NovelToon NovelToon
Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat
Popularitas:74.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

"""Kamu tidak perlu disukai semua orang. Cukup aku yang menyukaimu.""

Berawal dari sebuah jebakan yang memaksanya bangun di ranjang Arka Surya, hidup Lina Chen seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak ""pembawa sial"" menjadi seorang ratu yang bertatah di kerajaan Surya.

Meski terduduk di kursi roda, pewaris muda konglomerat itu mampu melindungi Lina dari setiap serangan, baik itu dari ibunya yang kejam, mantan tunangan brengsek, hingga musuh-musuh tersembunyi.

Namun, semua itu malah menumbuhkan rasa curiga di hati Lina dan semakin menguat ketika Lina bangun dengan pinggang remuk setelah malam pernikahannya. Bagaimana bisa seseorang yang cacat begitu gesit?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035

Sepatu Raka Ditemukan di Sungai, Raka Sudah Meninggal?

Pagi berikutnya, Lina datang ke sekolah lebih awal.

Ia sengaja memilih kemeja putih dan rok gelap yang paling sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi ia memasang bedak tipis agar murid-murid tidak bertanya apakah Bu Guru sakit.

Begitu ia melewati gerbang, beberapa orang tua murid menoleh.

Bisik-bisik langsung mengikuti langkahnya.

"Itu Bu Lina."

"Katanya Pak Hartono mau kasih klarifikasi."

"Tapi video pembantunya jelas banget."

Lina terus berjalan.

Mega sudah menunggu di dekat koridor kelas 3H, membawa dua gelas kopi susu.

"Aku beli yang less sugar," kata Mega. "Karena hidupmu sudah terlalu pahit."

Lina menerima gelas itu. "Terima kasih atas perhatian dan serangannya."

"Sama-sama."

Mereka belum sempat tertawa ketika Bu Mei muncul dari arah kantor guru.

Wajahnya kaku.

"Bu Lina, Pak Direktur memanggil ke aula kecil. Ada... perkembangan."

Mega langsung menyipit. "Perkembangan baik atau perkembangan yang bikin orang pengin melempar kursi?"

Bu Mei pura-pura tidak mendengar.

Di aula kecil, beberapa guru sudah berkumpul. Pak Direktur berdiri di depan dengan wajah tegang. Ibu Raka ada di sana, mata sembap, rambut berantakan, seperti tidak tidur semalaman.

Lina berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Bu Lina," kata Pak Direktur, suaranya berat. "Raka hilang."

Gelas kopi di tangan Lina hampir jatuh.

Mega cepat mengambilnya.

"Apa maksudnya hilang?"

Ibu Raka langsung berdiri. "Jangan pura-pura tidak tahu! Anak saya meninggalkan surat! Dia bilang semua salah dia, dia tidak pantas hidup!"

Lina merasa darahnya turun ke kaki.

"Di mana suratnya?"

Ibu Raka melempar selembar kertas ke meja.

Tulisan tangan Raka berantakan.

`Maaf, Bu. Aku tidak bisa menghadapi Papa. Aku tidak bisa menghadapi Bu Lina. Aku membawa teman-teman karena mereka bilang ingin menemani. Jangan cari kami.`

Lina membaca sekali.

Dua kali.

Kata "teman-teman" membuat kepalanya terangkat.

"Berapa anak yang hilang?"

Pak Direktur menjawab, "Sembilan anak lain dari 3H tidak masuk. Orang tua mereka panik. Ponsel sebagian mati."

Mega menutup mulut.

Ibu Raka menangis keras. "Ini gara-gara kamu! Kalau kamu tidak mempermalukan Raka di depan kelas, dia tidak akan begini!"

Lina menatapnya. "Saya tidak mempermalukan Raka."

"Kamu membuat dia merasa bersalah!"

"Yang membuat dia merasa bersalah adalah perbuatan orang dewasa di sekelilingnya."

Ibu Raka mengangkat tangan.

