NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: tamat
Genre:Perperangan / Penyelamat / Harem / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Benturan Dua Musim dan Retaknya Nol Mutlak

Bab 35: Benturan Dua Musim dan Retaknya Nol Mutlak

Udara di halaman Benteng Langit Runtuh terbelah menjadi dua dunia.

Di sisi kiri, tempat Arya berdiri, tanah membeku. Rerumputan liar berubah menjadi jarum-jarum es yang rapuh, dan setiap napas yang berhembus jatuh sebagai butiran salju. Di sisi kanan, tempat Bara memasang kuda-kuda, tanah merekah kemerahan. Udara bergetar oleh gelombang panas yang mendistorsi pandangan.

Pertemuan kedua suhu ekstrem ini menciptakan pusaran angin kencang yang memekakkan telinga.

"Api yang liar," Arya memiringkan kepalanya sedikit, menatap Bara dengan mata yang lebih mati daripada mayat. "Tapi api butuh udara untuk menyala. Dan di duniaku... udara pun membeku."

Arya menghilang dari pandangan.

Bukan bergerak cepat, melainkan meluncur di atas lapisan es mikroskopis yang dia ciptakan seketika di udara.

TRANG!

Bara nyaris tidak sempat mengangkat Kujang Si Sulung untuk menangkis.

Benturan senjata itu tidak menghasilkan percikan api. Sebaliknya, saat pedang kaca Arya menyentuh Kujang Bara, hawa dingin yang luar biasa menjalar melewati bilah logam, langsung menuju lengan Bara.

"Ugh!" Bara menggertakkan gigi. Apinya yang berkobar di sekitar Kujang padam seketika di titik kontak.

Arya tidak memberikan ruang bernapas. Tangannya bergerak seperti tarian maut yang elegan. Dia melesatkan rentetan tebasan beruntun—dingin, presisi, dan mematikan.

Bara mundur selangkah demi selangkah. Setiap kali dia menangkis, lapisan es setebal satu sentimeter terbentuk di lengannya. Gerakannya semakin lambat.

"Garuda! Kenapa panasnya tidak tembus?!" batin Bara panik, mencoba mengalirkan lebih banyak Prana Surya.

"Itu bukan es biasa, Mitra!" sahut Garuda. "Dia menggunakan konsep 'Nol Mutlak'. Dia menghentikan pergerakan energi kinetikmu. Api adalah pergerakan. Jika dia menghentikan pergerakan itu, apimu mati sebelum menyentuhnya!"

"Kau lambat, Buronan," bisik Arya tepat di telinga Bara.

Arya memutar pergelangannya, menangkis Kujang Bara ke samping, lalu menyarangkan tendangan telak ke dada Bara.

BUGH!

Bara terlempar sejauh belasan meter, menghantam sisa-sisa pilar batu di tengah halaman hingga hancur. Debu mengepul, tapi debu itu langsung membeku dan jatuh ke tanah.

"Bara!" teriak Anjani, wajahnya pucat pasi.

Di sudut lain, Jaka yang tangannya masih beku mencoba meronta, sementara Ki Awan menahan bahu pemuda besar itu.

"Jangan ikut campur, Jaka," bisik Ki Awan, matanya yang buta sebelah menyipit tajam mengamati Arya. "Itu pertarungan level Surya Kencana Atas. Kalau kau masuk, kau hanya akan jadi patung es."

Arya memutar pedangnya dengan anggun, membuang embun beku dari bilahnya. Dia menoleh ke arah Anjani yang gemetar.

"Sekarang, Adik Kecil," Arya melangkah perlahan menuju Anjani. "Waktunya pulang. Ayah sudah menyiapkan peti mati dari kayu gaharu untukmu. Setidaknya, kau akan dikubur dengan kehormatan palsu."

Anjani mundur. Kenangan masa kecilnya kembali menghantamnya. Arya yang selalu sempurna. Arya yang menghukumnya jika dia salah merapal mantra. Arya yang tidak pernah tersenyum. Ketakutan itu mencengkeram lehernya lebih kuat dari sihir mana pun.

Di tumpukan puing, tumpukan batu itu meledak.

DUAR!

Bara melesat keluar, tubuhnya diselimuti api emas yang menyala dua kali lipat lebih terang. Seragamnya hangus sebagian, sudut bibirnya berdarah, tapi matanya menyala liar.

