Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Motor Riko berhenti di pinggir taman kecil yang tidak terlalu jauh dari jalan utama desa.
Lampu taman menyala redup, cukup menerangi beberapa bangku kayu dan jalan setapak di sekitarnya. Suara kendaraan mulai berkurang, berganti dengan hembusan angin malam dan suara serangga yang samar dari balik pepohonan.
Setelah membantu Cika turun dari motor dan memastikan perempuan itu sudah duduk nyaman di bangku taman, Riko langsung berdiri.
"Tunggu di sini."
Cika yang masih sedikit bingung hanya mengangguk.
Riko pergi sebentar menuju minimarket kecil di seberang jalan.
Saat kembali, di tangannya sudah ada dua botol air minum dan beberapa plester obat.
Namun langkahnya melambat begitu melihat bangku tempat Cika duduk.
Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangan berada di pangkuan. Kepalanya terangkat menatap langit malam yang gelap.
Dari jauh semuanya terlihat biasa saja.
Kalau saja Riko tidak melihat gerakan tangan kecil yang buru-buru mengusap wajahnya.
Riko berhenti beberapa langkah.
Keningnya sedikit mengerut.
Awalnya ia ragu untuk mendekat. Ia bukan tipe orang yang pandai menghibur orang lain, apalagi saat orang itu sedang menangis.
Namun entah kenapa, kakinya tetap melangkah menghampiri dengan pelan.
Cika yang menyadari seseorang datang langsung buru-buru menghapus air matanya lalu menoleh.
Begitu melihat Riko, ia langsung tertawa kecil.
"Lama."
Nada protesnya terdengar ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Riko hanya menatapnya beberapa detik sebelum duduk di sampingnya tanpa bertanya tentang apa pun yang ia lihat hari ini. Sikap itu justru membuat Cika merasa canggung sekaligus nyaman di waktu yang bersamaan.
Ia mengulurkan botol air minum. "Nih."
Cika langsung mengulurkan tangan menerimanya, namun sebelum tangannya menyentuh botol itu, Riko menariknya kembali.
Cika mengernyit bingung.
Tanpa banyak bicara, Riko membuka tutup botol terlebih dahulu sebelum menyerahkannya lagi.
Kali ini Cika menerimanya dengan senang hati. Senyum kecil yang muncul di wajahnya terasa lebih tulus dibanding sebelumnya. Tindakan sederhana itu ternyata cukup menghangatkan dirinya di tengah hari yang terasa berat.
"Terima kasih."
Riko hanya mengangguk kecil. Ia membuka botol miliknya sendiri lalu ikut menatap langit malam.
Mereka terdiam cukup lama.
Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang terasa nyaman, seolah masing-masing sedang membiarkan pikirannya berjalan ke tempat yang jauh.
Sampai akhirnya Riko membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan.
"Kalau mau nangis yaudah nangis aja."
Cika menoleh bingung.
Riko melanjutkan dengan nada santai.
"Anggap saja saya tidak ada."
Cika terdiam beberapa detik sebelum terkekeh canggung. "Apaan sih."
Namun Riko justru menoleh dan menatapnya dengan tenang.
"Kamu nggak harus selalu pura-pura kuat terus."
Senyum kecil di wajah Cika perlahan memudar.
Riko menatap wajahnya dengan lembut.
"Wajar manusia lemah ketika ada di titik terendahnya."
Ia berhenti sebentar. "Saya tahu kamu udah nahan banyak hal sendirian."
Cika mengernyit bingung. Tatapannya yang semula mengarah ke langit kini sepenuhnya tertuju pada Riko.
"Tahu dari mana? Saya nggak kenapa-napa. Hidup saya bahagia aja kok."
Riko diam sesaat sebelum menjawab.
"Dari cara kamu nangani masalah."
Tatapannya kembali mengarah ke depan.
"Kamu kelihatan selalu tenang, selalu terlihat cuek seolah-olah tidak perduli, dan selalu punya banyak solusi untuk banyak orang."
Ia berhenti sejenak. "Tapi ada satu hal yang tidak bisa bohong."
Cika semakin bingung.
"Mata kamu."
Cika terdiam.
Riko tetap berbicara dengan nada yang sama lembutnya. "Itu yang nggak bisa bohong."
Tatapannya tidak berpindah.
"Setiap kali kamu ngomong, saya bisa lihat ketakutan di sana."
Napas Cika sedikit tertahan.
Riko tersenyum kecil.
"Kamu orang yang paling hebat yang pernah saya temui."
Cika tidak tahu harus menjawab apa. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengganggu daripada semua umpatan kasar yang pernah ia dengar selama ini.
Tidak ada yang pernah bertanya.
Tidak ada yang pernah benar-benar melihat semua luka yang selama ini ia sembunyikan rapat dalam dirinya.
Riko perlahan mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Cika dengan lembut.
Sentuhan sederhana itu membuat Cika memejamkan mata sesaat.
Tidak ada rasa kasihan dalam perlakuan Riko.
Tidak ada juga rasa ingin tahu yang berlebihan.
Hanya ketulusan yang membuat pertahanannya perlahan runtuh.
Riko kemudian melepaskan jaket yang tadi diikat di pinggang Cika dan menaruhnya di atas kepala perempuan itu hingga menutupi seluruh wajahnya.
Cika masih diam, tidak memahami maksud tindakan tersebut.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Riko menarik pelan bahunya dan membiarkan Cika bersandar di dadanya.
Tangannya mengusap bahu perempuan itu perlahan.
Riko kembali menatap langit.
"Nangis aja kalau lagi capek."Suaranya tetap santai.
"Anggap saja saya nggak lihat apa-apa malam ini."