Mega maju, tetapi kali ini Lina lebih dulu menangkap pergelangan Ibu Raka.

Tidak kasar.

Kuat.

"Tampar saya setelah anak-anak ditemukan," kata Lina. "Sekarang pakai tenaga Ibu untuk mengingat tempat yang mungkin didatangi Raka."

Ibu Raka terpaku.

Pak Direktur menerima telepon. Wajahnya berubah makin pucat.

"Apa?" tanya Bu Mei.

Pak Direktur menatap semua orang. "Ada warga menemukan sepatu anak di tepi Ciliwung. Katanya mirip sepatu Raka."

Ibu Raka menjerit.

Suara itu membuat seluruh aula kacau.

Dalam lima menit, kabar itu sudah menyebar di grup WhatsApp orang tua murid. Dalam sepuluh menit, sebuah akun lokal membuka Instagram Live di tepi Ciliwung. Dalam lima belas menit, nama Lina kembali disebut di komentar.

`Guru itu bikin anak bunuh diri?`

`Mana tanggung jawab sekolah?`

`Cari Bu Lina, suruh dia muncul!`

Ada pula yang lebih kejam.

`Kalau anak itu mati, gurunya harus dipenjara.`

`Jangan-jangan dia kabur karena memang tahu Bu Lina salah.`

Mega merebut ponsel dari tangan salah satu guru yang menonton Live terlalu dekat dengan wajah Lina.

"Cukup," bentaknya. "Ini anak hilang, bukan tontonan arisan."

Lina berdiri di tengah kekacauan, tetapi pikirannya justru menjadi aneh tenang.

Raka tidak akan memilih Ciliwung.

Ia ingat anak itu.

Raka yang selalu menggambar Garuda di sudut buku catatan. Raka yang pernah berkata, "Bu, Garuda itu lihat semuanya dari atas, ya? Jadi kalau orang bohong, dia tahu." Raka yang suka duduk di dekat jendela karena ingin melihat langit.

Anak itu tidak pergi ke sungai untuk menghilang.

Ia pergi mencari tempat yang menurutnya adil.

"Museum Budaya Lama," kata Lina.

Semua orang menoleh.

Mega bertanya, "Apa?"

"Raka suka Garuda. Minggu lalu aku memberi tugas tentang simbol negara. Dia menulis ingin melihat patung Garuda besar di Museum Budaya Lama. Katanya kalau Garuda ada di atas, orang jahat tidak berani bohong."

Pak Direktur ragu. "Tapi sepatu di sungai..."

"Bisa dijatuhkan. Bisa sengaja ditaruh. Bisa hanyut dari mana saja." Lina mengambil tasnya. "Saya ke museum."

Ibu Raka menangis. "Kalau kamu salah?"

Lina menatapnya. "Kalau saya diam, kita kehilangan waktu."

Mega langsung berkata, "Aku ikut."

"Kamu hubungi orang tua murid. Minta mereka cek kamar anak, chat terakhir, foto terakhir. Jangan biarkan mereka semua lari ke sungai dan membuat polisi susah bekerja."

Mega mengangguk, kali ini tanpa bercanda.

Lina menelepon Arka saat berjalan cepat ke gerbang.

Panggilan tersambung dalam dua nada.

"Lina?"

"Raka hilang. Sembilan anak lain juga. Ada sepatu di Ciliwung, tapi aku rasa mereka di Museum Budaya Lama."

Suara Arka berubah tajam. "Aku kirim orang."

"Jangan ramai. Kalau anak-anak panik, mereka bisa melakukan hal bodoh."

"Aku mengerti. Aku ke sana."

"Arka."

"Ya?"

"Kalau media datang, tahan mereka. Anak-anak tidak boleh dijadikan tontonan."

Arka diam setengah detik.

"Aku akan coba. Tapi kalau sudah ada Live, kita perlu lebih cepat dari mereka."