"Jangan abaikan aku, Anak Es!" raung Bara.

Bara tidak lagi menggunakan senjata. Dia memadatkan apinya ke kedua lengannya.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Ketiga - Pukulan Martil Matahari!"

Bara menerjang maju, menghantamkan tinjunya ke arah Arya.

Arya hanya menghela napas. Dia tidak menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya yang kosong, menciptakan perisai berbentuk bunga teratai es berukuran raksasa di depannya.

BOOOM!

Tinju Bara menghantam perisai es itu. Ledakan uap panas yang dahsyat menyapu seluruh halaman benteng. Pandangan tertutup uap putih yang mendidih.

"Kena kau!" teriak Jaka penuh harap.

Tapi saat uap itu menipis...

Arya masih berdiri di tempatnya. Perisai esnya hanya retak sedikit. Sementara itu, tangan kanan Bara yang digunakan untuk meninju kini terjebak di dalam perisai es tersebut, membeku hingga ke siku.

"Kau punya tenaga yang kasar," kata Arya, menatap Bara yang meringis menahan sakit. "Tapi tenaga tanpa perhitungan hanyalah kebodohan."

Arya mengangkat pedangnya perlahan, mengarahkannya ke leher Bara.

"Mati."

SRET!

Pedang itu menebas.

Tapi pedang itu tidak mengenai leher Bara. Pedang itu meleset.

Arya mengernyitkan dahi untuk pertama kalinya. Dia melihat pedangnya. Arah tebasannya... tergelincir?

Di bawah kaki Arya, lapisan es mikroskopis yang selalu dia gunakan sebagai pijakan untuk bergerak tanpa gesekan, tiba-tiba mencair di satu titik krusial. Hanya sebesar koin. Tapi itu cukup untuk merusak kuda-kuda sempurnanya.

Arya menoleh.

Sepuluh meter darinya, Anjani berdiri tegak. Dia tidak lagi gemetar. Tangannya terulur ke arah Arya, matanya memancarkan ketenangan yang aneh.

"Aku tidak bisa mengalahkan sihirmu, Kakak," kata Anjani pelan, napasnya membentuk kabut. "Tapi aku tahu dari mana es itu berasal."

Anjani telah menerapkan ajaran Bara. Dia tidak mencoba menembus Nol Mutlak Arya dengan kekuatan kasar. Dia menyatu dengan kelembapan udara di sekitar mereka. Dia menyadari bahwa untuk mempertahankan domain es sempurnanya, Arya harus terus-menerus menyerap uap air di udara.

Anjani memotong pasokan uap air itu di bawah kaki Arya dengan sihir harmoninya, menciptakan ruang hampa air kecil yang merusak keseimbangan suhu.

"Kau..." Arya menyipitkan mata. "Kau berani melawanku?"

"Ini untuk semua pukulan rotan yang kau berikan saat aku gagal menghafal puisi leluhur!" teriak Anjani.

Anjani mengepalkan tangannya.

"Jurus Tirtamaya Harmoni: Embun Pemberontak!"

Seluruh uap air yang mendidih di udara akibat ledakan Bara tadi, yang seharusnya tidak bisa dikendalikan oleh sihir es biasa, tiba-tiba membeku menjadi jutaan jarum es tipis dan berbalik menyerang Arya dari segala arah.

Arya terkejut. "Sihir air murni? Tanpa Lencana Jiwa?"

Dia terpaksa menarik pedangnya dari leher Bara dan memutar tubuhnya untuk menciptakan kubah es pertahanan absolut.

"Bara! Sekarang!" jerit Anjani.

Bara tidak menyia-nyiakan satu detik pun celah yang dibuat Anjani. Tangannya yang membeku hancur terbebas karena Arya menarik sihirnya.

Bara memusatkan seluruh sisa Prana Surya yang bisa dia kumpulkan ke ujung Kujang Si Sulung. Api emas itu menyusut, tidak lagi berkobar liar, melainkan memadat menjadi cahaya putih yang menyilaukan mata—panas yang terkonsentrasi di satu titik.

Bara melompat ke atas, melewati hujan jarum es Anjani.

"Langkah Ketiga: Jarum Bedah Matahari!"

Bara menusukkan Kujang-nya lurus ke arah kubah es absolut milik Arya.

ZING!

