NovelToon NovelToon
The General'S Captive Lady

The General'S Captive Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Aliansi Pernikahan
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.

Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Benang Merah Kecurigaan

Reymond tidak langsung menanggapi perubahan ekspresi di wajah Claudia. Ia hanya berdiri tegak, seperti patung dingin yang tak tersentuh emosi, sementara matanya terus meneliti setiap detail kecil dari wanita di hadapannya. Baginya, reaksi terkejut itu bisa saja nyata—atau hanya bagian lain dari sandiwara yang lebih besar.

Claudia menarik napas perlahan, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang mulai tidak teratur. Keranjang bunga di tangannya terasa tiba-tiba berat, seolah beban yang ia pikul bukan hanya sekadar mawar, tetapi juga kecurigaan dan ancaman yang kini menggantung di atas kepalanya.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang itu,” ucap Cla akhirnya, suaranya lebih rendah, tidak lagi semanis sebelumnya. Ada sedikit ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Aku bahkan tidak memiliki akses untuk mengirim pesan keluar dari mansion ini. Kau sendiri yang memastikan itu, bukan?”

Reymond menyipitkan mata. Ia melangkah maju satu langkah, cukup dekat hingga ia bisa melihat jelas getaran halus di tangan Claudia. Ketakutan. Itu nyata. Tapi apakah ketakutan karena tertangkap, atau karena ia benar-benar tidak tahu?

“Kau pikir aku bodoh?” balas Reymond pelan, namun penuh tekanan. “Orang-orang Raven tidak pernah bertindak tanpa alasan. Mereka tidak akan bergerak hanya karena dorongan emosi. Selalu ada rencana di baliknya.”

Claudia menelan ludah. Ia tahu itu benar.

Ayahnya—Frans Crimson Raven—bukan tipe pria yang bertindak gegabah. Jika ia meminta perubahan dalam perjanjian damai, itu berarti ia sudah menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang cukup besar untuk mengubah keseimbangan kekuatan.

Dan itu membuat Cla semakin takut.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri… tapi juga untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku tidak mengirim apa pun,” ulang Cla, kali ini dengan nada yang lebih tegas. “Jika Raven bergerak, itu bukan karena aku.”

Reymond menatapnya beberapa detik lebih lama, mencoba membaca apakah ada kebohongan di balik kata-kata itu. Namun ekspresi Claudia kini jauh lebih terkendali. Tidak ada senyum menggoda, tidak ada gerakan genit. Hanya kewaspadaan… dan sesuatu yang lain.

Kekhawatiran.

Reymond mundur setengah langkah, meski tatapannya belum lepas. “Jika aku menemukan bahwa kau berbohong…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun ancaman itu menggantung jelas di udara.

Claudia mengangkat dagunya sedikit, mencoba mempertahankan harga dirinya. “Jika aku benar-benar punya cara untuk berkomunikasi keluar, apakah menurutmu aku masih akan berada di sini, menanam bunga dan membantu di dapur?”

Pertanyaan itu membuat Reymond terdiam sejenak.

Logikanya masuk akal.

Seorang putri dari keluarga Raven—yang dikenal licik dan penuh strategi—tidak mungkin membuang waktunya dengan hal-hal remeh jika ia memiliki kesempatan untuk melarikan diri atau memanipulasi keadaan.

Namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih mencurigakan.

“Kadang,” gumam Reymond pelan, “justru orang yang terlihat paling tidak berbahaya adalah yang paling mematikan.”

Claudia tidak menjawab. Ia hanya memegang keranjang bunganya lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahannya agar tetap berdiri tegak di bawah tekanan pria itu.

Keheningan menyelimuti lorong itu selama beberapa detik yang terasa begitu panjang.

Akhirnya, Reymond berbalik tanpa mengatakan apa pun lagi. Langkahnya tegas, cepat, dan penuh tujuan. Ia meninggalkan Claudia sendirian, namun bukan berarti ia benar-benar melepaskannya.

Tidak.

Justru sebaliknya.

Pengawasan terhadap Claudia kini akan menjadi lebih ketat dari sebelumnya.

Hari-hari berikutnya berubah drastis.

