NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Para Pencari Masalah

Zhao Fei menoleh sedikit ke arah belakang, menatap gadis yang masih bersiaga di dekatnya. "Tetaplah berada di belakangku. Jika situasi di memburuk, segera lari dari tempat ini."

Punggung mereka berdua nyaris bersentuhan, menciptakan jarak pertahanan yang sangat rapat. Alih-alih menuruti saran untuk bersiap mundur, Liu Xue justru semakin memantapkan pegangan pada gagang pedang miliknya. Sepasang matanya yang tajam sama sekali tidak bergerak dari arah pergerakan musuh.

"Kau juga jangan sampai mati di tempat ini," balas Liu Xue dengan datar namun menyelipkan sedikit sarkasme. "Kalau kau mati, aku akan repot membawa pulang pedang mainanmu itu."

Zhao Fei sedikit mengangkat sudut bibirnya setelah mendengarkan jawaban ketus yang diucapkan oleh gadis itu.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka berdua pun segera menerjang maju secara bersamaan.

Enam orang pembunuh bayaran itu melesat maju dengan senjata yang berkelebat memantulkan cahaya bulan. Liu Xue mengeksekusi teknik Pedang Garuda Putih yang sangat menawan, menciptakan jaring-jaring cahaya bernuansa keperakan yang rapat untuk menahan gempuran lawan. Sementara itu, Zhao Fei bergerak dengan cara yang sangat berbeda, mengandalkan efisiensi gerakan tanpa banyak membuang tenaga fisiknya yang terbatas.

Dia mengayunkan pedang Pemutus Awan dengan presisi tingkat tinggi yang didapatkan dari pengalaman bertempur selama ribuan tahun di Alam Dewa.

Meskipun secara kapasitas fisik tubuh baru Zhao Fei ini masih berada di bawah level kekuatan murni para penyerang, setiap tebasan kilatnya selalu mengarah pada titik vital musuh yang tidak terjaga. Gerakannya sangat tak terduga, menghindari tusukan senjata lawan dengan selisih satu sentimeter saja, lalu membalas dengan sebuah sayatan mematikan yang meruntuhkan pertahanan musuh.

Para penyerang serba hitam itu pun mulai didera rasa panik yang luar biasa saat menyadari bahwa seluruh kombinasi serangan mereka selalu luput mengenai sasaran. Mereka sama sekali tidak memercayai fakta bahwa seorang pemuda yang tidak memancarkan aliran qi yang kuat sanggup mematahkan formasi pengepungan dengan begitu mudah. Alhasil, ketika sisa penyerang mencoba untuk melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, tebasan dingin dari Pemutus Awan segera mengakhiri pelarian mereka.

Setelah seluruh musuh tumbang tidak bernyawa di atas tanah, Liu Xue mengambil posisi berjongkok di dekat salah satu jasad yang paling dekat dengannya dan menjulurkan tangan untuk melepas kain hitam yang menutupi wajah penyerang itu, mengungkap sebuah tato kecil di bagian leher.

"Sekte Bayangan Malam," kata Liu Xue. "Mereka hanyalah sekelompok pembunuh bayaran tingkat rendah yang bertindak atas perintah siapa saja yang bersedia membayar dengan kepingan emas."

Zhao Fei lantas mendekat, menyarungkan kembali pedang pusakanya. "Menurut analisismu, siapa target utama dari agenda penyergapan malam ini? Apakah dirimu atau justru aku?"

Gadis itu bangkit berdiri kembali, menyeka sisa kotoran yang menempel pada pakaiannya. "Pertempuran wilayah antara Sekte Garuda Putih dan Sekte Naga Hitam memang sudah berlangsung cukup lama. Meski begitu, ada satu kelompok lain yang sangat tidak menyukai adanya gencatan senjata antara dua kekuatan besar itu." Dia menatap lurus ke arah sepasang mata Zhao Fei. "Tebakanku jatuh pada Sekte Ular Berbisa. Mereka kerap mengirimkan pembunuh bayaran untuk mengacaukan wilayah perbatasan ini dengan tujuan memicu adu domba."

