"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Kondisi Nenek Aisyah
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di kediaman mewah baru milik Elang, atmosfer pagi di sana tidak kalah membara, namun dalam bentuk luapan kemurkaan yang meletup-letup.
Prang!
Sebuah cangkir keramik berisi sisa teh hangat hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Cindy ke atas permukaan lantai marmer dapur bersih. Wajah tirus wanita itu tampak memerah padam, guratan kecantikannya distorsi oleh rasa dengki dan amarah yang luar biasa hebat setelah panggilan teleponnya diputus sepihak oleh Elang subuh tadi.
Napas Cindy memburu kencang, dadanya kembang kempis menahan gejolak yang nyaris membakar akal sehatnya. "Sialan! Kurang ajar kamu, Alin!" desis Cindy dengan suara bergetar, jemarinya mengepal kuat hingga kuku-kukunya yang bercat merah menggores telapak tangannya sendiri.
Otak licik Cindy benar-benar tidak bisa tenang semenjak mengetahui fakta bahwa Alin menginap di rumah besar bersama Elang semalam. Segala skenario manis yang ia susun untuk menguasai Elang di bawah atap rumah baru ini mendadak terancam berantakan hanya karena keberadaan istri sah di sisi Nenek Aisyah. Cindy tahu betul, jika ia membiarkan Elang terlalu lama berada di bawah pengaruh wanita tua bangka itu dan kedekatan paksa dengan Alin, posisi tawar dirinya dan Ega bisa bergeser dalam sekejap mata.
"Aku harus mencari cara ... aku harus membuat Elang segera angkat kaki dari rumah terkutuk itu dan pulang ke sini hari ini juga!" gumam Cindy berbisik pada keheningan ruangan, matanya berkilat liar penuh kelicikan.
Cindy memutar tubuhnya, melangkah keluar dari area dapur bersih menuju ruang tengah. Pandangan matanya mendadak terkunci pada sosok bocah kecil berusia empat tahun yang sedang duduk tenang di atas karpet bulu, baru saja menyelesaikan suapan terakhir dari bubur sarapannya yang disiapkan oleh ART.
Ega. Anak laki-laki itu tampak menatap ibunya dengan sepasang mata bulat yang polos, tidak tahu-menahu tentang badai manipulasi yang sedang dirancang di atas kepalanya.
Cindy melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan putranya. Ia mencengkeram kedua bahu kecil Ega dengan sedikit penekanan, memaksa bocah itu menatap lurus ke dalam matanya yang sarat akan ambisi gelap.
"Ega ... kamu sayang kan sama Papa Elang?" tanya Cindy, nada suaranya mendadak berubah menjadi manis namun terdengar begitu menekan di rungu sang anak.
Ega mengangguk pelan, wajah kecilnya tampak agak ketakutan melihat kilat aneh di mata ibunya. "Sayang, Bu ..."
"Kalau kamu sayang sama Papa, kamu harus bantu Ibu sekarang," bisik Cindy, senyum culasnya perlahan mengembang mengerikan. Ia mengusap pipi Ega dengan ujung kukunya yang tajam. "Sebentar lagi, kalau Ibu minta kamu untuk menangis dan bilang kalau badanmu sakit semua, kamu harus lakukan itu di depan telepon dengan Papa, mengerti? Kamu harus menangis sekeras-kerasnya sampai Papa Elang pulang ke rumah ini untuk memelukmu. Jangan sampai salah, Ega. Kalau kamu gagal ... Ibu akan buang kamu kembali ke tempat yang gelap."
Ancaman kejam itu seketika membuat tubuh mungil Ega bergetar halus. Bocah polos itu hanya bisa mengangguk pasrah dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan rasa takut pada ibunya sendiri, sebuah alat peraga sempurna yang siap dilemparkan Cindy ke dalam pusaran konflik rumah tangga Elang dan Alin siang nanti.
