NovelToon NovelToon
Gadis Manja Tuan Mafia

Gadis Manja Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:122.9k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN — Bocil di larang masuk, Mengandung, kekerasan, dan konflik dunia mafia. Bijaklah dalam membaca.

​Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.

​Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.

Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35

Gedung Grand Ballroom Jakarta telah disulap menjadi hutan janur kuning dan ribuan bunga sedap malam. Di permukaan, semuanya tampak sempurna, alunan gamelan yang lembut, aroma melati yang menenangkan, dan deretan tamu VIP yang mulai memadati karpet merah. Ribuan tamu undangan dari kalangan elit politik hingga pengusaha papan atas mulai memenuhi ruangan. Di tengah panggung utama, berdiri sebuah pelaminan yang dilapisi ukiran kayu jati berlapis emas, tempat di mana Leonardo Vallo yang nampak tenang dalam balutan beskap mini menjadi pusat perhatian.

​Mommy Victoria bergerak lincah di antara para tamu, bak seorang dirigen yang mengatur simfoni. Ia memastikan setiap detail sempurna, mulai dari kemiringan dasi para pelayan hingga suhu ruangan.

​"Dante! Berhenti menatap pintu keluar dengan wajah seperti itu!" bisik Victoria tajam saat mereka berdiri berjejer untuk menyambut tamu. "Kau sedang di pesta syukuran, bukan sedang menjaga perbatasan!"

​Dante, yang mengenakan beskap hitam dengan sulaman benang emas yang berat, hanya mengangguk kaku. Di balik pakaian adat yang menyesakkan itu, sebuah alat komunikasi ultra-tipis menempel di telinganya.

​"Bos, Tim katering fiktif bergerak menuju panel listrik di sektor barat," suara Bambang terdengar di antara denting gamelan. "Mereka membawa tas berinsulasi. Kurasa itu bukan berisi rendang."

​"Netralkan. Tanpa suara," jawab Dante pelan, hampir tidak menggerakkan bibirnya, seolah ia hanya sedang bergumam mengikuti irama musik.

​Di koridor belakang yang tersembunyi dari kemegahan aula, suasana sangat kontras. Marcello memimpin tiga orang pengawal Vallo yang telah mengganti batik mereka dengan seragam steward hitam. Mereka bergerak cepat, membuntuti dua orang penyusup yang mencoba masuk ke ruang kontrol lampu.

​Salah satu penyusup mengeluarkan sebuah perangkat pengacak sinyal. Namun, sebelum ia sempat menekannya, sebuah kawat baja tipis melingkar di lehernya. Marcello menariknya ke dalam bayangan dengan kekuatan yang mematikan. Tanpa suara tembakan, tanpa teriakan. Hanya suara gesekan kain dan tubuh yang jatuh di atas lantai marmer yang telah dialasi plastik bening oleh tim Marcello untuk memastikan tidak ada noda darah yang menembus ke karpet utama.

​"Satu bersih," bisik Marcello ke radio. "Bambang, bagaimana dengan area balkon?"

​Bambang sedang berada di posisi yang jauh lebih sulit. Ia harus merayap di antara instalasi bunga raksasa di balkon lantai dua, tepat di atas kepala para istri pejabat yang sedang asyik bergosip. Ia melihat seorang pria berpakaian fotografer sedang mengarahkan lensa panjangnya, bukan ke arah pelaminan, tapi ke arah tangki oksigen darurat di dekat pintu keluar.

​Itu bukan kamera, batin Bambang. Itu peluncur proyektil gas.

​Bambang bergerak seperti bayangan. Ia melompat dari balik pilar, menutup mulut sang fotografer gadungan, dan menghantamkan hulu senjatanya ke tengkuk pria itu. Kamera tersebut jatuh, namun Bambang menangkapnya tepat satu inci sebelum menyentuh lantai.

​Di bawah sana, Alicia sedang tertawa bersama rekan-rekan sosialita ibunya. Ia sempat melirik ke atas, ke arah balkon, dan melihat sedikit gerakan di balik daun palem raksasa. Ia tahu itu Bambang. Ia tahu perang sedang berlangsung di atas kepalanya.

​Alicia merapikan sanggulnya yang dihiasi cunduk mentul perak, lalu tersenyum lebih lebar pada tamu di depannya. "Oh, iya Jeng, kateringnya memang khusus kami terbangkan koki-nya dari Solo. Silakan dinikmati sate lilitnya."

​Acara memasuki sesi paling sakral, prosesi sungkeman dan doa bersama. Lampu utama diredupkan, hanya menyisakan sorot lampu kuning hangat ke arah keluarga inti di panggung. Ini adalah momen yang paling ditunggu oleh para penyusup.

​Dante merasakan pergerakan di sisi kiri panggung. Seseorang yang menyamar mengenakan seragam pengawal keluarga Atmadja mendekat dengan tangan meraba di balik pinggang.

​Dante tidak bisa mencabut senjatanya di sini. Terlalu banyak saksi. Terlalu banyak kamera.

​Ia melirik Surya Atmadja. Sang mertua memberikan kode mata yang halus. Surya menjatuhkan gelas kristalnya hingga pecah berkeping-keping.

​PRANG!