Zhao Fei memilih untuk mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Pola kelicikan yang diterapkan oleh musuh di dunia bawah ini ternyata tidak berbeda dengan taktik kotor yang sering digunakan oleh para pengkhianat di Alam Dewa dulu, yakni menggunakan pihak ketiga demi menyulut sebuah konflik besar.

Liu Xue hendak mengayunkan kakinya untuk melangkah pergi dari area lapangan. Namun, mendadak keseimbangan tubuhnya oleng secara drastis. Tangan kanannya bergerak cepat meraih bahu Zhao Fei sebagai tumpuan untuk menahan diri, tetapi kekuatannya seakan lenyap dan membuatnya nyaris roboh ke atas tanah.

Gadis itu meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat pada bagian atas tubuhnya, atau lebih tepatnya di bahu kirinya, sebilah jarum panjang berwarna kebiruan tampak menancap sangat dalam, dengan warna kulit di sekitar luka yang telah berubah menjadi hitam pekat.

"Benar-benar merepotkan," umpat Liu Xue dengan lirih. "Aku sangat lengah."

Zhao Fei segera mengambil posisi berjongkok untuk memeriksa kondisi luka luar itu. "Kapan tepatnya tubuhmu terkena serangan jarum mematikan ini?"

"Aku tidak tahu pasti, mungkin saat tubuh kita berguling di atas tanah yang dipenuhi daun kering tadi," jawab Liu Xue dengan tawa hambar yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakitnya. "Aku sempat mengira seluruh jarum beracun itu telah melesat tanpa mengenai bagian tubuhku."

Zhao Fei tidak ingin membuang waktu berharga yang bisa mengancam nyawa gadis itu. "Aku akan segera menggendongmu menuju rumah Tabib Wen. Di dalam bangunan itu aku bisa memeriksa kandungan racun dan mengobati lukamu dengan lebih aman."

Liu Xue berusaha mengangkat tangan kanannya yang mulai terasa lemas untuk menolak tawaran tersebut. "Tidak perlu repot-repot. Aku masih mempunyai cukup kekuatan untuk berjalan sendiri kembali menuju pusat sekte."

Gadis itu mencoba memaksakan kakinya untuk melangkah satu kali, lalu dua kali. Namun, pertahanan fisiknya ambyar sepenuhnya dan tubuh rampingnya langsung ambruk ke arah depan.

Zhao Fei dengan pergerakan yang sangat sigap segera menangkap tubuh itu sebelum sempat menyentuh permukaan tanah.

Setelah itu, Zhao Fei berjalan cepat menyusuri rimbunnya jalur hutan dengan memosisikan tubuh Liu Xue di atas punggungnya. Tubuh gadis itu terasa sangat ringan namun memancarkan kehangatan, dengan bagian kepala yang bersandar pasrah di atas bahu kanan Zhao Fei. Napas Liu Xue terdengar masih teratur meskipun terasa sangat dangkal, sebuah indikasi bahwa zat racun korosif itu mulai bekerja secara perlahan merusak sistem tubuhnya.

Cucu dari tetua agung sekte, pikir Zhao Fei dalam hati sembari terus melangkah cepat. Apa yang akan terjadi jika ada murid senior lain yang melihat diriku sedang menggendong gadis ini dengan cara seperti ini? Namun, saat ini dia sama sekali tidak memiliki pilihan alternatif lain demi menyelamatkan jiwa rekan satu sektenya itu.

Tak lama kemudian, Zhao Fei telah sampai di depan pelataran rumah Tabib Wen. Dia mendorong pintu kayu depan dengan susah payah menggunakan sisa tenaganya, lalu dengan penuh kehati-hatian membaringkan tubuh Liu Xue di atas sebuah ranjang bambu yang terletak di ruang tengah.