Bukan suara benturan, melainkan suara kaca yang dipotong berlian. Panas ekstrem di ujung Kujang itu menembus pertahanan Nol Mutlak Arya.

Mata Arya terbelalak. Dia memiringkan tubuhnya di saat-saat terakhir.

SRAK!

Kujang Bara menggores pipi kanan Arya.

Darah segar menetes dari wajah sang jenius. Jubah sutra birunya di bagian bahu hangus terbakar.

Bara mendarat dengan lutut bergetar hebat, napasnya memburu. Kujangnya kembali ke warna besi biasa. Prana-nya benar-benar habis.

Hening kembali menyelimuti halaman.

Arya menyentuh pipinya. Dia melihat darah di jari-jarinya. Itu adalah pertama kalinya dalam sepuluh tahun dia berdarah dalam pertarungan.

Hawa dingin di sekeliling Arya perlahan surut.

Dia menatap Anjani yang berdiri terengah-engah, lalu menatap Bara yang memegang Kujang dengan susah payah.

"Harmoni air dan konsentrasi api," Arya bergumam pelan, suaranya kembali datar, menutupi keterkejutannya dengan sempurna. "Menarik. Sangat menarik."

Arya menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang dingin.

"Kau beruntung, Bara Wirasena. Lingkungan Hutan Kendeng yang penuh Prana liar ini merusak efisiensi domain esku. Dan kau, Adikku... kau rupanya menemukan cara memungut sampah sihir dan menjadikannya senjata."

Arya berbalik, berjalan perlahan menjauh menuju gerbang jembatan.

"Aku tidak akan membunuh kalian hari ini," kata Arya tanpa menoleh. "Karena membunuh mangsa yang kehabisan napas adalah pekerjaan algojo rendahan, bukan pekerjaan Tirtamaya."

Arya berhenti di ujung jembatan.

"Nikmati kemenangan semu kalian. Karena saat kita bertemu lagi di luar hutan ini... aku berjanji, tidak akan ada setetes embun pun yang bisa kau kendalikan, Anjani."

Sosok Raden Arya perlahan memudar, ditelan kembali oleh kabut belerang Hutan Kendeng.

Bara akhirnya menjatuhkan Kujangnya, jatuh telentang di atas tanah, menatap langit malam.

"Menyeramkan sekali keluargamu itu," napas Bara tersengal, tapi dia tertawa kecil.

Anjani berjalan tertatih mendekati Bara, lalu jatuh terduduk di sebelahnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Dia menangis. Bukan karena sedih, tapi pelepasan dari teror yang luar biasa.

"Kita melukainya..." isak Anjani, disela tawa tak percaya. "Kita benar-benar membuatnya berdarah."

Ki Awan berjalan mendekat, menyodorkan dua botol air minum.

"Bagus," kata guru tua itu, menatap ke arah perginya Arya. "Kalian baru saja menggores ego seorang jenius. Catur Wangsa sekarang tahu bahwa Pasukan Surya bukan sekadar gerombolan petani pemarah. Kalian adalah ancaman nyata."

Malam itu, dinginnya es Arya telah berlalu, tapi Bara dan Anjani menyadari satu kenyataan pahit: Mereka menang bertahan hari ini, tapi untuk mengalahkan monster-monster Ibu Kota yang sesungguhnya, mereka harus menjadi jauh, jauh lebih kuat.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 35

Nol Mutlak (Absolute Zero): Kondisi di mana energi kinetik atom berhenti. Secara sihir, ini adalah bentuk pertahanan absolut yang mematikan sihir api (yang merupakan energi panas/kinetik) sebelum menyentuh target.

Jurus Tirtamaya Harmoni: Evolusi kekuatan Anjani. Jika sihir keluarganya bertipe Dominator (memaksa alam), Anjani menggunakan tipe Adapter (mengikuti arus alam), yang memakan Prana sangat kecil namun berefek fatal jika digunakan untuk merusak ritme sihir lawan.

Kemenangan Taktis: Bara dan Anjani tidak mengalahkan Arya secara power-level. Mereka memanfaatkan faktor lingkungan (hutan basah) dan kerja sama tim untuk menciptakan celah sekecil apapun. Kemenangan ini adalah wake-up call bagi Pasukan Surya bahwa mereka masih sangat lemah.

1
Ragam 07
sugoi
Jojo Shua
🔥
Bragi's Poem
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!