. Bhumi segera berdiri tegak dengan gerakan luwes, menundukkan kepala dengan sopan sebagai bentuk penghormatan, lalu melangkah maju untuk menyapa mereka dengan penuh rasa hormat.

“Selamat datang, Bhumi, Andi, Roy. Terima kasih sudah meluangkan waktu berharga untuk hadir ke rumah kami malam ini,” ucap Guntur sambil menjabat tangan mereka satu per satu dengan erat dan tulus, sementara istrinya menyambut dengan senyum lembut dan pelukan ringan.

Bhumi tersenyum tulus, menatap wajah kedua orang tua itu dengan pandangan yang jernih dan penuh ketulusan. “Terima kasih banyak atas undangan yang sangat hangat dan istimewa ini, Om Guntur, Tante Rissa. Merupakan kehormatan besar bagi saya dan keluarga bisa berkumpul di sini malam ini, di rumah yang selalu terasa seperti rumah sendiri bagi kami,” jawabnya lembut namun jelas, menggunakan panggilan yang sudah terasa begitu akrab dan menyentuh hati, bukti bahwa jarak di antara mereka tak pernah terpisahkan oleh status sosial apa pun.

Tak lama kemudian, pelayan mempersilakan mereka untuk beralih ke ruang makan yang luas dan elegan. Meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni tua telah tertata rapi dengan taplak meja berwarna krem, piring keramik halus, serta peralatan makan perak yang berkilau diterangi cahaya lilin aromaterapi. Di atasnya tersaji berbagai hidangan istimewa yang disiapkan khusus dengan penuh perhatian: mulai dari rendang daging sapi asli Padang, gulai kepala ikan, dan dendeng balado—masakan khas Minangkabau kesukaan keluarga Sikumbang—hingga hidangan sup krim jamur, daging panggang lada hitam, dan puding karamel yang merupakan hidangan favorit keluarga Guntur. Sepanjang jamuan makan, percakapan berjalan santai namun bermakna, membahas perkembangan studi Bhumi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang kini memasuki tahun ketiga, aktivitas Roy yang semakin sibuk menangani kasus hukum yang berdampak luas bagi masyarakat, serta tugas berat Andi yang baru saja dipromosikan ke jabatan baru namun tetap setia menjaga prinsip keadilan. Meski topik pembicaraan beragam, Bhumi sadar betul bahwa ada hal yang jauh lebih penting yang sedang ditunggu waktunya untuk dibicarakan secara khusus dan serius.

Setelah hidangan penutup disajikan dan para pelayan beranjak keluar meninggalkan ruangan agar keluarga bisa berbincang secara privat, suasana perlahan menjadi lebih hening dan khidmat. Guntur Maheswara menaruh sendok dan garpunya perlahan di atas piring, menyeka bibirnya dengan serbet, lalu menatap lurus ke arah Bhumi dengan tatapan yang bijaksana namun tetap menyiratkan rasa ingin tahu yang mendalam sebagai seorang ayah yang menjaga putri kesayangannya dengan segenap jiwa.

“Bhumi,” panggilnya pelan namun tegas, suaranya bergema lembut di ruangan yang tenang.

“Saya mengundangmu ke sini malam ini bukan sekadar untuk menikmati hidangan bersama sahabat lama. Ada hal yang sejak lama ingin saya tanyakan langsung kepadamu, sebagai orang tua yang hanya memiliki satu putri, satu cahaya matahari bagi rumah ini: Anindya. Kami sudah melihat kalian tumbuh berdampingan sejak kecil, bermain di halaman rumah yang memisahkan pagar kita, saling berbagi mainan, hingga kini kalian telah beranjak dewasa dengan pemikiran yang matang. Saya ingin tahu dengan pasti: apa sebenarnya hubungan istimewa yang kau bangun dengan putri kami? Apakah ini sekadar rasa suka sesaat di masa muda yang akan berlalu seiring berjalannya waktu, atau ada niat yang sungguh-sungguh dan rencana matang yang kau bawa untuk masa depan Anindya?”

Mendengar pertanyaan yang langsung menyentuh inti itu, Bhumi duduk lebih tegak, menyatukan kedua telapak tangannya di atas pangkuan, menarik napas panjang sejenak untuk menenangkan hati sebelum menatap balik wajah Guntur dan istrinya dengan pandangan yang jernih, tegas, namun tetap penuh rasa hormat dan kesopanan.

“Om, Tante, saya mengerti betul perasaan Om Guntur dan Tante Rissa,” ucapnya dengan suara yang tenang namun berwibawa, matanya tak berani menyembunyikan apa pun. “Sebagai orang tua, tentu Om dan Tante ingin memastikan Anindya berada di tangan yang tepat—tangan yang bisa menjaganya dengan sepenuh jiwa, menghargainya sebagai wanita yang berharga, dan tak akan menyakitinya. Saya katakan dengan jujur tanpa ragu sedikit pun: saya sangat menyayangi Anindya. Rasa sayang itu bukan sekadar rasa suka sesaat atau keinginan bermain-main di masa muda. Saya menyayanginya karena ketulusan hatinya yang tak pernah pudar, kecerdasannya dalam melihat persoalan hidup, kelembutan sikapnya saat menghadapi kesulitan, serta caranya memandang dunia dengan penuh harapan dan kebaikan. Sejak lama, bahkan sejak kami masih berseragam sekolah menengah, saya berharap kelak bisa menjadi orang yang mendampingi hidupnya, menjaganya dari segala bahaya, membimbingnya saat ia bingung, dan membahagiakannya sampai akhir hayat. Itulah niat tulus saya kepada putri Om dan Tante, niat yang sudah saya pertimbangkan matang-matang.”

