Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Menantu
Di dapur, Azizah benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya selalu terkunci pada percakapan sore dengan Amisha kemarin di balkon lantai atas. Setiap kali ia mencoba fokus, bayangan wajah serius Amisha selalu muncul. Membuat hatinya berdegup kencang hingga tangannya gemetar.
Flashback On
“Azizah, bagaimana kalau kau yang menikah dengan Ezra?”
Seketika, Azizah lupa caranya bernapas. Ia merasa seperti dipinang dan ia belum siap dengan hal itu. Dengan gerakan cepat, ia menulis di bukunya.
‘Apa Nyonya sedang bercanda?’
Amisha menggeleng, “Tidak, Zah. Aku serius. Sangat serius. Kau dan Ezra akan menjadi pasangan sempurna. Apalagi hanya kau yang berani menghadapinya, mungkin karena kau, sifatnya itu bisa berubah dan kembali dekat dengan keluarga ini. Aku juga menyukaimu, tentu aku ingin menjadikanmu sebagai menantuku.”
Azizah menggeleng cepat, ia kembali menulis.
‘Tidak Nyonya. Saya tidak bisa menerima itu. Lagipula saya hanya wanita bisu dan dari keluarga tidak mampu. Keluarga Nyonya terlalu sempurna untuk saya.’
Membaca itu, Amisha langsung menggenggam tangan Azizah yang sedang memegang pena.
“Azizah, jangan berkata seperti itu,” ucapnya lembut, “Aku tidak pernah melihat kekurangan dalam dirimu. Bahkan kelebihan yang kau miliki sudah mengalahkan kekurangan itu. Kau berharga, Nak. Sangat berharga.”
Azizah menatap tangan Amisha yang menggenggamnya, tapi dengan keputusan bulat ia melepaskan tangannya perlahan, lalu menulis.
‘Saya tetap tidak bisa melakukannya, Nyonya. Saya tidak bersedia menikah dengan pria yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih. Saya juga ingin menikah dengan pria yang mencintai saya, yang bijaksana, sholeh, baik, bertanggung jawab, tidak kasar, pengertian, dan memuliakan wanita. Dan kriteria itu sangat jauh berbeda dengan Tuan Ezra. Untuk masalah ini, saya anggap tidak pernah saya dengar. Sekali lagi maafkan saya.’
Setelah Amisha selesai membaca, Azizah langsung berdiri dan membungkuk hormat sebelum ia pergi meninggalkan balkon dengan perasaan yang berkecamuk.
Flashback Off
“Azizah, hei! Kau melamun, ya?” Iyem mengguncang bahu Azizah yang otomatis membuyarkan lamunannya.
Azizah menatap wanita itu lalu menunjukkan ekspresi bersalah. Ia segera melanjutkan memotong wortel di atas telenan dengan gerakan yang berusaha ia stabilkan. Iyem hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Azizah, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Di sisi lain, walaupun penolakan tegas telah disampaikan oleh Azizah, rupanya semangat Amisha justru semakin membara. Di matanya, prinsip kuat yang dipegang teguh oleh Azizah bukanlah penghalang, melainkan bukti bahwa Azizah adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingi Ezra. Amisha semakin yakin bahwa hanya sosok dengan integritas setinggi Azizah yang mampu menundukkan kekerasan hati putranya.
Di ruang makan, Amisha bahkan tidak sabar untuk mengutarakan niatnya kepada anggota keluarga yang lain.
“Aku sudah memutuskan,” ujar Amisha, “Aku ingin Ezra menikahi Azizah.”
Prang!
Darel hampir menjatuhkan gelasnya karena terkejut. Sementara Windy yang sedang menyuapi Keira langsung terhenti, menatap sang ibu mertua dengan mata yang membelalak.
“Mama! Apa Mama tidak salah bicara?” tanya Darel dengan suara tertahan, “Azizah itu... dia pekerja kita, Ma. Lagipula, Kak Ezra sedang menjalin hubungan dengan Sienna. Bagaimana mungkin?”
Windy mengangguk cepat, “Benar, Ma. Kak Ezra pasti akan mengamuk jika mendengar ini. Dia sudah sangat terobsesi dengan Sienna.”