​Atensi seluruh tamu teralih pada pecahan gelas itu selama dua detik. Dalam dua detik itulah, Dante bergerak. Dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seorang pembunuh profesional, ia menerjang pria tersebut, melakukan teknik kuncian leher, dan menusukkan jarum suntik berisi obat penenang dosis tinggi yang telah disiapkan di lengan bajunya.

​Pria itu terkulai. Dante menangkap tubuhnya seolah sedang membantu pengawal yang "pingsan karena kelelahan".

​"Marcello, bawa dia keluar. Dia sepertinya kurang minum," ucap Dante dengan suara tenang yang disiarkan oleh mikrofon panggung, membuat para tamu hanya menganggap itu insiden kecil akibat kelelahan staf.

​Victoria mendekati Dante, matanya memicing tajam. "Dante, pastikan pengawal-pengawalmu tidak pingsan lagi di depan kamera. Kau tahu itu Sangat tidak estetik!"

​"Maaf, Mama. Akan saya pastikan," jawab Dante, sambil mengelap sisa keringat dingin di dahinya.

​Pukul sepuluh malam, acara berakhir dengan sukses besar. Mommy Victoria berdiri di depan pintu keluar, menerima pujian setinggi langit dari para tamu. "Pesta yang luar biasa, Victoria!", "Cucumu sangat tampan!", "Menantumu pun ternyata sangat tampan dan berwibawa, tidak seperti rumor yang beredar di luar sana."

​Victoria tersenyum kemenangan. Reputasinya di Jakarta telah mencapai puncak baru yang tak tersentuh.

​Di paviliun belakang Rumah, Ia melihat Marcello dan Bambang sedang membersihkan peralatan mereka. Lima orang penyusup telah diamankan di ruang bawah tanah, siap untuk "diinterogasi" sebelum diserahkan pada jaringan Surya Atmadja.

​Alicia masuk ke paviliun, masih mengenakan kebaya beludrunya. Ia mendekati Dante dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang tadi ia sembunyikan di balik kebaya-nya.

​"Kau tidak perlu menggunakannya?" tanya Dante.

​"Hampir," jawab Alicia. "Ada seorang pelayan yang menatapku terlalu lama saat sesi foto. Tapi Bambang lebih cepat menumpahkan kuah opor ke kakinya sehingga dia harus ditarik keluar."

​Dante menarik Alicia ke pelukannya. Aroma melati dari rambut Alicia bercampur dengan bau mesiu tipis dari tangan Dante.

​"Kita berhasil, Dante," bisik Alicia. "Mama bahagia, Leo aman, dan klan Lorenzo baru saja kehilangan tim terbaik mereka di Asia."

Malam di Menteng setelah pesta syukuran besar itu tidaklah sesunyi yang dibayangkan Dante. suasana di dalam kediaman Atmadja tetap terasa seperti markas militer yang sedang bersiap menghadapi serangan balik. Pesta telah usai, namun sisa-sisa adrenalin dari "pembersihan" diam-diam di balik janur kuning masih terasa di ujung lidah.

Dante Vallo berdiri di balkon kamar, akhirnya melepaskan beskap beludru yang terasa mencekik lehernya. Ia kini hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana kain, namun tatapannya tetap setajam elang yang sedang memantau mangsa. Di bawah sana, di taman belakang yang biasanya rapi, Bambang terlihat sedang berbicara serius dengan beberapa pria lokal berbadan tegap jaringan informan milik Surya Atmadja.

1
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ganggu aja sih
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ehem ehem hot ehhh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku pikir si kentang rebus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ngeselin banget
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah ayah nya ternyata ada niat terselubung
raaa
Maaf thor, saya sedikit tidak memahami.. dicerita kan dante & alicia baru HB ko bisa dalam hitungan hari Alicia ditunut langsung hamil, logika aja deh.. untuk tahu perempuan sudah hamil atau belum jelas dihitung dari sudah berapa dia telat menstruasi. Kadang yang telat masih 1 atau 2 hari saja waktu di tespek masih belum terlihat. Jadi revisi sedikit masalah ini thor, logika saya sedikit terganggu. Gak mungkin dong tadi malam HB besok malamnya sudah merasa ada tanda2 hamil. Impossible thor, kecuali janin bisa di download😅😂
raaa: lagi pula dicerita tidak diceritakan sudah berapa lama mereka bersama, kadang yang telat mens juga belum tentu hamil thor. Kalo mau buat begitu ya kenapa tidak persingkat saja waktunya. Misal " Setelah 2 bulan bersama dll bgtu nah begitu masuk akal kalo sudah menghasilkan orok...
total 1 replies
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah kok bisa pemikiran kita hampir sama ya Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ: 🤣🤣🤣🤣 hi hi hi
total 5 replies
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
oh so sweet
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
pemaksaan lebih mengetik ini dong. yang ono enak di pandang la yg ini?
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
gila. si kentang ini benar-benar gila
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
berati si kentang ini jangan-jangan mafia juga
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jangan jangan dia penyusup nya
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
hua al😭😭😭
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya kan dari pada pilihan ayah mu. dia lebih baik
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
serem Al lari al lari...
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
daripada di nikahkan paksa Alicia
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
em dasar otak ku kenapa malah menjusus kesana 🤧🤧
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Serem nya
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
berani banget
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!