NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Kerumah keluarga Rosline

Rosline masih menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ruangan terasa begitu sunyi, perlahan ia meletakkan ponsel itu kembali di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang.

"Syukurlah kalau mereka semua baik-baik saja di sana..." bisiknya pelan.

Namun anehnya, setelah mendengar suara ibunya dan Alda, hatinya tidak benar-benar tenang. Karena sekarang ia tahu satu hal.

Victor mungkin sudah mengetahui keluarganya jauh sebelum dirinya datang ke mansion Alexander. Pikiran itu membuat bulu kuduknya meremang.

Rosline menundukkan wajahnya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya hanyalah gadis biasa. Tidak memiliki apa pun yang berharga.

Namun sekarang, orang-orang di sekitarnya mulai berada dalam bahaya karena dirinya. Matanya perlahan memanas, bukan karena ucapan ibunya. Melainkan karena rasa bersalah yang semakin besar.

Tok... tok... tok.

Ketukan pintu mendadak terdengar.

Rosline langsung tersentak. "Siapa?"

"Daniel, Nona."

Rosline buru-buru menghapus sudut matanya sebelum berdiri. "Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Daniel masuk dengan wajah serius seperti biasa. "Nona Rosline."

"Ada apa?"

Daniel terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Tuan Bara meminta saya mengantar Anda ke ruang tengah."

Rosline mengernyit. "Sekarang?"

"Ya."

"Kenapa?"

Daniel terdiam sejenak. "Lima belas menit lagi kami akan berangkat."

Jantung Rosline langsung berdebar. "Berangkat ke mana?"

Tatapan Daniel sedikit melunak. "Ke rumah keluarga Anda."

Rosline langsung membeku. "Apa?"

"Tuan Bara sudah menyiapkan tim keamanan."

Daniel menyerahkan sebuah map tipis. "Mulai malam ini rumah keluarga Anda akan dijaga dua puluh empat jam."

Mata Rosline langsung membesar. "Apa?"

"Kami juga akan memindahkan beberapa orang ke sekitar lingkungan rumah secara diam-diam."

Rosline menatap map itu tanpa berkedip. Semua ini, dilakukan secepat itu?

Daniel mengangguk kecil seolah memahami pikirannya. "Tuan Bara tidak suka mengambil risiko."

Rosline menggenggam map tersebut perlahan. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Karena baru kali ini ada seseorang yang langsung bergerak melindungi keluarganya tanpa diminta.

"Tuan Bara..." gumamnya pelan.

Daniel memperhatikannya beberapa detik. Lalu berkata dengan suara rendah. "Maaf kalau saya lancang, Nona."

Rosline mengangkat wajah.

"Saya sudah bekerja untuk Tuan Bara hampir sepuluh tahun."

Rosline terdiam.

"Dan selama itu..." Daniel berhenti sejenak. "Saya belum pernah melihat beliau bertindak secepat ini untuk seseorang."

Jantung Rosline langsung berdetak aneh.

Daniel segera mengalihkan pandangan. "Mari ikut saya."

Rosline hanya bisa mengangguk pelan.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ruang tengah. Begitu masuk, Rosline langsung melihat Bara sedang berdiri di depan meja besar sambil menatap beberapa foto dan dokumen.

Edwin berada di sampingnya dengan ekspresi serius. Kakek Alberto duduk diam di sofa. Tidak ada satu pun yang terlihat santai. Semuanya seperti sedang bersiap menghadapi perang.

Langkah Rosline perlahan terhenti. Karena di atas meja itu terdapat foto rumahnya. Foto ayahnya, Alda dan beberapa foto wanita misterius yang tadi diperlihatkan Daniel.

Tatapan Bara langsung terangkat saat menyadari kedatangannya. "Kemari."

Rosline berjalan mendekat. "Bagaimana keadaan keluargamu?"

"Mereka baik-baik saja."

Bara mengangguk tipis. "Untuk saat ini."