Gadis itu kini telah berada dalam kondisi pingsan sepenuhnya. Wajah ayunya terlihat sangat pucat bagaikan kertas, sementara warna bibirnya mulai menunjukkan rona kebiruan yang mengkhawatirkan.

Zhao Fei segera melangkah menuju sudut ruangan, memfokuskan seluruh kekuatan pikirannya menuju dimensi Alam Dewa, menyebabkan cincin kuno yang melingkar di jarinya memancarkan gelombang hangat yang menjalar cepat.

Pil Jawaban Seratus Penyakit, batin pemuda itu mengingat persediaan miliknya. Untunglah aku masih memiliki banyak sekali stok obat mujarab ini di dalam ruang penyimpanan.

Sebuah pil kecil berwarna putih keemasan yang bersinar mendadak muncul di atas telapak tangannya. Zhao Fei dengan cepat memarut sebagian kecil dari pil itu hingga menjadi serbuk halus di atas sebuah cawan tanah liat, menambahkan sedikit air bersih, lalu mengaduknya hingga larut sempurna.

Dia membawa cawan berisi cairan berkilau itu kembali ke sisi ranjang kayu, di mana Liu Xue masih terbaring tanpa kesadaran, menampilkan raut wajah yang pucat namun tetap memperlihatkan aura kecantikan yang teramat menawan.

Zhao Fei mengerjapkan sepasang matanya beberapa kali, memandangi gadis itu dari jarak yang cukup dekat.

Pemilik asli dari tubuh ini benar-benar memiliki standar selera yang sangat tinggi, kata Zhao Fei berbicara dalam hati. Wanita di hadapanku ini memang mempunyai kualitas kecantikan yang setara dengan para dewi tertinggi di Alam Dewa.

Dia segera menggelengkan kepala dengan cepat untuk mengusir pikiran tidak penting yang sempat melintas. Jangan sampai dirinya malah melamun di tengah situasi kritis yang melibatkan nyawa orang lain, dia memperingatkan dirinya sendiri.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Yang Mulia Petir Abadi menuangkan cairan ramuan obat dewa itu ke dalam mulut Liu Xue secara perlahan agar tidak tersedak.

Khasiat dari obat Alam Dewa itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan keajaibannya. Rona pucat yang menyelimuti kulit wajah Liu Xue mulai memudar dengan cepat, digantikan oleh warna merah muda alami yang kembali menghiasi permukaan bibirnya.

Sepasang kelopak mata gadis itu bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.

Dia menatap bingung ke arah langit-langit ruangan, sebelum mengedarkan pandangan ke sekeliling area kamar kayu yang dipenuhi oleh rak-rak ramuan herbal serta sebuah meja dengan cawan kosong di atasnya.

Tangan kanannya bergerak menyentuh bagian bahu kiri yang sebelumnya terkena tancapan senjata rahasia musuh. Tidak ada lagi bekas luka kehitaman yang tersisa, bahkan rasa nyeri yang membakar tadi telah hilang tanpa bekas.

Lantas gadis itu memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Zhao Fei yang berada di sisi ranjang.

Zhao Fei, yang sedetik sebelumnya tampak begitu tenang saat merawatnya, kini mendadak bersikap sangat sibuk untuk menutupi rasa canggungnya. Pemuda itu mulai membolak-balik beberapa wadah kosong yang berada di atas rak herbal, membuka tutup botol keramik, lalu menutupnya kembali dengan gerakan acak, padahal dia sendiri sama sekali tidak memahami apa fungsi dari masing-masing wadah itu.

Sedangkan Liu Xue hanya mengamati seluruh tingkah laku konyol yang diperlihatkan oleh pemuda di depannya itu.

"Apakah kau... sebenarnya adalah seorang dewa yang sedang menyamar?" tanya Liu Xue secara mendadak.