Tak ada keraguan, tak ada kebohongan, dan tak ada kepura-puraan dalam nada bicara Bhumi. Roy dan Andi yang mendengar di sebelahnya tersenyum bangga satu sama lain, menyadari sepenuhnya bahwa Bhumi telah tumbuh menjadi pemuda yang dewasa, bertanggung jawab, dan tahu betul apa yang ia pertanggungjawabkan di hadapan orang tua calon pendamping hidupnya.

Guntur Maheswara terdiam sejenak, menatap tajam namun lembut ke dalam mata Bhumi seolah ingin membaca setiap sudut isi hatinya, memastikan tidak ada kepura-puraan di balik tatapan itu. Perlahan raut wajahnya melunak, senyum tulus dan lega terukir jelas di bibirnya.

“Jawabanmu sangat baik, Bhumi. Tegas, jujur, dan tetap penuh rasa hormat kepada kami selaku orang tua. Saya sangat menghargai kesungguhanmu yang tak berusaha menyanjung diri sendiri atau menyembunyikan apa pun,” ujarnya pelan namun mantap. “Namun sebelum saya memberikan restu penuh dan menyatukan kedua tangan kalian dalam ikatan pertunangan, ada satu syarat yang harus kau penuhi. Bukan bermaksud menyulitkanmu, bukan pula untuk menguji kekayaanmu, melainkan sebagai bukti keseriusanmu, seperti halnya yang selalu saya ajarkan kepada Anindya: hal yang berharga pantas dihargai dengan pengorbanan yang tulus.”

Ia melanjutkan dengan nada yang jelas dan tegas, matanya menatap lurus ke arah Bhumi.

“Jika kau bisa dan ikhlas membelikan sepasang anting, kalung, serta cincin perhiasan emas berliontin berlian dengan kualitas dan keindahan yang setara dengan yang biasa saya berikan sebagai tanda kasih sayang kepada putri kami—sebagai perlambang bahwa kau siap memberinya yang terbaik sesuai kemampuanmu, dan tak akan pernah pelit dengan kasih sayang maupun usaha demi kebahagiaannya—maka pada hari yang akan saya tentukan bersama keluarga besar kami, dalam jangka waktu beberapa minggu ke depan, Anindya akan resmi menjadi tunanganmu.”

Bhumi mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun, matanya berbinar penuh tekad.

“Saya mengerti syarat Om, dan saya tidak menganggapnya sebagai beban. Saya menerima syarat itu dengan penuh rasa hormat dan hati yang lapang. Insyaallah saya akan memenuhinya secepat mungkin, memilihkan yang paling indah sebagai bentuk kesungguhan hati saya kepada Anindya, tanda bahwa ia adalah wanita yang paling berharga bagi hidup saya.”

“Ada hal lain yang sangat penting bagi masa depan putri kami, hal yang tak kalah berharganya dari sekadar perhiasan atau ikatan janji,” tambah Guntur dengan nada bijaksana, didukung anggukan setuju istrinya.

“Saya memintamu untuk bersabar menunggu Anindya hingga ia selesai menempuh pendidikan Sarjana S1 jurusan Manajemen di Universitas Indonesia. Saya ingin ia memiliki fondasi ilmu yang kuat dan kemandirian berpikir sebelum memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain itu, dunia pemodelan dan hiburan adalah karier yang ia tekuni dengan penuh semangat, kerja keras, dan telah meraih banyak prestasi sejak usia muda. Saya berharap kelak setelah kalian menikah, kau tetap mendukungnya untuk terus berkarier sesuai keinginannya, tanpa harus meninggalkan impian yang sudah ia bangun perlahan dengan keringatnya sendiri.”

Mendengar permintaan itu, Bhumi justru tersenyum lega seolah beban berat yang ia pikirkan sebelumnya terangkat seketika.

“Om, Tante, permintaan ini justru sejalan dengan apa yang selalu saya harapkan dan janjikan dalam hati untuk Anindya. Saya tidak ingin ia melupakan cita-citanya atau merasa harus mengorbankan mimpinya hanya karena bersanding dengan saya. Saya justru akan sangat bangga mendukungnya lulus sarjana dengan hasil terbaik, dan terus bersinar di dunia hiburan sesuai kemampuannya. Saya ingin Anindya tetap menjadi wanita yang mandiri, cerdas, dan membanggakan siapa pun—termasuk diriku sendiri. Saya menyanggupi semuanya dengan sepenuh hati dan janji yang tak akan saya ingkari.”

Mendengar jawaban yang begitu tulus dan bijaksana itu, Kombespol Andi dan Roy pun ikut menegaskan dukungan mereka, meyakinkan kedua orang tua Anindya bahwa Bhumi adalah pemuda yang tepat, yang memahami makna kesetaraan dan saling mendukung dalam sebuah hubungan. Guntur dan istrinya pun tersenyum bahagia, berdiri dan merangkul bahu Bhumi dengan penuh kehangatan dan kasih sayang, seolah sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

“Terima kasih, Bhumi. Mulai malam ini, kami percaya padamu sepenuhnya,” ucap Tante Rissa dengan suara lembut namun penuh haru, matanya berkaca-kaca menahan rasa haru. “Jaga putri kami dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kami akan menjagamu sebagai anak kami sendiri.”

Malam itu pun berakhir dengan doa bersama dan jabat tangan yang menyatukan dua keluarga dalam ikatan yang lebih erat dari sebelumnya. Di luar jendela, bintang-bintang semakin bersinar terang seolah memberikan restu dari langit, menyaksikan ikatan janji yang baru saja terjalin penuh kasih sayang, kepercayaan, dan harapan akan masa depan yang cerah bagi dua hati yang telah saling menemukan sejak lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!