Lina menutup telepon dan naik mobil yang dipesan Reza dari luar gerbang.

Di sepanjang jalan, ponselnya tidak berhenti bergetar. Video tepi Ciliwung. Foto sepatu. Tangisan Ibu Raka. Komentar orang asing. Semua berdesakan.

Namun di kepala Lina hanya ada satu gambar.

Garuda.

Museum Budaya Lama berdiri di ujung jalan besar yang lebih sepi. Gedung kolonial itu sudah lama direnovasi menjadi ruang pamer budaya. Di halaman depan, beberapa mobil polisi baru datang. Ada petugas keamanan yang tampak bingung, ada dua orang tua murid menangis, dan benar saja, beberapa akun gosip sudah menyalakan kamera.

"Bu Lina! Bu Lina!" seseorang berteriak begitu melihatnya turun. "Apa benar murid-murid hilang karena Ibu?"

Lina tidak menjawab.

Ia berlari masuk.

Di lobi, petugas museum berkata terbata-bata, "Ada anak-anak naik ke lantai empat. Kami sudah larang, tapi mereka lari lewat tangga servis."

"Patung Garuda?"

Petugas mengangguk cepat. "Aula tengah. Platform restorasi."

Lina naik tangga.

Lantai satu.

Lantai dua.

Napasnya mulai terbakar.

Lantai tiga.

Di belakangnya, suara orang-orang mengejar. Ada polisi, petugas damkar, orang tua murid, dan suara kamera yang terus memanggil namanya.

Ketika Lina sampai di lantai empat, kakinya hampir kehilangan tenaga.

Aula itu tinggi dan luas. Di tengah ruangan, patung Garuda raksasa membentangkan sayap. Di sisi patung, ada platform restorasi setinggi beberapa meter dari lantai empat, dengan pagar sementara yang tidak cukup aman.

Sepuluh anak berdiri di sana.

Raka di paling depan.

Wajahnya pucat. Matanya merah. Di belakangnya, sembilan siswa lain saling menggenggam tangan.

"Raka," panggil Lina.

Anak itu tersentak.

Di bawah, seorang konten kreator berbisik keras ke kamera, "Mereka benar-benar di atas! Apakah ini percobaan bunuh diri massal?"

Raka mendengar.

Wajahnya berubah panik.

"Jangan naik!" teriaknya.

Salah satu siswa perempuan menangis. "Kalau ada yang naik, kami lompat!"

Seluruh aula membeku.

Lina berhenti di anak tangga terakhir.

Di belakangnya, kamera-kamera masih menyala.

Dan sepuluh nyawa berdiri di tepi udara.

1
sitanggang
bener2 gak jelas jalan cerita yg sangat buruk
sitanggang
jalan ceritanya AMBIGU 🙄
sitanggang
hadeuhhhhh kok bisa bodoh bgt keterusan bodohnya kina ini🤣🤣🤣🤣
sitanggang
lagi2 kek kebo🤣
sitanggang
terlalu lemah dan mudah dikendalikan org lain ... kek kebo dungu dicucuk hidungnya🤣🤣🤣🤣🤣
sitanggang
kukira MC pintar , tegas. masalah madam Hong saja gak kelar2, gak lucu🤣🤣
sitanggang
Lina terlalu lemah, bodoh lagi cupu sok jual mahal, mudah ditindas tak tau terima kasih
Wirda Wati
😂😂😂😂😂
Wirda Wati
lucu. kamu Reza .nyawa juga penting 🤣🤣🤣🤣
Wirda Wati
lanjuuut
Wirda Wati
untung dpt suami yg baik dan pengertian
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
ceritamu kereeen thort
Wirda Wati
kereeeen❤️
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣❤️👍
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤭
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
Wirda Wati
❤️
Wirda Wati
Maya dan Roja sama gilanya 😂
Wirda Wati
Kereeen lina👍
Biar Maya belajar dari kesalahannya.
Wirda Wati
Dasar mata ngga tau malu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!