Gerakan tangan Zhao Fei terhenti seketika di udara. Wajahnya berubah menjadi agak pucat dan seluruh otot tubuhnya membeku layaknya patung batu. Apakah rahasia besar mengenai identitas aslinya telah berhasil dibongkar oleh gadis ini?

Liu Xue tiba-tiba tertawa pelan sambil berusaha dia tutupi. "Aku hanya bercanda melihat ekspresi tegangmu itu. Tapi jika kita berbicara secara serius, kandungan racun dari jarum milik Sekte Bayangan Malam seharusnya sangat mematikan bagi seorang kultivator tingkat rendah. Bagaimana mungkin kau memiliki kemampuan untuk menyembuhkanku dalam waktu secepat ini?"

Zhao Fei mengembuskan napas lega yang teramat sangat di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku hanya mencoba mempraktikkan beberapa metode penanganan racun darurat yang pernah diajarkan sekilas oleh Tabib Wen. Tampaknya ada faktor keberuntungan yang sangat besar juga yang mendampingi kita malam ini."

Liu Xue tidak langsung memberikan tanggapan atas penjelasan yang terdengar kurang meyakinkan itu. Gadis itu menundukkan kepala, menatap ujung jemari tangannya sendiri dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kakekku sempat membicarakan perihal rencana agenda perjodohan antara kita berdua, bukan?" tanya Liu Xue dengan sangat pelan. "Apakah hal itu benar-benar sebuah kenyataan?"

Zhao Fei mencari posisi yang nyaman, lalu memutuskan untuk duduk di atas sebuah kursi kayu yang berada tepat di samping ranjang sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

"Ehem, benar, hal itu memang nyata. Tapi aku sendiri sudah..." Pemuda itu menjeda kalimatnya entah karena apa. "Aku sudah menyampaikan kepada Tetua Agung bahwa aku masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berpikir kembali. Lagipula, wanita hebat dengan masa depan cerah sepertimu tentu pantas mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik daripada pemuda biasa sepertiku."

Bodoh, batin Zhao Fei mengutuk ketidakmampuan mulutnya sendiri. Ini adalah sebuah momentum yang paling ideal untuk mulai mewujudkan impian romantis tersembunyi dari pemilik asli tubuh ini. Mengapa lidahnya justru memberikan jawaban defensif yang bertolak belakang?

Adapun Liu Xue tidak memperlihatkan gurat ketersinggungan sama sekali atas pernyataan merendah yang diucapkan oleh pemuda itu. Dia justru kembali memaku pandangannya pada jemarinya sendiri dengan ekspresi yang tampak dipenuhi oleh kecemasan.

"Aku sebenarnya tidak memiliki niat untuk sepenuhnya menolak keinginan dari Kakek," kata Liu Xue. "Tapi, aku tidak ingin ego pribadiku justru memberikan beban penderitaan yang teramat berat kepada suamiku kelak."

Zhao Fei menatap tajam ke arah wajah gadis itu. "Apa sebenarnya maksud tersembunyi dari ucapan yang kau sampaikan itu?"

"Orang itu," Liu Xue menghela napas panjang, membiarkan rahasia keluarganya terungkap. "Sudah sejak dua tahun yang lalu, orang itu terus-menerus mengirimkan utusan resmi untuk melamarku. Keluarganya memiliki fondasi kekuatan politik yang sangat masif, dan sekte tempatnya bernaung memiliki pengaruh yang teramat besar di dunia kultivasi ini. Jika dia sampai mengetahui hal ini, calon suamiku kelak pasti akan berada dalam ancaman bahaya yang mematikan."

"Siapa sebenarnya pria yang kau maksud itu?" tanya Zhao Fei, rasa penasarannya mulai terusik.

"Namanya Long Wei. Dia adalah putra mahkota yang berada di posisi tertinggi untuk memimpin Sekte Naga Hitam."

Nama penguasa muda itu menghadirkan sebuah atmosfer ketegangan baru yang terasa cukup pekat bagi siapa saja yang mendengarnya.