Para penjaga yang sebelumnya hanya berjaga di titik-titik tertentu kini mulai bergerak lebih aktif. Mata mereka lebih sering mengikuti setiap langkah Claudia. Bahkan para pelayan yang dulu bersikap santai kini terlihat lebih berhati-hati saat berbicara dengannya.

Claudia menyadari perubahan itu dengan sangat jelas.

Ia tidak lagi benar-benar “bebas” berjalan di dalam mansion.

Setiap langkahnya kini seperti berada di bawah bayaNgan.

Namun yang paling mengganggunya bukanlah pengawasan itu…

melainkan pikiran tentang ayahnya.

Frans Raven.

Apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan?

Claudia duduk di tepi jendela kamarnya pada suatu sore, menatap taman yang biasanya ia rawat dengan penuh perhatian. Mawar-mawar merah itu bermekaran indah, kontras dengan kekacauan yang kini memenuhi pikirannya.

Jika Raven benar-benar mempersiapkan sesuatu besar, maka kemungkinan besar dirinya hanyalah bagian kecil dari rencana itu.

Atau lebih buruk…

umpan.

Claudia memejamkan mata sejenak.

Ia tidak ingin percaya bahwa ayahnya akan menggunakan dirinya sebagai alat tawar.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu—itu sangat mungkin terjadi.

Di sisi lain mansion, Reymond berdiri di ruang kerjanya, menatap peta yang sama seperti malam sebelumnya. Beberapa tanda baru telah ditambahkan, menunjukkan wilayah-wilayah yang kemungkinan menjadi titik pergerakan Raven.

Kepala penjaga berdiri di dekat pintu, menunggu instruksi.

“Kirim orang ke perbatasan timur,” perintah Reymond. “Aku ingin laporan setiap pergerakan sekecil apa pun.”

“Baik, Tuan.”

“Dan satu lagi…” Reymond berhenti sejenak, matanya menyempit. “Awasi Claudia secara diam-diam. Jangan terlalu mencolok. Jika dia benar-benar tidak tahu apa-apa, tekanan berlebihan justru bisa membuatnya melakukan sesuatu yang tidak terduga.”

Kepala penjaga mengangguk. “Dipahami.”

Setelah pria itu pergi, Reymond kembali menatap peta.

Naluri militernya mengatakan bahwa badai besar sedang mendekat.

Dan badai itu…

tidak akan bisa dihindari.

Malam itu, Claudia tidak bisa tidur.

Ia berjalan perlahan keluar dari kamarnya, melewati lorong yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.

Entah kenapa, ia merasa perlu keluar.

Bukan untuk melarikan diri.

Hanya… untuk bernapas.

Ia akhirnya sampai di taman belakang. Udara malam terasa dingin, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menjernihkan pikirannya.

Claudia berjalan di antara deretan mawar, jemarinya menyentuh kelopak bunga dengan lembut.

“Ayah…” bisiknya pelan. “Apa yang sebenarnya kau lakukan…?”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Claudia langsung menegang.

Ia berbalik cepat—dan menemukan Reymond berdiri beberapa meter darinya.

Tatapan mereka bertemu dalam diam.

Kali ini, tidak ada kata-kata sarkastik.

Tidak ada tuduhan langsung.

Hanya dua orang yang sama-sama terjebak dalam situasi yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan.

“Kau tidak seharusnya berada di luar malam-malam seperti ini,” kata Reymond akhirnya.

Claudia menghela napas pelan. “Aku juga tidak seharusnya berada di sini sejak awal.”

Jawaban itu membuat Reymond sedikit mengernyit.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda dari Claudia.

Bukan manipulasi.

Bukan permainan.

Melainkan… kelelahan.

“Jika Raven benar-benar bergerak,” lanjut Claudia pelan, “kau akan tetap menganggapku musuh, bukan?”

Reymond tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berkata, “Itu tergantung pada pilihan yang kau buat.”

Claudia tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Masalahnya… kadang pilihan itu tidak pernah benar-benar ada.”

Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan kelopak mawar di sekitar mereka.

Dan di bawah langit gelap yang sunyi itu, dua pihak yang seharusnya saling menghancurkan justru berdiri dalam jarak yang begitu dekat—

dengan kecurigaan, ketakutan, dan sesuatu yang belum bisa mereka namai.

Sementara di kejauhan…

permainan besar mulai bergerak.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!