Kalimat itu membuat suasana kembali menegang.

Rosline menggenggam jemarinya erat "Maksud Tuan apa?"

Bara menatapnya beberapa detik. Sorot matanya dingin seperti biasa. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang jauh lebih serius.

"Kita akan memastikan mereka tetap baik-baik saja."

"Tuan..."

"Dan setelah malam ini," lanjut Bara, "Victor akan tahu bahwa aku sudah mengetahui permainannya."

Rosline menelan ludah. "Kalau begitu bukankah itu berbahaya?"

"Tidak.".Jawaban Bara terlalu cepat. Tatapannya berubah gelap. "Yang berbahaya adalah membiarkannya bergerak lebih lama."

Ruangan kembali sunyi.

Lalu Bara mengambil jas hitamnya dari kursi dan mengenakannya.

"Daniel."

"Ya, Tuan."

"Siapkan mobil."

"Baik."

Daniel langsung pergi, Edwin ikut berdiri.

Sedangkan Rosline masih terlihat bingung. "Kalian benar-benar akan berangkat malam ini?"

Bara menatapnya lurus. "Ya."

"Lalu aku?"

"Kau ikut."

Rosline langsung membulatkan mata. "Ikut?"

"Ya, tentu saja."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi." Bara memotongnya tanpa ragu. Tatapannya menajam. "Ini keluargamu."

Jantung Rosline langsung berdebar. Dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi...

Bara melanjutkan dengan suara rendah. "Sudah waktunya kita mencari tahu kenapa Victor mengawasimu sejak awal."

Beberapa jam kemudian...

Mobil-mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di ujung jalan kecil. Hujan sudah mulai mereda, hanya menyisakan gerimis tipis yang membasahi halaman.

Rosline langsung membuka pintu mobil bahkan sebelum Daniel sempat membantunya.

"Kak Rosline!" Suara itu terdengar dari teras.

Alda yang baru saja keluar rumah langsung membelalakkan mata.

"Kak!"

Rosline berlari cepat. Alda ikut berlari turun dari teras dan memeluk kakaknya erat. Rosline langsung membalas pelukan itu tanpa ragu.

"Alda..."

"Kakak kenapa datang malam-malam?"

Rosline tidak langsung menjawab. Tatapannya justru mencari satu sosok lain. Dan saat melihat pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu rumah...

Mata Rosline langsung memanas. "Ayah..."

Pria itu tersenyum lemah. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Rosline pulang. Namun senyumnya tetap hangat.

Rosline langsung menghampiri lalu memeluk ayahnya erat. "Ayah baik-baik saja?"

"Ayah baik." Suara pria itu terdengar pelan namun tenang. "Kamu terlihat kurusan."

Rosline tertawa kecil meski matanya mulai berkaca-kaca.

Sementara itu, Bara turun dari mobil dengan tenang. Jas hitamnya membuat kehadirannya langsung menarik perhatian seluruh lingkungan.

Beberapa tetangga bahkan mulai mengintip dari balik jendela. Daniel dan para pengawal segera menyebar diam-diam di sekitar rumah.

Tatapan Alda membesar. "Ka-Kak..." Ia menunjuk ke arah Bara. "Itu siapa?"

Rosline langsung gugup.

Sedangkan Bara berjalan mendekat tanpa sedikit pun terlihat canggung. Begitu sampai di depan keluarga Rosline, pria itu menganggukkan kepala sopan.

"Saya Bara Alexander."

Alda langsung membeku. Bahkan Sandrin yang baru keluar rumah ikut terdiam. Nama keluarga Alexander jelas tidak asing. Dan sebelum siapa pun sempat bertanya...

Bara melanjutkan dengan tenang. "Saya datang untuk meminta izin."

Rosline langsung menoleh cepat. "Tuan Bara..."

Namun pria itu tidak menghentikan ucapannya. "Saya akan menikahi Rosline."

Suasana langsung membeku.

