Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menagih Hutang Janji
kelembutan ranjang berselimut sutra sayap barat. Di bawah temaram lampu tidur yang sengaja dia redupkan hingga hanya menyisakan sorot temaram di bagian tengah kasur, tubuhnya terekspos dengan begitu berani. Dia mengenakan sepotong lingerie satin merah transparan yang sangat menggoda, hadiah rahasia dari Jenna yang entah dari mana pelayan itu bisa mendapatkan gaun tidur seindah itu.
Talitha meluruskan salah satu kakinya, membiarkan kain merah itu tersingkap hingga ke pangkal paha, memperlihatkan kulit putih mulus yang tampak begitu penuh dan berisi. Di dalam benaknya, sebuah monolog keangkuhan bergema dengan begitu nyaring.
Lihatlah dirimu di cermin, Talitha. Kamu jauh lebih sempurna dibandingkan Sonya yang kurus, ringkih, dan tampak seperti mayat hidup itu. Pria normal mana yang akan memilih seonggok daging tak bertenaga jika di depannya ada keindahan murni yang siap memuaskannya? Setelah malam panjang nan indah ini berakhir, Batara Moretti tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman jemarimu. Dia akan bertekuk lutut, mengemis cintamu, dan takhta Nyonya Moretti akan jatuh ke tangan yang tepat. Ke tanganku.
Klik.
Suara putaran gagang pintu seketika membubarkan lamunan keangkuhannya. Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok tegap Batara Moretti.
Talitha dengan cepat mengubah posisinya menjadi pose yang jauh lebih sensual, menopang kepalanya dengan satu tangan sementara matanya menatap liar. "Tuan... Anda akhirnya datang? Aku sudah menunggumu begitu lama," ucap Talitha dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu, manja, dan sarat akan undangan eksplisit.
Batara tidak menjawab sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya yang berahang tegas tampak begitu datar, sedingin es di puncak gunung terdalam. Sebelum melangkah ke kamar ini, salah seorang dokter bedah baru saja memberikan laporan bahwa Jevan telah berhasil melewati masa kritisnya yang paling akut, detak jantung dan tekanan darahnya kini telah stabil dan pria setia itu hanya tinggal membutuhkan waktu pemulihan total saja.
Batara menatap wanita di atas ranjang dengan kilatan mata yang sulit diartikan. Di dalam lubuk hatinya, ada rasa muak yang bergejolak hebat, namun sebagai seorang pemimpin tertinggi The Inferno, logika taktisnya memaksa dirinya untuk berhadapan dengan kenyataan pahit, malam ini, dia terpaksa harus memenuhi sebuah utang nyawa dan utang darah kepada wanita yang paling dia benci ini demi keselamatan tangan kanannya.
Di dalam kamar, wangi esensial mawar merah yang berbaur dengan aroma terapi memabukkan dari ramuan rahasia yang disiapkan Jenna mulai menguap memenuhi udara, menciptakan atmosfer seakan-akan waktu berjalan melambat, memicu ketenangan sekaligus gairah primitif bagi siapa saja yang menghirupnya. Fokus cahaya lampu yang menyinari ranjang membuat setiap lekuk tubuh seksi Talitha yang terbalut kain merah tipis terekspos tanpa ada celah tersembunyi.
"Malam ini, Tuan harus memenuhi seluruh janji dan permintaanku di ruang bawah tanah, bukan?" Bisik Talitha manja, menggeser tubuhnya mendekati tepi ranjang, tepat di depan tempat Batara berdiri mematung.
Talitha memajukan wajahnya, mencoba menghirup udara di sekitar dada bidang Batara. Namun, begitu hidungnya menangkap seulas aroma yang menguar dari tubuh suaminya, senyuman di wajah cantiknya seketika membeku. Itu bukan aroma parfum maskulin milik Batara yang biasa, melainkan aroma wewangian bunga lembut yang sangat khas, parfum wanita. Parfum milik Sonya Munic.
Talitha mengepalkan kedua tangannya di balik seprai sutra hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang pekat seketika membakar dadanya. Sialan! Jadi pria ini mendatangi wanita jalang itu terlebih dahulu di kamar utama sebelum dia menginjakkan kakinya ke kamarku?! Dia menyentuhnya sebelum datang kepadaku?!
Meskipun hatinya dilanda kekesalan yang luar biasa, Talitha yang cerdik tidak ingin merusak momen emas malam ini. Dia segera menekan egonya dalam-dalam, kembali memasang topeng kemanisannya. "Malam ini, Tuan... aku berjanji akan membuatmu tidak akan pernah bisa melupakan malam kebersamaan kita. Aku akan membuatmu melupakan segalanya, dan membiarkan kita merasakan syahdunya malam ini berdua saja di dalam kehangatan ranjang ini."
Sebuah kilatan emosi kemarahan yang sangat pekat jelas terlihat dari kedua sorot mata Batara yang tajam. Tanpa aba-aba, Batara melangkah maju satu langkah besar. Tangan kirinya yang kekar bergerak secepat kilat, mencengkeram bahu Talitha dan mendorong tubuh wanita itu secara kasar hingga punggungnya membentur dinding beton di belakang kepala ranjang dengan keras. Jari-jari besar Batara naik ke leher Talitha, mencengkeramnya dengan tekanan yang kuat, seolah-olah dia benar-benar ingin mencekik wanita di depannya hingga mati saat itu juga.