***
Kembali ke rumah sakit pusat kota, proses administrasi dan pemeriksaan awal Nenek Aisyah berjalan dengan sangat cepat berkat pengaruh nama besar keluarga mereka. Nenek Aisyah kini sudah berbaring di atas ranjang dorong di dalam ruang khusus pemeriksaan jantung, dikelilingi oleh Dokter Hermawan dan dua asisten medis yang sedang memasang belasan kabel elektroda di atas dada sepuhnya untuk melakukan rekam jantung atau EKG (Elektrokardiogram).
Alin berdiri setia di sisi kiri ranjang bawah, matanya menatap monitor yang menampilkan garis gelombang detak jantung Nenek Aisyah yang naik turun dengan ritme yang belum sepenuhnya beraturan. Jemarinya tidak lelah mengusap punggung tangan kurus sang nenek, memberikan ketenangan psikologis yang sangat dibutuhkan oleh pasien.
Sedangkan Elang diposisikan berdiri di sudut ruangan dekat pintu, bersedekap dada dengan wajah yang kaku. Perasaannya campur aduk antara rasa takut kehilangan sang nenek dan rasa tertekan akibat kehadiran Alin yang terus memasang tembok permusuhan yang dingin tanpa celah.
Dokter Hermawan menyelesaikan pembacaan grafik pada kertas print out EKG yang keluar dari mesin, lalu menatap Elang dan Alin secara bergantian dengan gurat wajah yang serius namun sedikit lebih lega dari kemarin.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah ada penyumbatan baru pada jantung Nenek?" tanya Elang tidak sabar, melangkah maju memotong jarak.
Dokter Hermawan menghela napas pendek, lalu membetulkan letak kacamatanya. "Kondisi dinding otot jantungnya mengalami sedikit kelelahan akibat shock emosional semalam, Elang. Beruntung, belum ada indikasi penyumbatan fatal yang baru. Namun, saya tegaskan sekali lagi di depan kalian berdua ... Nenek Aisyah tidak boleh berada dalam situasi yang memicu stres atau tekanan batin dalam waktu tiga bulan ke depan. Fluktuasi emosi sedikit saja bisa berakibat sangat fatal bagi keselamatannya."
Mendengar frasa "tiga bulan ke depan", Alin dan Nenek Aisyah secara refleks saling melempar pandangan mata yang sarat akan makna rahasia di antara mereka berdua. Kesepakatan rahasia itu berputar konstan di dalam ingatan Alin, mempertegas lini masa permainannya untuk menghancurkan ego Elang tanpa perlu diketahui oleh suaminya tersebut.
"Saya mengerti, Dok. Saya pribadi yang akan memastikan bahwa tidak akan ada drama atau gangguan murahan apa pun yang akan mendekati atau mengusik ketenangan pikiran Nenek selama masa pemulihan ini," ucap Alin dengan nada suara yang teramat tenang namun terdengar begitu menyengat, matanya melirik tajam ke arah Elang yang berdiri kaku di samping dokter.
"Bagus kalau begitu, Mbak Alin. Untuk obatnya ada beberapa dosis yang saya naikkan, tolong dipastikan diminum secara teratur," tambah Dokter Hermawan, beralih merapikan berkas medisnya. "Setelah ini, Nenek sudah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan di rumah besar, namun ingat ... istirahat total dan jangan banyak pikiran adalah kunci utamanya."
"Terima kasih banyak, Dokter Hermawan. Kami akan segera mengurus penyelesaian administrasinya," sahut Alin lembut sembari membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.
Elang hanya bisa terdiam membisu di tempatnya berdiri, merasa perannya sebagai kepala keluarga dan cucu tertua sepenuhnya telah diamputasi dan diambil alih secara mutlak oleh Alin. Setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk berbicara, aura permusuhan dan ketegangan yang dibangun oleh istrinya selalu berhasil mengunci pergerakannya, menjadikannya tak lebih dari sekadar penonton figuran di tengah perjuangan menyelamatkan nyawa neneknya sendiri.
Bersambung ...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄
lanjut mommy