Cika kembali terdiam di balik jaket yang menutupi kepalanya. Tangannya menggenggam erat tali tas yang sejak tadi berada di pangkuannya.
Perlahan semua hal yang selama ini mengganggu hatinya mulai keluar satu per satu.
Semua kekacauan yang selama ini ia simpan.
Semua ketakutan yang selama ini ia pendam.
Semua kelelahan yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan candaan.
Air mata yang selalu berhasil ia tahan akhirnya jatuh juga.
Bahu kecilnya bergetar. Isak tangis yang selama ini dipendam keluar tanpa bisa dihentikan lagi.
Suara tangisan itu menjadi jawaban paling jujur tentang betapa lelahnya dirinya selama ini menghadapi masa lalu dan bertahan dari orang-orang yang terus berusaha menjatuhkannya.
Riko tetap berada di tempatnya.
Pelukannya sedikit mengerat.
Tatapannya tetap mengarah ke depan.
Mendengar tangisan itu membuat dadanya ikut terasa sesak, tetapi ia memilih untuk tidak bertanya apa pun.
Ia hanya duduk di sana. Sesekali meminum airnya, membiarkan malam melakukan tugasnya.
Beberapa menit berlalu, tangisan itu perlahan mereda.
Cika akhirnya tertawa kecil di sela-sela napasnya yang belum sepenuhnya stabil.
"Ini pertama kalinya gue nangis depan orang. Bahkan depan orang yang baru gue kenal beberapa hari."
Riko tersenyum melihat kepala Cika yang masih tertutup jaket. "Kita udah beberapa kali ketemu."
Cika mendengus kecil."Iya sih, tapi tetap aja."
Ia menarik jaket itu sedikit lebih rapat.
"Biasanya saya nggak pernah berani nangis di depan orang lain karena takut jadi beban. Terlebih Zeya yang waktu itu punya banyak masalah dan saya harus kuat supaya bisa terus nguatin dia."
Riko mengangguk kecil. "Kamu hebat bisa lewatin semua badainya."
Ia menatap langit sebentar sebelum melanjutkan. "Meskipun saya nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini sama kamu, tapi saya yakin kamu wanita yang luar biasa bisa sampai sejauh ini."
Cika perlahan menurunkan jaket dari kepalanya lalu menatap Riko dengan perasaan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sendiri.
Tatapannya turun ke lututnya yang lecet, namun isi kepalanya justru dipenuhi perlakuan hangat yang diberikan pria itu malam ini.
Riko memperhatikan Cika yang sedikit mengernyit kesakitan sambil meniup lututnya.
Ia mengambil kantong kecil yang tadi dibelinya.
"Kasih kaki."
Cika langsung menoleh bingung.
"Hah?"
Riko mengangkat plester obat "Kecuali kamu mau pulang dengan luka yang masih terbuka."
Cika spontan menarik kakinya sedikit. "Saya bisa sendiri."
Riko mengangguk santai. "Oke."
Lalu ia menyerahkan satu plester kepada Cika.
Cika menatap plester itu beberapa detik, kemudian mendengus pelan.
"Yaudah."
Riko menahan senyum kecil.
Ia jongkok di depan bangku lalu membuka plester dengan hati-hati.
Cika diam-diam memperhatikan setiap gerakannya.
"Kamu kayak udah biasa pakein plester."
Riko masih fokus dengan pekerjaannya.
"Adik saya dulu sering jatuh."
Cika mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian Riko selesai. "Nah."
Cika menunduk melihat lututnya.Plester itu terpasang rapi. "Terima kasih."
Riko berdiri kembali. "Sama-sama."
Malam semakin larut.
Lampu taman terasa semakin terang dibanding langit yang mulai dipenuhi warna gelap.
Cika menyandarkan punggungnya ke bangku.
"Tau nggak?"
Riko menoleh.
Cika tersenyum kecil meskipun matanya masih sembap.
"Kadang aku capek."
Riko tidak menyela.
Cika melanjutkan. "Orang lihat gue kayak dewasa banget, punya pendirian, jadi tempat bersandar, dan bisa ngelindungi orang-orang yang gue sayang."
Ia tertawa kecil. "Padahal gue juga takut. Takut kalau keputusan yang saya ambil salah. Gimana kalau solusi yang saya kasih malah bikin keadaan makin rumit. Atau gimana kalau saya kalah sama mereka yang terus pengen menjatuhkan saya."
Riko mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara. "Kalau saya boleh kasih pendapat"
Cika menoleh.
Riko mengangkat bahu ringan. "Kadang kita terlalu sibuk jadi tempat pulang orang lain."
Tatapannya ikut naik ke langit. "Sampai lupa kalau diri sendiri juga butuh tempat istirahat. Butuh didengar."
Cika terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
"Kamu dari tadi ngomong kayak orang tua."
Riko ikut tertawa. "Padahal umur saya nggak tua."
Cika mengangguk. "Tapi kamu memang sudah tua."
Riko menoleh datar. "Terima kasih."
Cika langsung tertawa lebih lepas.
Tawa yang kali ini terdengar jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Riko memperhatikannya sebentar lalu ikut tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian ia berdiri.
"Pulang?"
Cika menatap langit sekali lagi, seolah sedang memastikan tidak ada lagi yang tertinggal di sana. Lalu ia mengangguk.
Riko mengambil helm dan memasangkannya ke kepala Cika dengan hati-hati sebelum memakai helmnya sendiri.
Tak lupa ia mengambil jaketnya kembali, lalu kali ini memakaikannya ke bahu Cika dengan rapi agar perempuan itu tidak kedinginan selama perjalanan pulang.
Cika hanya bisa memperhatikan semua perlakuan itu dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perjalanan pulang terasa sedikit lebih ringan.