"Pihak keluargaku dan Kakek selalu berusaha keras untuk menolak lamaran resmi itu, tetapi tekanan politik dari sekte mereka kini dirasa semakin kuat dari hari ke hari," Liu Xue mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah sepasang mata Zhao Fei. "Jika saja Long Wei sampai mengetahui fakta bahwa aku telah dijodohkan dengan pria lain dari kalangan bawah, dia tidak akan tinggal diam dan pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan hidupmu."

Zhao Fei memejamkan sepasang matanya, membiarkan memori dan sistem pikirannya bekerja dengan kecepatan penuh untuk menganalisis peta kekuatan baru ini.

Tidak lama kemudian, dia kembali membuka kelopak matanya, menatap lurus ke arah Liu Xue dengan sorot mata yang memancarkan ketegasan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Ceritakan seluruh detail informasi yang kau ketahui mengenai pria itu kepadaku," pinta Zhao Fei, nadanya berubah menjadi sangat berwibawa. "Mulai dari tingkat kapasitas kekuatannya, kelemahan fatal yang dimilikinya, hingga detail mengenai pergerakan politik sektenya."

Liu Xue sedikit terkejut mendengar respons berani yang sama sekali tidak dia duga dari seorang pemuda biasa. "Untuk tujuan apa kau menanyakan seluruh hal berbahaya semacam itu?"

"Karena aku yang akan bertanggung jawab penuh untuk melindungi dirimu dari segala bentuk ancaman pria itu," jawab Zhao Fei sembari mengembuskan napas perlahan untuk menenangkan suasana. "Tidak peduli apa pun bentuk risiko besar yang harus aku hadapi di masa depan kelak."

Mendengar janji yang begitu tulus, raut wajah Liu Xue seketika berubah drastis. Ada rona merah muda alami yang mendadak muncul menghiasi kedua belah pipinya, sebuah pemandangan yang teramat langka bagi seorang gadis yang dikenal selalu bersikap dingin bagaikan es abadi di depan publik.

Gadis itu segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, memilih untuk bungkam tanpa memberikan jawaban patah kata pun guna menyembunyikan rasa malunya.

Sementara itu, di balik rimbunnya semak-semak belukar yang berada di halaman rumah, tiga manusia tampak sedang asyik mengintip melalui celah kecil dinding kayu rumah Tabib Wen.

Li Wei mendecak kesal, sejadi-jadinya.

"Lihat saja tingkah laku menjijikkan yang mereka perlihatkan di dalam sana," bisik Li Wei, dipenuhi oleh kebencian. "Berduaan di dalam sebuah ruangan tertutup pada waktu tengah malam seperti ini."

Wang Hu yang berada tepat di sisi kirinya ikut memosisikan mata untuk mengintip dengan pandangan membulat lebar. "Apakah wanita seanggun itu benar-benar Senior Liu Xue?"

"Siapa lagi wanita di dalam sekte kita yang memiliki wujud seindah itu jika tidak termasuk dirinya sendiri?" Zhang Ming menimpali dari posisi paling belakang dengan berbisik.

Li Wei pun mengepalkan kedua belah tinjunya dengan sangat erat hingga urat-urat di sekitar pergelangan tangannya terlihat menegang dengan jelas. "Dasar Zhao Fei sialan. Benar-benar seorang pemuda sampah yang kurang ajar. Berani sekali dia mencoba untuk mendekati dan mengambil hati dari Liu Xue."

Pemuda itu segera bangkit berdiri dari posisi tiarapnya, menampilkan sepasang mata yang membara oleh kobaran api kecemburuan.

"Aku bersumpah akan menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri sebelum dia sempat melangkahkan kaki kembali menuju lingkungan sekte," kecam Li Wei dengan suara yang ditekan serendah mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Sementara Wang Hu dan Zhang Ming saling pandang di dalam kegelapan malam, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membantah perintah tegas dari pemimpin kelompok mereka.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!