Namun, alih-alih ketakutan, Talitha justru mengeluarkan suara desahan kecil. Sifat gila dan ambisinya membuat dia justru menyukai sikap kasar dan dominasi mutlak yang ditunjukkan oleh pria Moretti ini.
"Ah... Tuan... pelan-pelan saja," bisik Talitha, suaranya terdengar sedikit terbata-bata karena jalur pernapasannya sedikit tertekan oleh cengkeraman tangan Batara. Mata wanita itu menatap liar penuh tantangan. "Jangan terburu-buru... biar aku... biar aku yang akan memuaskan seluruh gairahmu malam ini, Tuan Batara..."
Batara mendengus jijik, lalu dengan satu sentakan tangan yang kuat, dia menghempaskan tubuh Talitha kembali ke atas kasur empuk, membuat puluhan kelopak bunga mawar merah yang sengaja ditaburkan di atas seprai berterbangan ke udara sebelum jatuh berserakan.
Batara melangkah mundur dua langkah, tangannya bergerak membuka kancing kemeja sutra hitam terluarnya satu per satu dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menyentaknya lepas dan mencampakkannya begitu saja ke atas lantai marmer. Dada bidangnya yang kokoh, dipenuhi guratan tato lambang klan Moretti yang melingkar rumit berpadu dengan otot-otot perut yang solid, kini terpampang jelas, memberikan pemandangan yang begitu maskulin dan menggoda bagi mata lapar Talitha. Perban putih yang menutupi luka sayatan di perut kanannya tampak sedikit memerah, namun pria itu mengabaikannya sama sekali.
Batara berjalan menuju ke arah lemari kayu mahoni di sudut ruangan, membuka pintunya, dan mengambil sebuah botol minuman anggur merah (wine) berkualitas tinggi berserta dua buah gelas kristal berkaki panjang yang tersimpan di sana secara khusus.
Dengan gerakan tangan yang tenang namun sarat akan ketegangan sunyi, Batara menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam kedua gelas hingga terisi setengahnya. Dia berjalan kembali ke tepi ranjang, mengulurkan satu gelas kristal ke arah tangan Talitha.
"Kita minum anggur ini terlebih dahulu," ucap Batara, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, datar tanpa ekspresi, sambil mengangkat gelas miliknya sendiri di udara sebagai tanda penghormatan dingin.
"Mmm... I like it, Suamiku..." sahut Talitha dengan nada suara yang sengaja dibuat se-manja mungkin, menerima gelas tersebut dengan jemari lentiknya.
Talitha mengangkat gelasnya tinggi-tidak menolak, matanya terus menatap lurus ke dalam manik mata hitam Batara dengan tatapan menggoda yang eksplisit. Dia meminum anggur merah itu dengan gerakan yang sengaja dibuat ceroboh, membiarkan beberapa tetes cairan merah pekat itu tumpah dari sudut bibirnya, mengalir lambat melewati leher jenjangnya, terus merembes turun membasahi belahan dadanya yang terekspos di balik lingerie merah transparan. "Anggur ini... rasanya sangat manis dan memabukkan, Tuan... persis seperti apa yang akan kamu rasakan dari tubuhku malam ini."
Batara tidak meminum anggurnya sama sekali. Dia meletakkan gelas kristalnya yang masih penuh ke atas meja nakas di samping tempat tidur dengan bunyi dentingan halus. Tangan kanannya kemudian bergerak mengambil seutas pita kain hitam tebal yang terletak di atas nakas, benda yang sengaja dia siapkan sebelum memasuki kamar ini.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun penjelasan, Batara menundukkan tubuhnya, mendekati wajah Talitha, lalu dengan gerakan tangan yang cepat dan mengikat kuat, dia melingkari pita hitam tebal itu di sekeliling kepala Talitha, menutup kedua mata wanita itu sepenuhnya dari pandangan dunia luar.
Talitha terkejut sejenak saat kegelapan total mendadak menyergap penglihatannya, namun sifat penuh percaya dirinya segera mengambil alih. Dia hanya pasrah, mengira ini adalah bagian dari permainan ranjang erotis ala mafia yang biasa dilakukan oleh pria berkuasa seperti Batara. Dia sudah tidak sabar untuk merasakan penyatuan fisik dengan penguasa tertinggi The Inferno itu.
"Tuan... permainan yang menarik..." gumam Talitha dengan senyuman nakal yang merekah di bibirnya yang bernoda anggur.
Brak!
Dengan sekali hentakan tangan kekar yang tidak terduga kasar, tubuh Talitha terhempas telentang di atas tengah ranjang. Sebelum dia sempat mengerti situasi, Batara menyambar kedua pergelangan tangan lentik Talitha, menariknya ke atas kepala ranjang, lalu mengikatnya dengan sangat kencang menggunakan pita kain hitam lainnya pada tiang besi tempat tidur yang kokoh. Talitha kini berada dalam kondisi sepenuhnya tidak berdaya, kedua matanya tertutup rapat oleh pita hitam, dan kedua lengannya terkunci mati pada struktur ranjang.
"Tuan... Anda suka bermain kasar, hemmm? Lakukan saja... aku milikmu malam ini..." desah Talitha, menanti sentuhan dengan tubuh yang mulai memanas akibat efek alkohol dan ramuan pemikat yang mengalir di pembuluh darahnya.
Kamu ga dosa Sonya yang ada suami mu gatau diri 😏