Alda membulatkan mata. Sandrin sampai menutup mulutnya sendiri. Bahkan Edwin yang berdiri tidak jauh dari sana hanya menghela napas panjang.

Rosline sendiri terlihat seperti ingin pingsan. "Tuan B-Bara!"

Namun pria itu tetap tenang. "Mulai hari ini keluarga kalian akan berada di bawah perlindungan saya." Tatapan Bara beralih pada ayah Rosline. "Saya juga akan memindahkan keluarga ini ke tempat yang lebih aman."

Rosline langsung terkejut. "Pindah?"

"Ya." Bara mengangguk. "Saya sudah menyiapkan rumah." Tatapannya lalu turun pada kursi roda yang berada di dekat pintu. "Serta tim medis dan perawat pribadi untuk merawat Ayah kamu."

Mata Alda langsung membesar.

Sedangkan Sandrin terlihat semakin tidak percaya. "Pe-perawat pribadi?"

"Ya." Bara menjawab singkat. "Semuanya sudah disiapkan."

Kini wajah Sandrin benar-benar berseri. Senyum lebar muncul di wajah wanita itu. "Ya Tuhan..."

Tangannya langsung menutup dada. "Rosline... kamu benar-benar beruntung."

Rosline justru merasa tidak nyaman. Entah kenapa. Karena sejak tadi ibunya terlihat jauh lebih antusias mendengar soal rumah baru, perawat pribadi, dan keamanan dibanding kabar tentang dirinya.

Namun sebelum Sandrin sempat berbicara lagi. Dua pengawal Bara tiba-tiba melangkah maju.

"Maaf."

Salah satu dari mereka berdiri tepat di samping Sandrin. Senyum wanita itu langsung menghilang.

"Hah?"

Rosline mengernyit bingung. "Ada apa?"

Bara menoleh. Sorot matanya berubah dingin. Jauh lebih dingin dari sebelumnya. "Kami perlu berbicara dengan Ibu Sandrin."

Suasana langsung berubah.

Sandrin terlihat gugup. "Be-berbicara?"

"Iya." Bara menatapnya lurus. "Secara pribadi."

Rosline langsung maju satu langkah. "Tunggu..."

Namun Edwin justru ikut menyipitkan mata. Karena ia tahu, tatapan Bara seperti itu berarti sesuatu telah ditemukan.

"Ada masalah?" tanya ayah Rosline pelan.

Bara terdiam beberapa detik. Lalu menjawab dengan tenang. "Hanya prosedur keamanan."

Rosline tidak terlihat yakin. Begitu pula Alda.

"Tapi kenapa Ibu?" tanya Alda bingung.

Tidak ada jawaban. Dua pengawal itu sudah berdiri di kanan dan kiri Sandrin.

Wanita itu mulai terlihat gelisah sekarang. "A-aku tidak mengerti..."

Namun saat itu, Ayah Rosline yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada Bara. Lalu pada Sandrin dan untuk sesaat, ekspresinya berubah sangat rumit. Sepertinya pria itu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

"Biarkan saja."

Semua orang langsung menoleh.

"Ayah?" bisik Rosline.

Pria itu menarik napas panjang. "Kalau ini memang diperlukan..." suaranya pelan. "Lakukan saja."

Rosline langsung membeku. "Ayah?"

Bahkan Sandrin terlihat panik. "Mas! Apa maksudmu?"

Namun ayah Rosline tidak menjawab. Tatapannya justru menunduk. Seakan selama ini ia menyimpan sebuah rahasia besar. Dan melihat reaksi itu, sorot mata Bara langsung berubah semakin tajam.

Karena kini ia semakin yakin, Sandrin mengetahui sesuatu. Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan Victor. Atau alasan mengapa Rosline sudah diawasi jauh sebelum datang ke Mansion Alexander.

1
Arditya
Siap thor
Nandy Sasoeng
menarik sekali🤩🥰
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 2 replies
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: Wkwkwkwk😄
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!