Amisha hanya menghela napas panjang, namun tatapannya tidak goyah sedikit pun, “Justru karena itu. Sienna tidak akan pernah membawa perubahan baik bagi putraku. Aku sudah lelah melihat Ezra yang semakin angkuh. Azizah... dia satu-satunya yang berani menunjukkan jati diri tanpa rasa takut dihadapkan Ezra. Itu yang Ezra butuhkan.”
Tiba-tiba, sebuah seruan ceria memecah ketegangan.
“Aku setuju!”
Semua mata tertuju pada Clara yang tampak bersemangat. Gadis itu bertepuk tangan dengan wajah yang berseri-seri, “Aku mau Mbak Azizah jadi kakakku! Dia baik, lembut, dan pastinya seru kalau diajak main. Aku sudah tidak sabar dia resmi menjadi kakak iparku!”
“Clara, ini bukan soal main-main,” tegur Darel, walaupun ia sendiri tampak kebingungan harus berkata apa lagi menghadapi kerasnya kepala sang ibu.
“Apapun itu, Mama tetap ingin menjadikan Azizah sebagai menantu keluarga ini,” pungkas Amisha dengan nada final, “Aku sudah melihat ketulusan dan prinsipnya. Hanya dia yang pantas untuk Ezra.”
“Sekarang hubungi Ezra. Katakan padanya penyakitku kambuh dan kondisiku sangat serius. Aku yakin dia pasti akan datang,” titah Amisha dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Darel sontak menggeleng, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan, “Ma, aku tidak bisa. Aku tidak mau menggunakan alasan kesehatan Mama hanya untuk mengundang Kak Ezra. Itu tidak baik.”
Amisha bergeming. Ia justru menatap putranya dengan tajam, “Lalu apa kau benar-benar ingin memiliki kakak ipar seperti Sienna? Bukankah kau sendiri tahu bahwa Azizah jauh lebih baik daripada wanita murahan itu?”
Darel terdiam. Ia hanya bisa menghela napas panjang hingga bahunya turun. Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk, “Baik, Ma. Aku akan mengabari Kak Ezra setelah sarapan.”
Di sisi lain, Windy memperhatikan suaminya yang kini menunduk dalam menatap meja, “Mas, popok Keira semalam, Mas letakkan di mana?” tanya Windy.
Darel menoleh, “Di samping meja riasmu.”
“Ah, benarkah? Kenapa aku tidak melihatnya? Bisa Mas mencarinya untukku? Keira harus mandi dan berganti popok,” pinta Windy.
Darel mengangguk lalu pergi menuju kamar mereka.
“Ma, titip Keira sebentar, ya,” ucap Windy sebelum menyusul langkah suaminya.
Sesampainya di lantai atas, Windy segera menarik lengan Darel dan berbisik, “Tadi hanya alasan, Mas.”
Darel menghela napas berat, “Aku sudah tahu. Tadi setelah bangun tidur, kau bahkan sudah menyentuh popok Keira.”
Windy mengusap lengan suaminya dengan lembut, mencoba menenangkan, “Aku tahu Mas tidak setuju dengan permintaan Mama. Tapi pikirkan sekali tentang kondisi kesehatan Mama. Jika memang hal itu membuat Mama bahagia, kita harus menurutinya.”
“Tapi, Sayang... tetap saja hal itu egois,” sahut Darel dengan nada getir, “Mana mungkin aku membiarkan wanita seperti Azizah hidup bersama Kak Ezra yang sekasar itu? Sama saja kita membiarkan Azizah berada di kandang singa. Jangan karena kita memikirkan Mama, kita malah membuat anak orang lain tersiksa. Apalagi Azizah datang ke kota pasti memiliki banyak mimpi yang hendak dicapai.”
Windy menarik napas panjang, berusaha tetap bersikap netral, “Aku mengerti, Mas. Begini saja, yang penting Mas sudah menghubungi Kak Ezra. Kita serahkan saja sisanya pada keputusan Kak Ezra nanti. Dengan sikap Kak Ezra yang keras, dia tentu akan langsung menolaknya, dan Mama bisa melupakan niatnya itu.”
Darel tampak menimbang-nimbang usulan istrinya sejenak sambil terus memikirkan segala konsekuensi yang mungkin terjadi. Akhirnya, ia mengangguk setuju.